Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Terakhir
Suara ritmis dari mesin bedside monitor menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kesunyian ruangan VVIP itu. Darren berdiri tegak di samping ranjang, tangannya bersedekap dengan raut wajah tegang. Bahkan dalam suasana sekelam ini, kemeja putih yang dikenakannya tetap tampak rapi tanpa kerutan sedikit pun, khas seorang pria perfeksionis.
Di atas ranjang, Jonathan Callister tampak begitu lemah. Pria yang selama ini menjadi panutan Darren itu kini terlihat sangat rapuh dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. Namun, mata tua itu masih menatap Darren dengan tatapan yang sangat penuh harap.
"Darren..." suara Jonathan terdengar parau, hampir menyerupai bisikan.
Darren segera mendekat dan sedikit membungkukkan tubuh tingginya.
"Ya, Grandpa? Aku di sini. Grandpa butuh sesuatu?"
Jonathan menggeleng pelan. Ia meraih punggung tangan Darren dengan sisa tenaga yang ada, menggenggamnya dengan penuh penekanan.
"Menikahlah dengan Daniela. Itu... satu-satunya permintaan terakhir Grandpa."
Darren membeku. Rahangnya mengeras seketika. Nama itu adalah simbol terlarang bagi dirinya dan yang paling ia benci.
"Grandpa, please don't bring that up again! Grandpa tahu sendiri bagaimana Daniela. Dia itu hanya gadis malam. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang bahkan sudah menjajakan tubuhnya pada setiap lelaki berkantong tebal. Dia bukan wanita yang cocok untuk aku. Lagi pula aku sudah punya Crissie."
Mendengar nama Crissiana disebut, Jonathan justru memejamkan mata sesaat, seolah tidak ingin mendengar nama itu. Pegangannya pada tangan Darren semakin erat, meski jari-jarinya mulai gemetar.
"Bukan wanita itu... harus Daniela. Hanya dia, Reen..." Jonathan terbatuk kecil, membuat grafik di mesin monitor naik-turun tidak beraturan.
"Grandpa tidak bisa pergi dengan tenang sebelum kamu bersedia menjaga dan menikahinya."
"Tapi tidak harus dengan menikahinya, Grandpa! Aku bisa menjamin keuangannya supaya dia tidak menjadi wanita malam lagi," bantah Darren dengan nada tertahan. Kepalanya berdenyut membayangkan hidupnya yang sempurna harus hancur karena gadis liar seperti Daniela.
Jonathan tidak menjawab lagi. Beliau justru mulai tersengal-sengal, menatap Darren dengan pandangan memohon yang begitu dalam. Sebuah tatapan yang membuat pertahanan Darren akhirnya harus runtuh.
"Berjanji pada Grandpa, Darren... menikahlah dengan Daniela, bukan wanita yang kamu pacari itu..." Suara itu semakin menipis, nyaris hilang.
Darren panik saat melihat detak jantung di monitor semakin melemah. Di detik-detik kritis itu dan rasa baktinya pun telah mengalahkan egonya.
"I-iya, Grandpa. Aku janji. Aku akan menikahi Daniela," ucapnya cepat, lebih karena ingin menenangkan sang Grandpa.
Mendengar ucapan itu, sebuah senyum tipis terukir di bibir pucat Jonathan. Napasnya yang sempat memburu perlahan mulai melambat, semakin tenang... hingga akhirnya berhenti sepenuhnya bersamaan dengan bunyi panjang dari mesin monitor.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Darren mematung. Genggaman tangan itu kini mulai mendingin. Dan ia baru saja menggadaikan hidupnya yang sempurna demi sebuah permintaan terakhir yang akan membawanya ke dalam kekacauan bernama Daniela.
***
Langit mendung seolah ikut berduka di hari pemakaman Jonathan Callister. Darren berdiri kaku di depan pusara sang kakek yang masih basah, mengenakan setelan hitam yang sangat pas di tubuhnya. Rapi dan tetap elegan. Di sampingnya, Crissiana berdiri anggun dalam balutan dress hitam formal.
Para pelayat terus berdatangan, dari kerabat sampai relasi bisnis almarhum. Seorang pemuka agama baru saja selesai melafazkan doa-doa sebagai pengantar jenazah menuju alam keabadian, menghadap Sang Pencipta.
Di tengah kekhusyukan doa, Daniela Arden Atmaja muncul dengan mengenakan dress hitam yang menonjolkan lekuk tubuh seksinya. Dipadukan kacamata hitam besar dan rambut tergerai sedikit acak-acakan tertiup angin. Kecantikan wanita itu memang luar biasa, sanggup mengalihkan perhatian hampir seluruh pelayat dalam sekejap.
Di belakang Daniela, seorang pria muda dengan gaya santai mengikutinya. Darren mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
"Berani-beraninya dia datang ke pemakaman Kakek dengan gaya seperti itu? Dan siapa pria itu?" batin Darren geram.
Langkah Daniela berhenti tepat di hadapan Darren.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Grandpa Jo," ucapnya cukup sopan.
Darren menatapnya dengan pandangan dingin dan sinis.
