NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keana dan Gavin

Pagi di kediaman Hardian tidak pernah diawali dengan kicau burung yang menenangkan. Alih-alih ketukan lembut pembuka hari, rumah megah itu selalu dibangunkan oleh lengkingan suara yang sanggup meruntuhkan plafon ruang makan.

"KAK GAVINNNNN!! BALIKIN ENGGAK?!"

Keana berdiri di puncak tangga dengan napas memburu. Seragam putih-abu-abunya sudah rapi, namun rambutnya yang dikuncir kuda bergerak liar mengikuti amarahnya. Di tangan kanannya, ia meremas sebuah ikat rambut cadangan, sementara matanya mendelik tajam ke arah ruang makan.

Di bawah sana, Gavin, sang pelaku kriminal pagi ini malah duduk santai di kursi meja makan sambil memutar-mutar sebuah gantungan kunci berbulu berbentuk kucing berwarna merah muda di ujung telunjuknya. Sifat jahilnya sebagai mahasiswa semester dua sama sekali tidak berkurang. Ia justru memamerkan cengiran tanpa dosa yang paling Keana benci.

"Apa sih, Dek? Pagi-pagi sudah teriak. Lagian, gantungan kunci gembul begini kok mirip banget sama pipi kamu yang makin melar," goda Gavin, lalu dengan sengaja memasukkan gantungan kunci itu ke dalam saku jaket almamater yang tersampir di kursinya.

"Itu pesanan titipan temen aku, Kak Gavin! Siniin enggak?!" Keana menghentakkan kakinya, berdera-deru menuruni anak tangga dengan kecepatan penuh. Kalau saja pandangan mata bisa membunuh, Gavin pasti sudah meleleh di tempat.

Papa Arland yang sedang membaca jadwal paginya di tablet hanya bisa memijat pelipisnya. Di sebelahnya, Mama Soraya menghentikan gerakan mengoles selai cokelat pada selembar roti, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat pasrah. Pemandangan ini sudah menjadi menu sarapan wajib sejak Keana diangkat menjadi bagian dari keluarga ini lima tahun lalu.

"Gavin, sudah. Jangan digoda terus adiknya, nanti dia telat sekolah," tegur Papa dengan suara beratnya yang berwibawa, meski ada nada lelah yang terselip di sana.

"Tahu, nih, Papa! Kak Gavin tuh emang hobi banget nyari gara-gara!" adu Keana sambil langsung menarik paksa saku jaket Gavin begitu ia sampai di meja makan.

"Eh, eh! Kurang sopan apa coba aku? Ini namanya melatih kesabaran kamu sebelum menghadapi ujian nasional, Kea," sahut Gavin terkekeh, menepis tangan Keana dengan gerakan lincah hingga gadis itu hampir kehilangan keseimbangan.

"Ih, menyebalkan banget sih!" Keana berteriak frustrasi, tangannya beralih mencubit lengan Gavin dengan gemas sampai ia itu mengaduh tertahan. Walau hobi ribut, Gavin tidak pernah benar-benar membalas fisik. Ia menikmati kepuasan melihat wajah adiknya yang memerah menahan kesal.

"Sudah, sudah! Meja makan bukan ring tinju," lerai Mama Soraya akhirnya, meletakkan piring berisi roti di depan kedua anaknya. "Ayo cepat dihabiskan rotinya. Gavin, kembalikan barang adikmu. Kea, duduk yang tenang."

Mendengar titah sang Mama, Gavin akhirnya menyerah. Dengan helaan napas dramatis yang dibuat-buat, ia mengeluarkan gantungan kunci merah muda itu dan menjatuhkannya tepat di atas kepala Keana.

"Nih, dasar bocah berisik."

Keana menangkapnya dengan gerutu tertahan, buru-buru memasukkannya ke dalam tas sekolah sambil menjulurkan lidah ke arah Gavin. Suasana rumah kembali sedikit mereda, menyisakan denting sendok dan helaan napas Papa dan Mama yang hanya bisa berdoa agar sore nanti, kedua anak mereka pulang dengan tingkat waras yang lebih tinggi.

"Lusa, Elvan akan pulang ke Indonesia. Studinya sudah selesai, dan dia akan langsung menetap di sini untuk mulai praktik di rumah sakit."

"Serius, Pa? Bukannya bang El bilang dia mau menetap disana?" tanya Gavin.

