NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pedang Perak Berselimut Es

Jarak maut hanya tinggal hitungan detik. Udara di sekitar Arlen mendadak terasa mati, terkunci oleh tekanan energi gelap yang masif dari sang monster. Namun, di tengah kondisi paling kritis di mana tubuh fana ini tidak bisa digerakkan, tidak ada setitik pun ketakutan di wajah Arlen. 

Sebaliknya, sepasang mata kelabu gelapnya justru berkilat dingin. Jiwa agungnya yang menyimpan ingatan ribuan tahun lalu mendadak berontak, menolak ditundukkan oleh moster dihadapan nya ini.

Hanya karena tubuh fana ini masih muda, kau pikir bisa melenyapkanku? batin Arlen murka.

Menolak untuk mati, Arlen memutar paksa seluruh sisa energi di dalam pembuluh jiwanya. Tekanan maut dari luar dan kemarahan mutlak dari dalam jiwanya justru menjadi katalis yang menghancurkan paksa batas kekuatannya. 

Arlen menarik seluruh sisa energi dingin bumi yang tersimpan di dalam inti bukit secara masif, menyatukannya dengan sisa energi kehidupan di dada, lalu menghantamkannya ke dinding pembatas tingkat kekuatannya.

KRAKK......... retak 

Suara dentingan nyaring yang memekakkan batin bergema di dalam kepala Arlen. Batas kokoh yang menguncinya selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping.

Tepat saat Serigala Bayangan memuntahkan ledakan energi hitamnya, tubuh Arlen meledak. Bukan lagi cahaya tembaga yang keluar, melainkan pancaran cahaya perak murni yang sangat berkilau, tajam, dan membutakan mata.

 Ledakan energi perak itu membentuk badai vertikal yang menjulang ke langit, menyapu bersih seluruh kabut kegelapan di puncak bukit dalam sekejap.

Penempaan fisik yang ekstrem selama tiga tahun akhirnya berbuah manis. Arlen tidak hanya menembus batas biasa, melainkan langsung menginjakkan kaki di Tingkat ke-3 Silver Aura.

Luka-luka di tubuh Arlen langsung tertutup oleh aliran energi perak yang murni. Rambut hitam legamnya bergerak liar tertiup badai energinya sendiri. 

Tekanan udara di puncak bukit mendadak berbalik total, kini didominasi oleh aura suci yang sangat menindas.

Serigala Bayangan menghentikan serangannya secara paksa. Mata merah darahnya yang semula penuh keangkuhan kini membelalak melepaskan rasa ngeri yang teramat sangat.

 Tubuh raksasa setinggi dua meter itu bergetar hebat, mendadak merasa lumpuh dan tercekik di bawah tekanan Silver Aura tingkat ke-3 yang memancar dari tubuh Arlen.

Arlen perlahan berdiri tegak, mengangkat tangan kanannya ke depan dengan telapak terbuka.

"Sekarang, mari kita balikkan situasinya," ucap Arlen datar.

Saat kalimat itu lolos dari bibirnya, riakan Silver Aura tingkat ke-3 yang berputar di sekeliling tubuh Arlen mendadak memadat ke arah telapak tangannya. Aliran energi perak murni itu mengental, berjalin keras membentuk sebilah pedang panjang berwujud cahaya perak murni yang sangat murni.

Tidak berhenti sampai di sana, Arlen menghentakkan kaki, memanggil pusaran energi dingin bumi dari dalam inti bukit.

 Hawa sedingin es langsung merayap naik, menyelimuti bilah perak tersebut hingga memicu kepulan uap dingin yang pekat. Permukaan pedang aura itu seketika mengkristal dengan ukiran-ukiran garis runik es yang tajam dan memukau, memancarkan pendar keperakan yang sangat menawan namun mematikan.

 Udara di sekeliling bilah pedang tersebut seketika membeku, menciptakan desis ngeri yang memotong keheningan malam.

Arlen mencengkeram gagang pedang aura tersebut. 

Insting dan memori bertarungnya sebagai ksatria agung di masa lalu langsung bangkit sepenuhnya. Arlen mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang sempurna, mengangkat bilah pedangnya secara vertikal di depan wajahnya dengan tatapan mutlak seorang penguasa sejati yang mendominasi.

Melihat ancaman baru itu, Serigala Bayangan memaksakan diri memecah kelumpuhannya. Sang monster mengaum murka, melompat maju dengan cakar-cakar tajam yang terayun horizontal untuk memotong tubuh Arlen.

Namun, Arlen tidak menghindar. Dengan ketenangan seorang ksatria sejati, Arlen memutar pedang auranya dalam gerakan melingkar yang presisi. Teknik pertahanan pedang tingkat tinggi dilepaskan. Bilah perak berselimut es itu menyambut hantaman cakar monster secara langsung.

