Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Riau, 10-09-2026
Kota Perawang.
Sudah tiga tahun berlalu begitu saja, penyakit kusta yang di derita Mahardika tak kunjung sembuh.
Ia sudah berobat ke berbagai tempat, mulai dari pengobatan alternatif hingga rumah sakit besar.
Namun, hasilnya tetap nihil. Obat-obatan yang ia konsumsi secara rutin selama bertahun-tahun bukannya menyembuhkan, malah memicu gagal ginjal.
Tragisnya, bercak dan luka di kulitnya justru makin parah.
Dari balik sekat ruangan tempatnya diisolasi, Mahardika mengulurkan tangan, meraba perlahan dan meraih jari-jari Ningsih.
Sementara di kamar, putri kecil mereka yang baru berusia empat tahun, Amel, tertidur pulas tanpa tahu jika ayahnya akan pergi malam ini.
Sejak tiga tahun lalu, pasangan suami istri itu terpaksa tidur berpisah. Mahardika harus diisolasi karena takut akan penularan.
Meski begitu, dalam segala keterbatasan sakitnya semakin parah, ia tetap memaksakan diri bekerja mencari rezeki demi menyambung hidup keluarga kecilnya.
"Ningsih..." bisik Mahardika. Suaranya parau, berat, dan sesekali terputus-putus.
Ningsih menggenggam erat jemari suaminya. "Iya, Kang? Ada yang sakit lagi? Mau kubuatkan minum?"
Mahardika menggeleng pelan. "Aku sudah sakit selama tiga tahun ini, Ningsih... tapi sakitku tak kunjung sembuh. Kau sendiri tahu itu, kan?"
"Jangan bicara begitu, Kang. Kita pasti menemukan jalannya," jawab Ningsih cepat, mencoba menghibur suaminya.
"Tidak, Ningsih. Dengarkan aku dulu..." Mahardika menarik napas panjang.
"Sudah tiga malam berturut-turut... mimpi itu datang lagi. Bisikan yang sama, wajah yang sama. Sosok itu memanggilku ke puncak Merapi jika aku mau sembuh."
Ningsih menarik tangannya sedikit, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Mimpi? Kang, tubuhmu bahkan terlalu lemah untuk sekadar berdiri! Bagaimana mungkin Akang mau berjalan ke gunung se-ekstrem itu? Jangan ngawur, Kang!" kata Ningsih dengan cemberut.
"Ningsih, dengarkan aku..."
"Lalu kalau Akang nekat pergi... bagaimana denganku? Bagaimana dengan Amel? Siapa yang bakal menjaga kami di sini kalau Akang kenapa-napa di jalan?" kata Ningsih. Air mata mulai jatuh.
"Ini satu-satunya petunjuk yang tersisa, Ningsih! Jika aku tetap diam di sini, aku hanya akan mati perlahan... dan terus-terusan menjadi beban untukmu dan anak kita," kata Mahardika pelan, menatap mata istrinya penuh keputusasaan.
"Akang bukan beban!" sergah Ningsih terisak.
"Aku beban, Ningsih! Lihat diriku sekarang! Aku menyusahkan kalian. Izinkan aku pergi. Jika mimpi itu benar, aku akan kembali dengan tubuh yang sehat untuk membahagiakan kalian. Tapi... jika ini memang takdir terakhirku... izinkan aku berjuang sekali ini saja. Daripada aku hanya pasrah membusuk di kamar ini," kata Mahardika lirih, menyapu pandang ke tubuhnya sendiri. Ia lalu menatap istrinya lagi dengan tatapan memohon.
Ningsih tak sanggup menjawab lagi. Ia hanya mampu menatap mata suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku... maafkan atas ketidakberdayaanku menjadi seorang suami. Aku juga tak pernah ingin punya penyakit seperti ini... penyakit yang membuatmu dan anak kita hidup dalam kesulitan dan pengasingan. Tapi apalah daya... aku tidak bisa menolak takdir. Semua orang membenci Akang bahkan mengusir Akang dari desa ini, sebelum itu terjadi, Akang lebih baik pergi," kata Mahardika dengan meneteskan air mata penuh penyesalan.
Ningsih menggeleng cepat, air matanya menetes makin deras. "Jangan minta maaf, Kang... ini bukan salah Akang..."
"Dengarkan Akang baik-baik. Ada rumah ini dan sepetak kebun kopi serta cabai di belakang. Itu semua untukmu. Kelola dan gunakan hasilnya untuk kebutuhan hidupmu dan Amel sehari-hari, ya," lanjut Mahardika seraya mengusap air matanya sendiri dengan gemetar.
"Kang... jangan bicarakan kebun atau rumah, aku cuma mau Akang di sini..." bisik Ningsih meratap.
"Maafkan Akang yang tidak sempurna ini, Ningsih. Akang pergi ya..." kata Mahardika sambil meringis menahan perih di dada.
Ia ingin memeluk tubuh istrinya, tetapi niat itu ia batalkan. Penyakit kutukan ini membuat ia tidak bisa dekat dengan orang yang dia cintai.
"Bilang pada Amel saat dia bangun nanti... kalau Akang pergi untuk mencari kesembuhan," bisiknya lagi.
Dengan langkah gontai dan perbekalan seadanya yang dibungkus kain lusuh, Mahardika membalikkan badan lalu melangkah keluar di tengah gelapnya malam.
Ningsih berdiri ddi depan pintu rumah kayu mereka, ia menangis terisak-isak meratapi kepergian sang suami yang perlahan menghilang di kegelapan malam.
"Kang! Hati-hati di jalan! Pulanglah dalam keadaan sembuh! Aku dan Amel akan setia menunggumu di sini, Kang! Pulanglah!" teriak Ningsih dengan ratapan yang begitu memilukan.
Mahardika berjalan perlahan untuk menuju gunung berapi, dan berharap adanya kesembuhan seperti di mimpinya itu.