NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 01 - Pulau Latihan Mamba

“Nama sandi saya Mamba.”

Suara gadis itu tidak keras. Namun di lapangan panas yang menghadap laut, semua orang langsung diam.

Matahari menggantung tepat di atas kepala. Angin laut membawa bau garam, keringat, dan tanah basah. Di hadapan gadis itu berdiri hampir lima puluh peserta pelatihan berbadan besar. Sebagian mantan tentara, sebagian bekas petarung jalanan, sebagian lagi orang-orang yang mengira uang keluarga bisa membeli keberanian.

Mereka salah tempat.

Di Pulau Seraya, uang tidak membuat orang kebal dari pukulan.

Gadis itu berdiri dengan sepatu bot hitam, celana kargo, kaus lengan pendek, dan jaket taktis yang dibiarkan terbuka. Wajahnya masih sangat muda. Kalau rambut panjangnya tidak diikat tinggi dan tangannya tidak memegang cambuk pendek berwarna gelap, beberapa orang mungkin akan mengira dia mahasiswi yang salah turun kapal.

Tetapi tidak ada orang waras yang berani menertawakannya.

Setidaknya, hampir tidak ada.

Seorang pria bule berambut pirang mengangkat tangan. Tubuhnya tinggi besar, bahunya lebar, dan di lengan kirinya ada tato satu resimen lama. Dia tersenyum, terlalu santai untuk seseorang yang baru masuk pusat pelatihan risiko tinggi milik Besi Kelabu.

“Instruktur,” katanya dalam bahasa Inggris. “Kami tidak mengerti bahasa Indonesia. Bisa pakai bahasa internasional?”

Beberapa peserta lain menahan senyum.

Gadis itu memiringkan kepala.

“Kamu tidak mengerti?”

Pria itu mengangkat bahu. “Sedikit.”

“Maju.”

Dia maju satu langkah. Masih tersenyum.

Detik berikutnya, cambuk pendek itu bergerak seperti bayangan.

Pria itu sempat menghindar, tetapi lutut gadis itu lebih cepat. Tubuh sebesar itu terangkat sedikit sebelum jatuh menghantam tanah. Debu naik. Belum sempat dia bangun, sol sepatu bot gadis itu sudah menekan dada pria itu.

Senyum di wajahnya hilang.

“Di sini,” kata gadis itu pelan, “bahasa internasional bukan Inggris.”

Dia menunduk, matanya dingin.

“Bahasa internasional di sini adalah siapa yang masih bisa berdiri.”

Lapangan hening.

Seseorang di barisan belakang menelan ludah.

Gadis itu menekan sedikit lebih kuat. Pria di bawah sepatunya meringis.

“Kalau kamu tidak mengerti perintah saya, belajar. Kalau malas belajar, diam. Kalau masih merasa lucu, saya bantu kamu istirahat di klinik.”

Dia mengangkat kakinya lalu menendang pria itu kembali ke barisan.

“Mulai hari ini, kalian tidak punya nama lama. Di sini kalian cuma anak baru. Saya akan membuat kalian mengingat nama Mamba sampai tua. Kalau ada yang masih sempat tua.”

Tidak ada yang tertawa.

Di menara pengawas, seorang pria berkulit gelap bersandar sambil memegang pengeras suara. Namanya Bara. Di jaringan Besi Kelabu, dia dikenal sebagai Serigala.

Dia melihat adegan itu sambil menghela napas.

“Anak-anak malang,” gumamnya.

Di sampingnya, seorang perempuan berambut pendek sedang makan keripik pedas dari bungkus plastik. “Kamu kasihan pada mereka?”

“Aku kasihan pada klinik. Hari pertama saja pasti penuh.”

Perempuan itu tertawa. “Kamu lupa dulu waktu Mamba pertama jadi instruktur? Hari pertama, dua puluh tiga orang minta pulang.”

“Sekarang mungkin lebih banyak.”

Di lapangan, Ayla Prameswari mengangkat tangan. Semua peserta langsung berdiri lebih tegak.

