NovelToon NovelToon
Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Estrellaaya_

Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.

Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Sembilan

Su Qing berjalan turun lewat tangga lalu keluar dari gedung.

Sinar matahari menyinari wajahnya, ia sedikit menyipitkan mata karena silau.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari L: Bukti palsu buatan Chen Hao sudah jadi. Berupa tangkapan layar percakapan yang seolah-olah kau mengaku menuliskan lagu untuk Sun Yizhou atas permintaan. Zhao Ruoruo berencana mengumumkannya saat rapat penjelasan aturan kompetisi minggu depan.

Jari-jari Su Qing menegang erat.

“Tangkapan layar itu palsu, apa ada cara membuktikannya?” balasnya.

L: Ada, tapi butuh waktu. Saat membuat tangkapan itu Chen Hao memakai jenis huruf tertentu, jenis itu hanya ada di komputernya saja, bukan huruf standar yang ada di ponsel. Kalau dibandingkan, kepalsuannya akan langsung ketahuan.

Su Qing memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu menuruni tangga gedung.

Zhao Ruoruo berniat mengumumkannya minggu depan, saat semua orang berkumpul — peserta, juri, dan staf produksi. Dia berniat menjatuhkan reputasi Su Qing di hadapan semua orang.

Su Qing harus bersiap sebelum hari itu tiba.

Ia memesan kendaraan daring, masuk ke dalam mobil, lalu menyebutkan alamat tujuannya.

Saat mobil mulai bergerak, ia bersandar di kursi penumpang dan memejamkan mata.

Pikirannya berputar cepat.

Zhao Ruoruo akan memperlihatkan bukti palsu itu, jadi ia harus membongkar kepalsuannya saat itu juga. Tapi ia butuh bukti pendukung — bukti yang membuktikan tangkapan layar itu dibuat dari komputer Chen Hao.

Jenis huruf.

Jenis huruf yang disebutkan L.

Ia harus mendapatkan data jenis huruf yang ada di komputer Chen Hao. Tapi ia tidak bisa masuk ke ruang teknologi Tianheng, apalagi memakai komputer Chen Hao.

Siapa yang bisa melakukannya?

Gu Shen.

Dia adalah pewaris utama Tianheng, punya hak akses ke mana saja, punya sumber daya yang cukup. Tapi apakah dia mau menolongnya?

Su Qing membuka matanya dan menatap pemandangan jalanan yang bergerak mundur cepat di luar jendela.

Ia teringat satu cara.

Malam hari hari Minggu, Su Qing datang ke gedung Tianheng.

Bukan untuk latihan, tapi untuk menemui Gu Shen.

Ia tahu pada jam-jam begini Gu Shen biasanya ada di ruang perekam lantai enam — pola ini sudah diamatinya selama latihan bersama Kelompok Biru. Setiap malam Minggu, Gu Shen selalu sendirian di ruang perekam, entah sedang menulis lagu atau mendengarkan rekaman contoh, tidak ada siapa pun yang mengganggunya.

Su Qing naik ke lantai enam. Lorongnya sangat sepi, cahaya lampu hanya terlihat menyelinap keluar dari celah pintu ruang perekam di ujung sana.

Ia berjalan mendekat lalu mengetuk pintu.

“Masuk saja.”

Su Qing masuk ke dalam. Gu Shen sedang duduk di depan meja pengatur suara, memakai penutup telinga, sambil memegang pena dan mencoret-coret lembaran notasi lagu. Saat melihat Su Qing masuk, keningnya sedikit berkerut, tapi tidak menyuruhnya pergi.

“Ada perlu apa?”

“Ada bantuan yang kuminta dari Kakak,” kata Su Qing.

Gu Shen melepas penutup telinganya, bersandar di kursinya sambil menatap gadis itu.

“Katakan saja.”

