Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Air mata Amira kembali jatuh.
“Jangan pernah merasa dirimu kurang hanya karena ada laki-laki yang gagal menjaga amanah.”
Suasana malam terasa hening dan teduh. Hanya suara kipas angin dan sesekali tangis kecil Habibi dari kamar sebelah yang terdengar samar.
“Kamu tahu kenapa Umi begitu menjaga kamu di sini?”
Amira menggeleng kecil.
Umi Salma tersenyum lembut.b“Karena sejak pertama melihatmu…” beliau menatap Amira penuh kasih, “Umi tahu kamu perempuan yang hatinya bersih.”
Tangis Amira pecah lagi. Sudah lama sekali tidak ada yang berbicara selembut itu padanya.
“Kamu berharga, Mira.” Kalimat itu sederhana. Namun menghantam tepat ke hati Amira yang selama ini merasa dibuang dan tidak cukup dicintai. “Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
Napas Amira langsung bergetar.
Dan Umi Salma melanjutkan dengan suara yang lebih tegas namun tetap lembut, “Mulai sekarang…” genggaman tangan beliau menguat, “Kamu berada di bawah perlindungan kami.”
Amira langsung menangis sambil menutup wajahnya. Bahu kecilnya bergetar hebat. Karena setelah rumah tangganya runtuh Allah justru menghadirkan tempat baru untuknya bersandar.
Umi Salma lalu menarik kepala Amira ke bahunya lagi. “Tidak ada yang boleh merendahkanmu lagi.” Beliau mengusap kepala Amira perlahan seperti seorang ibu menenangkan anaknya sendiri. “Dan tidak ada yang boleh menyakitimu sendirian.”
***
Seperti yang dijanjikan, keesokan harinya Umi Salma benar-benar mendatangkan pengacara ke ndalem.
Pagi itu suasana pondok masih tenang. Amira baru selesai menyusui Habibi ketika Tiur datang memberi tahu bahwa ada tamu untuknya di ruang tamu ndalem.
Jantung Amira langsung berdegup tidak nyaman. Ia belum pernah berurusan dengan pengacara sebelumnya. Semua ini terasa begitu asing.
Begitu masuk ke ruang tamu, Amira melihat seorang lelaki paruh baya berpakaian rapi dengan rekannya, ibu-ibu paruh baya, duduk bersama Umi Salma. Di meja sudah tersedia map-map dokumen.
“Silakan duduk, Mira,” ujar Umi Salma lembut.
Amira duduk perlahan dengan tangan dingin.
Pengacara itu tersenyum sopan.
“Saya Farhan dan ini rekan saya Bu Ajeng,” ucapnya tenang. “Umi Salma meminta kami membantu proses gugatan perceraian Mbak Amira.”
Mendengar kata gugatan perceraian diucapkan langsung seperti itu dada Amira tetap terasa nyeri. Meski ia sendiri yang memilih jalan ini.
“Tidak usah takut,” lanjut Pak Farhan dengan nada menenangkan. “Saya hanya akan membantu prosedurnya.”
Amira mengangguk kecil. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Umi Salma yang duduk di sampingnya langsung mengusap tangan Amira pelan seolah memberi kekuatan. “Kalau memang keputusanmu sudah mantap…” ujar beliau lembut, “maka kita selesaikan semuanya baik-baik.”
Air mata Amira hampir jatuh lagi. Namun kali ini ia menahannya.
Pak Farhan mulai menjelaskan beberapa hal tentang proses pengajuan gugatan ke pengadilan agama, hak Amira sebagai istri, masa iddah, hingga kemungkinan mediasi nanti.
Amira mendengarkan pelan-pelan meski kepalanya terasa berat. Ketika sampai pada bagian alasan gugatan, suara pengacara itu melunak. “Perselingkuhan dan perzinaan pasangan termasuk alasan kuat dalam perceraian.”
Amira langsung menunduk. Dadanya kembali sesak.
Namun Umi Salma segera menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu membuat Amira sedikit lebih kuat.
Pak Farhan lalu membuka map lain. “Saya juga akan membantu memastikan hak-hak Mbak Amira tetap terlindungi.”
Amira tampak bingung. “Hak?”
