NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Acara Lamaran Raka

Pagi itu, rumah keluarga Handoko Priambodo sudah ramai bahkan sejak matahari belum sepenuhnya meninggi. Suasana yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh kesibukan. Para asisten rumah tangga mondar-mandir membawa kotak-kotak hantaran yang telah dihias dengan pita-pita berwarna emas dan putih. Di ruang tamu, beberapa keranjang buah premium, kue tradisional, perlengkapan ibadah, kain batik, hingga berbagai hadiah lainnya berjajar rapi menunggu untuk diangkut ke dalam mobil.

Hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah hari yang telah lama dinanti oleh keluarga Priambodo. Mereka akan melamar Kania Alfianda Syahriza, perempuan yang berhasil mencuri hati putra tunggal mereka, Raka Putra Priambodo.

Pratiwi tampak menjadi orang yang paling sibuk. Wanita berhijab itu berkali-kali memeriksa daftar barang di tangannya. Sesekali ia menghitung kembali jumlah hantaran, memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.

"Mas, kotak perhiasannya sudah masuk?"

"Sudah, Bu."

"Kalau seserahan perlengkapan salat?"

"Sudah juga."

"Buah-buahan?"

"Aman."

Meski semua orang sudah menjawab dengan yakin, Pratiwi tetap saja belum merasa tenang. Ia menghampiri setiap kotak, memeriksanya satu per satu. Tangannya merapikan pita yang sedikit bergeser, lalu membersihkan debu yang nyaris tak terlihat.

Handoko yang baru keluar dari ruang kerja hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya. "Pi, tolong dong, pastikan semua hantarannya tertata rapi di mobil. Khawatir rusak," pinta Pratiwi tanpa mengalihkan pandangan dari kotak-kotak hantaran.

"Iya, tenang, Mi. Percayakan semuanya pada sopir kita. Mami nggak usah ikut-ikutan panik begitu."

"Gimana mami nggak panik? Ini kan lamaran anak kita."

Handoko terkekeh pelan. "Justru karena lamaran anak kita, semuanya pasti sudah dipersiapkan dengan baik."

Pratiwi mendengus kecil. "Kamu sih enak. Tinggal berangkat. Yang repot dari kemarin siapa?"

"Mami."

"Nah, tahu."

Handoko mendekat lalu menepuk pelan bahu istrinya. "Terima kasih ya, Mi."

Pratiwi menoleh. "Untuk apa?"

"Karena sudah mengurus semuanya."

Wajah Pratiwi yang semula tegang perlahan melunak. "Ya, namanya juga ibu. Maunya semua berjalan sempurna."

Di sudut ruangan, Raka yang sejak tadi memperhatikan kedua orang tuanya hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Kalian ini romantis juga ya."

Pratiwi langsung melemparkan tatapan jahil.

"Kalau nanti kamu sudah menikah, jangan sampai kalah romantis sama papimu."

Raka tertawa kecil. "Siap, Mi."

"Yang penting jangan tegang!"

"Justru sekarang yang tegang itu Mami." Ucapan Raka membuat seluruh penghuni rumah tertawa.

Suasana yang sempat dipenuhi kepanikan berubah menjadi lebih hangat. Candaan-candaan ringan membuat ketegangan perlahan mencair.

Tak lama kemudian, seorang sopir masuk ke ruang tamu. "Pak, semua barang sudah masuk ke mobil."

Handoko mengangguk puas. "Bagus."

Pratiwi masih belum percaya begitu saja. "Sudah diikat semua? Jangan sampai bergeser selama perjalanan."

"Sudah, Bu."

"Yang kaca dipisahkan?"

"Sudah."

"Yang makanan jangan ditumpuk!"

"Iya, Bu."

Raka kembali menahan tawa melihat sopir mereka menjawab dengan sabar setiap pertanyaan maminya. "Kasihan, Mi. Dari tadi diinterogasi terus."

"Mami cuma memastikan."

"Kalau begini, nanti calon besan malah menunggu kita terlalu lama." Priambodo terkekeh.

"Ya sudah... ya sudah... ayo berangkat!" Semua akhirnya keluar rumah.

Di halaman sudah terparkir tiga mobil mewah yang akan mengantar rombongan menuju kawasan Bandung Barat.

Udara pagi terasa begitu segar. Matahari memancarkan sinarnya dengan lembut, seolah ikut memberkati perjalanan keluarga itu.

Setelah memastikan semua orang sudah berada di kendaraan masing-masing, rombongan pun mulai meninggalkan halaman rumah.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil utama terasa hangat. Pratiwi duduk di samping Handoko, sementara Raka berada di kursi belakangnya.

