Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Ganethaa berada di kamar apartemennya. Ia baru saja pulang dari markas Costa Nostra, markas peninggalan mendiang kakek buyutnya. Sejak seluruh keluarganya dibantai oleh musuh keluarga mereka, Ganethaa berubah menjadi sosok yang dingin, seolah tak berhati, bahkan lebih kejam dari sebelumnya. Satu-satunya keluarga yang tersisa hanyalah Daddy Casey, yang memilih tinggal di luar negeri.
Ganethaa mewarisi alter ego milik mendiang neneknya, yaitu Winter dan Red. Demi melindungi Ganethaa Hana rela melepaskan Winter dan Red ke tubuh Ganethaa.
Saat sedang bersantai membaca sebuah novel, ia merasa kesal terhadap tokoh figuran di dalam cerita itu yang selalu ditindas dan difitnah oleh saudara perempuannya—lebih tepatnya, anak pungut di keluarga tersebut.
Tanpa sadar, Ganethaa tertidur. Ketika ia terlelap, ia justru terbangun di dalam dunia novel yang sedang dibacanya.
“Anjing, gue di mana nih?”
Saat kedua matanya terbuka, Ganethaa langsung melihat sekelilingnya dengan waspada.
“Akhirnya anak pembawa sial bangun juga,” ucap Langit, kakak keduanya.
“Kenapa nggak sekalian mati aja sih?” lirikan sinis Bintang, kakak pertamanya, terasa menusuk.
“Harusnya lo ucapin terima kasih sama Elara. Dia yang udah nyelamatin lo,” kata Senjanu, kakak ketiganya, dengan nada ketus.
“Mm… udah, Bang. Kasihan Kak Nebula, dia baru saja bangun,” ucap Elara polos.
Ganethaa mengernyit. “Nebula? Kalian siapa sih? Ini di mana? Gue nggak kenal kalian, apalagi sama yang namanya Nebula. Nebula itu planet, kan?”
Nada suaranya meninggi.
Perkataan Ganethaa membuat mereka semua terdiam kaget.
“Halah, nggak usah pura-pura anemia deh,” celetuk Langit.
“Amnesia, Ngit…” Bintang menggeleng tipis, membetulkan.
“Nah itu maksud gue. Lo mau drama lagi, kan? Kita nggak bakal kemakan drama lo,” sambung Langit ketus.
“Dih, siapa yang lagi main drama, hm?” sela Ganethaa tak kalah tajam.
“Udah, kalian jangan ribut. Kasihan kak Nebula, pasti dia pusing dengerin kalian berdebat,” ucap Elara lembut.
“Gue nggak perlu dikasihani,” balas Ganethaa dengan nada sedikit tinggi.
“Hiks… hiks… kenapa lo bentak gue, Kak? Gue kan cuma—”
Ucapan Elara terpotong oleh Senjanu.
“Lo beraninya bentak Elara, La? Dia adik lo! Lo benar-benar nggak tahu diri ya!” emosi Senjanu memuncak.
Ganethaa sama sekali tidak mendengarkan ocehan mereka yang terus memarahinya. Fokusnya justru tertuju pada seluruh ruangan di sekelilingnya. Tatapannya menyapu setiap sudut—dinding berornamen klasik, tirai panjang menjuntai, hingga ranjang besar dengan ukiran mewah.
Semua terlihat… familiar.
Ia mencoba mengingat sesuatu. Detik berikutnya, matanya langsung melotot.
‘Gila… gue masuk ke dalam novel murahan itu?’
Kepalanya menggeleng pelan, seolah berusaha menyangkal kenyataan.
Namun gerak-geriknya tak luput dari perhatian Langit.
“Dia mulai gila gara-gara tenggelam di kolam renang. Ck ck,” ucap Langit sambil berdecak kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ganethaa termenung di dalam kamar milik Nebula, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setahunya, ia tadi sedang bersantai di kamar apartemennya sendiri sambil membaca novel itu. Tidak ada tanda-tanda aneh sebelumnya.
“Shit! Ini semua gara-gara novel itu… argh! Ngapain juga gue baca cerita nggak jelas begitu? Ghina, lo bikin gue terjebak di dalam novel! Dan parahnya lagi, gue jadi tokoh figuran yang lemah. Sial!” teriaknya frustrasi.
Untung saja kamar itu kedap suara, sehingga tidak ada seorang pun di luar yang mendengar teriakannya.
Ganethaa berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah cermin full body di sudut ruangan. Ia menatap pantulan tubuh Nebula dengan ekspresi tak puas.
