Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula ( Revisi)
Anisa Syafa gadis berparas cantik yang berprofesi sebagai seorang sekretaris dari pengusaha sukses Kais Arfan Syailendra.
Anisa bekerja di perusahaan Syailendra kurang lebih selama empat tahun. Pekerjaan nya yang selalu rapi dan begitu di andalkan sang bos. Kais sebagai bos mengakui kecekatan dan keprofesionalan Anisa selama ini.
Anisa merupakan sahabat dari istri Kais yaitu Marsya Ananda . Walaupun merupakan sahabat dari istri bos, Anisa begitu menjaga keprofesionalan kerja. Di kantor Anisa tetaplah bawahan Kais, disisi lain Anisa tetaplah sahabat Marsya istri Kais. Anisa tak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Bahkan Kais terkesan kaku dan dingin pada Anisa.
.
.
Langkah panjang seorang Kais masuk dalam sebuah lobby hotel di belakangnya di ikuti oleh Anisa yang juga berjalan sedikit berlari karena langkah nya yang tak sebanding bosnya yang punya tinggi 190cm di banding Anisa yang punya tinggi 165cm.
"Dokumen nya sudah siap dan sudah kamu periksa kan ?" suara bariton Kais terdengar datar.
Dengan sedikit terengah Anisa menjawab pertanyaan dari Kais. "Sudah pak. Saya sudah memeriksa nya beberapa kali." Kais yang mendengar suara Anisa terengah membuat Kais akhirnya melirik dengan ujung matanya melihat sosok Anisa yang sedikit tertinggal di belakang nya.
Kais menyadari jika sekertaris pribadinya itu masih tertinggal di belakang, akhirnya Kais sedikit melambatkan langkahnya.
Sedangkan Anisa yang sedari tadi berjalan dengan wajah menunduk pun tak menyadari jika Kais melambatkan langkahnya membuat Anisa tak bisa mengelak lagi jika tiba-tiba tubuhnya membentur punggung kokoh Kais.
Bugh💥
"Awwsssttt!" suara rintihan kecil keluar dari mulut Anisa yang sembari mengusap keningnya yang merasa nyeri saat kepalanya menghantam punggung lebar Kais.
Anisa yang sadar akan kesalahannya, dia pun mendongakkan kepalanya ke arah di mana Kais sudah menatap dirinya dengan tatapan dingin. "Ma_maaf pak.." Anisa langsung mundur satu langkah untuk memberi jarak antara dirinya dengan Kais.
" Ck...Makanya kalau jalan itu matanya di pake liat ke depan. Bukan liatin lantai!" Kais dengan wajah ketusnya berdecak kesal karena kecerobohan Anisa kali ini.
" I_iya pak, maaf.." dengan suara terbata Anisa pun kembali meminta maaf pada Kais.
Kais menarik nafas panjang dengan menatap ke arah Anisa yang kini kembali menundukkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Angkat wajah kamu! ingat, lihat kedepan kalau jalan. Ayo !!"
Anisa pun segera mengangkat wajahnya dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Kais yang selalu terlihat dingin dan tajam.
Mendengar kata 'Ayo' Anisa pun mengangguk dan kembali melangkah. Saat ini Kais dan Anisa berjalan berdampingan. Anisa yang menyadari jika Kais melambatkan langkahnya langsung menatap ke arah Kais sejenak, lalu kembali menatap ke depan.
Agenda awal, Kais akan berangkat bersama asisten nya melakukan pertemuan dengan klien yang mereka datangi saat ini. Namun dari pihak klien tiba-tiba memajukan tanggal pertemuan itu dan membuat schedule berubah. Asisten Kais harus menghandle proyek yang ada di Jakarta dan akhirnya Kais pun membawa Anisa ke luar kota bersamanya.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar dua hari satu malam mereka ada luar kota. Tapi, hal itu membuat Anisa sedikit tidak nyaman karena biasanya mereka akan pergi bertiga dan sekarang mereka hanya berdua.
Pertemuan tersebut berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil yang baik. Anisa pun bisa menghandle dan hal itu membuat Kais senang karena pertemuan itu berjalan tanpa kendala.
