Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pintu gerbang yang berbeda
Knalpot Astrea Grand lansiran tahun 1995 itu batuk dua kali sebelum mengeluarkan suara cempreng yang memekakkan telinga. Gavin Dewantara sengaja melepas sekat bagian dalam knalpot tersebut di bengkel las pinggiran Jakarta seminggu lalu. Baginya, bunyi bising yang tidak beraturan ini terdengar jauh lebih jujur ketimbang suara halus mesin V8 dari mobil sport Jerman yang terparkir rapi di garasi rumahnya.
Gavin menatap kaca spion bundarnya yang sedikit longgar. Di balik pantulan kaca yang buram oleh debu, gerbang besi raksasa setinggi empat meter kediaman keluarga Dewantara perlahan menyusut, lalu hilang tertutup tikangan kompleks elite Menteng.
Di punggungnya, sebuah tas ransel kanvas lusuh berwarna hijau pudar menjadi satu-satunya pelindung bagi lima helai kaos oblong, dua celana jins robek di lutut, sebuah jaket denim belel, dan satu laptop tua yang dipenuhi stiker band independen. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di dalam kantong rahasia ransel tersebut, terselip sebuah dompet kulit buatan Prancis berisi kartu hitam Centurion tanpa limit. Kartu yang nilainya cukup untuk membeli seluruh isi bengkel las tempat ia memodifikasi motornya.
"Tuan Muda Gavin, Anda yakin tidak ingin dikawal oleh dua mobil operasional? Atau setidaknya biarkan saya menyetir Alphard untuk mengantar barang-barang Anda," kalimat dari Pak Handoko, kepala pelayan keluarganya tadi pagi, masih terngiang di telinga Gavin.
Gavin mengingat bagaimana ia hanya tertawa, menjentikkan rokoknya yang belum menyala, dan menjawab, "Kalau saya bawa Alphard ke kosan mahasiswa, Pak Han, yang ada saya dikira mau menculik ibu kos. Sudahlah, simpan saja kunci itu. Bilang ke Papa, saya mau belajar jadi manusia dulu."
Perjalanan tiga jam membelah jalur antar-kota terasa begitu membebaskan. Angin panas jalanan menghantam wajah Gavin yang hanya dilindungi helm cetok murahan tanpa kaca. Bau asap knalpot truk kontainer, debu aspal yang beterbangan, dan aroma kebebasan menyengat hidungnya. Ini adalah bau kehidupan yang sesungguhnya. Bukan aroma parfum ruangan oud mewah yang selalu disemprotkan setiap dua jam sekali di lorong-lorong rumahnya yang kaku seperti museum.
Matahari mulai condong ke barat ketika roda motor Gavin melintasi gapura selamat datang kota universitas. Kota ini terasa hidup dengan riuh rendah mahasiswa yang berjalan kaki di trotoar, deretan kedai fotokopi, dan warung-warung makan tenda yang mulai menggelar tikar di pinggir jalan.
Gavin memelankan laju motornya, mencocokkan alamat di secarik kertas yang ia kantongi dengan plang-plang kayu di depan gang. Ia berbelok ke sebuah gang sempit yang hanya pas untuk berpapasan dua motor, lalu berhenti tepat di depan sebuah bangunan dua lantai dengan cat hijau yang sebagian besar sudah mengelupas dimakan lumut. Sebuah papan kayu kecil tergantung lesu di pagar besi yang berkarat: Kos Bu Broto. Terima Mahasiswa/Karyawan.
Gavin mematikan mesin motornya. Seketika, keheningan gang itu digantikan oleh suara getaran mesin yang mereda dan desis rantai motornya yang kering.
Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan daster motif batik dan gulungan rambut yang khas keluar dari pintu utama sambil membawa sapu lidi. Matanya menyipit, menatap Gavin dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai.
"Mas Gavin yang dari Jakarta, ya?" tanya wanita itu dengan suara cempreng namun ramah.
Gavin turun dari motor, menurunkan standar samping dengan sekali sentakan kakinya yang mengenakan sandal jepit, lalu melempar senyum terbaiknya—senyum slengean yang langsung menghilangkan kesan bahwa ia berasal dari kalangan atas.
"Iya, Bu Broto. Saya Gavin, mahasiswa baru yang paling ganteng di teknik tahun ini," sahut Gavin asal, sambil menyalami tangan wanita itu dengan takzim.
Bu Broto tertawa renyah, menepuk pundak Gavin hingga cowok itu sedikit terbatuk. "Halah, baru datang sudah pinter merayu. Ya sudah, kamarmu di lantai atas, pojok kanan dekat tempat jemuran. Kuncinya sudah menggantung di pintu. Kamar mandi di luar, ya. Airnya bersih tapi kalau malam dinginnya minta ampun. Di sini tidak ada AC, cuma ada kipas angin dinding."
"Siap, Bu. Kipas angin saja sudah lebih dari cukup. Kulit saya kulit badak, kok, tidak manja," jawab Gavin sambil menggendong ranselnya.
Saat melangkah menaiki tangga semen yang sempit menuju lantai dua, Gavin memandang sekeliling. Bau kayu lapuk, suara gemercik air dari ember bocor di bawah tangga, dan tumpukan sepatu usang milik anak kos lain memenuhi koridor. Tempat ini sangat jauh dari kata mewah. Namun, saat Gavin memutar kunci pintu kamar nomor 2B dan melihat sebuah kasur busa tipis tanpa ranjang yang tergelar di lantai, ia tersenyum lebar.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tersebut, menatap langit-langit kamar yang memiliki sedikit noda bekas bocoran air hujan. Untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidupnya, Gavin merasa bernapas dengan paru-parunya sendiri. Di kosan sederhana ini, identitas "Tuan Muda Gavin" telah mati. Yang tersisa hanyalah Gavin—si mahasiswa ugal-ugalan yang siap menantang dunia dengan caranya sendiri.