Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Curhat
Di kampus, di bawah pohon yang rindang.
"Kepala gue puyeng banget guys, dosen pembimbing gue moody-an banget. " ujar Dasha yang baru duduk sambil makan gorengan.
" Bu Lia? Kenapa lagi dia? " tanya Ara sambil nyomot gorengan yang dibawa Dasha.
" Kemarin kan gue ketemu dia buat revisian, masa dia langsung komentarin baju kuning gue yang ngejreng. Katanya gue kayak dibungkus sama kertas wajik, bikin pusing mata. Mana ngomongnya ketus banget, terus abis itu draft gue dicoret banyak banget!" keluh Dasha dengan wajah masam.
Suara tawa Ara dan Yasmin seketika memecah keheningan di pagi hari. Beberapa mahasiswa yang sedang lewat, sempat menoleh ke arah 4 perempuan yang sedang gibahin dosennya dibawah pohon.
Ara tertawa paling keras hingga matanya menyipit.
"Lagian lo juga yang nantangin pake baju kuning neon, padahal kan lo tau Bu Lia benci setengah mati sama warna kuning. Kakak tingkat kita udah pernah wanti-wanti kan? "
"Ya mana gue inget kalau dia benci warna kuning? Gue pikir cuma mitos mahasiswa aja, kayak urban legend kampus." sahut Dasha masih dengan nada tidak terima.
"Inget nggak semester lalu? Dia pernah marah besar sama anak Manajemen gegara dikasih kejutan ulang tahun tema SpongeBob? Hampir satu kelas kena semprot!" tambah Yasmin sambil merapikan ujung jilbabnya yang sedikit berantakan tertiup angin "Katanya dia nggak suka SpongeBob karena mengingatkan dia sama mantan suaminya yang toxic. Dan kan SpongeBob itu warna kuning, Sha! Jadi otomatis semua yang kuning bakal dia benci."
Dasha menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
"Sejarah kelam macam apa itu? dia yang bermasalah sama mantan lakinya, kenapa para mahasiswa yang kena imbasnya? Nggak profesional banget sih jadi dosen " Dasha misuh-misuh.
" Sabar Shaaaa" ujar Ara ngeledek.
"Terus semalam lo lembur dong buat ngerjain skripsian?" tanya Yasmin pelan, mencoba mengalihkan topik agar Dasha tidak terlalu stres.
"Niatnya sih begitu, tapi gue tinggalin aja. Abisnya pusing banget kalau dipaksa, otak gue ngebul akut. Nanti malam aja gue kerjain kalau udah ada mood, gimana pun kita butuh kewarasan jiwa sebelum berperang." jawab Dasha sambil meneguk sedikit air mineral dari tumblernya.
Suasana hening sejenak. Yasmin yang sejak memperhatikan Raya yang nampang anteng sendiri. Yasmin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya Raya adalah orang yang paling riuh di antara mereka bertiga. Jika ada yang bercanda, Raya yang paling dulu tertawa lepas. Tapi hari ini, gadis itu terasa jauh berbeda, seolah jiwanya melayang entah ke mana meski raganya duduk bersama mereka.
"Raya..." panggil Yasmin lembut sambil menyentuh pelan lengan Raya "Lo kenapa? Dari tadi diem aja, biasanya kalau Dasha sudah ngeluh soal Bu Liia, lo yang paling semangat ngeledekin."
Ara dan Dasha seketika berhenti mengobrol. Mereka menatap Raya bergantian, mereka juga mulai menyadari keanehan yang selama ini mereka abaikan karena terlalu sibuk mengurusi urusan masing-masing.
"Iya benar, Ray. Muka lo pucat banget kayak belum nemu nasi. Ada masalah apa? Jangan bilang skripsi lo juga dicoret sama dosen pembimbing lo ya?" tebak Ara.
Raya menarik napas panjang, mencoba menelan ludah yang terasa serak di kerongkongan. Ia menunduk memandang jemarinya yang saling bertautan di pangkuan. Rasanya berat untuk mengucapkannya, rasanya jika ia mengatakannya nanti semuanya akan menjadi nyata dan menyakitkan. Namun memendamnya sendirian selama 10 hari ini justru membuat dadanya terasa sesak luar biasa.
