Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Emosi Menghancurkan Segalanya
Untuk kesekian kalinya, Amira menatap layar ponselnya dengan perasaan yang sama kosong, menggantung, dan perlahan berubah menjadi marah.
Tidak ada balasan.
Tidak ada panggilan balik.
Tidak ada kabar.
Nama “Adrian” di layar itu kini terasa seperti ironi yang kejam.
Padahal semalam lagi-lagi pria itu tidak pulang.
Dengan alasan yang sama.
Pekerjaan.
Kantor.
Kesibukan.
Awalnya, Amira mencoba memahami. Ia pernah jatuh cinta pada sosok yang hangat, yang selalu mendengarkan, yang membuatnya merasa aman tanpa perlu meminta.
Namun sekarang?
Yang tersisa hanya waktu-waktu yang semakin jarang.
Perhatian yang mulai terbagi.
Dan kehadiran yang selalu tertunda.
“Aku ini apa?” bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Tangannya mengepal.
Kesabaran itu bukan tanpa batas.
Dan hari ini
Ia tidak ingin lagi menunggu.
Langkah Amira cepat saat memasuki gedung kantor milik Fatan.
Tatapannya tajam.
Wajahnya tegang.
Ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Tidak peduli pada bisik-bisik kecil yang mulai terdengar saat ia berjalan melewati lobi.
Satu tujuan.
Menemui pria itu.
Sekarang.
Tanpa menunggu izin, ia langsung menuju lantai atas ke ruang kerja yang selama ini hanya ia bayangkan dari cerita Adrian atau fatan
Pintu ruang rapat terbuka tiba-tiba.
Semua kepala menoleh.
Fatan yang tengah berdiri di ujung meja, memimpin rapat penting dengan klien, langsung membeku saat melihat sosok itu.
Amira.
Jantungnya seakan berhenti.
“Maaf,” suara Amira terdengar, namun nadanya jauh dari kata sopan. “Aku butuh bicara. Sekarang.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Tatapan para kolega beralih antara mereka berdua.
Fatan menarik napas dalam.
Berusaha tetap tenang.
“Amira…” ucapnya pelan, mencoba menjaga situasi. “Kita sedang rapat. Bisa tunggu di luar?”
“Tidak,” jawab Amira tegas. “Aku sudah terlalu sering menunggu.”
Suasana semakin tegang.
Fatan melirik kliennya, mencoba meminta pengertian.
“Beri saya beberapa menit,” katanya.
Ia mendekati Amira, berusaha menuntunnya keluar.
Namun Amira menarik tangannya.
“Kenapa kamu tidak pulang semalam?” tanyanya langsung, tanpa peduli siapa yang mendengar.
Fatan mengatupkan rahangnya.
“Aku sudah bilang, aku sibuk.”
“Sibuk sampai tidak bisa memberi kabar?” suara Amira mulai meninggi. “Atau sibuk dengan sesuatu yang lain?”
Kata-kata itu menusuk.
Bukan karena kebenarannya
Tapi karena ia tahu, Amira tidak sepenuhnya salah.
Fatan masih mencoba bersabar.
“Jangan seperti ini di sini,” bisiknya menahan emosi. “Kita bicara nanti.”
“Aku tidak mau nanti!” bentak Amira. “Aku mau sekarang!”
Tatapan semua orang kini tertuju pada mereka.
Situasi yang tidak bisa lagi ditutupi.
Fatan menutup matanya sejenak.
Menahan.
Menekan.
Namun tekanan itu terlalu lama ia simpan.
Dan Amira
Tanpa sadar
Sedang menekan luka yang sudah hampir pecah.
“Apa aku masih penting untukmu?” tanya Amira, suaranya mulai bergetar.
Fatan membuka mata.
Menatapnya.
Dan di sanalah
Kesabaran itu runtuh.
“Cukup, Amira!” suaranya meninggi untuk pertama kalinya.
Ruangan terdiam total.