"Papa yang menyuruhnya pulang. Di rumah sakit kita kekurangan Dokter Bedah" jelas Papa Arland.

Memang Elvan mengambil studi di jurusan kedokteran mengikuti jejak kedua orang tuanya. Mama Soraya yang merupakan Dokter Kandung dan Papa Arland juga Dokter Bedah.

"Lagi pula, sudah terlalu lama Elvan berada di luar negeri. Ini saatnya dia kembali ke rumah," tambah Mama Soraya, tersenyum lembut sembari menuangkan teh hangat untuk Papa Arland.

Gavin mengangguk-angguk paham.

Sementara Keana, ia hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena ia tidak pernah melihat maupun berbicara lewat telepon dengan kakak pertamanya itu.

"Kalian segeralah berangkat, ini sudah jam tujuh. Nanti Kea terlambat" ucap Mama Soraya mengingatkan.

"Kuyy lah, Ndut. Nanti gerbang sekolah mu tutup" Gavin berdiri dari kursinya dan berjalan lebih dulu.

Keana yang mendengar Gavin menyebutnya gendut merasa kesal bukan main. Ia buru-buru mencium tangan kedua orang tuanya, lalu mengejar Gavin.

Keana yang sengaja berlari melewati Gavin, langsung memukul lengannya dengan keras. Hingga membuat Gavin memekik sakit.

Plakkk

"Aduh"

"Rasakan. Wleeee" Keana menjulurkan lidahnya.

Gavin yang melihat itu melototkan matanya. Ia langsung berlari mengejar Keana. Keana jadi panik dan menambahkan kecepatan larinya menuju mobil.

Tawa Papa Arland dan Mama Soraya samar-samar masih terdengar dari ruang makan, mengiringi langkah seribu Keana yang panik.

"Mereka itu benar-benar" gumam Mama Soraya sembari menggeleng pelan.

Keana berhasil mencapai mobil SUV hitam milik Gavin lebih dulu, langsung membuka pintu depan dan menyusup masuk, menyisakan napas yang terengah-engah.

Hanya selisih beberapa detik, pintu kemudi terbuka kasar. Gavin masuk dengan wajah bersungut-sungut, tangan kirinya masih mengusap lengan yang baru saja menjadi korban keganasan pukulan Keana.

"Kecil-kecil tenaga mu kayak kuli pasar ya, Ndut! tangan ku memar ini!" protes Gavin ketus sembari menyalakan mesin mobil.

"Biarin! Makanya mulutnya dijaga. Badan ideal begini dibilang gendut. Mata kakak buta ya?!" sahut Keana tidak mau kalah. Ia sibuk memasang sabuk pengaman, lalu sengaja menoleh ke jendela, enggan menatap kakaknya.

Gavin mendengus, mulai melajukan mobil membelah jalanan pagi kota yang mulai padat. Bukannya kapok, sifat jahil Gavin malah kambuh lagi. Saat mobil berhenti di lampu merah pertama, Gavin dengan sengaja menyalakan AC mobil ke tingkat paling dingin dan mengarahkan corongnya tepat ke wajah Keana. Tak cukup sampai di situ, ia menyalakan radio dengan volume maksimal, memutar lagu dangdut koplo yang sukses membuat Keana menutup telinganya rapat-rapat.

"Kak Gavinnn!!! Matiin gak! Berisik tahu!" teriak Keana di antara dentuman bas musik.

Gavin tertawa puas, merasa dendamnya sudah terbalaskan. Setelah melihat wajah Keana yang hampir menangis karena kesal, barulah ia mengecilkan volume radio dan memposisikan AC kembali normal.

"Makanya, jangan macam-macam sama kakak"

Keana mendengus kencang, melipat kedua tangannya di dada. Suasana di dalam mobil hening selama beberapa menit. Namun, keheningan itu justru membuat pikiran Keana kembali melayang pada obrolan di meja makan tadi. Rasa penasaran yang sedari subuh mengganjal di hatinya kini menuntut untuk dikeluarkan.

Keana berdeham pelan, mengubah posisi duduknya agak miring menghadap Gavin. Sisi jahilnya mendadak menguap, digantikan raut wajah yang tampak serius dan sedikit ragu.

"Kak..." panggil Keana pelan.

"Apa? Mau minta maaf soal tadi?" sahut Gavin tanpa menoleh, fokus pada jalanan di depan.

