NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Matahari mulai muncul dari balik pegunungan Draven. Kabut yang menyelimuti lembah perlahan menipis. Burung mulai berkicau meramaikan suasana di pagi hari. 

Sebuah negeri yang begitu luas dan indah bernama Alterus. Berdiri di antara pegunungan, lautan dan sungai. Negeri yang begitu makmur dan damai. 

Di tengah-tengah negeri itu berdiri sebuah istana megah. Tepatnya di jantung kerajaan Alterus, Valenor, ibukota yang menjadi pusat pemerintahan. 

Di luar gerbang istana, kehidupan mulai bergeliat. Kedai-kedai mulai membuka pintunya satu persatu. Aroma masakan mulai tercium di sepanjang jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian mengejar temannya. Melewati para pandai besi yang mulai menyalakan tungku apinya untuk menempa besi. Denting palu para pandai besi mulai bersahutan. Setiap hantamannya memercikkan bunga api saat baja ditempa menjadi senjata yang kelak akan berada di tangan para prajurit Alterus.

Seorang pemuda dengan tangan penuh tinta, duduk di halaman belakang rumahnya dengan sebuah buku yang terbuka di tangannya. Wajahnya tenang, dengan mata yang fokus ke setiap tulisan di dalamnya. 

“Nak, ayo sarapan dulu.”

Matanya yang sedikit bulat itu mengerjap lalu menoleh ke sumber suara. Senyum manisnya langsung terukir di wajahnya saat melihat sang ibu berdiri di ambang pintu.

Tidak jauh dari tempat itu, di sebuah tempat latihan di istana sudah lebih dulu terdengar suara pedang yang beradu. Setiap ayunan pedangnya terus mendominasi jalannya pertarungan. Lalu dengan ayunan pedang terakhir, lawan tandingnya jatuh ke tanah dengan ujung pedangnya tepat berada di leher sang lawan. 

“Wahhh, calon pengawal raja memang beda ya.”

Pujian itu membuatnya tersenyum bangga dan ia meninggalkan arena dengan dada yang membusung. 

Jauh dari hiruk pikuk Valenor, terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi dengan pemukiman kecil di bawahnya. Tempat yang begitu sunyi dibandingkan daerah lainnya di Alterus. Hanya desir angin pegunungan yang sesekali memecah kesunyian.

Seorang penyihir muda melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya lalu menatap ke luar jendela. Pemandangan pegunungan yang setiap hari menyambut pandangannya tidak pernah bosan ia pandangi. Angin berhembus meniup jubah panjangnya dan juga rambut pirangnya. 

Namun kedamaian itu tidak datang begitu saja. Di balik hiruk pikuk ibu kota, ribuan prajurit terus berjaga di perbatasan. Empat benteng besar berdiri di empat penjuru Alterus, menjadi dinding pertama yang melindungi negeri dari ancaman luar.

Matahari yang sama juga menyinari barak militer perbatasan, para prajurit bergegas bangun untuk memulai latihan pagi.

Tidak jauh dari tempat berlatih, asap di tenda dapur pun mulai membumbung tinggi. Aroma makanan mulai tercium menggelitik perut yang sudah keroncongan. 

Di waktu yang sama, namun di sisi perbatasan yang berbeda ada pemandangan yang juga jauh berbeda. 

Di depan tumpukan mayat pasukan musuh dan rekannya sendiri, seorang pria muda terengah-engah dengan keringat bercampur darah menetes dari dagunya. Bilah pedangnya berhasil menebas leher musuh terakhirnya. Darah segar menetes dari ujung pedangnya jatuh ke tanah. 

Cahaya keemasan matahari memantul dari bilah pedangnya tepat ke wajahnya. Seolah sedang menyoroti tatapannya yang haus darah.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengangkat pedangnya ke atas, berteriak kencang diikuti sorakan dari prajurit di belakangnya. Kemenangan dengan begitu banyak pengorbanan akhirnya berhasil diraihnya. 

Sang pemuda menurunkan pedangnya. Sorakan para prajurit masih menggema di setiap langkahnya menuju barak. 

“HIDUP JENDRAL MUDA!”

“HIDUP JENDRAL MUDA!”

Pangkat jenderal di dadanya berlumuran darah namun langkahnya tetap tegak. Setibanya di barak, ia menyerahkan secarik surat yang sudah disiapkan sebelumnya kepada pengantar pesan.

“Kirim ke Valenor.”

Situasi yang sama juga terjadi di balik pegunungan Draven, seorang pria muda baru saja memenangkan pertempurannya. Dengan langkah tertatih, ia berjalan kembali ke barak. Kembali menanti panggilan dari Valenor yang tidak kunjung datang sejak ia tiba di benteng Draven tiga tahun lalu.

Di balik benteng yang kokoh itu, ada sebuah desa kecil yang terasa begitu lengang. Dua orang anak kecil duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang sambil menikmati bakpao di tangan mereka. Yang lebih muda membagi bakpaonya menjadi dua dan memberikan kepada temannya.

“Makan lagi,” ucapnya dengan nada memerintah.

Tubuh temannya sangat kurus, meskipun dia lebih tinggi. Kadang dia berpikir kalau semua makanan itu berubah menjadi tulang, karena itu temannya menjadi lebih tinggi setiap waktunya bukannya menjadi lebih berisi.

“Lalu kamu bagaimana?”

“Aku sudah kenyang.”

Yang lebih tua tersenyum senang lalu mengambil bakpao tersebut dan memakannya. 

Tidak jauh dari tempat mereka duduk, mulai terdengar suara yang membuat si yang lebih muda langsung bergegas menghampirinya. Dari balik semak, ia mengintip para prajurit yang sedang berlatih pagi. Seperti biasa, ia akan mengikuti setiap gerakan itu.

Sementara itu, jauh di arah Timur kerajaan Alterus, seekor kuda berlari kencang keluar dari benteng lalu diikuti oleh beberapa kuda lainnya. Berlari melewati sungai, lembah, bukit menuju ke arah utara. 

“Yang mulia….”

Pemuda berjubah merah itu menoleh perlahan. Tatapan tajamnya membuat prajurit tersebut buru-buru menelan kembali kata-katanya.

“Tu-tuan muda… perjalanan ke utara memakan waktu tujuh hari, kita sudah tiga hari tidak istirahat, sebaiknya kita pergi ke penginapan terlebih dahulu.”

Tidak ada jawaban. Tatapannya beralih ke penginapan di depan mereka. Sesaat kemudian ia turun dari kudanya dan berjalan lebih dulu.

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!