“Kamu datang ke sini, membuat keributan, tanpa pikir panjang!” lanjutnya tajam. “Ini kantor, bukan tempat untuk drama seperti ini!”
Wajah Amira memucat.
“Drama?” ulangnya pelan.
Fatan menghela napas kasar.
“Ya, drama. Kamu terlalu berlebihan. Tidak semua hal harus dipermasalahkan!”
Kalimat itu seperti tamparan.
Amira menatapnya tak percaya.
“Berlebihan?” suaranya pecah. “Aku hanya ingin kehadiranmu!”
“Dan aku sudah bilang aku sibuk!” balas Fatan semakin keras. “Tidak semua waktu harus aku habiskan untukmu!”
Keheningan itu terasa memekakkan.
Air mata mulai menggenang di mata Amira.
Namun ia menahannya.
“Baik,” ucapnya pelan.
Terlalu pelan.
Terlalu dingin.
“Kalau begitu… aku yang akan pergi.”
Fatan tidak menjawab.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
Amira berbalik.
Melangkah keluar.
Tanpa menoleh lagi.
Langkahnya cepat.
Terlalu cepat.
Air matanya akhirnya jatuh saat ia mencapai parkiran.
Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil.
Dadanya sesak.
Pikirannya penuh.
“Berlebihan…” bisiknya dengan suara patah.
Mesin mobil menyala.
Ia melaju.
Tanpa arah yang jelas.
Tanpa kendali emosi.
Di dalam gedung, Fatan berdiri kaku.
Semua mata masih tertuju padanya.
Namun ia tidak peduli lagi.
Satu perasaan mulai muncul
Penyesalan.
Ia mengambil ponselnya.
Mencoba menghubungi Amira.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Perasaan tidak enak itu datang begitu saja.
Tanpa alasan.
Namun kuat.
Sangat kuat.
Fatan berlari keluar.
Di jalan raya
Mobil Amira melaju terlalu cepat.
Air matanya mengaburkan pandangan.
Tangannya masih gemetar di setir.
Suara klakson terdengar.
Namun ia tidak fokus.
Tidak sepenuhnya sadar.
Sampai
Lampu merah.
Dan dari arah berlawanan
Sebuah mobil melaju.
Terlalu dekat.
Terlalu cepat.
Fatan baru saja keluar dari gedung saat suara itu terdengar.
BRAKKK!
Suara benturan keras.
Memecah siang.
Membekukan waktu.
Fatan menoleh.
Dan dunia seakan berhenti.
Mobil itu
Mobil Amira.
Tubuhnya langsung bergerak.
Berlari.
Tanpa berpikir.
Tanpa bernapas.
“Amira!” teriaknya panik.
Mobil itu ringsek di bagian depan.
Kaca pecah.
Asap tipis mengepul.
Dan di dalam
Amira terdiam.
Kepalanya terkulai.
Darah mengalir di pelipisnya.
“Amira… Amira!” suara Fatan pecah.
Tangannya gemetar saat membuka pintu.
Ia menarik tubuh Amira dengan hati-hati.
Wajahnya pucat.
Napasnya lemah.
“Tidak… tidak… jangan…” Fatan panik.
Semua suara di sekitarnya menghilang.
Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri Dan tubuh Amira yang tak berdaya di pelukannya.
“Bangun… tolong bangun…” bisiknya putus asa.
Untuk pertama kalinya
Fatan benar-benar takut kehilangan.
Bukan karena ego.
Bukan karena pilihan.
Tapi karena kenyataan
Bahwa satu kesalahan kecil,
Satu emosi yang tak terkendali,
Bisa menghancurkan segalanya.
Dan di tengah keramaian yang mulai mengelilingi mereka
Fatan hanya bisa memeluk Amira,
Dengan satu penyesalan yang terlambat:
Seharusnya ia tidak mengatakan itu.
Seharusnya ia tidak membiarkannya pergi.
Namun kini
Semua kata
Sudah tidak berarti lagi.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?