"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Sepatu di Depan Pintu
Ban mobil menjerit di aspal basah.
Surya Prasetyo mundur setengah langkah. Kantong belanja di tangan kirinya terlepas, bawang merah dan cabai rawit berguling ke tepi jalan. Hanya satu detik. Kalau ia melangkah sedikit lebih cepat, bumper hitam mobil itu sudah menghantam lututnya, mungkin dadanya.
Mobil itu tidak berhenti.
Ia hanya melihat plat belakangnya sebentar sebelum kendaraan itu menghilang di tikungan Perumahan Bintaro. Napas Surya tertahan. Jantungnya memukul tulang rusuk seperti hendak keluar.
BRAK!
Sebuah Maserati perak berhenti mendadak tidak jauh darinya. Dari balik kaca gelap, seseorang seolah menatapnya. Tidak lama. Mobil itu hanya diam beberapa detik, lalu melaju pelan, meninggalkan bau rem panas dan rasa dingin di tengkuk Surya.
"Mas, hati-hati kalau nyebrang!" teriak tukang ojek dari warung seberang.
Surya memaksakan senyum. "Iya, Bang. Saya kurang fokus."
Kurang fokus?
Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ketiga.
Ia sudah bangun sejak subuh, membersihkan dapur, mencuci baju Nadia, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan makan malam. Nadia bilang ia akan pulang lebih cepat. Surya ingin memasak ayam kecap, sup jagung, dan puding mangga, menu sederhana yang pernah membuat Nadia tersenyum sebelum mereka menikah.
Senyum itu sudah lama hilang.
Tiga tahun tinggal di rumah keluarga Kusuma membuat Surya hafal suara hinaan. Suara piring yang dilempar ke wastafel. Suara Nadia berkata, "Kamu tuh nggak ada apa-apanya tanpa keluarga aku." Suara ayah mertuanya yang paling ia benci, berat dan penuh jijik.
"Lebih baik pelihara anjing, setidaknya dia setia!"
Surya memungut belanjaannya satu per satu. Ia menahan rasa gemetar di jari, lalu berjalan pulang.
Rumah dua lantai keluarga Kusuma terlihat terang dari luar. Lampu teras menyala, tirai ruang tamu tertutup. Sepasang sandal Nadia ada di dekat pintu.
Dan di sebelahnya, ada sepasang sepatu laki-laki.
Sepatu kulit hitam. Mahal. Bukan milik Surya.
Tubuh Surya berhenti.
Ia menatap sepatu itu lama. Ujungnya mengilap, masih basah oleh sisa hujan. Ukurannya lebih besar darinya. Ada aroma parfum maskulin yang asing, tajam, bercampur bau kulit baru.
Surya menelan ludah. Pelan-pelan ia membuka pintu.
Rumah itu tidak terkunci.
Ruang tamu kosong. Pendingin ruangan menyala terlalu dingin. Di meja makan, ada dua gelas wine, satu lipstik merah menempel di bibir gelas. Nadia tidak pernah minum wine bersamanya. Ia selalu bilang minuman seperti itu mubazir kalau hanya diminum bersama suami yang tidak menghasilkan uang.
Dari lantai atas, terdengar suara.
Awalnya samar. Lalu jelas.
Tawa Nadia.
Kemudian suara laki-laki.
Surya berdiri di bawah tangga. Kantong belanja di tangannya menggantung seperti beban mati. Ia ingin memanggil nama istrinya. Namun, tenggorokannya mengering.
"Mas, pelan," suara Nadia terdengar manja, lembut dengan cara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia pakai pada Surya. "Dia bisa pulang kapan saja."
Laki-laki itu tertawa rendah. "Surya? Laki-laki itu bahkan kalau lihat bayangan sendiri saja takut. Kamu serius masih khawatir sama dia?"
Surya mencengkeram pegangan tangga.
Jari-jarinya memutih.
"Bukan khawatir," kata Nadia. "Aku cuma nggak mau rencana kita berantakan."
Rencana?
Surya naik satu anak tangga. Lalu satu lagi. Ia bergerak tanpa suara, tubuhnya hafal setiap bagian rumah yang selama ini ia bersihkan.
Pintu kamar utama tidak tertutup rapat. Dari celahnya, cahaya kuning lampu tidur jatuh ke koridor. Surya tidak melihat ke dalam. Ia tidak sanggup.
Ia hanya mendengar.
"Tadi orangmu hampir berhasil?" tanya Nadia.
"Hampir," jawab laki-laki itu. "Supirnya bilang Surya mundur mendadak. Ada mobil lain juga yang bikin situasi kacau."
Darah Surya seperti membeku.
Mobil hitam itu.
Maserati perak itu.
"Bodoh," desis Nadia. "Aku sudah capek lihat dia mondar-mandir di rumah ini. Tiga tahun aku tahan hidup sama laki-laki nggak berguna. Papa juga makin parah. Dokter bilang ginjalnya nggak bisa menunggu lama."
"Tenang, Sayang." Suara laki-laki itu tetap santai. "Polis asuransi jiwa lima miliar itu sudah aktif, kan?"
"Sudah. Penerima manfaatnya aku."
Surya hampir kehilangan pijakan.
Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar.
Ia ingat dua bulan lalu Nadia memaksanya menandatangani beberapa dokumen. Katanya untuk pengajuan kartu kredit dan administrasi keluarga. Surya tidak banyak bertanya. Sejak menikah, setiap kali ia bertanya, Nadia akan menatapnya seolah ia pembantu yang lupa diri.
"Kalau dia mati karena kecelakaan, uangnya cair," lanjut Nadia. "Setelah itu, aku bisa bayar semua biaya rumah sakit Papa. Sisanya kita mulai hidup baru."
"Dan ginjalnya?"
Nadia tertawa pelan. Suara itu menusuk lebih tajam daripada pecahan kaca.
"Hasil medical check-up kemarin cocok. Dokter bilang peluangnya bagus. Kalau kecelakaan dibuat rapi, donor organ bisa diurus. Surat persetujuan juga sudah aku siapkan. Tinggal cari cara supaya tanda tangannya lengkap."
Surya mundur satu langkah.
Punggungnya menabrak meja kecil di koridor. Sebuah map cokelat hampir jatuh. Ia menahannya dengan refleks.
Map itu terbuka.
Di dalamnya ada salinan polis asuransi. Nama tertanggung: Surya Prasetyo. Uang pertanggungan: Rp 5.000.000.000. Penerima manfaat: Nadia Kusuma.
Di bawahnya, selembar formulir lain.
Surat persetujuan donor ginjal.
Nama pasien: ayah Nadia.
Nama calon donor: Surya Prasetyo.
Tanda tangan calon donor masih kosong.
Surya menatap kertas itu. Matanya perih. Namun, air mata tidak keluar. Ada sesuatu yang lebih dingin dari tangis merayap dari dadanya ke seluruh tubuh.
Mereka tidak hanya mengkhianatinya.
Mereka sedang menghitung harga kematiannya.
"Setelah semuanya selesai," bisik Nadia dari dalam kamar, "kita menikah, ya?"
"Tentu," jawab laki-laki itu. "Tapi bersihkan dulu hidupmu dari sampah itu."
Sampah.
Kata itu menancap.
Surya menutup map dengan tangan gemetar. Ia meletakkannya kembali persis seperti semula. Setiap gerak harus pelan. Setiap napas harus ditahan.
Ia ingin menerobos masuk.
Ia ingin menyeret laki-laki itu keluar.
Ia ingin bertanya kepada Nadia, tiga tahun ini apa artinya. Semua nasi hangat yang ia siapkan. Semua pakaian yang ia cuci. Semua hinaan yang ia telan demi menjaga rumah tangga.
Namun bayangan mobil hitam tadi muncul lagi.
Polis itu.
Surat donor itu.
Kalau ia meledak sekarang, ia hanya memberi mereka alasan untuk menyelesaikan rencana lebih cepat.
Surya turun dari tangga tanpa suara. Ia mengambil kantong belanja yang tadi jatuh di ruang tamu. Cabai rawitnya tercecer. Satu butir tomat pecah, daging merahnya menempel di lantai marmer seperti luka.
Ia menatapnya sebentar.
Lalu ia pergi.
Pintu depan tertutup pelan di belakangnya.
Malam sudah turun. Hujan berubah menjadi gerimis tipis. Surya berjalan tanpa tujuan melewati jalan kompleks, pos satpam, minimarket, lalu trotoar besar menuju sungai. Handphone di sakunya bergetar berkali-kali. Nadia.
Ia tidak mengangkat.
Sekali lagi, layar menyala.
Nadia: Kamu di mana? Jangan bikin masalah. Pulang dan cuci piring.
Surya tertawa.
Suara itu keluar pendek, pecah, seperti benda rusak.
Ia terus berjalan sampai lampu kota memantul di air sungai yang gelap. Di bawah jembatan kecil, bau lumpur dan sampah basah naik bersama angin malam. Surya duduk di tepi beton. Sepatunya basah. Celananya kotor. Kantong belanja ia letakkan di samping, isi makan malam ulang tahun pernikahan mereka sudah tidak berarti apa-apa.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, ia kira sabar adalah bentuk cinta.
Ternyata, di mata Nadia, sabarnya adalah tali yang enak ditarik. Diamnya adalah izin untuk diinjak. Hidupnya adalah uang lima miliar dan sepasang ginjal yang bisa dipakai menyelamatkan ayah orang lain.
"Ya Allah..." bisiknya, nyaris hilang ditelan suara air. "Kalau aku masih harus hidup, tunjukkan jalanku."
Tidak ada jawaban dari langit.
Hanya sungai yang mengalir.
Surya berbaring di beton dingin. Matanya terbuka menatap bagian bawah jembatan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar lagi suara Nadia. Mas. Sayang. Sampah itu.
Menjelang subuh, tubuhnya menggigil. Punggungnya kaku, tenggorokannya kering. Ia tidak tahu apakah ia tidur atau hanya pingsan sebentar.
Handphone-nya kembali bergetar.
Kali ini bukan Nadia.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nama yang sama sejak tengah malam.
Di layar yang retak oleh lembap, muncul nama yang membuat dada Surya akhirnya sakit seperti ditusuk.
Mbak Dewi.