PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN
Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh menit saat mobil Primus berhenti di depan sebuah bangunan bergaya klasik kolonial. Tempat ini tidak terlalu besar dan sama sekali tidak mencolok dari luar. Namun siapa pun yang memiliki pengaruh di Kota Aurelia pasti tahu nama tempat ini yaitu Rumah Teh Veridian.
Ini adalah tempat berkumpulnya para pengusaha tua, politisi senior, dan orang-orang yang lebih suka bergerak di balik bayangan daripada tampil di depan publik. Banyak keputusan penting yang mengubah arah ekonomi kota lahir di meja-meja kayu tempat ini dan lebih banyak lagi rahasia kelam yang dikubur rapat di dalamnya.
Primus turun dari mobil, merapikan sedikit jasnya, lalu berjalan masuk dengan langkah konstan. Seorang wanita muda berpakaian adat tradisional langsung menyambutnya dengan membungkuk hormat.
"Tuan Muda Primus?"
"Ya."
"Silakan ikut saya, Tuan. Beliau sudah menunggu di ruang privat."
Wanita itu membawanya melewati lorong panjang yang dilingkupi aroma kayu cendana yang menenangkan. Semakin masuk ke dalam, suasana seolah terisolasi dari bisingnya dunia luar. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar saling bersahutan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pintu geser kayu ek tua.
Saat pintu dibuka, Primus disuguhi pemandangan ruangan yang sangat bersahaja. Tidak ada kemewahan yang berlebihan di sana. Hanya ada meja kayu jati berukuran besar, rak buku tua yang berjejer rapi, dan aroma pekat teh hitam. Di dekat jendela yang menghadap ke taman bambu, duduk seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah memutih sebagian, namun sorot matanya masih setajam elang.
Pria itu tersenyum tipis begitu melihat Primus. "Duduklah, Primus."
Primus mengenalnya dengan sangat baik. Beliau adalah Hector Lawrence, Ketua Dewan Pengawas keluarga Aristokrat sekaligus salah satu orang paling berpengaruh di dalam klan. Bahkan kepala keluarga sekalipun sering kali harus meminta restunya sebelum mengeksekusi keputusan-keputusan besar.
Primus mengambil tempat duduk di seberangnya. "Tuan Hector."
"Aku lebih suka kalau kau memanggilku Paman Hector di ruangan ini," jawab pria tua itu sambil menuangkan teh hangat ke cangkir keramik milik Primus.
Primus hanya tersenyum kecil sebagai respons. "Baik, Paman Hector."
Untuk beberapa menit, keheningan kembali menguasai ruangan. Mereka berdua sama-sama menikmati teh masing-masing tanpa ada yang berniat buru-buru membuka obrolan. Sampai akhirnya, Hector meletakkan cangkirnya perlahan.
"Kau tahu kenapa aku mengundangmu ke sini malam-malam?"
Primus menggeleng pelan. "Saya tidak suka membuang energi untuk menebak-nebak."
Hector tertawa renyah mendengar jawaban itu. "Jawaban yang sangat pragmatis."
Ia menjeda kalimatnya, lalu menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Primus. "Kau berubah, Primus."
Suasana mendadak bergeser menjadi sedikit lebih berat, namun Primus tetap bergeming. "Semua orang pasti berubah seiring berjalannya waktu."
"Bukan perubahan alami seperti itu yang kumaksud," Hector menggeleng pelan dengan senyum misterius. "Sejak rapat dewan keluarga kemarin, banyak sekali laporan tidak resmi yang masuk ke mejaku. Tentang kekacauan di Cabang Timur, tentang kelakuan Victor yang tiba-tiba melunak, hingga masalah dokumen palsu yang lenyap begitu saja. Dan tebak apa? Semua benang merahnya mengarah pada satu nama yaitu dirimu."
Primus tidak menunjukkan raut bangga ataupun panik. Ia tetap mendengarkan dengan ekspresi sedatar dinding batu. Hector yang memperhatikannya cukup lama akhirnya menghela napas, merasa kagum sekaligus waspada. Tidak banyak anak muda seusia Primus yang sanggup menahan tekanan auranya tanpa berkedip.
Hector kemudian membuka laci meja jatinya dan mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang sudah agak pudar, namun terlihat sangat terawat. Ia mendorong map itu ke hadapan Primus.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."
Primus meraih map tersebut lalu membukanya. Alisnya langsung terangkat sedikit saat melihat halaman pertama yang menampilkan sebuah foto hitam putih berangka tahun lawas. Itu adalah foto internal keluarga Aristokrat generasi pertama.
"Apa ini, Paman?"
"Itu adalah lembaran sejarah yang sengaja dihapus dari arsip resmi klan," jawab Hector dengan nada berat.
Primus mulai membalik halaman demi halaman. Semakin dalam ia membaca, semakin dalam pula kerutan di dahinya. Isi map itu bukan sekadar silsilah keluarga, melainkan catatan rahasia mengenai daftar konflik internal, pengkhianatan berdarah, perebutan kekuasaan antar saudara, hingga deretan kematian misterius yang menimpa para calon pewaris selama tiga generasi terakhir.
"Menarik," gumam Primus pelan. "Dan cukup kotor."
"Itulah wajah asli keluarga Aristokrat di balik topeng kemegahannya," Hector menyandarkan punggungnya ke kursi. "Di balik setiap tumpukan emas kita, selalu ada darah yang mengering."
Primus menutup map tersebut lalu menatap Hector dengan pandangan menginterogasi. "Lalu apa hubungannya sejarah kelam ini dengan saya?"
