NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Bab 1 — Rumah yang Terlihat Sempurna

Bandung selalu terasa lebih dingin saat pagi.

Kabut tipis masih menggantung di luar jendela ketika Celsi berdiri di dapur sambil menuangkan teh panas ke dua cangkir. Aroma roti panggang memenuhi ruangan kecil yang sebenarnya tidak terlalu mewah, tapi cukup nyaman untuk disebut rumah.

Rumah yang selama tiga tahun terakhir ia bangun bersama suaminya.

Rumah yang menurut banyak orang sempurna.

Celsi meletakkan cangkir di meja makan lalu melirik jam.

06.12.

Seharusnya Rangga sudah turun.

Benar saja.

Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari tangga.

Rangga muncul dengan kemeja biru muda yang belum dikancing penuh. Rambutnya masih sedikit basah.

Dia langsung tersenyum begitu melihat Celsi.

"Pagi, cantikku."

Celsi ikut tersenyum.

"Pagi, Mas. Sarapan dulu."

Rangga mendekat, tapi bukannya duduk, dia malah berdiri di belakang kursi Celsi lalu membungkuk sedikit.

"Kamu udah makan?"

Celsi menggeleng.

"Nunggu kamu, Mas."

Rangga tertawa kecil.

"Kebiasaan," katanya sambil mencolek hidung istrinya.

Dia mencium puncak kepala istrinya sebentar.

Gerakan kecil yang selalu berhasil bikin hati Celsi hangat.

Tiga tahun menikah.

Dan sejauh ini, Rangga masih sama.

Masih ingat hal-hal kecil.

Masih pulang tepat waktu.

Masih bertanya apakah dia sudah makan.

Masih memanggilnya "Cantik" setiap pagi.

Kadang Celsi merasa dirinya beruntung.

Walau…

Ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan orang.

Anak.

Rangga duduk.

"Makan yang banyak."

Celsi mengambilkan roti.

"Kamu juga."

Mereka makan dalam suasana tenang.

Sampai akhirnya Rangga bertanya santai.

"Hari ini ada rencana?"

Celsi mengangkat bahu.

"Paling beresin rumah. Nanti sore mau coba resep baru."

Rangga mengangguk.

"Lagi masak apa?"

"Belum tau."

Rangga menatapnya sebentar.

"Kamu jangan capek-capek."

Celsi tersenyum.

"Kok serius banget?"

Rangga diam sebentar lalu berkata pelan.

"Aku cuma nggak suka kalau kamu terlalu banyak mikir."

Celsi tahu maksudnya.

Bukan soal pekerjaan.

Bukan soal uang.

Tapi soal yang belum mereka punya.

Ya, itu Anak.

Celsi menurunkan sendok.

"Aku nggak mikir."

Rangga menatapnya lama.

"Aku cuma capek dengar omongan orang… bilang ke aku. Rasanya kayak aku bukan wanita yang sempurna."

Celsi tertawa kecil.

"Emang aku selemah itu, ya?"

Rangga menggeleng.

"Enggak. Kamu nukan lemah. Itu manusiawi kok."

Dia menggenggam tangan Celsi.

"Lihat, Mas. Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian. Masalah anak, ini jelas urusan kita berdua."

Kalimat sederhana.

Tapi cukup bikin hati Celsi menghangat.

Dia menunduk sebentar.

Kadang dia memang sedih.

Tiga tahun menikah.

Belum ada anak.

semua sudah dilakukan, doa, ikhtiar, bahkan mereka juga berkonsultasi pada dokter.

Tapi tetap belum diberi.

Dan setiap kali ada yang bertanya…

Rasanya seperti ditusuk perlahan.

Namun selama ada Rangga…

Dia selalu bisa melewati ini.

Setelah sarapan selesai, Rangga berdiri.

"Mas berangkat ya."

Celsi ikut mengantar sampai depan pintu.

Rangga memakai sepatu.

Lalu tiba-tiba menoleh.

"Malam nanti kita keluar."

Celsi kaget.

"Hah?"

"Makan."

"Kok tiba-tiba?"

Rangga tersenyum.

"Nggak boleh?"

Celsi tertawa.

"Boleh."

Rangga mengangkat tangan.

"Janji jangan masak."

Celsi mengangguk.

"Oke."

Rangga membuka pintu.

Lalu sebelum masuk mobil dia menoleh lagi.

"Oh ya."

Celsi melihat.

"Aku nggak peduli kita punya anak sekarang atau nanti."

Celsi diam.

Rangga tersenyum kecil.

"Aku nikah sama kamu. Bukan sama anak yang belum lahir."

Mobil pergi.

Dan Celsi berdiri di depan rumah cukup lama.

Dadanya terasa hangat.

Dia tersenyum sendiri.

Mungkin…

Dia memang terlalu beruntung.

Jam sebelas siang. Bel rumah berbunyi. Celsi membuka pintu. Dan senyumnya sedikit berubah.

"Mama?"

Ibunya Rangga berdiri di depan sambil membawa kantong besar.

"Celsi."

Celsi langsung mempersilakan masuk.

"Mama kok nggak bilang mau ke sini?"

Mertuanya duduk.

"Ya mampir aja. Kebetulan mama lewat sini."

Celsi mengambil air minum. Tatapannya tertuju ke kantong yang dibawa. Ada beberapa botol.

Jamu.

Vitamin.

Dan kotak herbal.

Mertua tersenyum.

"Ini mama bawain buat kamu, Si."

Celsi diam.

"Makasih, Ma."

"Mama dengar ini bagus buat program."

Celsi tersenyum tipis.

"Oh…"

Mertua membuka satu botol.

"Ini tetangga sebelah rumah mama minum ini langsung isi. Kita coba aja, siapa tau kamu juga berhasil nanti."

Celsi mengangguk kecil.

"Iya, Ma."

"Diminum ya. Jangan disimpen aja di lemari."

"Iya, Ma."

Mertua kembali bicara. "Kemarin tante Ratna juga cerita."

Celsi diam.

"Anaknya baru nikah setahun udah hamil."

Celsi menunduk.

"Syukur ya."

Mertua tersenyum.

"Iya. Makanya, kamu juga harus semangat. Udah tiga tahun loh."

Lalu berhenti.

Kemudian bertanya dengan nada yang dibuat ringan.

"Kalian udah ada tanda-tanda?"

Celsi tersenyum tipis.

"Belum, Ma."

Mertua menghela napas.

"Coba lebih serius. Lebih sering. Minum vitamin sama jamunya juga."

Celsi terdiam.

"Rangga kan anak satu-satunya keluarga ini. Jadi, kamu harus usaha lebih lagi."

Kalimat itu.

Lagi.

Selalu itu.

Celsi mengusap tangan sendiri.

"Doain aja ya Ma."

Mertua mengangguk.

"Iya… Mama cuma takut nanti keburu umur."

Celsi diam.

Lalu tersenyum lagi. Meski kali ini lebih tipis. Tak lama mertua pulang.

Rumah kembali sepi. Celsi membereskan meja. Lalu melihat botol-botol jamu itu. Dia memegang salah satunya.

Diam.

Lalu tersenyum kecil. Dan mengambil ponsel dan mengetik pesan.

"Aku habis dikuliahin Mama lagi."

Beberapa menit kemudian.

Rangga membalas.

"Dikuliahin apa?"

"Tadi bawa vitamin sama jamu. Terus ngomongin anak."

"Maaf ya."

Lalu pesan berikutnya muncul.

"Nanti malam Mas traktir es krim."

Celsi tertawa kecil. Dan entah kenapa… Rasa sesak itu hilang lagi. Karena dia yakin. Selama Rangga di sisinya… Semuanya akan baik-baik saja.

"Iihh, emangnya aku anak kecil?"

"Coba Pap. Mau lihat."

Celsi tersenyum lagi, lalu berfoto dengan bibir mengerucut. Lalu kirim.

"Tuh, kan. Emang anak kecil nih."

"Apaan sih?"

"Bikin gemes."

Pipi Celsi seketika memerah... Ya, semua akan baik-baik saja... Selama suaminya mendukungnya...

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!