"Bukan, ih," Keana menjeda kalimatnya sejenak, meremas tali tas sekolahnya. "Soal... Kak Elvan."

Gerakan tangan Gavin di setir mobil tampak sedikit melambat. Ia melirik Keana lewat sudut matanya. "Kenapa sama Bang El?"

"Dia... orangnya kayak gimana sih, Kak?" tanya Keana, suaranya mencicit kecil, menyiratkan rasa cemas yang tertahan.

"Maksud aku, dia beneran seseram yang sering Kak Gavin ceritain dulu? Dia... beneran gak suka ya sama aku?"

Seketika Gavin menoleh menatap mata adiknya. "Siapa yang bilang kalau bang El nggak suka sama kamu?"

Seingatnya ia tidak pernah mengatakan seperti itu pada adiknya. Mana mungkin juga ia mengatakan hal seperti itu yang bisa saja melukai hati adik kesayangannya.

"Emmm..... sebenarnya Kea, nggak sengaja dengar pembicaraan papa di telpon dua tahun lalu. Kea dengar sendiri kalau kak Elvan nggak suka sama Kea" Keana menunduk sembari memainkan jari-jarinya. Ia sungguh takut akan kedatangan kakak pertamanya itu.

Gavin terdiam. Ia tidak menyangka kalau adiknya ternyata pernah mendengarnya sendiri. Ia sejujurnya tahu kalau kakaknya itu tidak setuju dengan kehadiran Keana. Ia bahkan sendiri masih bingung apa alasan kakaknya tidak setuju dengan kehadiran Keana diantara mereka.

Gavin segera menepikan mobilnya ke bahu jalan yang agak lengang, lalu mematikan mesinnya. Di dalam ruang mobil yang mendadak senyap, Gavin mengembuskan napas panjang. Dipandanginya sang adik yang kini menunduk dalam-dalam, tampak begitu kecil dan rapuh dengan seragam putih-abunya.

Gavin mengulurkan tangan, mengacak rambut Keana pelan sebelum mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala gadis itu, menahannya di sana dengan usapan lembut.

"Dengerin kakak, Kea. Liat kakak," ujar Gavin, suaranya melembut, kehilangan seluruh nada jahil yang biasanya mendominasi.

Keana perlahan mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca menatap kakak keduanya.

"Dua tahun lalu itu... Bang El baru masuk residensi bedah yang super padat. Dia emang sempat komplain ke Papa lewat telepon," jelas Gavin tenang.

"Tapi bukan karena dia nggak suka sama kamu secara personal. Bang El itu orangnya perfeksionis dan sangat protektif sama keluarga ini. Waktu Papa mutusin buat adopsi kamu, Bang El posisinya lagi jauh di luar negeri. Dia cuma cemas." Gavin menjeda, memastikan Keana meresapi setiap katanya.

"Dia cemas karena dia nggak ada di sini buat ikut jagain kamu. Dia takut Papa dan Mama kewalahan, dan dia takut lingkungan sosial kita yang keras bakal bikin kamu tertekan. Cara penyampaian Bang El itu emang kaku dan dingin, makanya kedengerannya kayak orang musuhin. Padahal dia cuma gak pandai mengekspresikan rasa pedulinya." Gavin tersenyum tipis, mencubit pipi Keana gemas.

"Bang El itu orang paling bertanggung jawab yang pernah kakak tahu. Dia emang jarang senyum, mukanya datar kayak papan gilasan, dan kalau ngomong suka irit. Tapi dia nggak pernah benci sama kamu. Jadi, stop mikir yang aneh-aneh. Ada gue di sini. Kalau dia macem-macem, kakak yang bakal maju paling depan buat ngebelain kamu."

Keana terharu mendengarnya. Ia langsung memeluk Gavin dengan erat.

"Terima kasih, kak. Karena kakak mau terima Kea jadi adik, kak Gavin"

Gavin mengelus rambut Keana dengan sayang. Mencium kepalanya sesekali. "Jangan pernah merasa kecil, oke. Kamu tetap adik satu-satunya. Dari manapun kamu berasal"

Keana mengangguk kecil. Mata dan hidungnya jadi merah. Gavin terkekeh melihat itu. Ia kembali menjalankan mobilnya menuju sekolah Keana.

.

.

Lanjut

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!