Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Rania menghela nafas panjang melihat keadaan rumah yang berantakan padahal banyak orang di dalam rumah.
"Assalamu'alaikum". Ucapnya saat masuk kedalam rumah.
Matanya menyapu segala isi yang berada didalam rumah tempat yang harusnya menjadi tempat dia pulang dan beristirahat.
"Sudah pulang, cepat masuk kedalam memasak dan beberes rumah, adik ipar mulai lapar". Ucap sang mertua dengan santai tanpa peduli dengan wajah tak enak darinya.
"Saya baru pulang kerja bu, apa kalian tidak punya sedikit rasa peduli? ". Cicitnya tidak suka.
Mertuanya bernama Mirna itu hanya menatapnya dengan acuh dan tidak peduli.
"Itu kewajiban menantu dirumah ini, tidak perlu banyak bicara".
Rania mengepalkan tangannya, sejujurnya dia tidak terima dihina seperti itu oleh mertuanya tapi karena rasa cinta dan pengabdiannya kepada suaminya, dia hanya bisa menelannya dengan mentah tanpa bisa protes
"Saya baru pulang bekerja bu, kalian semua ada dirumah tapi tak satupun mengurus rumah ini, rumah ini ditinggali bersama jadi sudah kewajiban semua orang membersihkannya". Ucapnya dengan tubuh bergetar menahan amarah
"Sudahlah jangan banyak bicara, lakukan saja kewajibanmu, lagian kan kamu tinggal menumpang dirumah putraku, wajar dong kalau semua pekerjaan rumah kamu yang handle".
"Tapi saya bekerja dan menghasilkan uang dan uang itu dipakai oleh keluarga juga". Jawabnya tidak Terima.
Harga dirinya terasa terinjak-injak padahal dirinya lah yang pemilik rumah sedangkan suaminya dan keluarganya lah yang menumpang.
"Dasar mantu jurang ajar, itu memang sudah seharusnya, uangmu itu sudah jadi milik keluarga kami karena kamu sudah menikah dengan putraku dan kamu tinggal menumpang dirumah putraku, jadi jangan banyak omong". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Rania menunduk dan mengepalkan tangannya, matanya memerah karena amarah, sudah tiga tahun ini rumah yang harusnya menjadi surga-Nya menjadi neraka untuknya saat suaminya membawa keluarganya tinggal dirumahnya dengan dalih ibu dan ayahnya sudah tua
Dia tidak mengatakan apapun tapi berjalan meninggalkan mertuanya karena tidak ingin kurang ajar hingga membentak orang tua suaminya itu.
"Kurang ajar".
Plak..
Suara tamparan menggema diruangan itu membuat Rania tersungkur sedangkan sang suami bernama Ardi itu membelalak melihat istrinya ditampar oleh ibunya.
"Apa yang terjadi disini? ". Tanyanya segera mendekat kearah mereka.
Dia menelan salivanya melihat amarah berkobar dimata ibu dan istrinya, tapi dia lebih takut jika istrinya mengeluarkan sesuatu yang akan dia sesali seumur hidupnya.
"Ibu apa-apaan sih, kenapa ibu menampar Rania seperti itu?". Tanyanya dengan kesal.
Dia segera menolong istrinya agar istrinya berpikir dia masih berada di pihaknya.
"Istrimu ini kurang ajar, ibu belum selesai bicara dia langsung menyelondong masuk dan tidak punya tata krama, orangtuanya tidak pernah mengajarkan kamu sopan santun yah". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Amarah semakin berkobar dimata Rania, dia menatap sang suami dengan penuh intimidasi seakan menguliti lelaki itu hidup-hidup.
"Ran kamu apa-apaan sih, ngapain kamu lawan ibu, ibu itu ibu kandungku jangan kurang ajar padanya".
Alih-alih membela sang istri, Ardi malah melempar kesalahan itu kepada istrinya karena ucapan ibunya.
"Aku tidak kurang ajar". Desisnya pelan penuh penekanan
Matanya memerah menahan tangis dan juga amarah yang mulai meluap.
"Sekarang bawah ibu dan adikmu keluar dari rumahku sekarang juga mas, aku sudah tidak bisa mentolerir perbuatan mereka padaku hari ini, sudah cukup mereka selalu menginjak-injak harga diriku di rumahku sendiri". Jawabnya penuh amarah.
