Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Sore itu, langit begitu cerah hanya ada segaris awan yang seakan-akan seperti retakan di danau yang dingin.
Han duduk sendirian di halte bus sambil memandang pada bayangan cahaya lampu kota di genangan air dekat trotoar. Malam belum begitu terlalu larut tetapi jalanan sudah mulai lengang. Orang-orang yang masih ada, hanya berjalan cepat sambil menunduk, sibuk dengan hidupnya masing-masing.
Sebuah bus berhenti di depan halte tempat ia duduk. Beberapa orang turun dari bus dan beberapa lainnya naik. Tapi Han tetap tidak bergerak. Matanya mengawasi tajam ke seberang jalan. Dan tangannya tetap berada di saku jaket sambil memegang ponselnya.
Di ponselnya terpampang foto seorang perempuan. Seorang target. Ia sudah mengawasi perempuan itu selama tiga hari.
Rutinitas harian yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain. Jam ia pulang kerja, rute jalanan yang sering dilalui. Tempat ia membeli kopi atau makanan kecil. Semua detil kecil, tidak luput dari pengamatan Han.
Masalah terbesar bukanlah hal yang mencolok tetapi justru hal sepele yang sering kali diabaikan, yang bisa menggagalkan semuanya
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Info Status?
Han membalasnya dengan cepat tanpa mengurangi pengawasannya.
Masih menunggu.
Tidak lama, pesan balasan masuk.
Jangan kelamaan!
Han membaca sebentar dan memasukkan kembali ke dalam sakunya. Pesan itu singkat dan tegas. Bukan ancaman, hanya perintah dan mengingatkan kalau pekerjaannya punya batas waktu.
Tidak lama kemudian, targetnya muncul, di depan sebuah minimarket yang masih buka. Perempuan yang ponselnya itu. Dia keluar sambil membawa sebuah kantong plastik putih dan payung lipat kecil. Rambut hitam ikalnya sedikit berantakan tertiup hembusan angin malam. Posturnya tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu mencolok.
Kalau Han tidak punya fotonya, kemungkinan besar ia tidak akan memperhatikannya. Perempuan itu hanya perempuan biasa yang tidak dikenal, bukan selebriti atau pejabat seperti target yang ia buru sebelumnya. Dan itu seharusnya bisa membuat pekerjaannya jauh lebih mudah.
Han mulai berdiri saat perempuan itu mulai berjalan menyusuri trotoar meninggalkan minimarket itu. Jarak mereka terpaut sekitar dua puluh meter. Cukup dekat tapi cukup jauh untuk tidak menarik perhatian.
Suasana kota pada malam hari itu seakan menelan langkah mereka. Suara kendaraan yang terdengar dari jalan besar di ujung blok dan aroma hujan yang masih mengambang belum turun, menggantung di udara.
Perempuan itu mendadak berhenti di depan sebuah mesin minuman otomatis. Han dengan cepat berhenti berjalan, tanpa terlihat mencurigakan, berpura-pura memperhatikan layar iklan di halte berikutnya.
Perempuan itu memasukkan uang dalam mesin vending lalu memilih minumannya. Mesin berbunyi. Lalu,
“Yah.”
Ada nada kesal yang keluar dari mulutnya. Minuman yang ia inginkan tersangkut, tidak bisa keluar. Han memperhatikannya sebentar. Perempuan itu mengetuk mesin itu pelan.
Tidak keluar.
Ia menggedor lebih keras.
Tetap tidak keluar.
Han menghela napas kecil tanpa sadar.
Perempuan itu menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihat kekalahannya melawan mesin minuman. Lalu ia menendang mesin itu. DUG!
Mesin vending sedikit bergetar dan kaleng minumannya langsung meluncur keluar.. Perempuan itu tersenyum puas pada dirinya sendiri.
Han memalingkan wajah sebelum ketahuan sedang melihat. Aneh, biasanya ia tidak peduli pada detail seperti itu, tapi kali ini tidak.