“Ya,” jelas beliau tenang. “Nafkah selama masa iddah, serta hal-hal lain yang memang menjadi hak Mbak menurut hukum.”
Amira langsung menggeleng cepat. “Saya tidak mengejar uang.”
“Saya tahu.” Suara yang menjawab justru datang dari arah pintu.
Semua menoleh. Dan di sana berdiri Usman dengan wajah tenang seperti biasa. Tatapan lelaki itu jatuh sebentar pada Amira. Lalu ia melanjutkan pelan, “Tapi memperjuangkan hak bukan berarti tamak.”
Ruangan langsung hening. Amira sedikit menegang. Karena entah kenapa setiap kali lelaki itu bicara padanya, hatinya selalu terasa tidak tenang. Ia seolah pernah punya ikatan dengan kyai muda tersebut, tapi jelas-jelas itu tak mungkin.
"Sebenarnya ada satu yang saya inginkan," Amira ragu-ragu. "Rumah yang ditinggali sekarang, setahun yang lalu dilunasi dengan uang penjualan rumah Nenek saya. Kalau boleh, saya ingin uangnya dikembalikan agar saya bisa membeli kembali rumah Nenek di kampung."
"Tentu saja kami bisa mengusahakan itu, Mbak Amira." kini Bu Ajeng yang menjawab. "Juga nafkah masa Iddah."
"Kalau itu enggak usah." kata Amira.
"Itu hak kamu, Mir," jawab Umi Salma.
"Umi, saya tahu bagaimana pendapatan Mas Mirza, lagi pula ia sudah menikah lagi dan sebentar lagi akan punya anak. Pasti biayanya tidak sedikit. Saya nggak mau mempersulit dia. Dimana kalau tuntutan itu tetap saya ajukan, akhirnya yang repot adalah ibu mertua saya." Amira menjelaskan. "Bagaimanapun, sekalipun saya bercerai dengan suami, ibu mertua tetap akan menjadi mertua saya selamanya. Dalam fikih Islam, benar bahwa hubungan antara menantu dan mertua tidak hilang meskipun terjadi perceraian."
"MashaAllah, kamu benar sekali Amira." Umi Salma merdecak kagum. Ia yang sejak pandangan pertama sudah yakin bahwa Amira ini adalah mutiara, semakin yakin ketika menjelaskan fiqih perceraian yang disebut Amira tadi.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mengikuti keinginan Mbak Amira. Kami akan mengurus dana penjualan rumah Nenek, Mbak Amira." kata Bu Ajeng.
Laku Amira diminta menyerahkan berkas-berkas yang memang sudah disiapkan saat ia keluar dari rumah mertuanya.
***
Pagi itu udara terasa hangat dan tenang. Sinar matahari masih lembut ketika Amira duduk di halaman belakang ndalem sambil menggendong Habibi. Bayi kecil itu baru selesai mandi dan dibedong rapi dengan kain tipis berwarna putih susu. Wajahnya terlihat jauh lebih segar pagi ini.
Amira tersenyum kecil sambil menimangnya pelan. “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad…” Lantunan selawat keluar lirih dari bibirnya. Pelan. Teduh. Dan entah kenapa terasa menenangkan suasana pagi di pesantren itu.
Habibi yang tadinya sedikit rewel perlahan mulai diam. Matanya memandang wajah Amira lekat-lekat seolah menikmati suara perempuan itu.
Amira lalu mencium kening bayi kecil tersebut lembut. “Anak baik…” Senyumnya tipis.
Untuk beberapa saat, hatinya terasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Seolah semua luka dan kekacauan hidupnya mereda ketika bersama bayi itu. Ia kembali melantunkan selawat sambil menggoyang tubuh Habibi perlahan.
Tanpa sadar ada seseorang yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Usman baru selesai dari masjid setelah mengisi kajian subuh. Awalnya lelaki itu hanya melewati halaman belakang seperti biasa. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Amira. Suara selawat itu lembut sekali. Tidak dibuat-buat. Dan pagi yang biasanya terasa sunyi mendadak menjadi hangat karenanya.
Usman memperhatikan dari jauh dalam diam. Tatapannya jatuh pada Habibi yang terlihat begitu nyaman dalam pelukan Amira. Bahkan bayi itu sampai tertidur lagi sambil memegang jari perempuan tersebut.