⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Disty."
Panggilan itu membuat langkah seorang gadis berhenti dan menoleh ke belakang untuk melihat orang yang baru saja memanggil.
Zayna Olivia. Gadis itu tersenyum lebar menghampiri Disty.
"Mau ke kelas kan? Ayo bareng," ajak Zayna tampak semangat.
Disty Gabriella hanya menatap dingin sebelum melanjutkan langkah kakinya tanpa mengeluarkan suara.
Bisa di bilang kalau Disty adalah gadis yang dingin, dan minim ekspresi. Selain itu, Disty tidak pernah bersuara. Karena itu lah banyak yang beranggapan kalau dirinya bisu, padahal sama sekali tidak.
Hanya saja Disty memiliki alasannya sendiri untuk tidak bersuara.
Zayna tidak menyerah untuk bisa berteman dengan Disty yang terlalu menutup diri itu. Ia berjalan di samping Disty.
"Kira-kira Zaffar masuk ke sekolah gak ya hari ini? Kalau dia nggak masuk, gue kan bisa duduk sebangku sama lo," papar Zayna mengajak Disty bicara.
Mengisi kekosongan diantara mereka berdua yang ingin ke kelas. Walaupun Disty diam tidak menanggapi apa-apa, tapi Zayna tetap mengoceh.
"Sebenarnya sih gue udah lama pengen ajak Zaffar tukar bangku, tapi nggak berani karena walaupun dia ramah sama kelihatan polos, Zaffar tetap kelihatan serem kalau marah, apalagi kalau itu tentang lo. Wah dia bisa mendadak jadi raja hutan," ungkap Zayna bergidik ngeri.
"Oh atau jangan-jangan dia suka sama lo ya Dis?" Zayna menoleh pada Disty yang diam saja hingga mereka sampai di kelas.
"Untuk sekali aja apa lo gak mau respon gue? Dehem aja deh dehem," ucap Zayna mengikuti Disty yang duduk di bangku nya.
Disty tetap diam, melirik Zayna pun enggan. Sampai pemuda bernama Zaffar itu juga datang, membuat Zayna segera pergi ke bangku nya sendiri.
"Selamat pagi Disty cantik. Udah sarapan? Aku buatin sandwich untuk kamu karena aku nggak mau kalau kamu sampai pingsan kayak kemarin cuma karena telat sarapan," celoteh Zaffar sembari duduk di sebelah Disty.
Inilah yang paling tidak Disty sukai. Seorang Zaffar Alariksyah terlalu berisik untuknya yang membutuhkan ketenangan tanpa keributan.
Dari banyaknya murid yang ada di kelas ini, kenapa harus Zaffar yang harus menjadi teman sebangku nya? Kalau bisa memilih, Disty justru lebih memilih Zayna yang tidak terlalu berisik untuk duduk bersamanya.
"Ayo sarapan dulu, masih ada sedikit waktu sebelum guru masuk kok," ujar Zaffar sambil mengeluarkan kotak bekal dari tas bekal yang ia bawa sepanjang jalan tadi.
"Aku..."
Zaffar diam saat Disty meletakkan jari telunjuk di bibir, memintanya untuk diam dan tidak berisik. Zaffar tersenyum lebar.
"Terima dulu bekal sandwich nya, aku udah effort loh buatin ini khusus buat kamu. Nanti setelah kamu terima bekal nya, aku bakal diem," oceh Zaffar.
Tangan Disty dengan cepat menyambar kotak bekal berwarna biru ini agar Zaffar bisa cepat juga mengunci mulutnya.
"Kamu nggak makan...."
Zaffar kembali diam saat Disty menatapnya dengan tajam. "Hehe maaf, oke aku diem," ucapnya.
Zaffar benar-benar diam sekarang karena guru juga sudah masuk ke kelas sekarang.
"Pagi anak-anak," sapa sang guru.
"Pagi Bu," sahut siswa/i kelas XII IPS 5 ini. Tentunya tanpa suara dari Disty.
Guru mulai mengajar dan semua murid diam mendengarkan sambil menulis materi yang penting. Berbeda dengan Zaffar yang malah terus memperhatikan Disty sampai membuat gadis itu merasa risih. Sangat.
"Disty makan aja diam-diam, aku bantu tutupin pakai buku biar nggak ketahuan sama Bu Indah. Kasihan perut kamu yang kelaparan kalah harus nunggu istirahat," bisik Zaffar kembali mengoceh, membuat Disty geram.
"Gue nggak lapar bangsat," batin Disty mengumpat dengan tangannya yang memegang pulpen sedikit di tekan.
Disty menarik napasnya pelan, lalu jari telunjuknya menunjuk ke depan, di mana Bu Indah yang sedang membelakangi mereka sekarang ini, lalu menatap Zaffar sambil meletakkan jari telunjuk ke bibir, menyuruh Zaffar diam dan fokus saja dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang sedang berlangsung ini. Tanpa perlu memperhatikan dirinya.