Itu bukan karena mereka menghormatinya.

Itu karena mereka baru sadar, gadis ini benar-benar bisa membuat tulang mereka berbunyi tanpa mengubah ekspresi.

“Lari mengitari pulau. Tiga putaran. Yang muntah, lanjut. Yang pingsan, diseret temannya. Yang pura-pura pingsan, saya kubur di pasir sampai sadar.”

Seorang peserta lokal memberanikan diri bertanya, “Instruktur, tiga putaran itu berapa kilometer?”

Ayla tersenyum.

“Pertanyaan bagus.”

Wajah peserta itu sedikit cerah.

“Saya juga tidak tahu. Makanya lari saja sampai saya bosan melihat kalian.”

Wajahnya langsung pucat.

Peluit ditiup.

Puluhan orang berlari terseok di bawah panas matahari.

Ayla berjalan santai ke tepi lapangan. Bara turun dari menara dan melemparkan sebotol air mineral dingin padanya. Ayla menangkap tanpa menoleh.

“Kau terlalu lembut hari ini,” kata Bara.

Ayla membuka tutup botol. “Aku baru turun dari kapal. Belum sarapan.”

“Kalau sudah sarapan?”

“Mungkin orang pirang itu sudah minta pindah kewarganegaraan.”

Bara tertawa.

Perempuan berambut pendek tadi ikut turun. Namanya Maya Kirana. Di Besi Kelabu, orang memanggilnya Rubah Perak. Cantik, mahal, dan berbahaya dengan cara yang berbeda dari Ayla.

Maya melambaikan ponsel. “Ada kabar dari kantor pusat.”

Ayla minum dua teguk. “Kalau soal laporan keuangan, kirim ke Bara.”

Bara langsung menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa aku?”

“Karena aku tidak suka angka yang tidak bisa ditembak.”

Maya menyipitkan mata. “Bukan laporan keuangan. Tentang Berkas 531.”

Tangan Ayla berhenti.

Angin laut lewat di antara mereka. Suara sepatu peserta pelatihan yang menghantam tanah masih terdengar dari kejauhan, tetapi suasana di antara tiga orang itu mendadak berubah.

Bara menurunkan suara. “Apa lagi?”

Maya melihat layar ponselnya. “Ada yang membuka jalur lama. Sinyal pelacakan muncul di Jakarta. Dan seseorang membeli obat eksperimen dari pasar gelap menggunakan kode yang dulu cuma dipakai proyek itu.”

Ayla menutup botol pelan.

“Siapa?”

“Belum jelas. Tapi lokasi awalnya dekat keluarga Prameswari.”

Nama itu membuat wajah Ayla tidak berubah. Namun Bara yang sudah mengenalnya bertahun-tahun tahu, diamnya Ayla bukan berarti tidak peduli.

Justru sebaliknya.

“Keluarga kandungmu?” tanya Bara.

Ayla tersenyum pendek. “Secara biologis.”

Maya mengangkat alis. “Secara emosional?”

“Mereka bahkan tidak layak jadi tetangga.”

Bara menggaruk dagu. “Kamu mau pulang?”

Ayla melihat ke arah laut. Di kejauhan, kapal kecil bergerak meninggalkan dermaga. Pulau Seraya terlihat damai dari luar. Turis mungkin akan menyebutnya indah. Mereka tidak tahu di balik deretan pohon kelapa, ada lapangan tembak, ruang interogasi, klinik bedah darurat, dan gudang senjata yang cukup untuk membuat satu kota kecil berpikir ulang sebelum berani macam-macam.

Inilah rumah Ayla sejak usia sepuluh tahun.

Sebelum itu, dia hidup di tempat yang bahkan tidak pantas disebut rumah.

“Kantor pusat bilang apa?” tanyanya.

Maya menjawab, “Pak Lukman ingin kamu kembali setelah menyelesaikan batch pelatihan ini.”

Ayla tertawa.

