Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 — Kehadiran Orang Ketiga
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suasana rumah mungil itu begitu sunyi. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar jelas, seolah sengaja mengingatkan bahwa waktu terus berlalu tanpa membawa sosok yang sejak tadi dinantikan.
Kinara duduk sendirian di sofa dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan. Sesekali pandangannya beralih ke pintu depan, lalu ke layar ponsel yang masih gelap tanpa satu pun pesan baru. Ia menghela napas pelan.
Dua minggu terakhir Rashid selalu pulang larut malam. Awalnya Kinara tidak terlalu memikirkannya. Perusahaan suaminya memang sedang berkembang pesat. Beberapa proyek besar datang hampir bersamaan, membuat Rashid sering menghadiri rapat dengan klien hingga malam.
Atau sekiranya, begitulah penjelasan Rashid saat Kinara terus bertanya alasan ia pulang larut malam dan Kinara selalu mempercayainya. Selama lima tahun terakhir, Kinara selalu mempercayai Rashid lebih daripada ia mempercayai dirinya sendiri.
“Kenapa dia belum pulang juga? Ini sudah begitu larut, dia seharusnya sudah berada di rumah,” gumam Kinara dengan gelisah.
Kinara bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju meja makan. Di atas meja masih tersaji beberapa hidangan yang sejak sore ia masak sendiri. Sup buntut kesukaan Rashid, tumis buncis, ayam kecap, dan sambal yang selalu diminta suaminya. Namun semuanya telah dingin.
Ia kembali menghangatkannya untuk ketiga kalinya malam itu. Saat uap mulai mengepul dari panci, bibir Kinara membentuk senyum kecil. "Mungkin kali ini dia benar-benar segera pulang."
Kalimat itu lebih terdengar seperti usaha menenangkan dirinya sendiri. Lima tahun menikah bukanlah waktu yang singkat. Ia masih mengingat jelas bagaimana mereka memulai semuanya dari nol. Semua jenis rintangan fan tantangan pernah mereka lewati bersama.
Bahkan ketika Rashid hampir menyerah karena usahanya berkali-kali ditolak investor, Kinara selalu berada di sampingnya.
"Aku percaya padamu, kita berusaha lagi, jangan pernah menyerah." Kalimat itu selalu ia ucapkan. Dan setiap kali mendengarnya, Rashid kembali bersemangat.
Kinara tersenyum tipis mengenang masa-masa itu. Tanpa sadar, pandangannya jatuh pada sebuah pigura kecil di atas lemari. Foto pernikahan mereka.
Dalam foto itu, Rashid tersenyum begitu lebar sambil menggenggam erat tangannya.
Dulu pria itu pernah berkata, "Aku mungkin belum bisa memberimu kehidupan mewah, tapi aku janji akan membahagiakanmu seumur hidup."
Kinara memejamkan mata sesaat. Entah mengapa, janji itu kini terdengar begitu jauh. Pukul sebelas lewat lima belas menit, ponsel Kinara akhirnya berdering.
Wajahnya langsung berbinar. "Mas Rashid, kapan kau pulang? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu." Ia segera mengangkat telepon itu.
"Halo, Mas?" Kinara kembali bersuara lantaran Rashid tak kunjung menyahut.
"Aku akan pulang sebentar lagi." Suara Rashid terdengar datar.
Kinara tersenyum lega. "Iya. Aku sudah siapkan makan malam."
"Tidak usah repot-repot, Ra."
Kening Kinara mengernyit, mendapati suara suaminya yang kian dingin saat berbicara dengannya. "Tapi Mas belum makan malam, kan?"
"Aku sudah makan, Ra."
Jawaban singkat itu membuat Kinara terdiam beberapa detik.
"Oh ... ya sudah. Aku akan tetap menunggu Mas pulang, ya. Hati-hati di jalan."
"Terserah kau saja."
Sambungan telepon langsung terputus. Kinara menatap layar ponselnya beberapa saat, masih merasa tak percaya bahwa Rashid berubah semakin dingin terhadapnya.
