NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 1] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Gemuruh petir membelah langit malam Bogor yang kelam, disusul dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca jendela berukir di ruang keluarga utama kediaman Lezman.

Hujan lebat mengguyur tanpa ampun, menyelimuti mansion megah itu dalam hawa dingin yang menusuk tulang. Aromatik kayu cendana yang biasanya menenangkan, malam ini mendadak terasa menyengat—seolah memprediksi badai yang jauh lebih mengerikan di dalam ruangan tersebut.

Di ujung meja kayu mahoni yang panjang, duduk dua wanita muda yang saling berseberangan. Di hadapan mereka, berdiri seorang pria tua berkharisma dengan garis wajah keras yang tak tersentuh kompromi.

"A-apa...?"

Suara Anisa meluncur amat pelan, hampir terendam oleh desis air hujan di luar. Jemari tangannya yang saling bertaut rapat di atas pangkuan perlahan mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Di balik selembar cadar hitam yang menutupi separuh parasnya, sepasang mata bulat itu bergetar hebat, menatap sang kakek dengan pandangan tak percaya.

"... Ayah terlilit utang?" lirik Anisa lagi, napasnya tertahan di tenggorokan.

Azriel Lezman tidak langsung menjawab. Pria tua itu membenarkan posisi tongkat kayunya, menarik napas panjang yang terdengar berat, lalu bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. Sepatu kulitnya berdecit pelan di atas lantai marmer yang mengkilap saat ia mengedarkan pandangan dingin kepada kedua cucunya.

"Ya" sahut Azriel singkat, nadanya datar tanpa emosi.

Satu kata itu jatuh seperti hantaman godam yang menghancurkan dada Anisa.

"Dan karena itulah..." Azriel melangkah pelan memutari meja, menyilangkan kedua tangan di belakang punggung, "keputusanku sudah bulat."

Ananira, yang sejak tadi gelisah memutar-mutar cincin permata di jarinya, seketika menegakkan tubuh. Wajah cantiknya menegang.

"Apa maksud Kakek?"

"Kalian tetap akan menikah pada bulan yang sama," ujar Azriel dengan diksi yang tegas dan tak terbantahkan.

Ananira mengerutkan keningnya dalam-dalam, lipatan di dahinya memperjelas rasa tidak senangnya. Namun, kalimat Azriel selanjutnya seketika melucuti warna dari wajahnya.

"Dengan pria yang berbeda."

Tlak.

Azriel merogoh saku jasnya dan meletakkan dua buah kartu berlapis emas bernuansa putih bersih tepat di tengah meja.

"Satu dengan Tuan Muda Pertama dari keluarga Li," Azriel menggeser kartu pertama dengan telunjuknya. "Dan satu lagi dengan Tuan Muda Kedua keluarga Carlous."

Hening merayap brutal. Suara detak jam dinding kuno berdentang teratur, bersahut-sahutan dengan riuh hujan di luar. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bernapas lega.

Brak!

Ananira berdiri dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan decitan nyaring.

"Aku tidak mau!" teriak Ananira. Suaranya melengking tinggi, menggema hingga ke sudut-sudut langit-langit ruangan yang tinggi. "Aku belum siap menikah, Kek! Aku masih punya impian yang ingin kukejar!"Ananira Lezman selalu hidup dengan poros dunia yang berputar mengelilinginya.

Balutan gaun sutra mahal, kilau perhiasan edisi terbatas yang melilit lehernya, hingga deretan tas bermerek yang menumpuk di lemarinya—semua kemewahan itu adalah napas hidupnya. Sebagai cucu sah bertali darah murni keluarga Lezman, ia tumbuh dengan keyakinan absolut bahwa siapapun harus tunduk padanya.

"Lagipula, aku tidak mau dijadikan pelunas utang!" Ananira mencengkeram tepi meja, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca akibat amarah yang membuncah.

