NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Daftar Kembali

Bab 9: Daftar Kembali

Nadia langsung dibawa ke tempat pendaftaran oleh Prof Hengki. Sengaja pria tua itu menyamar jadi orang tua biasa karena dia ingin melihat langsung bagaimana cara tim penerimaan itu bekerja di lapangan, tanpa mereka tahu siapa dirinya sebenarnya.

Nadia datang dengan penampilan seadanya. Dia memakai celana hitam yang sedikit pudar, hoodie dengan banyak bekas oli yang masih menempel, dan sepatu safety yang biasa dia pakai saat bekerja di bengkel milik Ko Amen. Penampilannya jauh dari kata rapi, bahkan lebih mirip anak yang baru pulang kerja dibanding calon peserta olimpiade.

Begitu memasuki ruangan pendaftaran, Nadia dan Prof Hengki melihat beberapa petugas sedang duduk santai sambil mengobrol dan bermain ponsel. Wajah mereka tampak terlalu santai untuk orang yang sedang bertugas menyeleksi masa depan anak-anak berbakat.

“saya mau daftar lagi jadi peserta olimpiade,” ungkap Nadia.

Baru kali ini Nadia bertemu langsung dengan panitia karena sebelumnya dia mendaftar secara online. Kali ini berbeda, karena dia datang memakai rekomendasi khusus sehingga harus hadir langsung ke tempat pendaftaran.

“mana kartu siswa kamu?” tanya seorang lelaki dengan malas.

Biasanya yang datang ke tempat itu memakai pakaian rapi, didampingi orang tua dengan penampilan meyakinkan, dan kadang ada amplop yang diam-diam ikut berpindah tangan. Tapi saat melihat Nadia dan pria tua di sampingnya, wajah lelaki itu langsung menunjukkan rasa tidak tertarik.

“kamu enggak bisa masuk,” ucapnya setelah mengecek data Nadia.

“kenapa ga bisa masuk? saya direkomendasikan oleh Prof Hengki,” jelas Nadia.

Nadia menyerahkan sebuah memo dari Prof Hengki. Lelaki itu menerimanya lalu mengernyitkan dahi beberapa detik sambil membaca isinya dengan wajah datar.

“tetap ga bisa masuk, kamu siswa berandalan, suka merokok, dan terlibat balapan liar,” jelas lelaki itu.

“kalau sama ini bisa?” Prof Hengki mengeluarkan setumpuk uang lalu meletakkannya di atas meja.

Wajah lelaki itu langsung berubah cerah. Matanya membesar melihat tumpukan uang yang ada di depan matanya seperti anak kecil melihat mainan baru.

“kalau begitu saya akan laporkan ke atasan.”

Dia baru ingin mengambil uang itu, tapi Prof Hengki lebih dulu menarik kembali tumpukan uang tersebut.

“sayang sekali saya tidak akan memberikan uang itu pada anda.”

Seketika wajah lelaki itu berubah kusut. Bibirnya mengerucut sambil mendengus kesal karena merasa dipermainkan.

“kalau begitu silakan bawa anak anda. Anak anda tidak memenuhi standar moral. Selain kecerdasan, ada standar moral yang juga harus dipertimbangkan.”

“moral yang mana?” ucap Prof Hengki dengan nada tajam. “Kamu sendiri tidak punya moral yang bagus, sekarang kamu menolak anak saya pakai standar moral? Pantas saja negara ini tidak maju karena diisi orang-orang seperti anda.”

“brak!”

Lelaki itu menggebrak meja cukup keras sampai beberapa orang menoleh.

“siapa anda berani mengkritik saya?” suaranya menggeram, tatapannya tajam, rahangnya mengeras. “dia anak nakal, suka merokok, terlibat tawuran, tidak pantas ikut olimpiade.”

“walau dengan rekomendasi Prof Hengki?” tanya Prof Hengki.

“mana mungkin dia kenal Prof Hengki? Prof Hengki orang bermartabat, tidak mungkin kenal sama anak nakal seperti ini,” ucap lelaki itu dengan nada merendahkan.

“kenapa anda tidak memberikan beberapa tes kepada dia? Bukankah ada prosedurnya untuk menguji kemampuan dasar?” Prof Hengki ingin mengetahui sejauh mana SOP yang sudah dia buat apa sudah di laksanakan secara benar atau belum dan kenyataan menghantam dirinya.

“tidak perlu. Anak nakal suka merokok tidak usah ikut tes, langsung kami tolak.”

“ini tidak sesuai prosedur,” ungkap Prof Hengki sambil mengeluarkan ponselnya.

