Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Duka
“Sayang?”
Suara serak khas bangun tidur itu memecah keheningan kamar yang sejak beberapa menit lalu hanya diselingi bunyi pelan kosmetik yang dibuka dan ditutup.
Naresa yang sedari tadi duduk menghadap cermin tidak menoleh sedikit pun. Riasan tipis di wajahnya nyaris rampung. Ia hanya tinggal memoles lipstik berwarna nude pada bibirnya yang sejak beberapa hari terakhir tampak kehilangan rona alaminya. Setelah itu, kedua bibirnya dirapatkan perlahan agar warna lipstik tersebut menyatu dengan sempurna.
Derap langkah kaki terdengar semakin dekat hingga akhirnya berhenti tepat di belakang kursi yang didudukinya. Dari pantulan cermin, Naresa melihat suaminya masih dengan kaus tidur berwarna gelap dan rambut yang sedikit berantakan.
Ardan membungkukkan tubuhnya, berniat memeluk sang istri, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap pagi. Namun, gerakannya terhenti begitu sorot matanya jatuh pada leher jenjang Naresa yang terbuka karena mengenakan nightgown satin bertali tipis. Tepat di atas tulang selangka sebelah kirinya, memar berwarna ungu kebiruan kini tampak jauh lebih jelas dibandingkan semalam.
Perlahan, Ardan berlutut di samping kursi itu, lalu mendorongnya sedikit hingga Naresa menghadap ke arahnya. Kedua tangan perempuan itu digenggamnya pelan seraya menatap wajah sang istri.
“Masih sakit?”
Naresa menggeleng pelan. “Enggak.”
“Yang benerrr…?” tanya Ardan, memanjangkan nada di akhir kalimatnya seolah sengaja menggoda sang istri.
“Udah, ah.”
Naresa perlahan melepaskan kedua tangannya dari genggaman Ardan sebelum bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju lemari, mengambil pakaian ganti miliknya dan Ardan, lalu meletakkannya rapi di atas kasur. Setelah itu, ia berbalik menatap sang suami yang rupanya masih belum beranjak dari tempatnya.
“Ayo, Kak. Siap-siap,” ujarnya pelan. “Nggak usah khawatir sama aku. Serius, aku baik-baik aja kok.”
Mendengar itu, Ardan akhirnya berdiri lalu menghampiri Naresa hingga hanya menyisakan beberapa langkah di antara mereka. Senyum kecil perlahan tersungging di bibirnya, seolah baru saja mendapat ide untuk mencairkan suasana yang sejak tadi terlalu sunyi.
“Iya, ya.” Ardan mengangguk-ngangguk. “Aku tuh kadang lupa kalau istri aku ini ternyata kuat." Kepalanya sedikit dimiringkan, sementara matanya menatap langit-langit kamar seolah sedang berpikir keras. “Kayak… siapa, ya? Cewek di drakor yang pernah kamu tonton itu?”
Tatapannya kembali kepada sang istri. Keningnya berkerut beberapa detik sebelum wajahnya seketika berbinar. “Ah! Bokjo, kan?”
Belum sempat Naresa menjawab, Ardan sudah lebih dulu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi kamar.
“Haha…” Naresa hanya mengeluarkan bunyi tawa pendek yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa. Selera humor suaminya memang benar-benar receh. Entah bagaimana pria itu bisa menganggap hal sesederhana itu lucu.
“Yaudah, cepetan mandi,” ucap Naresa seraya mendorong pelan dada Ardan dengan kedua telapak tangannya.
“Siap, Bu Bos!” Ardan masih terkekeh pelan sambil mengusap ujung matanya yang berair karena tawa. Tanpa banyak protes, ia berbalik menuju kamar mandi.
Melihat itu, Naresa hanya menggelengkan kepala. Setelah Ardan berangkat bekerja nanti, ia berniat kembali ke rumah mereka. Masih ada beberapa barang yang harus dibereskan sebelum dipindahkan sore nanti. Setidaknya, itu memberinya kesibukan daripada hanya berdiam diri di kediaman orang tua Ardan.
Karena mulai hari ini, entah sampai kapan, ia akan tinggal serumah dengan ibu mertua dan adik iparnya. Hal yang sejujurnya masih terasa canggung bagi Naresa. Bukan karena mereka memperlakukannya dengan buruk. Justru sebaliknya. Namun, tinggal serumah dengan keluarga suami jelas berbeda dengan sekadar datang berkunjung sesekali.
...…...
“Loh? Mom?”
Nada suara Ardan dipenuhi keterkejutan begitu memasuki ruang makan dan mendapati sang ibu telah tampil rapi dengan pakaian formal yang biasa dikenakannya saat mengajar di salah satu universitas swasta. Rambutnya pun telah disanggul rapi.
“Mommy mau ngajar?” tanya Ardan sembari menarik kursi di samping sang ibu.
Alih-alih menjawab, sang ibu justru mengalihkan perhatiannya kepada Naresa yang duduk di sebelah putra sulungnya.