Dulu, saat Kinara mengatakan akan menunggunya pulang, Rashid akan selalu berkata, "Jangan begadang menunggu aku. Kamu istirahat saja, jangan sampai kamu kelelahan."
Tetapi sekarang, Kinara merasa seolah ada jarak tak kasat mata antara dirinya dan Rashid. Namun ia buru-buru mengusir pikiran buruk itu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Kinara. Mungkin saja Mas Rashid memang sedang lelah."
Setengah jam kemudian, suara mesin mobil akhirnya terdengar memasuki halaman rumah. Kinara yang sejak tadi duduk di sofa langsung berdiri. Wajahnya kembali dipenuhi senyum.
"Mas Rashid akhirnya pulang."
Dengan langkah cepat dan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya, Kinara berlari kecil menuju pintu depan. Gegas ia membuka pintu, tak sabar melihat wajah suami tercintanya.
Namun, begitu pintu terbuka, senyum di wajahnya langsung lenyap seketika berganti dengan kerutan halus di dahi.
Di bawah cahaya lampu teras, Rashid berdiri beberapa meter dari pintu. Laki-laki itu tidak pulang sendirian. Tangan kirinya tampak menggenggam erat tangan seorang perempuan muda berpenampilan elegan.
Perempuan itu mengenakan gaun longgar berwarna krem. Perutnya terlihat membuncit, dan ia menatap Rashid dengan wajah penuh perhatian. Hal yang tak pernah Kinara harapkan untuk lihat.
“Mas Rashid?” Kinara masih merasa tak percaya Rashid pulang bersama dengan seorang wanita yang tengah hamil besar pula.
Dunia Kinara mendadak terasa berhenti berputar. Matanya berkedip beberapa kali, ia berharap apa yang dilihatnya hanyalah ilusi karena terlalu lelah menunggu. Namun perempuan itu benar-benar ada. Dan yang lebih menyakitkan, Rashid tidak melepaskan genggamannya sedikit pun.
"Mas? Si-siapa dia?" Kinara memberanikan diri untuk bertanya dengan suara bergetar.
Rashid hanya menatapnya datar, tanpa rasa bersalah.
"Mas! Siapa dia? Kenapa kau membawa pulang wanita hamil ke rumah kita?" tanya Kinara lagi, suaranya mulai meninggi tak sabar.
Perempuan itu justru tersenyum tipis, seolah dirinya adalah tamu yang datang ke rumah sendiri. “Halo, Mbak Kinara. Aku harap Mbak Kinara bisa menerima kehadiranku di sini,” katanya dengan begitu akrab.
Alih-alih menjawab sapaan wanita yang tidak dikenalnya itu, Tatapan Kinara justru perlahan turun ke arah perut wanita itu, dadanya seketika terasa sesak.
“Kau … sedang mengandung?”
Rashid tak mengatakan sepatah katapun, membiarkan pikiran Kinara bermain liar di kepalanya. Ia justru menggandeng wanita hamil itu, seolah-olah ingin melindunginya.
Ribuan pertanyaan berdesakan di kepala Kinara. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi tidak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari bibirnya. Ia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kinara hanya mampu menatap bergantian antara wajah Rashid dan perempuan asing tersebut.
Angin malam berembus pelan, tetapi tubuh Kinara terasa dingin membeku. Rashid akhirnya melangkah maju. Bukan untuk memeluk istrinya yang telah menunggu sepanjang malam. Bukan pula untuk menjelaskan keadaan.
Dengan nada tenang yang justru terdengar begitu asing di telinga Kinara, ia berkata, "Aku sengaja membawanya ke sini karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Jantung Kinara berdegup semakin kencang. Instingnya berteriak bahwa apa pun yang akan keluar dari mulut suaminya setelah ini akan mengubah hidupnya untuk selamanya.
Tanpa ia sadari, jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh. Sementara di atas meja makan, hidangan yang telah ia hangatkan berkali-kali kembali mendingin, persis seperti kehangatan rumah tangga yang selama ini ia perjuangkan seorang diri.