NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

***

Suara bising klakson Jakarta di luar sana terasa begitu jauh dari dalam kamar hotel mewah di kawasan Sudirman ini. Mayang Puspita Sari berdiri mematung di atas karpet bulu yang tebal, meremas pinggiran daster sutra tipis yang baru pertama kali ia kenakan.

Di atas nakas, sebuah amplop cokelat berisi uang muka ratusan juta rupiah tergeletak diam. Baginya, itu bukan sekadar kertas; itu adalah napas buatan untuk adiknya yang sedang terbaring lemah di bangsal RSUD, dan atap yang kokoh untuk ibunya di kampung.

  Pintu kamar terbuka dengan bunyi klik yang halus. Seorang pria masuk. Aris Raditya—pengusaha yang menyewanya—tampak dingin, namun matanya memancarkan rasa lapar yang terukur.

  "Kau sudah baca kontraknya sekali lagi, Mayang?" suara Aris rendah, menggetarkan keheningan ruangan.

  Mayang menelan ludah, menatap pria itu dengan gemetar. "Sudah, Tuan."

  "Tidak ada cinta. Tidak ada klaim atas bayi ini nantinya. Hanya transaksi. Kau setuju?"

  "Saya setuju," bisik Mayang. Ia tahu, di balik kata 'setuju' itu, ia baru saja menyerahkan kedaulatan atas tubuhnya sendiri.

  Aris mendekat, langkah sepatunya tak terdengar di atas karpet. Ia berhenti tepat di depan Mayang. Aroma parfum kayu cendana dan alkohol mahal menyeruak, membuat kepala Mayang sedikit pening.

  "Jangan takut," ujar Aris, jemarinya menyentuh dagu Mayang, memaksanya mendongak. "Aku membayar mahal bukan hanya untuk seorang ibu pengganti, tapi untuk ketaatanmu."

  Mayang mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Saya akan melakukan apa pun... asal Tuan menepati janji soal pengobatan adik saya."

  Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Semua tagihan rumah sakit sudah lunas hingga enam bulan ke depan. Sekarang, giliranmu melunasi hutangmu padaku."

  Pria itu melepaskan dasinya, membiarkannya jatuh ke lantai. Ketegangan di dalam kamar itu meningkat. Mayang merasakan sensasi aneh; rasa takut yang bercampur dengan keterpukauan. Ia adalah gadis dari desa yang biasanya hanya melihat pria seperti Aris di layar televisi. Kini, ia berada dalam jangkauan napasnya.

  "Duduklah di tempat tidur," perintah Aris.

  Mayang menurut, tubuhnya terasa kaku. Aris duduk di sampingnya, memberikan tekanan pada kasur empuk yang membuat posisi mereka semakin dekat.

  "Kau sangat muda," gumam Aris sembari membelai rambut hitam panjang Mayang. "Kenapa kau memilih jalan ini? Kau bisa saja menjadi buruh pabrik atau asisten rumah tangga."

  "Buruh pabrik tidak bisa membayar biaya operasi jantung dalam semalam, Tuan," jawab Mayang jujur, suaranya sedikit bergetar. "Kota ini tidak ramah pada orang jujur yang miskin. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."

  Aris terdiam sejenak, menatap mata Mayang yang jernih namun penuh duka. "Setidaknya kau jujur pada dirimu sendiri. Aku suka itu."

  Ia mulai mendekatkan wajahnya. Mayang bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. Refleks, Mayang memejamkan mata.

  "Buka matamu, Mayang," bisik Aris tepat di depan bibirnya. "Aku ingin kau melihat siapa yang memberikanmu kehidupan baru ini. Aku ingin kau ingat setiap detiknya."

  **

  Malam itu, Jakarta di luar jendela tampak seperti hamparan berlian, namun di dalam kamar hotel ini, Mayang merasa seperti kurban yang sedang menunggu takdir. Pintu berderit halus, dan Aris Raditya melangkah masuk. Ia tidak tersenyum; matanya hanya mengunci sosok Mayang yang gemetar di tepi ranjang.

  "Kau sudah siap, Mayang?" Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang bergema di ruangan yang sunyi.

  Mayang hanya mampu mengangguk pelan. Aris mendekat, setiap langkah sepatunya di atas karpet terasa seperti detak jantung Mayang yang berpacu liar. Saat tangan Aris yang besar dan hangat menyentuh pundaknya yang polos, Mayang tersentak.

  "Tolong... pelan-pelan, Tuan," bisik Mayang dengan suara yang hampir hilang. "Saya... saya belum pernah..."

  Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mencengkeram rahang Mayang, memaksanya menatap mata yang penuh dengan ambisi dan gairah gelap itu. Aris melihat ketakutan murni di sana, dan entah mengapa, kerapuhan Mayang justru membuatnya semakin kehilangan kendali. Ia tidak menginginkan kelembutan; ia menginginkan kepatuhan total.

  Ketika Aris mulai mengklaim apa yang telah ia beli dengan harga mahal, Mayang merasakan dunia seolah runtuh. Rasa sakit yang tajam dan tak terduga menghujam tubuhnya yang masih sangat muda. Ia merintih, sebuah suara parau yang penuh dengan kepedihan dan keterkejutan.

  "Sakit... Tuan Aris, sakit..." Mayang terisak, jemarinya mencengkeram sprei sutra hingga buku-bukunya memutih. Air mata mengalir deras, membasahi bantal mewah yang terasa asing di pipinya.

  Namun, rintihan itu justru seperti bensin yang menyiram api di dalam diri Aris. Ia tidak berhenti. Semakin Mayang menunjukkan kerapuhannya, semakin Aris menjadi "gila" dalam dominasinya. Ia menginginkan setiap jengkal tubuh Mayang tahu siapa pemiliknya sekarang.

  "Rintihlah sesukamu, Mayang," desis Aris di telinganya, napasnya memburu dan panas.

  "Biarkan rasa sakit itu mengingatkanmu bahwa mulai detik ini, hidupmu bukan lagi milikmu. Kau adalah milikku."

  Di tengah badai rasa sakit yang menderanya, ada sesuatu yang mengerikan mulai tumbuh di benak Mayang. Di antara perih dan isak tangis, ia merasakan kekuatan Aris yang begitu besar. Ia menyadari bahwa pria ini bisa menghancurkannya, namun juga bisa menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan yang mencekik.

  ****

  bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!