NovelToon NovelToon
UNLOVED: Ariel & [Y/N]

UNLOVED: Ariel & [Y/N]

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: mondᓀ‸ᓂ

​[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.

​Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.

​Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG...

Pagi itu, SMA Pelita masih sama seperti biasanya—berisik dan pengap. Di lantai tiga, tepatnya di kelas 12-D, suara tawa dan teriakan siswa yang saling lempar ejekan terdengar sampai ke lorong.

Tap... tap... tap...

Langkah kaki itu terdengar santai, berhenti tepat di depan pintu kelas yang terbuka lebar. Seorang cewek berdiri di sana. Rambut biru tuanya diikat kuncir rendah, sedikit berantakan tapi pas di wajahnya. Dia memakai jaket varsity yang tampak agak kebesaran, menutupi seragam baru yang masih kaku.

Begitu dia melangkah masuk, suara gaduh di kelas 12-D perlahan menyusut. Satu per satu mata mulai melirik ke arah pintu. Bukan karena dia berdandan berlebihan, tapi karena ada sesuatu dari tatapan mata cokelatnya yang terlihat tenang—terlalu tenang untuk ukuran murid pindahan.

"Pagi," sapa cewek itu pendek. Dia menarik sudut bibirnya sedikit, memberikan senyum tipis yang terlihat sopan.

"Wih, beneran ada anak baru," celetuk Toro dari kursi belakang, memecah keheningan. "Pindahan dari Bandung itu, ya?"

[y/n] mengangguk kecil. Di balik saku jaketnya, telapak tangannya sedikit berkeringat. Rasa linu di lengannya bekas cengkeraman sang ibu tadi pagi masih terasa, tapi dia sudah terbiasa menyembunyikannya. Baginya, terlihat 'normal' adalah perlindungan terbaik.

"Gue [y/n]," ucapnya singkat, memperkenalkan diri tanpa banyak basa-basi.

"Duduk sini aja, [y/n]! Di depan gue kosong nih!" seru Yupi sambil menepuk meja di depannya. "Gue Yupi, ini Amu. Santai aja sama kita mah."

[y/n] berjalan menuju kursi yang ditunjuk Yupi. Saat melewati barisan meja paling belakang, langkahnya sempat tertahan sedetik. Di pojokan yang paling gelap, seorang cowok duduk dengan posisi yang sangat tidak nyaman untuk belajar. Kepalanya bersandar di tembok, matanya tertutup rapat, dan telinganya tersumpel earphone.

Wajah cowok itu kelihatan capek. Ada luka kecil yang sudah mengering di sudut bibirnya.

"Eh, jangan dilihatin terus," bisik Amu saat [y/n] baru saja duduk. "Itu Ariel. Anggap aja dia nggak ada kalau lu mau tenang di sini."

"Kenapa?" tanya [y/n] lirih, suaranya hampir hilang di antara suara riuh kelas yang mulai kembali normal.

"Dia... beda kelas sama kita lah pokoknya. Galak, mulutnya pedas, hobinya berantem terus. Mending lu cari aman aja," tambah Yupi sambil menggelengkan kepala.

[y/n] tidak menjawab. Dia melirik sekali lagi ke arah pojok belakang. Tepat saat itu, cowok bernama Ariel itu membuka matanya. Tatapannya gelap, tajam, dan terlihat sangat terganggu.

Ariel berdecak keras. Dia menarik tudung jaketnya sampai menutupi sebagian wajah, lalu membuang muka ke arah jendela.

"Berisik," gerutu Ariel dengan suara rendah yang serak. "Ogah banget gue kalau kelas makin ramai gara-gara ada orang baru."

Kalimat itu ketus, jelas-jelas ditujukan untuk [y/n]. Namun, bukannya merasa takut atau tersinggung, [y/n] justru merasa ada sesuatu yang akrab dari cara Ariel menarik diri dari dunia.

[y/n] akhirnya duduk di bangku yang tadi ditunjuk Yupi. Dia meletakkan tasnya pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan aroma kayu meja dan suara riuh yang masih tersisa. Baru saja dia mau membuka buku catatan, suara langkah sepatu pantofel yang berat terdengar dari koridor.

BRAK!