"Walaupun hanya pernikahan kontrak selama satu tahun, aku tetap tidak mau!"

Berbeda jauh dengan Ananira yang membara, Anisa hanya bergeming di kursinya. Tubuhnya terbalut gamis longgar berwarna gelap yang sederhana tanpa payet mewah. Cadar yang dikenakannya menyembunyikan sebagian besar ekspresinya, namun gesturnya yang membungkuk pelan memperlihatkan betapa ia terbiasa menekan hatinya sendiri.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada teriakan egois. Anisa selalu menjadi bayangan—tertutup, tenang, dan terlalu mahir menyembunyikan rasa sakit.

Azriel memutar tubuhnya, mengalihkan pandangan tajamnya pada figur yang lebih tenang itu.

"Anisa."

Wanita muda itu perlahan mengangkat wajahnya, menyisakan pandangan matanya yang redup dan penuh keraguan.

"Bagaimana denganmu?" tanya Azriel, menanti kepatuhan

Anisa terdiam. Bibirnya di balik kain rapat-rapat terkunci. Apa yang bisa kukatakan? batinnya getir. Menolak berarti mempermalukan keluarga yang telah memberinya atap untuk berteduh. Menerima berarti melempar dirinya sendiri ke dalam jurang bersama pria asing.

Pada akhirnya, Anisa hanya menggelengkan kepalanya sangat pelan, sebuah gestures kepasrahan yang teramat pasif.

Azriel menangkap gelengan itu sebagai sebuah persetujuan.

Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai dengan wajah tanpa simpati. "Sebagai kakek kalian, aku tidak peduli apa yang kalian inginkan," potong Azriel dingin. "Yang aku pedulikan hanyalah nama baik dan keberlangsungan keluarga Lezman."

Anisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling meremas. Nama baik. Kata-kata yang menjelma menjadi rantai kasatmata sejak ia kecil. Sebagai yatim piatu yang menumpang di kediaman ini, ia selalu sadar bahwa posisinya tak pernah benar-benar dianggap.

Ia hanya sekadar kewajiban moral yang terpaksa dipelihara.

"Selain itu," Azriel menambahkan, senyum tipis yang sarat kalkulasi bisnis terbit di bibirnya, "mereka menawarkan kompensasi yang amat besar. Terutama keluarga Li."

Tatapan sang kakek kembali tertuju pada Anisa.

"Keluarga Li bahkan secara khusus meminta agar janji masa lalu yang berkaitan denganmu tetap dipenuhi."

"Janji...?" Anisa meracau pelan. Untuk pertama kalinya malam ini, suaranya terdengar jelas meski sedikit bergetar.

Azriel mengangguk pelan. "Ya. Kau dan Tuan Muda Li selalu bermain bersama sebagai kakak dan adik angkat selama delapan tahun. Kalian saling mengenal dengan baik. Bukankah itu tidak mungkin jika ia tidak menyimpan perasaan padamu?"

Deg.

Dada Anisa berdesir hebat. Nama itu—An Liu Li—serta merta menghantam memorinya. Delapan tahun lamanya pria itu hadir sebagai sosok kakak yang melindungi. Dan tanpa disadari, dalam diam dan sembunyi-sembunyi, perasaan lain yang seharusnya terlarang telah tumbuh mekar di dasar hati Anisa.

Namun, sebelum rasa hangat itu sempat melingkupi dadanya—

"A-apa?!" Ananira menyela kasar, disusul terkekeh sinis yang sarat akan rasa menghina. "Cinta?"

Ananira menatap Anisa dari atas ke bawah dengan pandangan penuh celaan. "Mana mungkin Kak An Liu Li menyukai wanita seperti dia? Dia tidak pernah menganggapmu lebih dari sekadar adik angkat yang kasihan!"

