NovelToon NovelToon
Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Masalah Pertumbuhan
Popularitas:6.6M
Nilai: 5
Nama Author: Hani Ritzone

Michealan Stevanus Lawrence dikenal dengan nama 'Alan' salahsatu putra kembar dari orang ternama bernama Marvin Muangka Lawrence hilang ketika baru saja dilahirkan.

Mengalami nasib yang sangat malang ketika di temukan dan dibesarkan oleh sepasang pasutri yang sangat kejam. Sedari kecil selalu mendapatkan kekerasan fisik maupun batin yang dilakukan oleh kedua orang tua angkatnya tersebut. Bukan hanya itu saja, Ia pun masih mengalami nasib buruk ketika menginjak usia remaja, yakni selalu di bully oleh beberapa teman di sekolah-nya.

Setelah 17 tahun lamanya mengalami penderitaan tersebut, terjadi suatu insiden yang membuat hidupnya menjadi sangat membingungkan kala dirinya tertukar posisi dengan saudara kembarnya yang bernama Mike Stevanus Lawrence.


***

Mike Stevanus Lawrence saudara kembar dari Michealan Stevanus Lawrence tidak pernah mengetahui bahwa dirinya memiliki saudara kembar lantaran ia tidak pernah diberitahukan oleh sang Ayah bahwa dirinya memiliki saudara kembar selama 17 tahun lamanya.

Namun takdir berkata lain, dengan sendirinya ia mengetahui bahwa dirinya memiliki saudara kembar setelah terjadi sebuah insiden tertukar posisi dengan saudara kembarnya.


Bagaimanakah semua itu bisa terjadi?
Lantas bagaimanakah posisi mereka bisa sampai tertukar?


***

Simak Cerita selengkapnya didalam setiap episode.

Inilah kisah cerita sederhana yang terangkum dalam 'Story Of The Lives Twins' atas nama novelnya. Menceritakan tentang lika-liku kehidupan saudara kembar yang menjadi inti pokok utama cerita.

Mengusung tema keluarga dan remaja nan dibumbui berbagai macam aksi didalamnya, terangkum layaknya sebuah drama, yang mengandung begitu banyak problema.

Main Character:
-Michealan Stevanus Lawrence (Alan)
-Mike Stevanus Lawrence (Mike)

Didalam hastag menceritakan isi yang akan ada didalam cerita ini diantaranya

#Kisah kehidupan
#Persahabatan
#Romantis
#Keluarga
#Sekolah
#Drama
#Bully
#Aksi


***


Catatan dan peringatan!
~ Terdapat banyak adegan kekerasan ✔
~ Terdapat konflik yang cukup tinggi ✔
~ Terdapat aksi penindasan (Bullying) ✔
~ Penggunaan bahasa Kasar bercampur antara Baku & Non-Baku + terdapat bahasa berbagai macam daerah. ✔

Segala apapun yang terdapat didalam cerita ini hanyalah fiktif belaka karangan asli saya pribadi. Jika terdapat kesamaan nama tokoh dan lain sebagainya, saya meminta maaf untuk yang sebesar-besarnya.

Didalam Cerita ini mengutamakan tentang sebuah kehidupan Keluarga dan arti sebuah persahabatan. Perhatikanlah catatan-catatan Author yang ada didalam beberapa bab supaya tidak bingung dengan alurnya, Terimakasih.

~ Novel Remaja
~ POV 3


100% Original Story
By Hani Ritzone
Instagram : @Kapten1868

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hani Ritzone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Bayi yang ditinggalkan di tempat pembuangan sampah tidak menangis hingga malam hari. Setelah melewati tengah malam, bayi itu menangis lantaran kedinginan dan jua karena hanya beralaskan kardus serta kain tipis yang membalut di tubuhnya.

Letak pembuangan sampah tersebut jauh dari pemukiman Penduduk, sehingga tangisan dari bayi itu tidak ada yang mendengarnya, sebab jarang ada pula orang yang melintasi kawasan itu.

___

Lantas ada sepasang pasutri muda melintasi Kawasan pembuangan sampah tersebut, mereka dalam keadaan mabuk diketahui bernama Ika dan Ferdi.

Ika dan Ferdi awal mula mereka menikah muda karena terjadi insiden digrebek oleh warga saat kedapatan berbuat mesum di dalam kos-kosan Ferdi.

