Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01
Surat perjanjian itu masih terbuka di atas meja.
Alya menatap tanda tangan yang belum kering di sudut kanan bawah. Nama ayah angkatnya, Hadi Wiratama, tertulis tegas di sana. Di sampingnya ada tanda tangan Bima Pradipta, pendiri Pradipta Group, lelaki tua yang pernah membuat separuh pejabat Jakarta menundukkan kepala hanya dengan satu telepon.
Di hadapan dua keluarga besar, keputusan itu dibacakan seperti pengumuman biasa.
Padahal bagi Alya, kalimat itu pernah menjadi awal dari hidup yang panjang.
"Putri pertama keluarga Wiratama, Alya, akan menikah dengan Arga Pradipta. Putri kedua, Nabila, akan menikah dengan Rafi Pradipta. Akad dan resepsi keluarga akan digelar dalam waktu dekat."
Suara pengacara keluarga terdengar datar.
Alya berkedip.
Ruang tamu besar rumah Wiratama masih sama. Lampu gantung kristal di langit-langit. Karpet Turki di bawah kaki. Foto keluarga di dinding, tetapi hanya satu foto Alya yang ada di sana, itu pun foto lama saat ia masih kecil dan belum paham bahwa senyum orang dewasa bisa berubah sesuai kebutuhan.
Ia kembali.
Bukan ke masa lalu yang samar.
Ia benar-benar kembali ke hari ketika dua keluarga menukar masa depan anak-anak mereka dengan saham, proyek rumah sakit militer, dan janji politik.
Lima puluh tahun.
Alya pernah hidup selama itu setelah hari ini. Ia pernah menjadi istri Rafi, lalu mengangkat lelaki itu dari anak yang tidak dianggap menjadi penguasa Pradipta Group. Setelah Rafi meninggal terlalu cepat, Alya mengendalikan perusahaan, yayasan, rumah sakit, dan jaringan politiknya seperti perempuan tua yang tidak lagi takut pada siapa pun.
Ia mati dengan tenang.
Lalu membuka mata di hari perjanjian ini.
"Tidak bisa!"
Suara Sinta, ibu angkatnya, memecah udara.
Wanita itu berdiri dari sofa dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram tasbih kecil yang selalu ia bawa kalau ingin terlihat lembut di depan tamu.
"Pak Bima, Pak Hadi, maaf. Saya tidak bisa menerima keputusan ini. Nabila tidak mungkin menikah dengan Rafi."
Nabila yang duduk di sampingnya menunduk.
Alya melirik adiknya itu.
Wajah Nabila tetap cantik. Kulit terang, mata basah, bibir yang selalu tahu kapan harus bergetar. Dalam kehidupan lalu, wajah seperti itu membuat banyak orang percaya bahwa ia korban dari dunia yang jahat.
Hari ini, mata Nabila tidak hanya basah.
Ada cahaya lain di sana.
Cahaya orang yang merasa sudah melihat peta kemenangan.
Hadi Wiratama mengerutkan kening. "Sinta."
"Mas, Nabila putri kandung kita." Suara Sinta meninggi, lalu segera ia turunkan saat sadar para tamu menatapnya. "Rafi tidak punya posisi apa-apa di Pradipta Group. Dia bahkan tidak duduk di jajaran direksi. Kenapa Nabila harus menikah dengan dia?"
Bima Pradipta menatap cangkir tehnya.
Di sebelah Bima, Ratna Pradipta tersenyum tipis. Senyum itu halus, berkelas, tetapi Alya mengenalnya. Di kehidupan lalu, perempuan itu berkali-kali mencoba menghancurkannya lewat dokter, wartawan, komisaris, bahkan pengajian keluarga.
"Bu Sinta," kata Ratna lembut, "Rafi tetap putra keluarga Pradipta. Kami tidak pernah membeda-bedakan anak."
Alya hampir tertawa.
Tidak pernah membeda-bedakan?
Rafi dibesarkan di paviliun belakang, namanya jarang disebut dalam laporan keluarga, dan setiap kali tampil di acara besar, ia selalu berdiri seperti tamu yang salah masuk.
Namun dalam kehidupan lalu, semua orang yang meremehkannya akhirnya datang membawa karangan bunga saat ia menjadi Direktur Utama.
Mereka lupa siapa yang menyiapkan jalan untuk Rafi.
Mereka menyebutnya keberuntungan Rafi.
Alya tahu itu bukan keberuntungan.
Itu pekerjaannya.
"Mama."
Nabila akhirnya bersuara.
Suaranya pelan, tetapi cukup jelas untuk membuat semua orang menoleh.
"Aku bersedia menikah dengan Mas Rafi."
Sinta terkejut. "Nabila?"
"Aku mau, Ma." Nabila mengangkat wajah. Matanya merah, tetapi ekspresinya teguh. "Aku sudah memikirkannya."
Hadi menatap putri kandungnya. "Kamu paham apa yang kamu katakan?"
"Paham, Pa."
"Rafi bukan calon penerus utama."
"Belum," jawab Nabila.
Kata itu membuat ruangan hening.
Ratna menyipitkan mata. Daren Pradipta, putra Ratna sekaligus pewaris yang selama ini disiapkan Pradipta Group, menoleh pelan ke arah Nabila.
Alya tetap diam.
Menarik.
Jadi Nabila juga kembali.
Atau setidaknya ia membawa potongan ingatan yang cukup untuk tahu bahwa Rafi pernah menang.