Anisa bungkam. Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi tajamnya me melebihi sembilu yang langsung menghujam dadanya. Ia tidak menyadari, atau mungkin pura-pura tidak tahu, bahwa di balik nada merendahkan itu, Ananira sedang berusaha menutupi rasa cemburu yang membakar hatinya. Sebab jauh sebelum hari ini, Ananira pun telah mendambakan pria yang sama.

"Sudah cukup!" gertak Azriel keras, menghentikan hawa permusuhan yang mulai menggelegak. "Tidak ada gunanya membuang-buang waktu!"

Pria tua itu maju dua langkah lalu mendorong kedua kartu putih di atas meja ke hadapan mereka.

"Pilih."

Ananira menatap kedua kartu itu bergantian, lalu melirik Anisa dengan sunggingan bibir yang dipaksakan dan penuh tantangan.

"Kalau begitu... Tuan Muda An akan menjadi milikku."

Anisa tetap mematuhi kesunyian. Jemari mereka berdua terulur secara bersamaan, meraih kartu lamaran masing-masing dan membaliknya di atas meja.

Sekejap kemudian, udara di ruangan itu terasa membeku.

Mata Anisa membelalak pelan saat membaca nama keluarga Li tercetak di kartunya. Sementara di sisi lain, nama keluarga Carlous tertera jelas di genggaman Ananira. Wajah Anisa pucat pasi, namun reaksi Ananira jauh lebih meledak-ledak.

"Tidak!"

Ananira melemparkan kartunya dengan kasar hingga mengenai dada Anisa sebelum jatuh tergeletak di lantai. "Aku tidak mau menikahi pria ini!"

Tangis Ananira pecah seketika, bahunya naik turun akibat isakan frustrasi. "Ini tidak adil, Kek!" serunya seraya menunjuk Anisa dengan telunjuk yang gemetar hebat.

"Kenapa dia yang statusnya saja anak haram Ayah justru mendapatkan Tuan Muda Li?!"

Anisa membeku total.

Kata-kata brutal itu menghantam mentalnya tepat di luka lama yang tak pernah sembuh. Anak haram. Sebutan yang selalu berbisik di lorong-lorong mansion ini.

"Lalu kenapa aku yang harus dijadikan pelunas utang?!" Ananira meraung, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kakek tidak bisa mengirimku ke tempat berbahaya seperti keluarga Carlous sementara dia bisa tinggal nyaman dan hidup mewah bersama keluarga Li!"

"Anira, jaga sikapmu!" tegur Azriel tajam.

"Tidak! Aku tidak mau! Kek, aku memohon, aku tidak mau!" Ananira menggelengkan kepalanya keras-keras, air mata melintasi pipinya yang terpoles riasan tebal.

Azriel tetap teguh pada posisinya, berdiri mengawasi tanpa kehangatan seorang kakek. "Hanya satu tahun. Ini hanya pernikahan kontrak. Setelah masa itu usai, semuanya selesai."

Namun Ananira terus memeluk dirinya sendiri, terisak makin keras.

Anisa memandangi saudarinya dalam hening. Ada sesuatu di dalam lubuk hatinya yang hancur berkeping-keping—bukan semata-mata karena hinaan "anak haram", melainkan karena kebenaran pahit yang kian nyata: di dalam rumah ini, tak ada satu orang pun yang benar-benar menginginkannya ada.

Anisa menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan sisa kekuatan yang tersisa di dalam dirinya.

"Anira," panggil Anisa pelan.

Ananira mendongak, menyapu air matanya kasar.

"Kalau kamu menginginkannya... ambillah," ujar Anisa tenang, suaranya nyaris datar.

Semua orang di ruangan itu mendadak tertegun.

Azriel mengerutkan keningnya rapat-rapat, tatapannya menyipit penuh selidik. "Apa maksudmu, Anisa?"

Anisa mengulurkan tangannya, mengambil kartu lamaran keluarga Li yang ada di hadapannya, lalu menyodorkannya tepat di depan Ananira.

"Ambillah kartu ini."