Malam harinya, mereka pun harus menginap semalam di sana. Anisa yang baru saja selesai mandi, tiba-tiba mendapat pesan dari Marsya sahabatnya.
"Nis, apa kamu sama Kais?"
Pesan itu membuat Anisa menghela nafas. Lalu dengan jemarinya yang lentik membalas pesan sahabatnya itu.
"Iya, kami ada pertemuan di luar kota. Apa ada masalah?"
Anisa mengirimkan balasan itu ke nomer Marsya.
"Syukurlah dia sama kamu, aku minta tolong lihat-lihat Kais..dari tadi aku telpon dan chat dia tapi nggak ada balasan. Aku khawatir, aku minta tolong coba cari dia, aku takut terjadi sesuatu sama dia."
Membaca pesan itu, akhirnya Anisa memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Kais, Anisa tahu sekali jika sahabatnya itu begitu mengkhawatirkan suaminya.
Anisa pun langsung mengganti pakaian nya dengan blus berwarna coklat bunga-bunga dengan lengan yang di gulung sampai siku, dan dia pun memakai rok selutut berwarna hitam dengan rambut yang di ikat keatas asal, Anisa keluar kamarnya mencari keberadaan Kais di kamarnya.

Saat mengecek kamarnya tak ada jawaban dari Kais, akhirnya dia pun menghubungi nomor Kais sembari melangkah menuju lantai bawah.
Saat pintu lift terbuka, Anisa yang ingin melangkah keluar dari lift langkahnya langsung tertahan saat melihat sosok Kais yang ada di ambang pintu lift dengan penampilan yang lumayan kacau.
Kais yang merasa kepalanya berat, mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah depan. Walaupun matanya melihat tak begitu jelas, tapi dia masih bisa mengenali perempuan yang ada di dalam lift yang sudah terbuka itu.
"Pak, anda kenapa seperti ini?" dengan wajah khawatir dan bingung Anisa ragu untuk bertanya pada Kais .
"Tolong aku Sa.." suara yang terdengar seperti gumaman membuat Anisa diam beberapa detik.
Saat Anisa diam dan bingung harus berbuat apa. Namun tiba-tiba saja Kais meraih bahu Anisa dan membuat kesadaran Anisa kembali.
Dengan spontan Anisa menahan bobot tubuh tinggi dan kekar milik Kais agar tidak terjatuh.
Dengan susah payah Anisa menekan kembali tombol lift ke lantai dimana kamar mereka berada.
"Sa_ Nisaa...!"suara yang terdengar pelan tapi cukup terdengar di telinga Anisa.
Anisa menelan ludah dengan susah payah. Nafasnya tercekat saat tubuh rampingnya di peluk erat Kais.
"Pa_pak..apa yang bapak lakukan!" dengan suara dan tubuh gemetar, Anisa mencoba untuk tenang. Sementara Kais semakin tak terkendali.
"Nisa, bantu..saya..
Suara lift terbuka membuat pandangan Anisa langsung ke arah pintu dan susah payah Anisa menahan bobot tubuh Kais yang begitu berat karena bobot tubuh besar dan tinggi Kais membuat dirinya kesusahan.
Dengan susah payah Anisa membuka pintu kamar Kais dan kemudian tiba-tiba saja tubuh Anisa didorong Kais dengan lumayan kuat sampai Anisa tak bisa menahan dorongan itu dan tak sampai disana, Kais menekan tubuh Anisa ke tembok membuat pergerakan nya pun tertahan.
"Sadar pak, saya...
Belum juga selesai bicara, bi*ir Anisa sudah di bungkam oleh Kais. Bahkan Anisa tak bisa mengelak saat Kais mulai berani melakukan lebih pada Anisa. Dalam alam bawah sadar Anisa ingin sekali menolak tapi tubuhnya tak bisa lagi menolak untuk menerima perlakuan tak biasa Kais.
"Anisa..tolong aku, ini sungguh menyiksa ku.." ucapan Kais dengan nafas tersengal-sengal membuat Anisa diam tak merespon karena ulah mendadak Kais.
Bersambung