“Gimana kondisimu, Res? Sudah membaik?”
Naresa mengangguk pelan. “Udah kok, Mom. Aku udah baikan.”
“Syukurlah.”
“Mom… aku lagi nanya, lohh,” protes Ardan dengan nada yang sengaja dibuat seolah sedang merajuk.
Sang ibu terkekeh pelan sebelum akhirnya menoleh kepada putra sulungnya. “Iya. Hari ini Mommy mulai ngajar lagi.”
Percakapan mereka terus mengalir, mengisi suasana sarapan pagi itu. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, meja makan itu kehilangan sosok yang selama ini selalu duduk di kursi paling ujung sebagai kepala keluarga. Keheningan memang sesekali menyelinap di sela-sela obrolan, tetapi kehidupan perlahan tetap bergerak sebagaimana mestinya.
Pagi itu juga menjadi hari pertama Kale kembali duduk di meja makan setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri. Kepulangannya yang baru kemarin sore membuatnya tak sempat menghadiri pemakaman sang ayah.
Sejak duduk, Kale hanya sesekali menimpali percakapan sang ibu, Ardan, dan Naresa. Selebihnya, matanya lebih sering terpaku pada layar ponsel yang berada di samping piringnya.
“Kal.”
Pria itu mengangkat kepala begitu mendengar namanya dipanggil.
“Tumben, kalem banget. Kenapa?”
Ardan mengenal betul adiknya. Kale bukan tipe orang yang bisa diam terlalu lama. Bahkan dalam suasana paling serius sekalipun, selalu ada saja celetukan yang keluar dari mulutnya. Namun pagi ini berbeda. Sejak tiba di rumah kemarin sore, adiknya justru lebih banyak membisu. Ardan tahu duka atas kepergian sang ayah masih begitu membekas. Meski begitu, ia tetap ingin memastikan keadaan adiknya.
“I'm okay.” Kale mengangkat bahu ringan. “Cuma lagi capek aja sih.”
“Nih anak,” kata sang ibu sembari mengacak rambut putra bungsunya. “Semalem tidur sama Mommy, tahu. Sambil nangis lagi.”
“Ih! Apaan sih, Mom?” protes Kale, wajahnya seketika berubah masam. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa sang ibu menceritakan hal itu dengan begitu santainya.
“Serius?” tanya Ardan dengan mata membulat.
“Iya. Manja banget.”
“Tau ah!” Kale hendak bangkit dari kursinya, tetapi sang ibu lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
“Iya, iya. Mommy salah,” ujarnya dengan nada membujuk. “Maaf, ya. Abisin dulu makanannya.”
Naresa yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan mereka tak kuasa menahan senyum kecil. Diam-diam ia menikmati pemandangan sederhana di hadapannya. Bagi Naresa, kehangatan seperti itu terasa begitu asing. Mereka saling menggoda, saling mengejek, lalu beberapa detik kemudian kembali tertawa bersama, seolah tidak ada satupun yang benar-benar disimpan sebagai kesal.
Sarapan pagi itu pun berakhir dengan canda tawa yang perlahan kembali memenuhi rumah tersebut setelah tujuh hari terakhir lebih akrab dengan doa-doa, pelukan, dan isak tangis orang-orang yang datang silih berganti menyampaikan belasungkawa. Kepergian sang kepala keluarga memang meninggalkan ruang kosong yang tak mungkin tergantikan. Namun, hidup tak pernah benar-benar berhenti hanya karena seseorang telah tiada. Mereka yang ditinggalkan hanya belajar melangkah, meski kini harus membawa duka di setiap langkahnya. Bukankah pada akhirnya hidup dan duka memang selalu berjalan berdampingan?
Beberapa menit kemudian, Naresa berdiri di depan gerbang mengantar kepergian ibu mertuanya. Dari balik kaca samping, sang ibu melambaikan tangan yang segera dibalas Naresa dengan senyum tipis. Klakson pendek terdengar sebelum mobil yang dikemudikan Kale perlahan melaju menyusuri jalan kompleks perumahan. Ia baru berbalik ketika kendaraan itu menghilang di balik tikungan.
Saat hendak menuju mobil Ardan, Naresa melihat suaminya justru kembali masuk ke dalam rumah.
Kayaknya ada yang ketinggalan.
Naresa membuka pintu penumpang dan masuk lebih dulu. Tas kerja Ardan sudah terletak rapi di jok belakang, sementara ponselnya berada di atas konsol tengah.
Ting!
Layar ponsel Ardan menyala begitu sebuah notifikasi masuk. Tanpa berniat mengintip, pandangan Naresa menangkap sekilas isi pesan yang muncul di layar.
+62 821-XXX-XXX
Ardan, makan siang nanti bisa kita ketemu? Aku…
...[…]...
Nahh lohh siapa tuhh??? Hmm👀
Kurang lebih seperti inilah pakaian yang dikenakan Naresa.
Drakor yang Ardan maksud.