Dia langsung menekan sebuah nomor, lalu menunggu beberapa detik.

“Diki, apa seperti ini panitia penyelenggara olimpiade matematika?”

Suara Prof Hengki terdengar datar, tapi ada tekanan yang membuat suasana terasa berubah.

“ada masalah apa Prof? Prof di mana sekarang?”

“aku ada di lobi lantai bawah.”

Terdengar suara gaduh dari seberang telepon sebelum sambungan terputus.

“jangan sok kenal sama Pak Diki. Mending pulang sana, atau saya panggilkan security.”

“panggil saja dan usir saya. Anggap saja ini terakhir kali kamu bersikap sombong.”

Suasana mendadak menegang. Lelaki itu mengencangkan rahangnya, lalu berseru dengan suara keras.

“security! tolong usir orang-orang ini!”

Dua petugas keamanan langsung berjalan mendekat ke arah Nadia dan Prof Hengki. Nadia diam, tapi matanya mengawasi gerakan mereka. Kalau mereka memaksa, Nadia siap membanting dua orang itu

Namun tiba-tiba terdengar suara panik dari arah belakang.

“Prof Hengki!”

Seorang pria berlari tergesa-gesa lalu langsung menghampiri Prof Hengki. Begitu sampai, dia langsung mencium tangan pria tua itu dengan wajah tegang.

“kenapa anda tidak memberi tahu sebelumnya kalau anda kemari?” ucap Diki panik.

“kalau aku memberitahu kamu, aku tidak akan tahu kalau panitia penerimaan begini bobroknya,” jelas Prof Hengki dengan nada tajam.

Wajah lelaki yang tadi ingin mengusir mereka mendadak pucat. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.

“Prof ada apa? Tolong jelaskan.”

Prof Hengki menunjuk ke arah lelaki itu.

“selidiki dia. Aku menduga dia menerima suap, dan dia menolak rekomendasiku. Sudah tiga puluh tahun aku mencari anak-anak berbakat, apa kamu meragukan kemampuanku?”

“tidak Prof, saya tidak berani. Mana mungkin saya meragukan kemampuan anda,” jawab Diki dengan suara gemetar.

Diki langsung menoleh ke arah lelaki tadi.

“mulai hari ini kamu dipecat.”

“jangan Pak... jangan pecat saya Pak...” ucap lelaki itu dengan wajah memelas.

Dia sudah terlalu nyaman berada di posisi itu. Dari tempat itulah dia bisa mendapat banyak uang tambahan dari orang-orang kaya yang datang membawa amplop.

“pergi sekarang! Aku tidak mau lihat kamu lagi,” bentak Diki, lalu menoleh ke arah dua petugas keamanan. “seret dia keluar, atau kalian yang saya pecat.”

Suasana mendadak sunyi, dipenuhi rasa canggung yang terasa menggantung di udara. Tidak ada lagi suara berani atau tatapan meremehkan seperti tadi. Orang-orang yang sejak awal hanya menonton sekarang memilih diam sambil saling melirik satu sama lain.

Dengan senyum kaku dan nada yang tiba-tiba berubah lebih ramah, Diki mencoba memperbaiki keadaan. Wajahnya terlihat tegang meskipun dia berusaha tetap tenang di depan Prof Hengki.

“prof ada yang bisa saya bantu?” ucapnya.

Prof Hengki tidak mau membuang waktu untuk berbasa-basi. Dia langsung bicara ke inti persoalan tanpa memedulikan ekspresi orang-orang di sekitarnya yang sejak tadi masih terlihat gugup.

Dengan sigap Diki sendiri yang mengambil formulir pendaftaran Nadia. Tangannya bergerak cepat mengetik data ke komputer, lalu mencetak dokumen yang dibutuhkan tanpa berani membantah sedikit pun.

Beberapa menit kemudian, Diki menyerahkan tanda terima pendaftaran ke tangan Nadia. Hari itu, secara resmi Nadia kembali terdaftar sebagai peserta olimpiade atas rekomendasi langsung dari Prof Hengki.

“aku tidak akan intervensi apa pun. Aku tidak akan mentolerir kecurangan dalam segala bentuk. Kamu evaluasi jajaran kamu, jangan-jangan banyak anak miskin yang punya kemampuan tapi tidak bisa ikut event ini,” ucap Prof Hengki dengan nada tegas.

Wajah Diki langsung berubah serius. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi rasanya seperti tamparan yang mendarat tepat di wajahnya.

“saya akan pastikan aman prof,” jawab Diki dengan sigap.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!