Su Qing langsung bercerita semuanya tanpa berputar-putar — rencana Zhao Ruoruo membuat bukti palsu untuk menuduhnya, tangkapan layar palsu buatan Chen Hao, dan kebutuhannya mendapatkan data jenis huruf di komputer Chen Hao sebelum pengumuman dilakukan supaya bisa membongkar kepalsuannya.

Setelah mendengar sampai selesai, Gu Shen diam beberapa detik.

“Dari mana kau tahu semua ini?” tanyanya.

Su Qing sudah menyiapkan jawabannya sejak awal. “Aku punya sumber informasi sendiri, tapi tidak boleh kukatakan siapa.”

Gu Shen menatapnya lekat-lekat sekitar lima detik, lalu bicara sesuatu yang sangat mengejutkan Su Qing.

“Aku punya hak akses masuk ke komputer Chen Hao.”

Jantung Su Qing berdebar kencang.

“Tapi kenapa aku harus menolongmu?” tanya Gu Shen lagi.

Su Qing menatapnya, tidak bicara hal-hal klise seperti karena ini perbuatan tidak adil, atau karena Kakak benci Lin Wei. Ia hanya berkata jujur apa adanya.

“Karena orang berikutnya yang akan dia lawan adalah Kakak.”

Alis Gu Shen sedikit terangkat.

“Dia sempat berselisih paham dengan Fang Ya saat di Kelompok Merah, padahal Fang Ya ada di pihak Kakak. Dia tidak sanggup menjatuhkan nama baik Fang Ya, jadi dia akan mulai menyerang Kakak lewat aku. Kalau aku jatuh dan tersisihkan, Kelompok Biru akan bubar. Kalau Kelompok Biru bubar, reputasi Kakak sebagai mentor pun akan rusak. Dia sama sekali tidak peduli sama aku, dia hanya ingin tahu apakah Kakak masih bisa bertahan bekerja di Tianheng atau tidak.”

Ruangan menjadi hening sejenak.

Tiba-tiba Gu Shen tertawa. Bukan tawa gembira, tapi tawa yang menganggap hal itu menarik dan lucu.

“Umurmu berapa?”

“Sembilan belas tahun.”

“Baru sembilan belas tahun tapi sudah memikirkan hal serumit itu, tidak lelahkah kau?”

Su Qing diam saja tidak menjawab.

Gu Shen berdiri lalu melemparkan penanya ke atas meja.

“Data jenis huruf itu akan kucarikan. Tapi kau harus janji satu hal sama aku.”

“Apa itu?”

“Saat babak akhir nanti, nyanyikan satu lagu buatanmu sendiri — lagu yang tidak dibuat untuk siapa pun, tapi murni untuk dirimu sendiri saja.”

Su Qing tertegun sejenak.

“Aku sudah sedang menyiapkannya kok.”

“Bukan sekadar menyiapkan,” Gu Shen menatapnya tajam. “Tapi berjanji. Berjanjilah sama aku.”

Su Qing diam dua detik, lalu mengangguk setuju.

“Aku berjanji.”

Gu Shen mengambil kotak rokoknya di atas meja lalu berjalan ke arah pintu.

“Sebelum hari Senin, data itu akan kukirimkan ke ponselmu.”

Pintu tertutup kembali.

Su Qing berdiri sendirian di ruang perekam, lampu di meja pengatur suara masih menyala terang, dan notasi lagu di atas kertas belum selesai ditulis.

Ia tidak tahu alasan sebenarnya kenapa Gu Shen mau menolongnya.

Tapi ia sadar, mulai detik ini, ia tidak lagi berjuang sendirian.

1
Murni Dewita
👣
Estrellaaya_: terima kasih banyak ya sygkuu, semoga suka ❤️❤️
total 1 replies
Nur Atika Hendarto
lanjut thor penasaran sangat 😭😭😭😭
Estrellaaya_: siapp sygkuuu ditunggu yaaa, terima kasih banyak udh baca karyakuu❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!