“Aish… kenapa kurus banget sih? Lo dikasih makan nggak sama orang tua lo?” gumamnya kesal. “Kalau begini terus, gampang banget diinjak-injak. Gue harus latihan, perbaiki stamina, dan makan yang benar. Nggak bisa lemah kalau mau bertahan di sini.”
Tatapannya berubah serius.
Jika takdir memaksanya masuk ke dunia ini sebagai Nebula—tokoh figuran yang selalu ditindas—maka ia akan menulis ulang peran itu dengan caranya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ganethaa mencoba mengingat kembali setiap adegan tentang Nebula di dalam novel itu.
Nebula dulunya adalah gadis yang sangat cantik dan cukup pintar. Ia dikenal anggun, pendiam, dan tidak pernah mencari masalah. Namun sejak kedatangan Elara sebagai anak pungut di keluarga mereka, hidup Nebula perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Segalanya berbalik.
Perhatian orang tua mereka yang dulu tertuju pada Nebula mulai beralih sepenuhnya pada Elara. Apa pun yang terjadi, Nebulalah yang selalu disalahkan. Kedua orang tuanya tak lagi mendengarkan penjelasannya, sementara ketiga kakaknya ikut memandangnya dengan sinis, seolah ia memang sumber segala masalah.
Elara sangat pandai memainkan peran. Dengan wajah polos dan air mata yang mudah jatuh, ia mampu memanipulasi keadaan sehingga semua orang selalu berpihak padanya. Setiap kesalahan yang ia buat bisa berbalik menjadi tuduhan untuk Nebula.
Bahkan satu-satunya orang yang pernah membuat Nebula berharap—crush yang diam-diam ia sukai—juga akhirnya direbut oleh Elara. Dalam cerita, momen itu menjadi titik di mana Nebula benar-benar kehilangan semangatnya.
Mengingat semua itu, rahang Ganethaa mengeras.
“Lemah banget…” gumamnya pelan, entah pada Nebula atau pada alur cerita itu sendiri.
“Jadi gue ngalamin apa yang pernah nenek alami juga..”
Namun kali ini berbeda.
Tokoh figuran yang dulu hanya bisa menangis dan diam…
sekarang dihuni oleh Ganethaa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pun tiba.
Ganethaa melangkah masuk ke ruang makan dengan langkah tenang. Wajahnya datar, tatapannya dingin, tanpa emosi berlebih. Tidak ada kepanikan. Tidak ada usaha membela diri. Hanya diam.
Ia menarik kursi dan duduk tanpa sepatah kata pun.
Kedua orang tuanya sempat saling berpandangan.
“Sudah baikan?” tanya Mama singkat, berharap ada respons seperti biasanya—entah tangisan atau keluhan.
Namun Nebula hanya mengangguk tipis.
Langit mengernyit. “Tumben nggak ngomel.”
Tidak ada jawaban.
Bintang menyipitkan mata. “Biasanya paling ribut kalau merasa disalahkan.”
Tetap hening.
Ganethaa memotong makanannya perlahan, gerakannya rapi dan tenang. Sikapnya bukan seperti orang yang tertekan—melainkan seperti seseorang yang sedang mengamati.
Senjanu akhirnya bersuara, “Lo kenapa?”
Nebula mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya datar.
“Nggak kenapa-kenapa.”
Jawaban singkat. Dingin. Tanpa penjelasan.
Ketiga kakaknya saling bertukar pandang. Bahkan kedua orang tuanya terlihat kebingungan dengan perubahan sikap itu. Tidak ada pembelaan diri, tidak ada emosi, tidak ada drama seperti biasanya.
Di sisi lain meja, Elara tersenyum kecil seperti biasa. “Kak Nebula… soal kejadian di kolam tadi, aku benar-benar nggak sengaja…”
Biasanya, di bagian ini Nebula akan langsung terpancing.
Namun kali ini—
“Hmm,” hanya itu responsnya.
Singkat. Tidak peduli.
Sendok Elara berhenti bergerak sepersekian detik.
Di bawah meja, jemarinya mengepal kuat. Kukunya hampir menancap ke telapak tangannya sendiri.
Ia tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan.
Tidak ada ledakan emosi.
Tidak ada tuduhan yang bisa dipelintir.
Tidak ada air mata yang bisa ia manfaatkan.
Ganethaa tetap makan dengan tenang, seolah Elara hanyalah suara latar yang tidak penting.
Langit berdecak pelan. “Aneh banget.”
Bintang mengangguk tipis. “Kayak orang beda.”
Senjanu menatap tajam, mencoba membaca sesuatu di mata Nebula—tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang asing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Ganethaa...
...Langit...
...Bintang...
...Senjanu...
...Elara...
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
ditunggu ya kelanjutannya author
makini seru nii
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author 🥰