"Bukan soal skripsi..." jawab Raya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia sudah berusaha menahannya. "Ini soal Jack."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Tiga sahabatnya terdiam serentak. Wajah mereka yang tadinya santai kini berubah menjadi serius. Mereka semua mengenal baik siapa Jack bagi Raya. Mereka tahu betapa besar cinta yang Raya berikan pada pemuda itu.
Mereka tahu Jack rajin bawain kembang mawar dan coklat buat Atau saat hari Valentine, padahal jarak kampus mereka lumayan jauh. Mereka juga sering ngobrol sama Jack kalau dia jemput Raya ke kampus. Jack adalah pribadi yang menyenangkan dan humoris, punya wajah asem manis ala akang akang Sunda. Dan yang pasti Jack itu murah senyum kayak pegawai Indoapril.
"Kenapa sama Jack? kalian lagi berantem gegara debat buat outfit kondangan? " canda Dasha berusaha mencairkan suasana.
Raya menggeleng pelan, setetes air mata akhirnya lolos juga dari pelupuk matanya. Ia segera menghapusnya dengan punggung tangan.
" Kalian tau nggak, udah sepuluh hari Jack hilang kayak di culik kunti " ucap Raya dengan suara yang kini sedikit lebih keras namun tetap tertahan oleh kesedihan. "Ponselnya mati terus. Gue hubungi emaknya, katanya Jack lagi pelatihan di Sukabungah sama teman Kantor. Kalau emang dia dinas luar kota, setidaknya kabarin gue kek. "
" Sebelum dia dinas luar kota, kalian nggak lagi berantem kan? " tanya Ara.
" Enggak sama sekali. Malahan sebelum menghilang, dia sempat ngajak gue ke bazar kuliner yang ada di Mall Erot. "
Hening kembali menyelimuti mereka. Yasmin segera menggeser duduknya lebih dekat ke arah Raya, merangkul bahu sahabatnya itu dengan lembut.
"Sudah coba tanya ke teman-temannya yang biasa diajak berbisnis? Atau ke tempat dia kerja di dealer mobil?" tanya Yasmin hati-hati.
"Sudah Yas, semuanya sudah gue tanyain. "
"Terus jawaban mereka apa? " tanya Dasha.
" Kata teman bisnis musang nya, Jack udah nggak pernah nongkrong di pasar hewan sejak ayahnya meninggal. Jadi mereka nggak tau sama sekali si Jack kemana. "
" Terus kata teman kantornya gimana? "
" Kang Hadi bilang, si Jack lagi pelatihan. Kemungkinan besar mau ditempatkan di dealer baru yang ada di Sukabungah. Selebihnya gue nggak tau temen Jack yang lain. " ujar Raya pesimis.
" Kemana si Jack ya? "Ara ikutan pusing.
"Gue takut ada hal buruk yang dia alami. Tapi gue juga takut kalau sebenarnya dia baik-baik saja dan cuma nggak pengen lagi ketemu sama gue."
Ara, yang terkenal paling polos dan suka melontarkan hal-hal yang tak terduga, tiba-tiba bersuara dengan wajah serius namun ucapannya justru membuat mereka semua sedikit teralihkan dari kesedihan meski hanya sejenak.
"Eh tapi Ray... Jangan buru-buru berpikir negatif dulu. Siapa tahu si Jack itu tiba-tiba kepilih jadi calon manager koperasi merah putih yang tugasnya ke hutan belantara tanpa boleh bawa alat komunikasi? dia tinggalin tuh jabatan dia sebagai admin di dealer dengan gaji yang imut itu. "
" Jangan ngada-ngada Ra! Mana mungkin si Jack mau jadi manager koperasi merah putih yang ditempatkan diatas gunung. Mau bergaul sama siapa si Jack? kan kita tau dia itu extrovert." celetuk Dasha.
Kali ini Raya tersenyum tipis, senyum yang lebih tulus dari sebelumnya. Terima kasih kepada Ara yang selalu bisa membuat suasana yang berat menjadi sedikit lebih ringan.
" Kalian tau nggak? sehari sebelum kita lost contact, dia isiin dompet gue pake uang 200 ribu tanpa sepengetahuan gue. "
" Terus sekarang uangnya kemana? belum lo jajanin tahu gejrot kan? " tanya Ara.