Dia bangkit kemudian mendekati suaminya yang kini berdiri kaku dan wajah yang memucat karena perkataannya barusan. Bisa hancur semua kebohongan yang dia katakan pada keluarganya selama ini.
"Jangan kurang ajar pada keluargaku Rania, mereka itu keluargamu juga". Bentaknya berusaha mempertahankan egonya walau dia tahu itu akan membuat Rania semakin marah kepadanya
"Aku tidak kurang ajar Ardi". Jawabnya dengan dingin.
Ardi terkesiap, matanya membelalak menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya, jika istrinya memanggil namanya seperti itu artinya dia sangat marah dan serius.
"Aku berusaha diam saja ketika keluargamu menghinaku, aku diam saja ketika mereka semua mengatai aku menumpang tidak tahu diri, aku diam saja pada perlakuan mereka semua nya padaku karena aku menghargai mu sebagai suamiku tapi aku sudah tidak tahan jadi sekarang bawa mereka semua keluar dari rumahku, Ardi Santoso". Teriak Rania dengan nafas memburu
Urat-urat pada lehernya menyembul dan nafasnya memburu seketika, bayangan bagaimana perbuatan keluarga suaminya selama ini menari-nari dibenaknya.
Dia bahkan mendorong keras suaminya sehingga suaminya itu tersungkur dengan mata ketakutan.
Dia tidak menyangka istri yang selama ini penurut dan sangat mencintainya bisa melakukan ini padanya, tapi egonya semakin besar, dia tidak akan membiarkan Rania menginjak-injak harga dirinya sebagai suami.
"Kurang ajar, berani kamu pada putraku, dasar menantu sialan". Bentaknya hendak melayangkan tamparan kepada menantunya tapi tangannya langsung dicekal dan di cengkram kuat oleh Rania.
"Jangan membuat kesabaranku habis bu, jangan buat aku kurang ajar pada orang tua". Desisnya penuh amarah dan dingin.
Matanya tajam menatap sang mertua seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Dia menghempaskan tangan mertuanya sehingga terhuyung dan beruntung ditangkap naik oleh Ardi
"Ada apa ini? ". Suara bariton terdengar dibelakang mereka membuat semua orang menoleh.
Disana ada paman Ardi yang datang bersama keluarganya dan juga ayah mertua lengkap dengan kedua iparnya.
Prok.. prok.. Rania bertepuk tangan dengan sinis melihat keluarga suaminya yang datang seolah ini adalah rumah mereka.
"Kenapa kamu tidak sekalian membawa keluarga besar mu tinggal dirumah ku Aldi agar kamu jadi lelaki hebat dimata keluargamu?". Tawa dingin Rania membuat bulu kuduk Ardi berdiri seketika.
"Rania jangan macam-macam, aku peringatkan kamu, jangan sampai aku kehilangan kendali dan memberimu pelajaran yang tidak kamu bisa lupakan seumur hidupmu". Desis Ardi dengan suara pelan penuh penekanan.
Dia tidak akan membiarkan Rania membuka mulutnya jika dirinya dan keluarganya menumpang dirumah ini, dia adalah anak lelaki satu-satunya keluarganya, dia tidak akan bisa menerima hal itu.
"Benarkah?, wah aku tidak sabar melihatnya". Tawa Rania menggema dirumah itu.
Tawa sang istri yang terkesan mengejek dirinya menyulut amarah yang berkobar didada Ardi, dia melangkah cepat dan melayangkan tangannya ke wajah istrinya tapi ternyata Rania menghindar dan dia tersungkur dilantai rumah.
"Jangan coba-coba bermain tangan dengan ku Ardi atau ku buat kamu kembali jadi gembel seperti pertama kali kamu bertemu denganku". Desisnya dengan tangan terlipat angkuh.
"Rania, apa yang kamu lakukan?, Ardi itu suamimu dan kami semua keluarganya, jangan cari gara-gara pada kami". Bentak ayah mertuanya dengan penuh emosi.
"Oh aku takut sekali tuan Santoso, sayangnya rumah ini adalah rumahku dan kalian semua ini adalah orang menumpang".