NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang berat

Langkah lesu terayun di trotoar, membawa tubuh yang lelah usai bekerja.

Hembusan napas yang begitu berat keluar dari hidung yang mancung.

"Kenapa hidupku berat sekali? Ini nggak mungkin hadiahnya piring cantik, kan?"

"Tuhaaan... Aku lelah!" Keluhnya menatap langit yang berbintang.

Suara bising lalu lintas di jalanan tak membuatnya terganggu.

Ia baru saja dipecat dari pekerjaan sampingannya karena menegur pelanggan yang tak sopan menepuk bokongnya saat ia menyajikan makanan ke meja.

Sepasang kaki yang terbalut sepatu lusuh itu beberapa kali dihentakkannya di atas paving yang tersusun rapi.

Suara dering ponsel menghentikan langkahnya, ia merogoh ponsel bututnya di dalam tas.

"Halo, Sa?"

"Hana, kemarilah, ayo bertemu."

"Aku lelah, Sa. Baru saja pulang bekerja."

"Ayolah, Na. Sebentar saja. Kutraktir."

"Lain kali saja, Sa."

"Tu-tunggu! Ini tentang pekerjaan!"

"Ok, share loc, Sa."

"Siap!"

Telepon itu terputus, lalu masuk sebuah pesan berisi lokasi yang dimaksud. Hana segera menuju tempat yang tak jauh dari dirinya sekarang berada.

Di seberang jalan terlihat Salsa sedang berdiri melihat ke arah Hana yang sedang menunggu lampu merah, Salsa melambaikan tangannya dengan ceria ke arah sahabatnya yang jelek itu.

Salsa mengenakan crop top dan celana jogger dengan sneakers, di bahunya tersampir shoulder bag putih.

Sedangkan Hana mengenakan t-shirt putih yang sudah kusam dan dibalut jaket denim yang sudah lusuh.

Lampu hijau berganti merah, Hana segera menyeret kakinya menyeberang jalan.

"Kau baru pulang bekerja?"

"Yep. Pekerjaan apa?"

"Sabar dulu dong! Ayo kita ke minimarket." Salsa menggandeng lengan Hana dan membawanya ke minimarket yang masih buka. Hana pasrah mengikuti langkah lebar Salsa yang nampak bersemangat.

"Tunggu di sini, aku beli minuman."

Salsa berlari kecil masuk ke dalam minimarket. Sedangkan Hana duduk di meja yang kosong.

"Nih, untukmu." Salsa memberikan satu botol minuman dingin dan satu roti kepada Hana.

"Thanks." Hana segera membuka botol minuman dan meneguknya.

"Jadi pekerjaan apa?"

"Wah, kau sangat tidak sabar."

Salsa memasukkan satu cubit roti ke mulutnya.

Hana tertarik dengan pekerjaan yang dibicarakan oleh Salsa meskipun ia belum mendengar bagaimana pekerjaan tersebut. Yang terpenting di otaknya, ia bekerja dan dapat uang.

Ia memiliki beban untuk membayar hutang ayahnya yang sebesar 150juta dan biaya adik perempuannya sekolah SMA.

Ayahnya melemparkan hutang tersebut kepada Hana yang tak tahu menahu bagaimana rupa uang 150juta.

Uang tersebut untuk hidup foya-foya ayah dan adiknya di kampung.

Hana sudah pernah menolak, namun ayahnya mengancam jika Hana tak mau membayar hutang tersebut, rumah mendiang ibunya akan dijual.

Tentu Hana tak mau hasil jerih payah ibunya selagi muda dijual begitu saja.

Sebelum ibunya meninggal, ibu memberikan wasiat bahwa rumah tersebut untuknya, namun belum sempat memberikan sertifikatnya, Ibu lebih dulu meninggal dunia.

Hana hampir 3 tahun merantau ke kota untuk menyambung hidupnya yang tak dinafkahi oleh ayahnya dan membayar hutang ayahnya yang tak pernah terputus.

Ia begitu bekerja keras menghasilkan uang meskipun ia tak dapat menikmatinya.

"Kau yakin ingin pekerjaan ini?" Tanya Salsa.

"Pekerjaan macam apa yang kau tawarkan?"

"Pelayan bar."

"Apa tak ada pekerjaan yang lain?"

"Kau tahu pekerjaanku, jadi tak jauh dari itu." Salsa mengulas senyum manis. Hana hanya membuang napas kasar.

"Berapa gajinya?"

"3juta tapi jika kau mau lebih dari it-"

"Aku juga harus melayani tamu. Begitu kan maksudmu?" Hana memotong ucapan Salsa yang menyeringai.

"Akan kupikirkan nanti."

"Hei, jangan terlalu lama. Hutang ayahmu bisa membengkak, lagi pula 3juta itu lumayan, kan?"