" Masih ada di dompet. Gue takut ini adalah uang terakhir yang dia kasih buat gue, makanya gue simpen buat kenang-kenangan. Firasat gue nggak enak banget, kayak dia mau ninggalin gue karena sudah ada perempuan lain. " ucap Raya kepikiran.
"Jangan dulu berpikir kalau dia udah bosan atau mencari orang lain, Ray. Mungkin memang ada hal berat yang sedang dia hadapi sendirian, dan dia merasa tidak ingin membebani lo dengan masalah itu." ujar Yasmin.
" Iya Ray, siapa tau dia lagi down karena ada debt collector yang masih datang tagih utang ke rumahnya. Ada waktunya orang menenangkan diri, siapa tau si Jack lagi butuh ketenangan. " ujar Dasha.
"Tapi bukankah pasangan itu harus saling berbagi beban? kita itu pacaran bukan sebulan atau dua bulan, tapi sudah 3 tahun, Sha. " ujar Raya dengan suara parau.
"Mungkin karena si Jack ingin kelihatan kuat di depan pacarnya, Ray. Banyak lelaki yang begitu kok. " ujar Dasha bijaksana. "Jack itu orang yang punya harga diri tinggi, apalagi setelah ayahnya meninggal dan meninggalkan banyak kesulitan."
Raya terdiam merenung. Kata-kata sahabatnya itu masuk ke dalam hatinya, menenangkan badai yang selama ini mengamuk di sana. Ia merasa bersalah karena selama ini terlalu banyak memikirkan ketakutan-ketakutan buruk yang belum tentu benar adanya.
"Terima kasih ya teman-teman..." ucap Raya dengan senyum yang kini lebih tulus dan matanya mulai berbinar kembali. "Kalau tidak ada kalian, mungkin gue udah gila memikirkan hal-hal yang bukan-bukan sendirian. "
"Itulah gunanya sahabat, Ray. Kalau susah jangan dipendam sendiri, nanti tumbuh jadi jamur beracun di dalam kepala," kata Ara dengan nada serius namun membuat mereka semua tertawa kecil.
"Nah, begitu dong senyumnya. Senyum Raya itu bisa menaikkan nilai rata-rata kebahagiaan satu kampus lho!" tambah Yasmin sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangan Raya.
Mereka pun kembali berkumpul dalam kehangatan persahabatan yang tak tergantikan. Meski kabar tentang keberadaan Jack belum juga datang, setidaknya beban berat yang menindih dada Raya kini sudah terasa jauh lebih ringan. Ia menyadari bahwa meskipun Jack yang menjadi kekasihnya sedang jauh atau tak terlihat, Tuhan mengirimkan sahabat-sahabat yang setia menemani dan menguatkannya.
Namun di sudut hati terdalamnya, harapan itu tetap ada. Harapan yang tak akan pernah ia biarkan pudar. Bahwa suatu hari nanti, entah secepat apa atau sesulit apa jalannya, Jack akan kembali menampakkan diri.
Dan saat itu terjadi, Raya tidak akan langsung menyalahkannya atau memarahinya. Ia hanya ingin memeluknya erat dan bertanya dengan lembut: "Ke mana saja Aa selama ini? Neng merindukanmu, lebih dari apa pun."
Raya mengambil kembali buku skripsinya yang tadi tergeletak tanpa dibaca. Ia membukanya dengan semangat baru. Jika Jack sedang berjuang di luar sana untuk kehidupan mereka, maka Raya pun harus berjuang di sini. Ia akan menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa agar kelak ketika mereka bertemu kembali, keduanya sudah sama-sama menjadi pribadi yang lebih tangguh dan siap menghadapi hari esok bersama-sama.
"Ayo kita masuk kelas, tuh Bu Titin sudah datang! kita harus semangat menyelesaikan 1 semester terakhir di kampus kita." ucap Yasmin memberi semangat terakhir sebelum mereka masuk kelas.
Raya mengangguk mantap. Ia memejamkan mata sejenak, mengucapkan doa dalam hati agar kekasihnya dijaga di mana pun ia berada, dan agar jalan untuk kembali bertemu segera terbuka lebar.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target