Orang tua Ika sendiri sudah angkat tangan atas segala kelakuan putrinya yang tidak dapat di atur dan selalu membangkang itu, lantaran kerapkali Ika keluyuran pada malam hari dan juga pergaulannya bebas bersama anak-anak berandalan. Dia sering bolos sekolah dan berpacaran dengan si Ferdi salah satu dari anak berandalan tersebut berujung putus sekolah.

Sementara Ferdi sendiri adalah anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan yang berada di Kampung sebelah. Ferdi dari kecil memiliki sifat buruk, tempramen tinggi dan sangat nakal. Sehingga tidak ada orangtua yang mau mengasuhnya hingga dia besar.

Setelah besar, menjadi brandal jalanan, tidak sekolah, senangnya nongkrong, mabuk, ngamen dan terkadang menjadi Pak Ogah sesekali bersama teman-temannya. Dan hasil pendapatan dari ngamen dan menjadi Pak ogah tersebut hanya untuk mabuk-mabukan serta dia seorang pecandu Narkoba tingkat Waspada.

Jika sedang tidak ada uang, dia menggunakan lem Aibon untuk menggantikan obat terlarang tersebut dan jika tidak mendapatkan keduanya dia bisa berbuat yang lebih, yakni mencuri dan mencopet di pasar maupun di tempat-tempat keramaian hanya untuk mendapatkan barang haram tersebut.

Ferdi menikahi Ika saat usia masih sangat muda yakni 18 tahun, Ika pun satu usia dengan Ferdi. Kini mereka sudah berusia 25 tahun, belum memiliki keturunan. Tentu saja, semua dikarenakan kehidupan mereka kelam, Ika pun sama-sama pemabuk, pecandu dan juga perokok.

___

Next

Jrug! jrug! jrug!

Mesin motor yang sedang dikendarainya tiba-tiba mati.

"Aisssh! pakek acara bocor segala ini ban sialan!" Ferdi merasa kesal, lekas beranjak turun.

"Emm ... apa-apan sih woi, kok malah berhenti di tempat sampah begini, bau tau!" Cetus Ika bernada tinggi akibat pengaruh alkohol.

"Ah bawel kau, turun kau turun! Mata kau buat lihat tuh ban kempes!" Lanjut Ferdi.

"Aiih! kau saja yang tidak mikir! ngapain pula tengah malam lewat sini! udah sepi, gelap, dan juga kenapa tadi tak kau periksa ban dulu sebelum jalan, hah! Gobl*k!" Jawab Ika

"Kok kau malah nyolot sih! ngatain aku tak mikir segala! bukannya bantuin nyari solusi, malah ngomel terus, ngatain aku gobl*k pula, Kampang!" Umpat balik Ferdi tak terima.

"Solusi apaan hah ...? solusinya tuh ... kau dorong tuh motor, Gobl*k!"

Percakapan mereka memang selalu seperti itu, tidak ada bahasa lembutnya, sehingga bahasa kasar tersebut bagai menjadi bahasa yang lumrah bagi mereka. Lantas ketika mereka hendak mendorong motornya, Ika menghentikan langkah kala ia mendengar sesuatu.

"Eh, tunggu dulu deh Fer,"

"Apaan? udahlah buruan kau bantuin dorong motornya" jawab Ferdi tak menghiraukan.

"Iya, bawel kau ah! itu kau dengar gak? kayak ada suara bayi nangis?" lanjut Ika sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Aihh ... paling-paling suara bayi orang-orang sini yang nangis." jawab Ferdi singkat.

"Wei, lihatlah Fer, rumah orang kan jauh dari sekitar sini." Jelas Ika.

"Oh iya juga ya, lalu ... apa jangan-jangan itu suara bayi hantu? aih serem." Jawab Ferdi sembari menoleh ke kanan dan ke kiri juga.

"Hantu kepala kau! kebanyakan minum tadi kau tuh, mana ada yang namanya hantu, justru kau itu yang lebih manakutan dari hantu!"

"Aeh Kampang kau!" Umpat Ferdi.

Ika lekas beranjak ke arah semak-semak mengikuti suara bayi menangis tersebut. Ia menggunakan penerangan dari hp-nya untuk melihat ke sekeliling tempat pembuangan sampah itu. Ketika mendekati sekitar tong sampah, ia menemukan bayi yang sangat memprihatinkan. Bayi mungil berada di sebelah tong sampah hanya beralaskan kardus bekas dan kain tipis yang membalut pada tubuhnya.