"Kau tahu, untuk aku bertahan hidup dan mengirim uang ke kampung perlu uang paling tidak 7juta."

"Sial. Kenapa ayahmu tega sekali? Kau bisa tua di perantauan, Na."

"Entahlah."

Salsa melihat sahabatnya itu dengan tatapan sedih. Ia miris melihat teman yang dulu cantik itu kini menjadi jelek usai ibunya meninggal dunia.

Hana pernah memperlihatkan foto-foto dirinya saat lulus sekolah.

Hana pulang dengan pikiran yang ruwet. Perusahaan tempat ia bekerja akan melakukan PHK massal akibat kalah tender dengan perusahaan lawan.

Ia khawatir dirinya akan terkena daftar PHK.

Jika itu terjadi bagaimana nasibnya ke depan?

Sesekali ia menendang kerikil kecil yang ditemuinya.

Suasana gang menuju kostnya becek dan sempit, penerangan yang minim membuat kesan horror.

Ia memutar kunci untuk membuka pintu kost yang sedikit kumuh lingkungannya.

Hana menggantung jaket kumalnya di belakang pintu, ia mengeluarkan seragam kerjanya dari dalam tas untuk dimasukkan ke dalam bak cucian.

Besok ia libur bekerja, Hana berencana akan mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah penghasilannya.

Ia membuka dompet lusuh yang hanya dihuni oleh selembar uang 50rb. Hana menghitung hari gajian yang masih dua minggu lagi, ia mendesah pelan.

Bos restoran tempat ia bekerja baru saja memecatnya dan tak memberikan gaji padanya. Bosnya itu menganggap Hana akan membuat pelanggannya kabur.

Lagi-lagi, ia harus berhemat untuk hidup. Ayah dan adiknya hidup enak di kampung.

Hana ingin mengeluh lagi, namun sudah terlalu lelah melihat hidupnya yang miskin di kota orang.

Walaupun sekarang masih ada dua pekerjaan yang ia tekuni, Hana masih kekurangan uang. Ia hanya berbekal ijazah SMA dengan pekerjaan cleaning service di dua perusahaan.

Jika perusahaan A memberikan PHK padanya, ia masih memiliki perusahaan B untuk bertahan hidup, namun hutang ayahnya akan terus berbunga.

Ia teringat roti yang diberikan Salsa tadi. Ia duduk di lantai kos dan memakan perlahan roti tersebut untuk mengganjal perutnya malam ini.

Suara berisik anak-anak kecil yang bermain di depan kost membuat Hana terbangun dari tidurnya.

Ia menyalakan ponsel, tertera jam 7 pagi, lalu merenggangkan otot-ototnya sebelum beraktifitas.

Hana bersyukur, meskipun kawasan kumuh, kamar mandi kost berada di dalam. Ia tak akan kesulitan untuk mengantre tiap pagi berbarengan dengan penghuni kost lain.

Cucian yang ia rendam tadi malam ia kucek sembari ia mandi.

Selesai menjemur di teras kos, Hana mengambil jaket lusuhnya yang ia gantung di balik pintu. Tak lupa ia meminum air galon yang tersisa setengah untuk mengganjal perutnya pagi ini.

Berbekal surat lamaran yang ia masukkan ke dalam tas, ia menelusuri trotoar, jalanan terlihat ramai dengan lalu lintas kendaraan.

Perutnya keroncongan, Hana segera mengeluarkan botol air minum yang ia bekal dari kos untuk mengganjal kembali perutnya dan baru bisa makan saat malam hari.

Terik matahari semakin menyengat kulit, Hana berteduh di bawah pohon yang berada di taman.

Matanya menatap lekat beberapa gerobak yang menjual berbagai macam makanan.

Hidungnya mencium aroma yang membuat perutnya semakin keroncongan, ia beberapa kali meneguk ludah ketika melihat para pembeli menyantap makanan mereka.

Air liurnya hampir menetes. Hana mengasihani dirinya yang bekerja namun seperti gelandangan.

Matanya menyipit memandang langit yang cerah, hatinya memaki Tuhan yang tak adil memberikannya hidup.

Ponsel bututnya ia amati dengan seksama. Beberapa kali ia berniat menjual ponselnya namun memilih untuk bertahan. Ia berpikir jika dijual pun pasti sangat murah.

Beruntung setiap kali gajian ia membeli paket internet untuk sebulan ke depan, jadi dirinya tak memusingkan hal komunikasi jika sedang tak punya uang.

Perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya mencari lowongan pekerjaan yang bisa ia jadikan sampingan.

Hari ini dirinya sudah beberapa kali menerima penolakan karena tempat yang ia tuju sedang tidak mencari karyawan.

Hana menatap sebuah hotel yang ramai oleh pengunjung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!