NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Makan yang Membeku

Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat untuk pulang, tempat di mana aroma masakan ibu dan tawa hangat menyambut di ambang pintu. Namun, bagi Aurora

Alandriana Tenggara, rumah adalah sebuah pengadilan tanpa akhir. Rumah megah bergaya modern kontemporer di kawasan elit itu berdiri kokoh dengan dinding-dinding marmer yang mahal, namun di dalamnya, udara selalu terasa seperti es yang menusuk tulang.

Pagi itu, meja makan kayu jati panjang di kediaman Tenggara sudah terisi penuh. Di kursi utama, Bramantyo Tenggara duduk dengan wibawa yang mengintimidasi, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik saham.

Di sisi kanan dan kiri, keempat putra mahkotanya duduk dengan angkuh. Eros, si sulung yang kaku; Gavin, si atletis yang temperamental; Juna, si genius yang pendiam; dan Arvin, si pemberontak dengan seragam sekolah yang berantakan.

Aurora masuk ke ruang makan dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia mengenakan seragam putih-biru barunya untuk hari pertama MPLS. Pita merah-putih terikat rapi di rambutnya yang lurus. Ia berhenti di ujung meja, menatap kursi kosong yang paling jauh dari ayahnya.

"Duduk," perintah Bramantyo tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari tabletnya. Suaranya berat, kering, dan tanpa emosi.

Aurora duduk dengan tangan gemetar. Ia hendak meraih teko susu, namun dentuman keras dari sendok yang diletakkan secara kasar oleh Gavin membuatnya tersentak.

"Kenapa dia harus ikut makan di sini, Pa?" tanya Gavin dengan nada jijik. "Selera makanku hilang setiap kali teringat siapa yang membuat Mama tidak bisa lagi duduk di kursi itu."

Kalimat itu adalah belati yang sudah biasa ditusukkan ke jantung Aurora, namun rasa sakitnya selalu terasa baru.

Enam belas tahun lalu, di hari Aurora menghirup napas pertamanya, sang ibu mengembuskan napas terakhirnya. Bagi keluarga ini, Aurora bukan sekadar adik atau anak; dia adalah pencuri.

"Gavin, jangan berisik saat makan," tegur Eros dingin, meski matanya juga memberikan tatapan tajam yang sama ke arah Aurora.

"Biarkan dia makan cepat, lalu pergi. Aku tidak mau dia merusak suasana pagi ini."

Arvin, yang duduk paling dekat dengan Aurora, tiba-tiba menggeser kakinya di bawah meja dan menendang kursi Aurora hingga gadis itu hampir terjungkal. Arvin menyeringai tipis, seolah rasa sakit Aurora

dalah hiburan baginya.

"Dengar, bocah," bisik Arvin, cukup keras untuk didengar semua orang. "Di sekolah nanti, jangan pernah berani menoleh kalau gue lewat. Kalau lo sampai berani menyapa gue di depan teman-teman gue, lo bakal tahu akibatnya."

Aurora hanya bisa menunduk dalam-dalam. Air matanya sudah menggenang, namun ia tahu menangis di meja makan ini adalah kesalahan fatal. Ia segera memakan rotinya dengan terburu-buru, hampir tersedak, sementara ayahnya tetap diam, seolah-olah Aurora hanyalah pajangan dinding yang tak bernyawa.

"Aku... aku berangkat dulu," bisik Aurora lirih. Ia menyambar tasnya dan berlari keluar menuju halte bus, karena ayahnya melarangnya ikut di mobil mewah mana pun milik kakak-kakaknya.

Pukul 07:10. Aurora sampai di gerbang SMA Cakrawala dengan napas terengah. Ia tahu ia terlambat. Ia berlari melewati koridor laboratorium kimia yang sepi, mencoba mencari aula tempat pembukaan MPLS. Namun, kecemasannya membuat fokusnya hilang.

DUG!

Aurora menghantam sesuatu yang keras. Tubuh kecilnya terpental hingga jatuh terduduk di lantai koridor yang kasar. Makalah "Visi Misi" yang ia kerjakan semalaman bersama Nenek Lastri terbang berhamburan.

"Aduh..." Aurora meringis, memegangi sikunya yang lecet dan berdarah.

"Sialan. Lo nggak punya mata?"

Suara itu membuat Aurora membeku. Ia mendongak dan menemukan Arvin berdiri di depannya. Kakaknya itu sudah sampai lebih dulu dengan motor besarnya.

Arvin menatap Aurora dengan amarah yang meluap. Di tangannya, sebuah korek api logam ia mainkan dengan suara klik yang ritmis.

"Maaf, Kak... aku nggak sengaja, aku buru-buru," ucap Aurora terbata-bata. Ia mulai memunguti kertas-kertasnya dengan tangan gemetar.

Arvin justru melangkah maju. Dengan sengaja, ia menginjak lembaran kertas paling atas milik Aurora dengan sepatu bot hitamnya yang kotor.

"Baru satu jam keluar rumah, lo sudah bikin masalah lagi. Lo benar-benar pembawa sial, ya?"

"Tapi aku sudah minta maaf, Kak Arvin..."

"Gue bilang jangan panggil gue 'Kak' di sini!" bentak Arvin.

Ia mencengkeram papan nama kardus di leher Aurora, membacanya dengan kasar. "Aurora Alandriana. Nama lo terlalu bagus buat orang yang lahirnya cuma buat bunuh orang lain."

Aurora tertegun. Bentakan itu terasa lebih menyakitkan daripada luka di sikunya. Beberapa siswa lain mulai menoleh ke arah mereka. Aurora merasa dunianya runtuh. Di rumah ia dihina, dan di sekolah, tempat yang ia harapkan menjadi pelarian, ia justru bertemu dengan iblis yang sama.

"Arvin! Berhenti!" suara tegas Kaila Ranisatya, ketua OSIS, memecah ketegangan. Kaila berjalan mendekat, menatap Arvin dengan penuh peringatan.

"Jangan berulah di hari pertama, atau Papa lo bakal tahu soal ini."

Arvin mendengus, melepaskan cengkeramannya pada papan nama Aurora hingga gadis itu terhuyung.

"Urus saja urusan lo, Kail," ucap Arvin ketus sebelum berbalik pergi begitu saja, diikuti oleh Bimo yang sempat memberikan tatapan prihatin pada Aurora.

Kaila membantu Aurora berdiri. "Kamu nggak apa-apa? Arvin memang keterlaluan, dia sering merundung anak baru."

Aurora hanya menggeleng lemah, mencoba merapikan kertas-kertasnya yang kini berbekas tapak sepatu kotor Arvin. Ia tidak berani mengatakan bahwa "perundung" itu adalah kakak kandungnya sendiri.

Di tengah riuhnya suara peluit dan teriakan kakak kelas di lapangan, Aurora berdiri dengan bahu bergetar. Ia menatap punggung Arvin yang menjauh. Dalam hatinya yang paling dalam, ia hanya ingin berteriak: Aku adikmu, Arvin. Tolong, sayangi aku sedikit saja.

Hari itu, Aurora menyadari satu hal yang menyakitkan. Di sekolah maupun di rumah, ia tidak punya tempat untuk bersandar. Dan perjalanan ini baru saja dimulai.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!