"Astaga Fer ... Lihatlah beneran ada bayi Fer ..." Ucap-nya terkejut, tanpa basa-basi lekas ia mengambilnya. Lantas berjalan kembali ke arah Ferdi.

"Wah, sepertinya bayi di buang tuh." Ucap Ferdi kala Ika memperlihatkannya dari jarak dekat.

"Entahlah, Yaudah kita bawa saja bayi ini dan besok kita bawa ke kantor polisi" Pungkas Ika.

___

Mereka hendak pulang ke kontrakan mereka, Ferdi mendorong motornya seorang diri sementara Ika berjalan di belakangnya sembari menggendong bayi tersebut.

Tanpa disadari, mereka tengah di ikuti oleh sekelompok orang yang biasa di sebut preman. Yakni preman yang hendak menagih hutang kepada Ferdi, sebab setiap hari para preman tersebut datang ke kontrakan mereka, posisi mereka selalu tidak ada. Kontrakan selalu dalam keadaan kosong. Ika dan Ferdi sendiri memang jarang pulang sehingga para preman-preman selalu gagal berjumpa mereka menjadikannya geram.

Kini Ferdi dan Ika sudah sampai di kontrakannya, sudah masuk dan barusaja menutup kembali pintu, lantas tiba-tiba terdengar suara dari luar cukup keras.

Brak! Brak! Brak!

"Woi Ferdi! buka pintunya, pengecut!" Teriak suara beberapa orang dari luar, tak lain merekalah para preman-preman itu.

Sontak Ferdi menyadari, menjadikannya bimbang nan ragu hendak menemuinya lantaran tidak memiliki jumlah uang yang cukup untuk membayar hutang-nya kepada preman-preman tersebut.

Tentu membuat para preman semakin geram, akhirnya tanpa basa-basi lagi pintu rumah di dobrak paksa oleh para mereka.

Glubrak!

"Woi, Ferdi! dimana kau!" Teriak salahsatu diantara mereka kala pintu berhasil terbuka.

Tampak amarah merekah dari masing-masing mereka lekas melangkah menuju kedalam rumah. Begitu mendapati keberadaan Ferdi, tanpa basa-basi mereka menganiaya Ferdi sedemikian buruknya, tanpa peduli penjelasan Ferdi yang kini masih belum jua membayar hutang-hutangnya.

Brak! Brak! Brak!

Blug! Blug! Blug!

Ferdi tak kuasa melawannya, hingga tubuh babak belur, darah menetes dari indra pencium-nya dan jua bibirnya.

Semasih adegan tersebut berlangsung, posisi Ika berada di pojok ruang sembari menggendong bayi itu. Sungguh ia ketakutan hingga tubuh bagai mematung.

Preman itu mengancam, apabila tidak segera melunasi hutangnya dalam waktu satu Minggu, mereka tidak akan segan-segan membunuhnya.

Usai mengutarakan kalimat ancaman, mereka lekas hengkang seraya membawa serta motor butut milik Ferdi.

___

Ferdi lemas tak berdaya, Lantas Ika bergegas membantu Ferdi untuk duduk sembari memberikan obat merah pada luka-lukanya.

"Duh, kenapa bisa begini sih, emangnya hutang apa sih kau sama mereka?" Tanya Ika sembari mengoleskan obat merah.

"Aihh, pakek tanya hutang buat apa segala, kau juga selama ini ikut nikmatin. Bedeb*h kau!"

"Aiih! terus ini gimana dong? kita kan gak ada duit ..." lanjut Ika tampak resah.

Ferdi diam sejenak hingga beberapa detik, lantas menoleh ke arah bayi itu.

"Aha, Aku ada solusi jitu."

"Solusi jitu apa? Apa kau mau maling lagi?" Tanya Ika.

"Kali ini lebih mudah daripada maling, aku jamin dapat duitnya jauh lebih banyak, tapi ... resikonya gede juga si"

"Iya trus apa? lama Nihan kau Akh!" Ika masih belum mengerti.

"Itu ... Gimana kalau kita jual saja bayi itu?" Lanjut Ferdi tak lepas memandang bayi tersebut.

"Hah ... jual bayi ini? apa kau udah gila ya hah? tidak! aku tak setuju Fer." Jawab Ika, tak habis kira.