Tringgg!

Benturan dua kekuatan masif itu meledakkan gelombang kejut yang meratakan sisa bebatuan di sekeliling mereka. Hebatnya, tubuh kecil Arlen tetap berdiri kokoh tanpa bergeser sedikit pun, sementara cakar raksasa Serigala Bayangan justru membeku seketika akibat hantaman energi dingin bumi yang menyalur dari pedang Arlen.

Memanfaatkan momentum pertahanan yang sempurna itu, Arlen langsung beralih ke mode menyerang. Gerakan kaki Arlen berubah menjadi sangat cepat dan tak terprediksi, melesat di antara celah gerakan musuh dengan teknik berpedang yang sangat indah namun menusuk mematikan.

Srattt! Srattt!

Setiap tebasan pedang perak Arlen membelah udara dengan akurasi mutlak, merobek kulit tebal dan bulu kelabu sang monster. 

Luka tebasan dari pedang aura tersebut tidak mengeluarkan darah merah, melainkan langsung membeku biru, menahan aliran energi gelap di dalam tubuh Serigala Bayangan secara paksa.

Dominasi kekuatan Arlen kini berada di tingkatan yang sama sekali tidak masuk akal bagi sang monster. Serigala Bayangan melolong kesakitan yang luar biasa. 

Setiap kali mencoba menyerang balik, teknik berpedang Arlen yang sangat matang selalu berhasil mementahkan cakarnya dengan mudah, disusul serangan balasan yang semakin merusak tubuhnya.

Mata merah darah sang monster tidak lagi memancarkan keinginan untuk bertarung, melainkan ketakutan mutlak terhadap bocah berpedang perak di hadapannya. 

Sadar bahwa nyawanya akan benar-benar lenyap jika nekat bertahan, monster raksasa itu memaksakan tubuhnya yang penuh luka beku untuk melompat mundur sejauh mungkin. 

Makhluk tersebut berbalik arah, lalu melarikan diri dengan panik masuk ke dalam kegelapan hutan belantara tanpa berani menoleh lagi.

Suasana puncak bukit kembali sunyi, menyisakan tanah yang hancur akibat pertempuran berskala besar tadi. Arlen menurunkan pedang auranya, membiarkan bilah perak berselimut es itu meleleh perlahan dan menyatu kembali ke dalam tubuhnya.

 Arlen menghela napas panjang, menatap telapak tangannya yang masih menyisakan pancaran cahaya perak murni yang tajam. Kekuatan mendominasi ini kini telah menjadi miliknya sepenuhnya.

Saat duduk beristirahat di bawah sinar bulan, Arlen tidak menyadari bahwa dari kejauhan, di balik pepohonan, Cedric berdiri diam sejak tadi. Sang ayah memang tidak bisa melihat detail kejadian dengan jelas karena faktor jarak dan kegelapan, namun Cedric menyaksikan pancaran cahaya misterius tersebut, serta bagaimana monster raksasa itu akhirnya melarikan diri di hadapan putranya. 

Cedric menghela napas panjang lalu melangkah menjauh dari pepohonan dan kembali menuruni bukit itu. Logikanya tahu bahwa jalan hidup yang akan ditempuh Arlen ke depan tidak akan mudah, namun sebuah janji terpatri di dalam hati bahwa sang ayah akan selalu ada untuk menjaga dan mendukungnya sebisa mungkin.

Malam itu berakhir dengan kedamaian yang mutlak. Namun jauh di pusat kota, di dalam kedai tua yang sepi, Tuan Valian mendadak mengangkat kepalanya dari tumpukan buku kuno. Tatapan pria tua itu langsung tertuju ke arah jendela utara—lurus ke arah wilayah kediaman keluarga Ashford."Perubahan energi lagi," gumam Tuan Valian pelan, disusul sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan.

 "Pancaran cahaya yang jauh lebih terang dan murni... Anak itu benar-benar terus mengejutkanku. Apakah ini awal kebangkitan kembali kekuatan Kuno yang telah lama hilang dari sejarah?"Tuan Valian meletakkan pena bulu ayamnya, lalu bangkit berdiri untuk berjalan ke arah lemari besi tersembunyi di sudut ruangan.

 Setelah membukanya, sebuah gulungan peta ditarik keluar—peta yang jauh lebih tua, rumit, dan dipenuhi simbol rahasia dibandingkan peta wilayah biasa."Kita harus mempersiapkan diri lebih cepat dari perkiraan," ucap Tuan Valian lirih sambil menatap tanda merah di peta tersebut. "Dunia yang selama ribuan tahun ini tenang, tampaknya akan segera bergejolak selamanya hanya karena kehadiran satu anak kecil itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!