NovelToon NovelToon
Pesona Gadis Desa Dan Ceo ARogan

Pesona Gadis Desa Dan Ceo ARogan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Sevda Aryan

Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.

Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.

Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Langkah Pertama di lantai Marmer

Lantai marmer mengkilap di lobi PT Dirgantara megah utama, hampir bisa memantulkan wajah Nala Putri 22 tahun dengan jelas. Gadis yatim piatu itu meremas map plastik di dadanya. Rok hitam panjang dan kemeja putih yang sudah disetrika berkali-kali adalah pakaian terbaik yang ia miliki setelah nekat merantau ke ibukota Demi menyambung hidup.

"nomor antrian 45, Nala Putri. Silakan masuk ke ruang wawancara utama." Panggil suara dari pengeras suara lobi.

Nala menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang, Iya melangkah melewati pintu kaca tebal tujuh ruangan yang terasa sedingin es.

 Di ujung meja besar, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapih. Wajahnya tampan dengan tegas, berwibawa dan arogan.

Adrian bahkan tidak melihat ke arah Nala, saat Gadis itu duduk. Jemarinya menggunakan jam tangan mewah hanya membalikkan - berkas Nala dengan kasar.

"Nala putri. Lulusan SMA, tidak punya pengalaman kerja di perusahaan besar, yatim piatu, dari desa. " ucap Adrian. Suaranya berat, daftar, dan sarat akan nada meremehkan. "kamu pikir perusahaan saya ini tempat penampungan sosial? Apa yang membuatmu begitu percaya diri melamar ke sini?...

Nala merasakan darahnya berdesir. Sifat Arogan pria di depannya ini benar-benar keterlaluan. Alih-alih menunduk takut seperti pelamar lain, Nala menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.

"Saya mungkin tidak punya ijazah tinggi atau koneksi orang dalam!

 Pak Adrian." sahut Nala, suaranya lantang dan stabil. "Tapi saya punya kejujuran dan keteguhan yang tidak bisa anda beli dengan uang di lantai marmer Anda yang mewah ini. Kemampuan bisa dipelajari, tapi integritas tidak dijual di manapun.

Keheningan mencekam langsung melingkupi ruangan. para staf HRD di samping Ardian menahan napas. Belum pernah ada satu orang pun yang berani menceramahi Adrian Dirgantara tepat di depan wajahnya.

Adrian menyipitkan matanya. Kilat amarah sekaligus rasa penasaran ditatapanya yang tajam. Ego dan harga dirinya baru saja runtuh oleh kalimat menohok dari seorang gadis miskin.

Alih-alih mengusir Nala, sebuah Seringai tipis muncul di sudut bibir Adrian. Pikiran kejamnya mulai bekerja. Gadis ini butuh pelajaran, pikirnya.

"Menarik," desis adrian seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.

 Kamu diterima. Tapi bukan sebagai staf biasa- Mulai besok, Kamu adalah sekretaris pribadi saya.

Nala tertegun. Matanya membelalak menatap pria berjas rapi di hadapannya, Menjadi sekretaris pribadi seorang Adrian Dirgantara sama saja dengan mengantarkan diri ke sarang macan.

"sekretaris pribadi?" ulang Nala dengan suara yang diusahakan Tetap tenang, meski debaran di dadanya Kian berkejaran.

Maaf, Pak saya melamar untuk posisi staf administrasi, bukan sekretaris pribadi anda?.

Adrian bersandar kembali ke kursi kebesarannya. ia melipat kedua tangan di dada, menatap Nala dengan pandangan meremehkan yang amat kentara.

"Di perusahaan ini saya yang menentukan posisi setiap orang, bukan kamu." sahut Adrian dingin.

Kenapa?...Kamu takut tidak bisa mengimbangi standar saya?... Atau kata-kata lantangmu Tadi hanya gertakan sambal?

Tantangan itu bagai bensin menyiram minyak ke dalam api di hati Nala. Harga dirinya terusik. Iya mengepalkan tangan di balik rok usangnya, lalu mendongak menatap langsung ke manik mata Adrian.

