NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: tamat
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Kalau Memang Anakku

Keesokan harinya, Kirana menunggu Bagas di bawah pohon trembesi di luar pagar samping kesatuan.

Malam pertamanya di ruang tamu sementara tidak benar-benar menghasilkan tidur. Setiap bunyi langkah membuatnya terbangun. Menjelang pagi, petugas memberi tahu bahwa kamar wisma baru bisa ditempati sore nanti karena pengelola harus memeriksa administrasinya.

Janji dokter juga tertunda. Klinik penuh dan dokter kandungan yang biasa menangani keluarga anggota baru tersedia esok pagi.

Kirana tidak mau menunggu satu hari lagi tanpa jawaban.

Bagas datang membawa dua bungkus nasi dan sebotol air. Ia masih berseragam, tetapi topinya dijepit di bawah lengan.

"Sudah makan?"

"Aku menunggumu."

"Itu bukan jawaban."

"Belum."

Bagas menyerahkan satu bungkus, lalu duduk di bangku semen dengan jarak satu lengan. Dari jalan utama mereka masih terlihat, tetapi percakapan tidak akan terdengar. Jarak itu sengaja dijaga agar tidak menimbulkan tuduhan khalwat atau bahan gosip baru.

Kirana meletakkan nasi di pangkuan tanpa membukanya.

"Aku perlu keputusanmu sekarang."

"Kita sudah sepakat menunggu pemeriksaan."

"Pemeriksaan memastikan usia kandungan. Bukan memastikan keberanianmu."

Bagas menoleh. "Apa maksudmu?"

"Kalau hasilnya sesuai, apa kamu benar-benar akan bertanggung jawab? Atau kamu akan mencari alasan lain karena keluargaku bangkrut dan namaku buruk di tempat ini?"

"Aku tidak pernah mengatakan begitu."

"Kamu juga belum mengatakan akan menerima anak ini."

Bagas menaruh bungkus nasinya. "Aku tidak suka berjanji sebelum tahu fakta."

"Aku sudah memberikan semua fakta yang kupunya. Kalau itu belum cukup, anggap saja aku tidak pernah datang." Kirana berdiri. "Aku akan mencari jalan lain."

Wajah Bagas langsung mengeras. "Jalan lain apa?"

"Itu urusanku."

"Mencari laki-laki lain untuk mengakui anakku?"

"Kamu sendiri belum mau menyebutnya anakmu."

Bagas ikut berdiri. "Jangan memancingku dengan kalimat seperti itu."

"Aku tidak memancing. Aku sedang memikirkan hidupku."

"Dengan menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain?"

"Dengan mencari tempat yang tidak menganggapku pembohong setiap kali aku membuka mulut!"

Suara Kirana meninggi pada kalimat terakhir. Seekor burung terbang dari dahan rendah. Ia segera menutup mulut, tetapi rasa sakit yang ditahan sejak Surabaya telanjur pecah.

"Aku tidak meminta malam itu terjadi," katanya lebih pelan. "Aku tidak meminta difoto, dinikahkan terburu-buru, lalu diceraikan saat hidupku runtuh. Ya, aku yang menyuruhmu mengajukan cerai. Aku juga yang menghina asalmu. Tapi bukan aku yang menjebak kita."

Bagas diam.

"Aku menempuh perjalanan sehari sambil muntah di terminal. Aku berdiri di gerbang dan mendengar orang-orang menganggapku perempuan jahat karena surat yang tidak pernah kukirim. Sekarang aku duduk di sini membawa anakmu, tetapi kamu masih bicara seolah aku sedang menyiapkan jebakan kedua."

Mata Kirana mulai panas. Ia membenci air mata yang muncul justru saat ingin terlihat kuat.

"Kalau kamu memang tidak mau," lanjutnya dengan suara bergetar, "katakan sekarang. Aku akan pergi sebelum semua orang melihatku diusir."

Air mata pertama jatuh.

Bagas tampak seperti menghadapi benda berbahaya yang tidak pernah diajarkan dalam latihan. Ia merogoh saku, menemukan tisu kusut, lalu mengulurkannya.

Kirana tidak mengambil.

"Jangan menangis."

"Perintahmu tidak berguna untuk yang satu ini."

Bagas mengembuskan napas, kemudian mengangkat tisu itu sendiri. Ujung jarinya menyentuh pipi Kirana dengan gerakan kaku, terlalu kuat pada sapuan pertama dan terlalu hati-hati pada sapuan berikutnya.

"Sakit," protes Kirana.

Tangannya langsung berhenti. "Maaf."

Kirana mengambil tisu tersebut. Bagas mundur setengah langkah, telinganya memerah meski wajahnya tetap keras.

