"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut berbagi cinta
"Biarkan saja dia ke RS sendirian, Mas. Kamu kenapa harus repot-repot menemaninya?" Ujar Nora menatap sinis.
"Nora, Siti sedang hamil. Dan keadaannya juga sedang tidak sehat. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayinya," jawab yusuf dengan nada yang tetap tenang.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut mengantarkannya ke RS. Aku tidak akan membiarkan ada kesempatan untuk kalian berduaan," timpal Nora.
Yusuf menghela nafas pelan. Sejak dirinya menikahi siti, kini tak lagi ada ketenangan dan juga kenyamanan di dalam rumah tangganya. Nora selalu membatasi apapun interaksinya dengan istri sirinya itu. Namun, sadar sekali semua karena kesalahan semalam yang pernah ia lakukan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah kamu merasa keberatan jika aku ikut menemanimu ke RS?" intrupsi Nora pada Siti.
"Ah, tidak Mbak. Aku tidak keberatan sama sekali. Sebenarnya mas Yusuf dan mbak Nora tidak perlu mengantarkan aku ke RS. Aku bisa pergi sendiri," jawab Siti tak ingin membuat pasangan itu berselisih lagi. Ia sadar sejak menjadi istri kedua dari majikannya itu, maka sering sekali adanya keributan diantara mereka. Namun, ia sangat sadar bahwa tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas saat suaminya menikah lagi. Apalagi wanita yang di nikahi adalah seorang pembantu di kediaman mereka.
"Sudahlah, ayo kita ke RS sekarang," imbuh yusuf tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun juga ia harus bertanggung jawab atas bayi yang sedang di kandung oleh Siti.
Siti tak lagi membantah. Begitu juga dengan Nora. Meskipun ia selalu merasa tidak nyaman setiap kali Yusuf memberi perhatian pada Siti, tetapi mengingat bayi yang tidak berdosa itu, maka egonya kembali turun. Entah kenapa saat menatap Siti ada rasa benci yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Padahal ia juga tahu bahwa posisi Siti juga korban.
Nora masuk kedalam kamarnya untuk bersiap. Padahal hari ini ia sangat lelah setelah seharian beraktivitas di RS. Karena takut sang suami jatuh cinta pada adik madunya, maka segala rasa lelah itu ia singkirkan.
Nora menjatuhkan bokongnya di pinggir ranjang. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Kenapa hidupnya sekarang tidak lagi bahagia seperti dulu. Kenapa ujian seperti ini yang Tuhan berikan untuk rumah tangganya. Kenapa harus ada orang ketiga?
Sementara itu Siti termenung sendirian di depan kaca rias. Apa yang harus ia lakukan sekarang? menjadi orang ketiga tidak membuat hidupnya bahagia. Hanya menjadi masalah dalam hubungan mereka.
"Siti! Ayo buruan! kenapa lama sekali!" panggil Nora dari luar.
"I-iya, Mbak!" sahut Siti sembari bergegas.
"Sayang, tolong jangan terlalu kasar terhadap siti. Ini semua hanyalah kecelakaan. Bukankah selama ini kamu sangat baik padanya? Jangan hanya karena insiden itu, lalu kamu bersikap buruk terhadapnya. Situ itu juga korban. Aku juga tidak mau semua ini terjadi," ucap Yusuf mencoba menasehati istrinya.
"Aku hanya takut kamu jatuh cinta padanya, Mas. Aku tidak sudi bila harus berbagi suami," jawab Nora menatap sendu.
Yusuf menghela nafas pelan. "Bukankah sudah ada komitmen sebelum aku menikahi siti. Aku tidak mungkin jatuh cinta, karena cuma kamu wanita satu-satunya yang ada di dalam hatiku. Pernikahan ini hanya bentuk tanggung jawab, dan hingga bayinya lahir. Kita sudah sepakat untuk itu, dan setelah itu hubungan aku dan Siti akan selesai," ungkap Yusuf meyakinkan.
Nora terdiam dengan perasaan entah. Seharusnya ia tidak perlu meragukan segala ucapan lelaki yang telah membersamainya selama lima belas tahun. Selama ini Yusuf memang tidak pernah mengkhianatinya. Meskipun Yusuf selalu bertugas di luar kota, tetapi dia tetap setia pada sang istri.
Siti keluar dari kamar. Ia mendapati pasangan itu sudah menunggu di depan pintu.
"Sudah siap?" tanya Nora dengan nada tak terlalu sinis.
"Sudah. Maaf jika menunggu lama," jawab wanita itu masih takut.
Bersambung....