Jalanan Kota Bandung pagi itu cukup ramai, tetapi masih lancar. Pepohonan di sepanjang jalan melambai pelan diterpa angin. Sesekali kendaraan mereka melewati deretan kafe, toko, dan perkantoran yang mulai membuka aktivitas.

"Masih gugup?" tanya Handoko sambil melihat ke arah Raka yang sedang membuka ponsel.

Raka tersenyum tipis. "Sedikit."

"Normal."

"Papi dulu waktu melamar mami juga gugup?"

Handoko tertawa pelan. "Banget."

Pratiwi langsung menimpali. "Papimu sampai salah menyebut nama ayahku."

Raka spontan tertawa. "Serius?"

"Iya."

Handoko mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

"Itu sudah lama."

"Makanya jangan mengejek anak sendiri!"

"Tapi papi yakin, kamu lebih siap daripada papi dulu."

Raka mengangguk perlahan. "Aku cuma berharap semuanya berjalan lancar."

"Pasti." Pratiwi menoleh ke belakang.

"Kania perempuan baik. Mamanya juga ramah waktu kita pertama kali bertemu."

"Iya, Mi."

"Keluarganya juga hangat."

"Itu yang membuat aku yakin." Raka tersenyum senang.

Handoko hanya mendengarkan percakapan mereka sambil menikmati pemandangan di luar jendela.

Mobil mulai meninggalkan pusat kota menuju kawasan Bandung Barat.

Pemandangan perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi berganti dengan hamparan pepohonan hijau. Bukit-bukit membentang di kejauhan, dihiasi kabut tipis yang masih menggantung di puncaknya. Udara terasa lebih sejuk ketika kendaraan mulai memasuki jalan yang sedikit menanjak.

Pratiwi membuka sedikit jendela mobil. "Enak sekali udaranya."

"Iya."

"Kalau pensiun nanti kita pindah ke daerah seperti ini saja."

Handoko tersenyum. "Boleh juga."

Raka hanya tertawa mendengar rencana kedua orang tuanya. Perjalanan sekitar satu jam terasa begitu singkat karena sepanjang jalan mereka terus berbincang.

Tak lama kemudian, mobil mulai memasuki sebuah kawasan perumahan elite yang tertata rapi. Jalan-jalannya lebar, dipenuhi taman bunga di setiap sudut. Pohon-pohon peneduh berjajar di sisi jalan, membuat suasana terasa asri dan menenangkan.

"Sudah sampai, Pak," ujar sopir.

Semua otomatis memperhatikan ke arah depan.

Di ujung jalan berdiri sebuah rumah bergaya modern klasik dengan halaman yang luas. Beberapa kendaraan telah terparkir di depan rumah itu. Terlihat pula beberapa anggota keluarga calon mempelai sibuk menyambut kedatangan tamu.

Mobil rombongan keluarga Handoko Priambodo berhenti perlahan. Sopir segera turun dan membukakan pintu. Handoko keluar lebih dulu, disusul Pratiwi dan Raka.

Begitu kaki mereka menginjak halaman rumah, senyum ramah langsung menyambut. "Selamat datang!"

"Silakan masuk!"

Mereka dipersilakan menuju ruang tamu yang telah dihias indah. Aroma bunga melati bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah dalam rumah. Semua orang menoleh.

Langkah Kania terdengar pelan di atas lantai marmer. Gadis itu berjalan anggun dengan balutan kebaya berwarna krem lembut yang semakin memancarkan kecantikannya. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya meski rona gugup jelas terlihat di wajahnya.

Di sampingnya berjalan seorang wanita yang usianya jelang lima puluh tahunan. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa dan kelembutan. Kebaya biru tua yang dikenakannya berpadu serasi dengan selendang batik yang tersampir di bahunya. Rambutnya disanggul rapi, sementara senyum hangat menghiasi wajahnya saat mengantar putrinya menemui keluarga calon besan.

"Itu Kania," bisik Pratiwi kepada suaminya dengan wajah berbinar.

Handoko mengangguk pelan. Tatapannya semula hanya tertuju pada calon menantu yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya. Namun, saat pandangannya bergeser kepada wanita yang mendampingi Kania, tubuhnya mendadak menegang. Waktu seolah berhenti.

Suara percakapan di sekelilingnya perlahan menghilang, berganti dengan dentuman jantungnya sendiri yang tiba-tiba berpacu begitu cepat.

Tidak... Mustahil. Tatapannya tak berkedip sedikit pun. Wanita itu...Meski garis-garis usia telah menghiasi sudut matanya, meski rambut hitamnya kini mulai diselipi warna keperakan, Handoko tetap mengenali wajah itu.

