NovelToon NovelToon
KUNCI CADANGAN

KUNCI CADANGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.

"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."

Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.

Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.

Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?

karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci itu

Laci meja rias Mas Arga seret. Kayu jatinya udah 10 tahun, sama kayak umur pernikahan mereka.

Sinta berlutut di lantai, nyari karet gelang buat ngiket kabel charger anak. "Mas, charger Naya ketutup buku nih," teriaknya dari kamar.

Nggak ada jawaban. Mas Arga lagi di kamar mandi. Suara shower-nya kenceng, nutupin suara motor lewat depan rumah.

Tangannya masuk lebih dalam ke laci. Jari Sinta nyentuh sesuatu yang dingin, kecil, dan nggak asing tapi asing. Dia ngeluarinnya.

Sebuah kunci.

Kuning, kecil, polos. Nggak ada tulisan "BRANKAS" atau "GUDANG" kayak kunci-kunci lain di rumah ini. Gantungan kuncinya dari kulit coklat, udah lecet di ujungnya. Kayak sering digesek saku celana.

Jantung Sinta nggak langsung aneh. Anehnya datang 3 detik kemudian.

Ini bukan kunci rumah mereka. Kunci rumah mereka gedenya beda, warnanya silver, gantungannya boneka Naya yang dulu Mas Arga beliin pas ulang tahun pertama pernikahan.

"Mas, ini kunci apa?" Sinta berdiri, jalan ke kamar mandi. Pintu nggak dikunci. Udah kebiasaan 10 tahun.

Mas Arga kaget. Busa sampo masih di rambut. "Hah? Kunci apaan?"

Sinta ngangkat tangannya. "Ini. Nemu di laci kamu."

Mas Arga ngelirik sekilas, terus nyengir. Senyumnya sama kayak tiap pagi kalau Sinta nyodorin kopi. "Oh itu. Kunci kantor lama, Sayang. Dulu pas masih di gedung Thamrin. Lupa kebuang."

"Kantor lama? Bukannya udah 3 tahun kamu pindah?"

"Iya, makanya lupa. Taruh situ aja, nanti aku buang." Dia matiin shower, ngulurin tangan buat handuk. "Udah, jangan dipikirin. Masakin Mas soto dong, laper."

Sinta ngangguk. Dia naruh kunci itu di meja rias. Tapi matanya nggak lepas dari gantungan kulit lecet itu.

Malamnya, pas Mas Arga udah ngorok pelan, Sinta nggak bisa merem.

Dia balik lagi ke meja rias. Ngambil kunci itu. Ngeliatnya di bawah lampu kuning.

Kantor lama. 3 tahun lalu.

Tapi kenapa gantungan kulitnya lecet banget? Kayak tiap hari masuk-keluar saku. Kunci kantor lama yang udah 3 tahun nggak kepake harusnya berdebu, bukan lecet.

HP Mas Arga di meja sebelah, layar ke bawah. Kebiasaan baru 2 bulan ini. Dulu HP dia kalau di meja selalu ngadep atas.

Sinta nggak kepikiran macam-macam. Sumpah. Dia cuma... penasaran.

Jam 2 pagi dia ke dapur, nyeduh teh anget. Kunci itu dia genggam terus. Dingin.

Besoknya Mas Arga pulang jam 8 malem. Katanya meeting. Bawa martabak kesukaan Naya. Wangi coklatnya memenuhi rumah.

Sinta senyum, nyium pipi suaminya. "Capek ya Mas?"

"Capek banget, Sayang. Meetingnya molor." Dia ngecup jidat Sinta. Wanginya... beda. Bukan wangi sabun yang biasa dia pake. Lebih tajam. Manis. Kayak parfum cewek.

Sinta beku 0,5 detik. Terus dia ketawa kecil. "Ih Mas, abis ketempelan cewek SPG di mall ya?"

Mas Arga ketawa juga. "Ish, cemburuan amat. Itu wangi AC kantor, kali."

Naya lari-lari minta martabak. Sinta motongin, nyuapin. Rumah itu masih sama. Suaminya masih sama. Anaknya masih sama.

Tapi malam itu, pas beres-beres, Sinta nggak langsung naruh kunci itu balik ke laci. Dia masukin ke kantong daster.

Dinginya nyangkut di paha.

Jam 11 malem, dia buka laci Mas Arga lagi. Kosong. Kunci cadangan rumah, kunci motor, kunci brankas... semua ada. Kecuali kunci kuning itu.

Berarti Mas Arga bohong. Katanya mau dibuang, tapi diambil lagi.

Sinta duduk di pinggir ranjang. Naya udah bobo, ngemut jempol. Mas Arga meringkuk, ngadep tembok.

Dia ngeluarin kunci itu dari kantong daster. Di bawah lampu tidur, goresan di kulit coklatnya keliatan jelas. Kayak goresan kuku.

Sinta nggak nangis. Belum.

Dia cuma mikir: kalau ini beneran kunci kantor lama... kenapa Mas Arga bohong soal mau buang? Kenapa wangi parfumnya beda? Kenapa HP-nya dibalik?

Dan yang paling nyiksa: kalau ini bukan kunci kantor... ini kunci apa?

Dia nggak punya jawabannya malam itu.

Yang dia punya cuma 1 kunci kecil di genggaman, dan 10 tahun pernikahan yang rasanya... mulai retak dari dalem.

Sinta nutup mata. Besok dia harus kerja kayak biasa. Senyum kayak biasa. Jadi istri yang "ngerti" kayak biasa.

Tapi di dalem kepalanya, ada suara kecil yang baru lahir malam itu:

Sinta, cari tau. Kunci itu buka pintu mana.

Lampu tidur dimatiin. Gelap. Tapi dingin kunci itu nggak ilang dari telapak tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!