Hector memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. "Kompetisi pewaris baru berjalan dua hari, Primus. Tapi dari data pergerakan orang-orang dalam yang kuawasi, sudah ada pihak yang tidak menginginkanmu sekadar kalah atau dipermalukan."
Hector menjeda kalimatnya, memberikan efek dramatis yang dingin. "Mereka ingin kau menghilang secara permanen dari dunia ini."
Untuk pertama kalinya malam itu, sorot mata Primus menegang. Ada kilat dingin yang melintas di matanya. "Siapa?"
Hector tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah amplop putih polos dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Aku belum bisa memastikan siapa dalang utamanya karena mereka bergerak sangat rapi di balik layar. Tapi aku tahu langkah pertama yang mereka siapkan untukmu."
Primus membuka amplop tersebut dan sebuah foto selembar kapal pesiar mewah berukuran raksasa jatuh ke atas meja. Di balik foto itu, tertulis sebuah tanggal eksekusi yang dijadwalkan tiga minggu dari sekarang.
"Itu adalah kapal pesiar The Grand Leviathan. Tiga minggu lagi, dewan keluarga akan mengadakan pesta amal tahunan di atas kapal itu dan seluruh calon pewaris wajib hadir," kata Hector dengan suara rendah yang penuh peringatan. "Jika aku jadi dirimu, aku akan mencari alasan medis untuk tidak pernah menginjakkan kaki di atas kapal itu, Primus."
Primus menatap foto kapal tersebut cukup lama sebelum akhirnya sebuah senyuman aneh terukir di wajahnya. Alih-alih kelihatan takut, ia justru terkekeh pelan, sebuah reaksi yang membuat Hector mengernyit heran.
"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Hector, bingung dengan respons keponakannya itu.
"Aku tersenyum karena plot sandiwara ini terlalu familier, Paman Hector," ucap Primus sambil meletakkan kembali foto itu ke meja. Ia kemudian menatap Hector dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sangat tajam, berbalik menekan sang Ketua Dewan Pengawas.
"Aku hanya bingung dengan satu hal," lanjut Primus dengan nada suara yang kelewat santai. "Kenapa Ketua Dewan Pengawas yang terhormat repot-repot menyusun skenario sedramatis ini hanya untuk menjebakku?"
Hector mempertahankan wajah datarnya. "Menjebakmu? Aku sedang memperingatkanmu, Primus."
"Paman Hector, mari kita hentikan kepura-puraan ini," Primus bersandar dengan gestur yang sangat rileks. "Skema pembunuhan di atas kapal The Grand Leviathan itu memang benar ada. Tapi orang yang mendanai dan merancangnya dari awal untuk menyingkirkan pewaris potensial klan... bukankah itu dirimu sendiri?"
SUASANA MENDEADAK BEKU.
Wajah Hector yang tadinya dipenuhi gurat kebijaksanaan seorang tetua, perlahan-lahas mengeras. Senyum ramahnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi dingin yang luar biasa kejam.
Hector tidak membantah. Ia justru menyandarkan kembali tubuhnya ke kursi, lalu bertepuk tangan pelan dengan ritme yang konstan.
"Luar biasa," puji Hector, suaranya kini terdengar jauh lebih berat dan serak, sangat berbeda dari sebelumnya. "Bagaimana kau bisa tahu, Primus? Padahal aku sudah memastikan tidak ada satu pun jejak finansialku yang bocor."
"Sederhana saja. Informasi tentang penarikan dana investor di proyek distrik selatan milik Kevin Hartwell yang terjadi satu jam lalu," Primus menyesap tehnya. "Tidak ada satu orang pun di kota ini yang punya otoritas secepat itu untuk menggerakkan konsorsium ibu kota, kecuali Ketua Dewan Pengawas Aristokrat. Kau sengaja menghancurkan Kevin malam ini untuk memicu kemarahan keluarga Hartwell, lalu menjadikanku kambing hitam. Dan puncaknya adalah tiga minggu lagi di atas kapal pesiar itu, aku akan dieliminasi seolah-olah itu adalah aksi balas dendam dari keluarga Hartwell."
Hector menatap Primus dengan binar mata yang dipenuhi rasa haus darah. "Kau memang terlalu pintar untuk tetap dibiarkan hidup, Primus. Tapi tahu kebenaran ini tidak akan mengubah nasibmu. Kau datang ke sini sendirian, dan ruangan ini sudah dikepung oleh orang-orangku. Kau sudah masuk ke dalam sangkarku."
Namun, bukannya panik, Primus justru mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah siaran langsung rekaman suara dan video rahasia.
"Siapa bilang aku datang sendirian?" Primus tersenyum miring. "Paman Hector, sejak aku melangkah masuk ke ruangan ini, seluruh percakapan kita, pengakuanmu tentang sejarah berdarah klan, hingga rencana pembunuhan di atas kapal pesiar... semuanya sudah disiarkan secara langsung ke ponsel seluruh anggota Dewan Pengawas dan Kepala Keluarga Aristokrat."
Wajah Hector yang tadinya penuh kemenangan, seketika berubah pucat pasi seperti mayat.
"Kau..." Hector menunjuk Primus dengan jari yang gemetar.
"Aku sengaja membiarkan anak buahmu membuntutiku ke pelabuhan, sengaja membiarkan diriku 'terjebak' di sini, hanya untuk memancingmu membuka kartu as-mu sendiri," ucap Primus seraya berdiri dari kursinya, menatap Hector yang kini terduduk lemas dengan pandangan menghina.
"Selamat tinggal, Paman Hector. Terima kasih sudah mengeliminasi dirimu sendiri dari kompetisi ini bahkan sebelum permainan beneran dimulai."
Bersambung..