"Dengarkan baik-baik," katanya. "Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan usia kehamilan sesuai dengan malam itu, aku akan mengakui anak ini. Aku akan membayar pemeriksaan, memastikan tempat tinggalmu, dan menjalankan kewajibanku sebagai ayah."

"Lalu hubungan kita?"

"Aku akan membicarakan rujuk atau akad ulang denganmu. Bukan menolaknya. Membicarakannya dengan benar."

"Ulangi."

Bagas memicingkan mata. "Kirana."

"Aku ingin mendengarnya sekali lagi tanpa kata-kata yang bisa kamu putar nanti."

Ia menatap mata Kirana. "Kalau memang anakku, aku pasti bertanggung jawab. Aku tidak akan menyembunyikanmu atau anak itu."

Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas dari dada Kirana.

"Baik," katanya. "Aku pegang ucapanmu."

"Dan aku pegang ucapanmu bahwa kamu tidak akan pergi mencari jalan lain sebelum pemeriksaan."

"Aku tidak berjanji mencari orang lain."

"Bagus. Jangan pernah."

Nada Bagas terlalu tajam untuk sekadar urusan tanggung jawab. Kirana menatapnya, tetapi laki-laki itu sudah duduk kembali dan membuka bungkus nasi.

"Makan sebelum dingin."

Kirana mengikuti. Beberapa menit mereka makan tanpa bicara. Angin menggerakkan daun-daun di atas kepala, membawa aroma tanah lembap.

"Kalau dokter membenarkan semuanya, aku tidak mau cuma menerima uang bulanan," kata Kirana.

Bagas mengangkat pandangan. "Lalu?"

"Anak ini harus mengenal ayahnya. Kamu ikut dalam pemeriksaan, tahu kondisinya, dan hadir saat dibutuhkan. Jangan mengirim uang lalu menganggap tugas selesai."

"Aku bekerja dengan jadwal yang tidak selalu bisa kutinggalkan."

"Aku tidak meminta kamu meninggalkan tugas. Aku meminta kamu tidak memakai tugas sebagai alasan untuk menghilang."

Bagas mengangguk satu kali. "Masuk akal."

"Mama juga harus tetap dekat denganku."

"Bu Ratna tidak aman di Surabaya?"

"Bukan begitu. Tapi setelah semua yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan Mama sendirian selamanya."

"Kalau saatnya tepat, kita cari jalan agar dia tinggal lebih dekat."

Kirana menatapnya penuh selidik. "Kamu baru tahu tentang anak ini kemarin, tapi sudah bicara memindahkan Mama."

"Kamu yang meminta rencana jelas."

"Aku cuma memastikan kamu tidak sedang mengatakan apa pun supaya aku diam."

Bagas melipat bungkus nasi dengan rapi. "Aku tidak punya cukup tenaga untuk membuat janji palsu sekaligus menghadapi pertanyaanmu."

Kirana menahan senyum. Untuk pertama kalinya, pembicaraan tentang masa depan tidak terasa seperti ancaman sepenuhnya. Masih ada syarat, pemeriksaan, dan luka lama. Namun setidaknya Bagas mulai menggunakan kata kita.

"Kenapa rujuk tidak bisa diputuskan cepat?" tanya Kirana akhirnya.

Bagas meletakkan sendok. "Aku perwira muda. Pengaduan kemarin sudah membuat namaku diperiksa. Keluargamu sedang ada dalam berita. Kalau kita terburu-buru, orang akan bilang aku menikahimu lagi untuk menyelamatkanmu atau mendapatkan sisa hartamu."

"Aku tidak punya apa-apa," kata Kirana otomatis.

Kebohongan itu meluncur halus. Sertifikat, uang, dan perhiasan tetap tersimpan dalam lapisan koper. Pesan Ratna terngiang: simpan kartu terakhir untuk dirimu.

Bagas tidak tampak sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.

"Bukan hanya soal orang lain," lanjutnya. "Kita pernah menikah karena tekanan. Tiga hari kemudian kamu meminta cerai. Kalau kita mengulanginya, aku ingin tahu kita tidak akan saling menghancurkan saat keadaan berubah."

"Jadi kamu takut."

"Aku berhitung. Itu berbeda."

Dari ujung jalan, seorang prajurit memanggil Bagas untuk kembali. Bagas berdiri, merapikan topi, lalu menatap mata Kirana yang masih merah.

Atasannya pernah memperingatkan agar ia tidak lagi membiarkan urusan perempuan kaya dari Surabaya mengganggu pekerjaannya. Surat pengaduan belum sepenuhnya dilupakan. Menerima Kirana kembali bisa menutup pintu seleksi yang selama ini ia kejar.

Bagas hampir mengatakan bahwa mereka sebaiknya menunggu lebih lama.

Namun Kirana menyentuh perutnya yang masih rata, seolah melindungi sesuatu yang belum bisa dilihat siapa pun.

Kata-kata itu tidak pernah keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!