Sinta memegang tangan Nabila. "Sayang, kamu tidak perlu mengorbankan diri. Kalau kamu tidak mau Rafi, Mama bisa bicara lagi."
"Aku tidak berkorban." Nabila tersenyum kecil. "Mungkin ini jalan terbaik untukku."
"Jalan terbaik?" Sinta hampir menangis. "Arga itu memang sakit, tapi dia anak yang paling disayang Pak Bima. Kalau dia sembuh, posisinya jauh lebih baik daripada Rafi."
Ratna tersenyum lebih dalam.
Alya menangkap perubahan itu.
Ratna tidak suka mendengar Arga disebut sebagai anak yang paling disayang.
"Arga tidak akan sembuh," kata Nabila terlalu cepat.
Semua orang terdiam.
Nabila seolah baru sadar ucapannya berbahaya. Ia menunduk lagi. "Maksudku, dari kabar yang beredar, Mas Arga sudah sakit bertahun-tahun. Dokter pun belum menemukan cara. Aku takut tidak mampu merawatnya."
Sinta langsung memeluk Nabila.
"Iya, Mama tahu. Kamu anak Mama. Kamu tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu."
Alya menatap mereka tanpa ekspresi.
Ia anak siapa, kalau begitu?
Anak yang terbiasa disuruh menanggung hal-hal buruk?
Hadi memijat pelipis. "Perjanjian ini sudah dibicarakan lama. Bukan hanya soal anak-anak menikah. Ada proyek rumah sakit, pengalihan saham, dan komitmen keamanan. Jangan bicara seperti memilih baju."
"Tapi kalau Nabila sendiri mau Rafi," kata Ratna lembut, "bukankah itu justru memudahkan?"
Sinta menoleh cepat. "Bu Ratna, maksud Anda?"
"Saya hanya menghormati pilihan anak perempuan." Ratna menatap Alya sekilas. "Alya juga pasti tidak keberatan menikah dengan Arga, kan?"
Semua mata pindah kepada Alya.
Dulu, di titik ini, ia panik.
Dulu ia berpikir perjanjian keluarga adalah penjara. Lalu pada malam akad, Nabila membuat kekacauan dan membuat rombongan pengantin tertukar. Alya berakhir menikah dengan Rafi. Sejak itu ia memulai hidup panjang sebagai istri yang tidak diharapkan, lalu menjadi perempuan yang membuat semua orang bergantung padanya.
Sekarang Nabila memilih Rafi terang-terangan.
Bagus.
Jalan menjadi lebih bersih.
Alya mengambil cangkir teh di depannya. Tehnya sudah dingin.
"Aku tidak keberatan," katanya.
Sinta menatapnya seperti baru mengingat ia ada. "Alya, kamu jangan asal bicara. Arga itu--"
"Sakit?" Alya memotong pelan. "Mama baru saja mengatakannya."
Wajah Sinta kaku.
"Aku hanya mengikuti perjanjian keluarga," lanjut Alya. "Bukankah sejak awal aku selalu diminta mengerti posisi keluarga?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Hadi menatap Alya lebih lama dari biasanya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin tidak.
Nabila menggenggam ujung bajunya.
Alya tahu adiknya itu sedang menahan senyum.
Dalam kepala Nabila, Arga adalah jalan buntu. Rafi adalah masa depan. Menikahi Rafi berarti merebut kursi yang dulu diduduki Alya.
Kasihan.
Ia benar-benar mengira takdir bisa dicuri semudah menukar nama di undangan.
Bima Pradipta akhirnya mengangkat kepala. Suaranya lemah, tetapi semua orang diam ketika ia bicara.
"Kalau kedua anak setuju, perjanjian dilanjutkan."
Ratna tersenyum. "Baik, Pak."
Daren memandang Alya dengan rasa iba yang pura-pura disembunyikan.
Rafi, yang sejak tadi duduk paling ujung, menatap Nabila seperti orang kelaparan melihat pintu terbuka. Alya mengenal tatapan itu. Ambisi yang dibungkus rasa rendah diri.
Nabila menunduk manis.
Alya meletakkan cangkir.
Di kehidupan lalu, ia pernah mengajarkan Rafi cara berdiri di depan pemegang saham. Ia pernah menenangkan tangannya sebelum rapat pertama. Ia pernah menyusun pidatonya, memilih orang-orangnya, menyingkirkan lawannya, dan membersihkan noda yang hampir menyeretnya ke penjara.
Tanpa Alya, Rafi hanya lelaki yang ingin diakui.
Dan Arga?
Alya belum pernah menjadi istrinya.
Namun ia tahu satu hal.
Lelaki itu tidak sekarat karena takdir.
Ia dibuat sekarat oleh orang-orang di ruangan ini.
Saat pengacara membalik halaman perjanjian berikutnya, Nabila tiba-tiba menatap Alya.
Tatapan itu lembut.
Penuh belas kasihan palsu.
"Mbak Alya," katanya lirih, "semoga kamu kuat merawat Mas Arga."
Alya balas menatapnya.
"Terima kasih."
"Kalau nanti sulit, jangan keras kepala. Keluarga Pradipta punya aturan sendiri. Kadang kita harus menunduk agar diterima."
Alya tersenyum sedikit.
Nabila membeku.
Karena senyum itu bukan senyum takut.
"Aku akan ingat," kata Alya.
Menunduk?
Tidak.
Di kehidupan ini, ia tidak kembali untuk menunduk.
Ia kembali untuk melihat siapa saja yang berani membuatnya menunduk, lalu mematahkan tangan mereka satu per satu.