Bara langsung menutup mata.

Maya menghela napas. “Jangan bilang kamu punya ide buruk.”

“Aku punya ide efisien.”

“Itu biasanya lebih buruk.”

Ayla melempar botol kosong ke tempat sampah dari jarak jauh. Masuk sempurna.

“Batch ini bisa kamu pegang, Bara.”

Bara menunjuk lapangan. “Aku? Mereka baru saja melihatmu menendang orang seperti karung beras. Kalau besok aku yang muncul, mereka pasti mengira hidup mereka membaik.”

“Bagus. Beri mereka harapan, lalu hancurkan pelan-pelan.”

Maya tertawa kecil. “Kejam.”

Ayla mengambil ponsel dari sakunya. Layar menampilkan pesan singkat dari kontak bernama Guru.

Pulanglah bila perlu. Jangan biarkan Berkas 531 jatuh ke tangan yang salah.

Di bawah pesan itu ada satu kalimat lagi.

Dan kalau kau bertemu keluarga Prameswari, jangan bunuh siapa pun di ruang tamu.

Ayla menatap pesan itu beberapa detik.

Lalu dia mengetik balasan.

Kalau di halaman belakang boleh?

Balasan datang hampir seketika.

Ayla.

Hanya satu kata. Namun cukup membuat Maya yang mengintip layar tertawa sampai hampir tersedak.

“Guru masih paling bisa mengendalikanmu.”

“Beliau hanya terlalu cerewet.”

“Beliau membesarkanmu.”

Ayla tidak menjawab.

Dia melihat lagi ke lapangan. Peserta pelatihan yang tadi sok berani kini berlari paling belakang dengan wajah seperti akan menangis.

“Aku berangkat malam ini.”

Bara mengangguk. “Jakarta?”

“Ya.”

Maya memasukkan ponsel ke saku. “Mau aku siapkan identitas?”

“Tidak perlu. Aku masih punya nama lama.”

“Ayla Prameswari?”

Ayla tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Anak hilang keluarga Prameswari sudah cukup lama dibiarkan menjadi cerita sedih mereka. Sekarang aku ingin lihat, wajah mereka seperti apa saat cerita itu pulang sendiri.”

Bara diam sebentar.

“Dan Berkas 531?”

Ayla berbalik menuju ruang senjata.

“Kalau orang yang membelinya memang dekat keluarga itu, berarti urusan rumah dan urusan kerja bisa selesai dalam satu perjalanan.”

Maya mengikuti beberapa langkah. “Jangan lupa, Jakarta bukan pulau ini. Di sana ada hukum.”

Ayla berhenti lalu menoleh.

“Aku tahu.”

Maya tampak lega.

Lalu Ayla melanjutkan, “Makanya aku akan membawa pengacara.”

Bara menepuk dahinya.

Maya tertawa lagi.

Di kejauhan, peluit berbunyi. Seorang peserta jatuh terguling di pasir. Ayla melihatnya sebentar, lalu mengambil pengeras suara dari tangan Bara.

“Yang jatuh itu jangan manja. Kalau masih bernapas, berarti masih bisa lari.”

Peserta itu langsung merangkak bangun.

Bara menggeleng pelan. “Jakarta belum siap.”

Ayla mengembalikan pengeras suara.

“Bukan masalahku.”

Malam itu, pesawat pribadi kecil meninggalkan Pulau Seraya. Di dalam kabin, Ayla duduk sendirian sambil membuka berkas lama keluarga Prameswari.

Ada foto seorang gadis lain di sana.

Alina Prameswari.

Anak angkat yang selama bertahun-tahun hidup sebagai putri keluarga.

Ayla menatap foto itu lama. Gadis itu cantik, lembut, tersenyum seperti tidak pernah menyakiti siapa pun.

Ayla menutup layar.

“Kita lihat,” gumamnya pelan, “seberapa lembut kamu kalau kursimu digeser.”

Di luar jendela, laut gelap membentang.

Jakarta menunggu.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!