"Gapapa, aku udah biasa di hukum kok. Kamu nya makan aja, nggak akan ketahuan," bisik Zaffar lagi.
Tangan yang berada di atas meja itu terkepal kuat, lalu dengan gerakan kasar tanpa menimbulkan suara, Disty memakan sandwich bekal dari Zaffar. Membuat Zaffar mengembangkan senyum.
Zaffar menutupi bagian depan Disty yang mengunyah sambil menulis itu agar tidak ketahuan guru dengan buku miliknya.
"Aku suka cewek pendiam dan penurut kayak kamu," bisik Zaffar kali ini tepat di telinga Disty yang kembali mengepalkan tangan.
Zaffar menjauhkan wajahnya lagi dan tersenyum memperhatikan pipi Disty yang menggembung karena sedang mengunyah. Mulut gadis itu penuh dengan sandwich.
"Gimana menurut kamu? Enak nggak?" tanya Zaffar ingin tau apa pendapat Disty tentang sandwich yang ia buat dengan penuh cinta.
Disty mengangguk saja agar Zaffar tidak terus menerus mengoceh, tapi itu malah justru membuat Zaffar semakin mengoceh.
"Besok mau aku buatin bekal nya? Menu yang beda mungkin? Kamu bisa request juga kalo mau" kata Zaffar masih dengan suara nya yang pelan agar tidak terdengar di telinga guru.
Disty menggeleng tanpa menatap Zaffar, tanda ia menolak bekal apa pun dari Zaffar lagi.
"Kenapa enggak? Kamu kan ngangguk tadi, dalam arti lain itu enak. Berarti bisa dong kalo besok aku buatin dan bawain lagi bekal untuk kamu," ujar Zaffar terkesan memaksa sekarang.
Disty tidak ingin berinteraksi lebih dengan Zaffar, jadi ia memilih fokus tanpa menghiraukan Zaffar yang terus menerus mengoceh sampai jam istirahat berbunyi.
Siswa/i segera keluar kelas setelah Bu Indah keluar.
Zayna berdiri hendak ke kantin juga, tapi sebelum itu Zayna menghampiri Disty, berniat mengajak gadis itu ke kantin bersama.
"Hai Zaffar," sapa Zayna ramah, sedikit kaku juga.
Zaffar tersenyum dan mengangguk menanggapi sapaan dari Zayna.
Zayna beralih menatap Disty yang sedang memakai headset di telinga. Malas mendengar ocehan dari siapa pun lagi, ia memejamkan mata sambil bersandar di bangku.
Ocehan yang bisa Disty terima hanya ketika guru masuk dan menjelaskan tentang pelajaran. Itu saja.
Zayna sudah akan membuka mulutnya untuk bersuara pada Disty, tapi Zaffar lebih dulu bersuara.
"Zayna, bisa nggak kalo kamu nggak usah terus ganggu Disty terus setiap hari? Disty risih," kata Zaffar menatap penuh pada Zayna yang juga langsung menatap padanya.
"Gue nggak pernah ganggu Disty atau siapa pun di sekolah ini," bantah Zayna. Tidak terima dengan ucapan Zaffar barusan.
"Tapi Zayna setiap hari selalu berusaha dekat sama Disty," tukas Zaffar tidak suka.
"Gue cuma mau berteman, bukan bermaksud ganggu kayak yang lo bilang!" pungkas Zayna.
"Dan Disty risih setiap kali Zayna datang!" hardik Zaffar sedikit ngotot.
Bagaimana tanggapan Disty dengan mereka berdua yang berdebat? Ia masih pada posisinya. Ia mendengar walaupun musik terputar dari headset nya, hanya musik kecil saja makanya ia masih bisa mendengar perdebatan dua orang ini.
"Mungkin lo yang salah lihat. Toh Disty sendiri selama ini nggak pernah tuh suruh gue buat menjauh atau bilang kalau dia risih sama gue," jelas Zayna.
"Kali ini di wakilin sama Zaffar. Zayna bisa pergi sekarang," usir Zaffar seenaknya.
"Zaffar, gue nggak pernah punya niat buruk apapun, sekarang cuma mau ajak Disty ke kantin buat makan siang bareng," ucap Zayna jujur agar Zaffar juga tidak menilai secara berlebihan seperti barusan.
"Nggak perlu, Disty makan siang bareng sama Zaffar di kelas. Zayna sendiri aja ke kantin nya," ujar Zaffar tetap keras kepala dan ingin Zayna pergi tidak mengganggu lagi.
Disty baru merespon dengan gerakan sedikit gelisah saat Zaffar berdiri dan menarik tangan Zayna secara paksa, membuat gadis itu keluar dari kelas dan Zaffar yang mengunci pintu kelas.
Zaffar kembali menghampiri dengan senyum lebar yang perlahan menghilang. Berganti dengan wajah datar dan sangat dingin, yang membuat Disty memalingkan wajah dengan tangan yang terkepal dalam diam.
"Siapapun tolong," batin Disty meminta pertolongan.