Ananira menatap kartu bernama An Liu Li itu dengan mata yang masih basah, pupil matanya bergetar.

"Ka-kamu serius?"

Anisa mengangguk pelan. "Ya."

"Tapi... kenapa?" tanya Ananira heran, suaranya memelan.

Anisa menyunggingkan senyum tipis di balik cadarnya—sebuah senyuman pahit yang untungnya tersembunyi sempurna dari pandangan mereka.

"Bukankah Kakek bilang kita harus membawa nama baik keluarga?" tutur Anisa seraya menundukkan pandangannya. "Lagipula, ini hanya satu tahun, bukan?"Ia berbohong. Sungguh,

hatinya menjerit tak ingin melepaskan An Liu Li. Namun jika bayang kebahagiaan itu memang tidak pernah ditakdirkan untuknya, maka bertahan hanya akan menambah luka.

Ananira dengan gemetar mulai mengulurkan tangannya untuk mengambil kartu itu. Namun sebelum jemarinya menyentuh permukaan kertas mewah tersebut—

Anisa mendadak menarik kembali kartunya beberapa senti.

"Tapi ada satu syarat."

Azriel memiringkan kepalanya, menatap Anisa tajam. Di sisinya, Ananira pun tertahan dalam posisi menegang.

"Syarat?"

Anisa mengangkat wajahnya tegak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pendar matanya tidak lagi menunjukkan kepatuhan buta, melainkan ketegasan yang dingin.

"Setelah pernikahanku dengan keluarga Carlous berakhir satu tahun kemudian..." Anisa jeda sejenak, menelan ludahnya yang terasa pahit.

"...aku tidak ingin lagi menggunakan nama keluarga Lezman."

Keheningan melahap ruangan itu sekali lagi. Azriel menatap cucu tirinya itu cukup lama, mencoba membaca arah pikirannya.

"Kau yakin dengan ucapanmu?"

"Ya," sahut Anisa mantap. Jemari tangannya mengepal erat di balik lengan gamisnya yang lebar. "Pernikahan dengan keluarga Carlous akan membawaku pada bahaya yang jauh lebih besar daripada yang kalian bayangkan.

Jadi setelah semuanya selesai, aku ingin pergi."

Ia menatap lurus pada manik mata sang kakek. "Aku tidak ingin lagi berada dalam lingkaran keluarga ini."

"Dan sebagai gantinya?" tantang Azriel.

"Sebagai gantinya, Kakek tidak boleh lagi ikut campur dalam kehidupan saya. Dalam bentuk apa pun."

Azriel terdiam sejenak. Di dalam benak tua yang penuh kalkulasi itu, permintaan Anisa justru terdengar seperti keuntungan besar. Anisa bukanlah cucu kesayangan, bukan pula ahli waris yang berharga. Kehadirannya hanya pengingat akan masa lalu yang ingin diabaikan. Jika wanita itu pergi selamanya setelah menyelesaikan tugasnya melunasi utang, Lezman tidak akan kehilangan apa-apa.

Akhirnya, Azriel menganggukkan kepalanya. "Baiklah," ujarnya seraya mengukir senyum tipis yang dingin. "aku setuju."

Anisa merundukkan kepalanya sedikit

"Terima kasih, Kek."

Ia tidak pernah membayangkan bahwa persetujuan malam itu akan menjadi langkah pertamanya meniti jalan menuju kehancuran dan bahaya yang nyata. Sebab pernikahan kontrak satu tahun yang ia sangka hanya kompromi di atas kertas...

Ternyata adalah pintu gerbang menuju rahasia kelam yang menyelimuti dunia bawah.

Dan pria yang akan menjadi suaminya nanti bukanlah sosok yang bisa ia kendalikan hanya dengan selembar perjanjian.

Pria itu adalah pria dingin tanpa ampun yang ditakuti banyak pihak—

Oscario Carlous.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!