"Lah, lagian kita kan gak tau itu anak siapa. Dan juga kalo kita laporkan ke pihak yang berwajib nanti wajah kita jadi gampang tersorot dan gampang di temukan oleh polisi kalo kita sedang beraksi. Lagian juga gimana cara melunasi hutang sama preman-preman itu hah? Emang kau udah siap mati di bunuh mereka, hah!" Jawab Ferdi.

Ika diam sejenak sembari garuk-garuk kepala.

"Woi, ngapa diam aja kau!" Lanjut Ferdi.

"Anu ... Benar juga sih yang kau bilang tadi. Tapi, kalo kau mau menjual bayi ini aku tak setuju Fer!" lanjut Ika.

"Lah, kenapa pula kau tak setuju? anak kau juga bukan tuh! Kuping kau juga tadi dengar kan? kalo hutang itu tidak secepatnya dilunasin, besok kita bisa mati di bunuh oleh mereka, ngerti!" Jawab Ferdi tampak marah.

"Iya, aku tau ini bukan anak aku Fer, tapi aku juga nantinya bakal jadi ibu, bahkan kau juga jadi ayah. Kalo tentang hutang ya ... kau kerja lah!" Ika nampak kesal.

"Ngebacot aja kau pinter! kau pikir gampang apa cari kerja hah!" Geram si Ferdi.

Percakapan semakin memanas akibat perbedaan pendapat, alhasil mereka masing-masing diam sejenak sambari berpikir. Lantas selang beberapa menit, akhirnya perbincangan berlanjut.

"Gimana kalau kita rawat saja anak ini menjadi anak kita Fer, lalu kita pergi jauh dari daerah sini?" Pinta Ika.

"Apa? merawat bayi itu? kau pikir gampang apa ngurusin anak! belum susunya, makannya, pakaiannya, sekolahnya nanti. Otomatis semua biaya aku yang nanggung hah? cuih! tidak sudi aku!" Jawab Ferdi dengan sengit.

Namun, tanpa persetujuan Ferdi, Ika tetap akan merawat anak itu. Kemudian mereka berbenah beberapa barang yang hendak mereka bawa, untuk segera pindah ke Daerah lain yang letaknya sangat jauh/berbeda Kabupaten dari daerah tempat tinggal mereka sebelumnya.

Bersambung

Catatan Author

25-12-2020 Karya ini masih dalam Revisi atau perbaikan tulisan, harap maklumi untuk episode selanjutnya bila tulisannya masih kurang nyaman di baca. Terima kasih.

1
Melati
Heppy ending
bikin mewek😅😅😅😅
Anonim
kenapa y kok tidak ada cerita y Verza n Alan main bersama saat Verza k rumah Jovan , padahal mereka SDH lama tidak bertemu .
Ana Musabichati
semangt thor,lanjutkan!
Ana Musabichati
alan kau kereeen skli...
✰͜͡v᭄pit_hiats
hah.. dek ka kamar s marvin🙄🙄
✰͜͡v᭄pit_hiats
alan oh alan🙄
✰͜͡v᭄pit_hiats
alan woy alan🙄🙄
✰͜͡v᭄pit_hiats
karunya ih🙄
Poerab INna ALjonaa
kk athor,,, ini udah ke 3 kalinya aku baca karya athor, athor gk ada niat buat novel sambungan mereka remaja ya, 🙏🙏🙏
Lindha ZL
HAGA DIPA....

bhasa daerah Komering Sumatra selatan...
apa kah authornya orang sumatrakah..
aq simak dr awal cerita tata bhasanya sdkit kasar..maaf,,,
evita19
masih diawal aja udah seru, dan udah ada konfliknya, lanjut baca
oen
penderitaan yg beruntun, mau dilanjutkan takut bacanya, mau diskip penasaran aku🤭🙈
nahlonahlo
love you Alan..
love you Michealan..
thank you thor..
nahlonahlo
hahahahahaha jadi inget sesumbar si Mike yg bilang mau nikahin anak gadis si bapak penjual dawet.. WA yo looooo Mike 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
nahlonahlo
jrug jrug jrug.. cemana suara motor kayak suatkra traktor pasar malem oit 🤣🤣
nahlonahlo
tu verza.. kakak kirim kopi.. ngopi dulu lah
nahlonahlo
jreng jreng jreng jreng.. apakah Verza?
nahlonahlo
kliniknya gratis tah thor? kikikiiik
nahlonahlo
huh hah huh hah.. seru seru.. si kembar bakalan ketemu
nahlonahlo
aaaaaniiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!