"saya tidak pernah takut pada pekerjaan apapun!. Pak," tegas Nala tanpa ragu. Saya hanya ingin memastikan bahwa hak dan kewajiban saya jelas!...

Saya ke sini untuk bekerja dengan profesional, bukan untuk menjadi pelampiasan ego anda.

Suasana di dalam kubikal mewah itu seketika membeku. Para staf HRD yang masih berada di sana tampak saling lirik dengan wajah pucat, tak menyangka ke kelancangan Nala justru makin menjadi-jadi .

Bukannya mengamuk, Adrian justru terkekeh rendah. Suaranya terdengar sinis dan meremehkan.

"bagus. Simpan kesombonganmu itu untuk besok pagi," ucap Adrian sambil melempar sebuah map dokumen ke atas meja.

Jam tujuh tepat, kamu harus sudah ada di ruangan ini. Telat satu menit, kontrak mu batal dan kamu harus membayar denda penalti karena menolak posisi paham?

Nala menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya. "paham, Pak. Saya permisi."

Tanpa menunggu jawaban, Nala berbalik melangkah lebar meninggalkan ruangan itu.

Di balik punggungnya, Sepasang Mata Adrian terus mengawasi senyuman misterius yang sarat akan rencana licik.

Langkah kaki Nala terasa begitu berat saat keluar dari gedung pencakar langit berlantai lima puluh itu. Udara luar yang panas dan berdebu langsung menyergap wajahnya, menggantikan Hawa sejuk dari pendingin ruangan super mewah di dalam kantor Dirgantara grup tadi.

Nala berjalan menuju halte bus dengan benak yang berkecamuk. ia meraba dompet kainnya yang tipis di dalam tas, menghitung sisa lembaran uang sepuluh ribu yang tersisa untuk ongkos transportasi hingga akhir bulan.

"Sekretaris pribadi," gumam Nala lirih pada diri sendiri sembari memandang jalanan Ibukota yang padat. Ada rasa getir sekaligus cemas yang menyergap hatinya. Iya tahu posisi itu adalah jebakan!

 Awal, dari Adrian yang ingin membalas dendam atas kelancangannya. Namun, sebagai seorang gadis Sebatang Kara di kota sekejam Jakarta, Nala tidak punya kemewahan untuk menolak pekerjaan.

Uang tabungannya dari kampung halaman sudah hampir habis untuk membayar sewa kontrakan bulanan, dan ia harus bertahan hidup sendirian demi merajut masa depan yang lebih baik. Pekerjaan ini adalah satu-satunya pelampung keselamatan agar ia tidak Terusir dari kota ini.

'Setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam menggunakan bus kota yang sesak dan pengap. Nala akhirnya turun di sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran kota Jakarta'.

Suasana di sini sangat kontras dengan pusat bisnis tempatnya diwawancarai tadi. Jalanan aspal berganti menjadi gang sempit yang hanya bisa dilewati satu motor, dan gedung-gedung kaca yang megah digantikan oleh deretan rumah kontrakan yang petak yang berdiri berhimpitan.

Nala menyusuri Gang yang becek akibat sisa hujan semalam. Kakinya berhenti tepat di depan sebuah pintu triplek yang catnya sudah mengelupas _ kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter yang disewanya selama beberapa bulan terakhir.

Tempat yang menjadi saksi bisu perjuangannya bertahan hidup di tanah perantauan tanpa sanak dan saudara.

Nala merogoh kunci dari dalam tasnya, membuka gembok yang berkarat- lalu mendorong pintu hingga berderit nyaring. Keheningan langsung menyambutnya. Tidak ada suara balasan, tidak ada pelukan hangat, dan tidak ada aroma masakan yang menanti.

Kamar kontrakan itu terasa sepi, dingin, dan Temaram. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis tanpa ranjang, lemari plastik lipat, dan sebuah meja kayu kecil tempatnya belajar dan menaruh beberapa buku.