Sorot mata teduh itu. Senyum yang dulu selalu mampu menenangkan hatinya. Lesung pipi yang masih tampak samar ketika wanita itu tersenyum.

Semuanya masih sama. Tangannya mengepal tanpa sadar.

Sementara di seberang sana, wanita itu yang semula tersenyum ramah kepada rombongan tamu mendadak terdiam. Matanya membesar. Napasnya tertahan. Raut wajahnya perlahan berubah, seolah baru saja melihat seseorang yang tak pernah ia bayangkan akan ditemuinya lagi seumur hidup.

"Mas..."

Suara lirih itu nyaris tak terdengar. Namun cukup bagi Handoko untuk memastikannya. Ia tidak salah orang. Perempuan itu adalah Mellisa Ariani. Perempuan yang pernah menjadi cinta pertama sekaligus cinta terbesarnya semasa kuliah.

Perempuan yang pernah mengisi setiap mimpi tentang masa depan. Perempuan yang dahulu berjanji akan berjalan bersamanya hingga tua.

Tetapi takdir berkata lain. Mereka dipisahkan oleh keadaan, lalu menjalani kehidupan masing-masing tanpa pernah mengetahui bagaimana kisah satu sama lain berakhir.

Dan kini...Setelah lebih dari dua puluh lima tahun berlalu...Takdir mempertemukan mereka kembali.

Bukan sebagai sepasang kekasih. Melainkan sebagai dua orang tua yang akan menyatukan putra dan putri mereka dalam sebuah ikatan suci.

Tatapan mereka bertemu. Tak satu pun mampu mengucapkan sepatah kata. Yang tersisa hanyalah ribuan kenangan yang tiba-tiba menyeruak memenuhi ruang hati, membawa mereka kembali pada masa ketika cinta masih begitu sederhana... namun tak pernah berhasil mereka miliki.

1
~Ni Inda~
Berattt
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
falea sezi
jalang lacur uda tua kok jd pelakor
Jamayah Tambi
Nak jawab macam mana tu Mel.Nak terus terang ke bohong.
sutiasih kasih
km akn meraskn yg di rsakn pratiwi.... saat ankmu mngalami hal yg sm....😔😔
sutiasih kasih
bukan cerita masa lalu... tpi masa skrg... yg kalian rajut....
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
Jamayah Tambi
Tanya pada tempat yg betul.Tak tau apa jawaban Melissa.Jujur atau tipu
Jamayah Tambi
Berhenti Handoko,kau dah ada rumah mu sendiri.zPratiwi nak letak kat mana kalau kau mrnikahi Melissa
Jamayah Tambi
Kau ada bini,jaga je bini lau.Bini yg baik dan setia.Biar Melissa dan Randy.Mereka duda dan janda tak ada masalah.Simpan je perasaanmu Handoko
sutiasih kasih: handoko msih brnafsu mngejar bahagia semu di ujung jln kak....
nnti klo smua sdh hancur.... bru dia sadar dan mnyesali... krna tak ada jln untuk kmbali....
total 1 replies
Jamayah Tambi
Mana satu nak pilih Mel
Jamayah Tambi
Kesian juga Si Mellisa tak pernah mengecap bahagia setelah menikah .Kemudian menjada selama puluhan tahun.
Jamayah Tambi
Tak pasal2 bapak mertua jd bapak tiri.Hah pelik tp benar.Orang tua klu jatuh cinta lagi,mesumnya mengalahkan anak muda.
Jamayah Tambi
Jangan ikutvhati Handojo.Ingat umur.Bahagikan anak2 kalian.Mungkin kamu dan Melisa memang tidak berjodoh.Kalau kau menikahi Mekissa bagaimana dgn Pratiwi
Oma Gavin
melisa sadar jgn amnesia ingat anakmu perlu bahagia dgn calonnya jgnnlamu cuma mikir kebahagiaan dan kesenangan mu saja fintaylsma mu udah tutup buku ngga perlu dibuka lagi, jgn korbankan kania demi keegoisanku mu sendiri
Jamayah Tambi: Saranku ,jangan niksh dgn Handoko kerana banyak hati ygvterluka.Pratiwi,kina dan Raka.Klu Randy duda atau hujang terlajak ya nikah saja dgnnya.
total 1 replies
sutiasih kasih
lnjutkn kbodohan oleh nafsumu handoko....
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...
Oma Gavin
feeling ku pernikahan anaknya ngga terealisasi karena kebongkar perselingkuhan ortu masing" mereka pasti malu lebih baik mundur daripada berantakan
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!