Pintu kelas terbuka lebar. Sosok pria paruh baya dengan kacamata tebal dan penggaris kayu panjang di tangannya melangkah masuk. Seketika, kelas 12-D yang tadinya kayak pasar berubah jadi kuburan. Sunyi senyap.

"Pagi," suara Pak Budi berat dan nggak bersahabat. Dia meletakkan tumpukan kertas di meja guru dengan dentuman yang bikin jantung beberapa murid copot. "Buka buku paket halaman 152. Kita lanjut materi Logaritma. Yang belum ngerjain tugas kemarin, silakan berdiri di luar sekarang juga."

Yupi menyenggol lengan [y/n] sambil berbisik sangat pelan, "Mampus, Pak Budi lagi bad mood. Jangan berisik ya, dia nggak segan-segan ngelempar penghapus kalau ada yang ngobrol."

[y/n] mengangguk paham. Dia mulai mengeluarkan alat tulisnya. Namun, di tengah keheningan itu, suara decakan keras terdengar dari arah belakang.

Sreeek...

Suara kursi digeser dengan kasar. Semua mata tertuju ke pojok belakang, kecuali Pak Budi yang masih sibuk menulis di papan tulis.

Ariel bangun dari tidurnya. Dia nggak mengeluarkan buku, nggak juga berdiri untuk keluar kelas. Dia cuma duduk bersandar, menatap papan tulis dengan tatapan bosan yang luar biasa. Tangannya masih asyik memainkan ujung tudung jaketnya.

"Ariel Refantino," Pak Budi membalikkan badan, matanya menatap tajam ke arah Ariel dari balik kacamatanya. "Mana tugas kamu?"

Ariel cuma mengangkat bahu tanpa dosa. "Ketinggalan, Pak. Ogah saya balik lagi ke rumah cuma buat ambil kertas."

"Kamu ini ya! Nilai kamu memang sempurna, tapi kelakuan kamu itu sampah!" bentak Pak Budi sambil memukul meja.

Ariel nggak takut. Dia malah tersenyum tipis—senyum yang nggak sampai ke matanya. "Halah, Bapak marah-marah terus nanti cepat tua. Mending lanjut aja jelasin soal di papan itu, jawaban nomor tiga salah tuh. Harusnya variabel X-nya nggak pangkat dua."

Pak Budi tertegun. Dia melihat kembali coretannya di papan tulis, lalu wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. "Sialan kamu, Ariel! Keluar kamu sekarang!"

Ariel berdiri dengan santai. Dia menendang kakinya ke kolong meja, lalu berjalan keluar kelas tanpa beban. Saat melewati meja [y/n], langkahnya melambat sebentar. Dia melirik ke arah buku catatan [y/n] yang masih bersih, lalu berdecak pelan.

"Jangan sok rajin di sini. Percuma," gumamnya pelan, hampir menyerupai bisikan sinis, sebelum benar-benar hilang di balik pintu kelas.

[y/n] cuma bisa terdiam. Tangannya yang memegang pulpen sedikit mengeras. Kalimat Ariel barusan terasa seperti sindiran bagi orang yang selama ini selalu berusaha tampil "sempurna" seperti dirinya.

1
MR Rizki
Lanjut tor 😆
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: 🍀🦈🦈🤭 makasih, iya nanti gw lanjut
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
SEMANGAAAAT ATHOOOR/Determined/
Manusia Ikan 🫪: 😹baguslah
total 4 replies
Caramel23
shuri like ini kan 😍😍
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: yoi 😂😂
total 3 replies
MR Rizki
lanjut tor, semangat 💪/Smile/
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: makasih 🤭😖
total 1 replies
kertaslusuh
Meski Ariel ketus, tpi benerr
kertaslusuh
kasian y/n, keknya generasi roti ya, thorr??
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: bayangin kalau lu y/n deh , nanti bakal... ekhem.. ekhem.. sama ariel🤭
total 3 replies
kertaslusuh
wkwkkw🤣
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎
wahahahahahah tidak ada larangan nge like karya buatan sendiri 🤭🙂
MR Rizki
Ditunggu kelanjutannya tor, semangat
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: thanks yank emuachhh 😘🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!