"Terima kasih."
Daniela mengangguk, lalu melangkah menuju anak-anak dan cucu-cucu almarhum yang lainnya untuk sekadar mengucap salam dan belasungkawa. Setelah itu, barulah ia mendekat ke arah pusara dan berdoa dalam hati.
Sementara itu, Darren tetap berdiri kaku. Di matanya, kecantikan dan keseksian Daniela tidak mengubah fakta bahwa wanita itu adalah kekacauan yang tidak ia inginkan.
Tak berapa lama setelah upacara sakral itu selesai, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, termasuk Daniela dan teman prianya.
Sambil menggenggam tangan Crissiana, Darren pun melangkah di antara para pelayat. Dalam hati, Darren terus mengikrarkan kalau Crissiana-lah satu-satunya wanita yang pantas menjadi pasangannya. Tak ada yang lain, terlebih Daniela Arden!
Crissiana adalah sosok yang sangat sesuai dengan standar Darren. Seorang pramugari maskapai penerbangan internasional di Singapura yang elegan, berkelas, dan selalu tahu cara membawa diri. Sementara Daniela, tak lebih dari wanita malam, suka hura-hura, dan segala keburukan lainnya yang membuat Darren bergidik ngeri.
***
Beberapa minggu setelah meninggalnya Jonathan Callister, Darren tidak pernah benar-benar tenang. Permintaan terakhir sang kakek terus menghantui pikirannya. Meski merasa muak, rasa bakti yang besar memaksa Darren melangkah menuju kontrakan Daniela.
Sebenarnya gadis itu masih memiliki beberapa keluarga yang kaya raya, yaitu om-om dan tante-tantenya. Tapi ia tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang mereka. Apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal saat ia masih kecil dan disusul kakeknya yang meninggal saat ia memasuki usia dewasa. Makanya Daniela lebih memilih untuk hidup sendiri daripada harus menumpang pada mereka dengan menelan segala caci maki dan hinaan.
Mobil mewah Darren berhenti tepat di depan gerbang sebuah kos-kosan khusus wanita. Suasana kos-kosan itu cukup tenang dan teratur jika dibandingkan dengan kos-kosan pada umumnya yang selalu ramai dan berantakan.
Darren kini sudah berada di ruangan khusus tempat menerima tamu. Karena memang tamu laki-laki dilarang masuk kamar. Menurutnya sedikit tidak masuk akal mengingat pekerjaan Daniela sebagai wanita malam. Seharusnya kan dia lebih memilih kosan yang bebas tanpa aturan. Tapi entahlah, sepertinya Daniela hanya ingin menjaga citranya supaya terlihat lebih terhormat, mungkin. Pikir lelaki itu.
Darren duduk dengan tegak serta menunjukkan raut wajah sedingin es. Tak berapa lama, Daniela muncul memakai pakaian santai berupa tank top putih dan celana pendek. Penampilan itu membuat Darren semakin mempersempit tatapannya.
"Tumben sekali seorang Darren Arkhanio Callister mau menginjakkan kaki di sini. Ada apa?" sindir Daniela sambil menyandarkan tubuh di sofa dengan santai.
Darren menatap Daniela dingin, seolah yang ada di hadapannya bukan seorang gadis penuh pesona.
"Aku ke sini bukan tanpa tujuan," ucap Darren memulai bicaranya.
"Grandpa memberikan satu permintaan terakhir sebelum beliau wafat. Sayangnya, permintaan itu melibatkanmu."
Daniela tersenyum tipis. Ia tidak tampak terkejut dan tetap berusaha tenang.
"Apa itu?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah mengetahui tujuan Darren ke sini. Karena Jonathan pun sudah meminta Daniela untuk menikah dengan cucunya itu dan meninggalkan dunia malam.
Darren menarik napas pendek. Ia merasa kata-kata yang akan diucapkan adalah racun.
"Beliau memintaku untuk menikahimu."
Hening sejenak. Daniela masih terlihat santai. Namun kemudian terdengar tawa renyah dari mulutnya sampai mengeluarkan air mata. Tentu saja Darren tidak membiarkan tawa gadis itu terus menggema.
"Jangan salah paham," sela Darren cepat melalui nada bicara penuh penekanan.
"Secara pribadi, aku sangat keberatan menikah karena paksaan, apalagi denganmu!" katanya tegas tanpa ditutup-tutupi.
"Tapi demi memenuhi amanat terakhir beliau, aku TERPAKSA harus melamar kamu untuk menjadi istriku." Lanjutnya sambil menyebut kata TERPAKSA dengan penuh tekanan.
Setelah berkata begitu, Darren berdiri sambil memperbaiki letak jasnya. Ia masih menatap Daniela melalui sorot dinginnya.
"Pikirkan itu. Aku tidak butuh jawaban penuh drama. Aku hanya menjalankan amanat," ucap Darren dingin.
"Jika kamu setuju, kita akan segera menikah di catatan sipil tanpa rame-rame dan secara rahasia!" lanjutnya. Kemudian berbalik pergi tanpa menunggu respons dari Daniela.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut