Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pagi yang mengubah arah
Pagi di desa itu selalu datang dengan cara yang sama— Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, menyelimuti sawah yang terbentang luas di belakang rumah kecil milik Aurel. Udara dingin menyusup lewat Jendela dapur, suara ayam berkokok bersahutan, seolah berlomba menyambut matahari yang perlahan naik di ufuk timur. Sinar keemasan mulai menyelinap masuk melalui jendela dapur, memantulkan cahaya lembut di lantai semen yang sederhana.
Di dapur itu, seorang gadis berdiri dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahnya masih terlihat mengantuk, tapi matanya sudah penuh tekad, Yaitu Aurel.
Tangannya lincah mengaduk sayur di atas kompor kecil, keringat tipis mulai muncul di dahinya, bukan karena panas, tapi karena pikiran yang sejak semalam tak berhenti berputar.
Hari ini… bukan pagi biasa.
Di belakangnya, terdengar suara batuk pelan. Aurel langsung menoleh.
“Ibu… bangun? Kenapa nggak istirahat aja?” ibunya (Freya) berdiri di ambang pintu dapur dengan tubuh yang terlihat lebih lemah dari biasanya. Wajahnya pucat, tapi tetap berusaha tersenyum.
“Ibu nggak apa-apa, Nak. Cuma batuk sedikit,” Aurel langsung menghampiri, menuntunnya duduk di kursi kayu.
“Sedikit dari mana, Bu? Kemarin aja Ibu sampai nggak kuat kerja. Dokter juga bilang harus istirahat, kan?” Nada suaranya terdengar lembut, tapi ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
Freya hanya menghela napas.
“Iya… tapi Ibu cuma libur dua hari. Besok harus balik lagi ke Jakarta.” Kalimat itu membuat tangan Aurel berhenti sejenak. Api kompor masih menyala, tapi pikirannya seperti padam.
Aurel menatap ibunya dalam diam. “Kalau Ibu belum sembuh, gimana mau kerja lagi?” tanyanya pelan.
Freya tersenyum tipis, berusaha terlihat kuat.
“Ibu sudah terbiasa, Nak. Nanti juga sembuh sendiri.”
“Tapi ini bukan capek biasa, Bu…”
Aurel menunduk. Ada sesuatu yang sejak semalam ingin ia katakan, tapi selalu tertahan.
Hari ini, ia harus berani. Tanpa berkata apa-apa lagi, Aurel kembali ke kompor. Masakan hampir selesai. Dia menata lauk sederhana di atas meja makan kecil—nasi hangat, sayur bening, dan tempe goreng.
Tak lama, ayahnya (Surya) masuk ke dalam rumah. Tubuhnya masih berlumur tanah, menandakan Dia sudah dari subuh berada di sawah.
“Sudah siap makan?” tanyanya singkat.
Aurel mengangguk.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Suasana hening, hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Aurel menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Pak… Bu,” suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat mereka berhenti makan. “Aurel mau ngomong sesuatu,”
Surya mengangkat kepala. “Apa, Nak?”
Aurel menarik napas panjang. “Aurel, mau gantiin Ibu kerja di Jakarta.”
Sendok di tangan Freya langsung terhenti. “Aurel, jangan bercanda,” ucapnya pelan.
“Aurel nggak bercanda, Bu.”
Suasana langsung berubah.
Surya menatap Aurel lebih serius. “Kamu tahu kerjaan Ibu itu apa?”
Aurel mengangguk. “Jadi pembantu di rumah orang kaya.”
“Terus kamu pikir itu gampang?” suara Surya mulai berat.
Aurel menggeleng. “Nggak gampang. Tapi Aurel juga nggak bisa lihat Ibu sakit terus karena kerja.”
Freya langsung menyela. “Ibu masih kuat, Nak.”
“Enggak, Bu!” kali ini suara Aurel sedikit meninggi.
Matanya mulai berkaca-kaca. “Aurel lihat sendiri Ibu kemarin hampir pingsan. Kalau dipaksa kerja lagi, gimana kalau kenapa-kenapa di sana?”
Freya terdiam. Surya ikut terdiam juga.
Aurel menunduk, suaranya kembali melemah.
“Aurel di rumah juga nggak kerja apa-apa, cuma bantu sedikit. Aurel pengangguran, Pak… tapi Aurel masih sehat dan Aurel bisa kerja.” ucapannya itu terasa seperti tamparan bagi dirinya sendiri.
Sunyi. Beberapa detik, terasa seperti menit.
Surya akhirnya menghela napas panjang. “Jakarta itu keras, Nak.”
“Aurel tahu, Pak.” Sahut Aurel.
“Orang-orangnya beda.” Ucapan Surya.
“Aurel siap belajar.” Kata Aurel dengan percaya diri.
“Kamu sendirian di sana.” kata Surya.
Aurel mengangkat kepala. “Nggak sepenuhnya sendirian.”
Surya mengernyit. “Maksudnya?”
“Ada Tara, Pak. Teman Aurel waktu SMA. Dia sekarang di Jakarta ikut keluarganya.”
Freya menatap Aurel, masih ragu. “Tapi tetap saja, kamu belum pernah kerja seperti itu, Nak.”
Aurel menggenggam tangan ibunya. “Aurel belajar, Bu. Demi Ibu dan Bapak.” Ucapannya itu, akhirnya meruntuhkan semua keraguan.
Freya menunduk, menahan air mata.
Surya menatap keduanya lama. “Kalau itu keputusan kamu dan benar-benar siap…” Aurel menahan napas. “....Bapak izinkan.”
Aurel langsung mengangkat wajahnya, tak percaya. “Beneran, Pak?”
Surya mengangguk pelan. “Tapi ingat, jaga diri baik-baik.”
Air mata Aurel akhirnya jatuh. “Iya, Pak.”
Freya tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Aurel erat.
Setelah makan selesai, Aurel membantu ibunya mencuci piring di dapur. Air dingin mengalir dari keran sederhana, mengenai tangan mereka yang mulai kasar karena pekerjaannya.
Aurel menatap ibunya diam-diam.
Dulu, Freya tidak seperti ini, yang ibunya selalu terlihat kuat. Bangun paling pagi, tidur paling malam. Bahkan saat sakit, dia tetap memaksakan diri bekerja. Semuanya demi keluarga.
Sejak Aurel lulus SMA, sebenarnya dia ingin langsung kerja. Tapi keadaan tidak semudah itu.
Di desa kecil seperti ini, pilihan pekerjaan sangat terbatas.
Aurel sempat mencoba melamar ke beberapa tempat di kota kecil terdekat, tapi selalu ditolak.
“Belum ada pengalaman.” Kalimat itu terus terulang. Akhirnya, dia hanya membantu orang tuanya di rumah.
Hari demi hari, sampai akhirnya dia sadar.
ia tidak bisa terus seperti ini dan sekarang…
kesempatan itu datang, meski bukan dalam bentuk yang dia bayangkan.Menjadi pembantu di rumah orang kaya di Jakarta. Bukanlah pekerjaan impiannya, tapi ini awal.
Sore hari mulai datang. Langit berubah jingga, angin berhembus lebih pelan.
Aurel duduk di halaman rumah, tepat di depan pintu. Ia tidak duduk di kursi melainkan langsung di lantai semen yang mulai dingin.
Tangannya memegang ponsel, layarnya menyala.
Nama itu masih tersimpan di kontaknya, yaitu Tara.
Teman SMA yang dulu selalu bersamanya.
Tanpa berpikir lama, Aurel mulai mengetik.
“Ra… lu lagi di Jakarta kan?”
Beberapa detik, Balasan langsung muncul.
“AUREL?! Iya gue di Jakarta, lu kemana aja?!”
Aurel tersenyum kecil.
Jari-jarinya kembali mengetik, kali ini lebih pelan.
“gue mau ke Jakarta, Ra.” Tiga titik balasan muncul.
“SERIUS?! BUAT APA?!”
Aurel menatap langit sebentar. Lalu kembali ke layar.
“Kerja gantikan ibu.”
Beberapa detik hening. Kemudian balasan panjang masuk.
“Datang ke gue aja dulu! Jakarta itu nggak aman buat lu kalau sendirian ”
Aurel terdiam. Hatinya campur aduk, takut. Tapi juga ada sedikit bersemangat.
Aurel menarik napas panjang. Angin sore menyapu rambutnya pelan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurel merasa. Dia sedang berdiri di ambang perubahan besar.
Tanpa Aurel tahu. Keputusannya hari ini, Akan membawanya masuk ke dunia yang sama sekali berbeda. Dunia penuh kemewaha dan bahaya.
Termasuk… Pertemuannya dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya selamanya, yaitu Seorang pria dingin, CEO. Yang belum Aurel kenal ialah Arvano.