Perempuan itu mengambil kaleng minumannya lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Han mengikutinya kembali sambil menjaga jarak. Ponselnya kembali bergetar dalam sakunya.
Selesaikan malam ini.
Han menatap pesan itu beberapa saat.
Malam ini.
Artinya mereka mulai tidak sabar.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaketnya. Tangannya terasa dingin. Bukan karena suhu udara tapi ia merasakan keraguan. Perasaan yang sudah lama tidak muncul sejak ia masuk di dunia ini.
Perempuan itu memasuki sebuah jalan kecil yang menuju deretan gedung apartemen tua.
Han mengenali area ini. Kamera cctv yang minim, lampu penerangan yang rusak di beberapa titik. Cukup sepi, tidak banyak orang lewat wilayah ini setelah jam sembilan malam. Tempat yang bagus untuk membuat seseorang menghilang dari dunia.
Han memperlambat langkahnya. Matanya bergerak cepat memeriksa situasi sekitar daerah itu. Lorong sempit di kanannya. Motor yang terparkir asal, bersandar di dinding dan jendela sebuah apartemen di lantai dua yang masih menyala.
Han berhenti berjalan. Ia merasakan ada sesuatu yang terasa salah pada area ini. Matanya menatap jauh ke sebuah mobil hitam yang terparkir di ujung jalan. Mesin dan lampunya mati, tapi ada seseorang di dalamnya.
Han tidak bisa melihat jelas wajahnya. Hanya siluet samar di balik kaca gelap mobil itu. Han langsung sadar, itu bukan penghuni komplek apartemen sini. Instingnya bergerak lebih cepat, ia mengalihkan pandangan dan terus berjalan biasa, seolah olah tidak menyadari apa pun. Tapi situasinya sudah berubah. Targetnya bukan hanya dia mengawasi, ada orang lain yang ditugaskan.
Perempuan itu masih berjalan dengan santai sambil membuka kaleng minumannya. Sama sekali tidak menyadari situasinya. Han bergerak mempercepat langkahnya. Bukan untuk menyerang tapi untuk memastikan sesuatu.
Mobil hitam itu tidak bergerak. Beberapa detik kemudian, pintu pengemudinya terbuka. Seorang pria turun dengan pakaian rapi. Sangat rapi untuk lingkungan seperti ini.
Han melihat tangan pria itu bergerak masuk ke balik jasnya. Han menyipitkan mata untuk memperjelas pandangannya.
Sial!
Bukan cuma dia yang ditugaskan malam ini.
Perempuan itu akhirnya sadar. Ia menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki mendekat. Tatapan mereka bertemu sesaat, dan anehnya perempuan itu terlihat tidak takut. Ia malah terlihat bingung.
Pria berjas itu mempercepat langkahnya; tangannya keluar dari balik jas dengan kilatan logam yang memantulkan sinar lampu.
Han bergerak lebih cepat dan langsung menarik perempuan itu ke samping.
“Eh aduh…??!”
Tubuh keduanya terjatuh menghantam pagar besi pembatas trotoar, tepat saat sebuah peluru melesat melewati tempat mereka berdiri satu detik sebelumnya. Terdengar suara kaca yang pecah dari arah belakang tempat mereka berlindung
Tembakan dengan alat peredam suara.
Perempuan kaget dan terdiam. Matanya menatap Han.
“Apa..?”
“Lari,” potong Han dingin.
Perempuan itu belum sempat mencerna situasi ketika pria berjas tadi mulai mendekat. Dan saat itu, Han sadar, bakal ada sesuatu yang jauh lebih buruk yang terjadi apabila gagal menjalankan pekerjaannya. Ia mengenali simbol kecil di bagian dalam jas pria itu. Sebuah lingkaran tipis dengan garis vertikal di tengah. Simbol yang seharusnya tidak muncul di pekerjaan level seperti ini.
Dada Han langsung terasa dingin. Karena kalau orang dengan simbol itu muncul, berarti target malam ini tidak sesederhana yang ia kira. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Han mulai berpikir untuk melanggar perintah.