Nala mengehela napas panjang,

Lalu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

 Flat- shoes nya yang sudah jebol di bagian ujung, lalu mendudukkan diri di lantai semen yang terasa dingin. Perlahan gumpalan sesak yang sejak tadi ditahannya di hadapan Adrian kini menyeruak naik ke tenggorokan.

Pandangan Nala tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang ada di atas meja kayu . Foto yang mulai menguning itu, tampak sepasang suami istri berwajah sahaja sedang tersenyum lebar sembari merangkul Nala kecil. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang mulus.

"Ayah, ibu...Nala kangen," bisik Nala dengan suara Parau yang bergetar .rasa rindu kepada mendiang orang tuanya selalu terasa seribu kali lebih menyiksa saat ia sedang merasa rapuh seperti ini. hari ini Nala keterima kerja di perusahaan besar. Tapi bosnya...bosnya sangat angkuh dan menyeramkan. Dia sengaja mempersulit Nala karena Nala berani melawan kesombongannya.

Nala mengusap air matanya dengan bajunya, menatap lekat-lekat Senyuman orang tuanya di dalam foto seolah sedang mencari kekuatan baru dari sana.

Kehilangan kedua orang tua sejak remaja yang telah menimpa Nala, menjadi gadis yang tidak mudah menyerah.

Jerih payah dan tetesan keringat mendiang ayahnya dulu sekolah tidak boleh sia-sia. ia sudah melangkah Sejauh ini di Jakarta, dan pantang baginya untuk mundur hanya karena gertakan seorang pria kaya yang arogan.

"Nala bangkit berdiri, membasuh wajahnya di kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk menyegarkan pikirannya". Rasa ragu dan Takut yang sempat menghantuinya akibat ancaman Adrian perlahan menguap, digantikan oleh tekad yang kembali membaja.

Kamu pasti bisa, Nala. kamu sudah Bertahan melewati badai yang besar dari ini!

Semangatin Nala pada pantulan dirinya sendiri di cermin yang buram.

la berjalan menuju lemari plastik, membukanya untuk memilih satu-satunya kemeja putih yang paling rapih, dan menyetrikanya dengan hati-hati menggunakan setrika tua pinjaman Tetangga Sebelah.

Adrian Dirgantara mungkin mengira bisa menghancurkan mental seorang gadis yatim piatu miskin seperti dirinya!

Dengan kekuasaan dan uang. Namun Adrian belum tahu bahwa kesendirian telah melatih Nala memiliki mental sekeras baja- yang siap menghadapi badai apapun esok pagi.

1
Endang Manuskowati
lanjut author, bagus
Sevda Aryan: "Halo semuanya, terima kasih atas komentar dan antusiasmenya yang luar biasa! Maaf ya kalau updatenya agak terlambat, karena saya penulis pemula dan sedang merapikan susunan kata serta tanda baca dari bab awal agar lolos komtrak editor. Dukungan kalian membuat saya sangat bersemangat. Tunggu kelamjutan ceritanya ya, jangan lupa novel ini di rak buku kalian 😍
total 1 replies
Ifana
Sisil sama Han udh kek tom & jerry 🤣🤣
Sevda Aryan: iya tiap ketemu berantem terus
total 1 replies
Ifana
ditunggu lanjutannya kk ~
Sevda Aryan: iya kaka, mohon maaf jika telat
total 2 replies
Ifana
wong edan...udh ngrebut perusahaan bpk nya sekarang mau ambil perusahaan anaknya, dasar serakah 😡
Sevda Aryan: Nama nya juga manusia serakah , ka🤣
total 1 replies
Ifana
jgn² Sisil jodoh nya Han 🤣🤣
Ifana: tp cewek mcm Sisil cocok sama cowok model Han yg kaku kek kanebo kering 🤣🤣
total 2 replies
Ifana
semangat up nya kk
Sevda Aryan: iya makasih banyak atas dukungannya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!