NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kulkas Dua Pintu

Pukul 06.00 pagi, bagi Aruna ini adalah waktu bagi Aruna untuk menarik selimut lebih tinggi dan berpura-pura kalau matahari belum terbit. Namun bagi pria di balik tembok sebelah, ini adalah waktu eksekusi.

TAK! TAK! TAK!

Suara ketukan logam yang ritmis.menghantam pagar besi sukses menembus mimpi Aruna. Dengan nyawa yang baru terkumpul sepuluh persen, Aruna menyimak gorden jendela kamarnya. Di sana, di balik pagar pembatas yang hanya setinggi dada, berdirilah sang "Diktator Kompleks":Gavin.

Pria itu berdiri tegak dengan kaos polo putih yang sangat rapi ( bahkan barangkali disetrika dengan penggaris) dan jam tangan yang menunjukkan presisi waktu yang mengerikan.

"Mbak Aruna," suara bariton Gavin terdengar datar, namun penuh tuntutan. "Bisa kira bicara tentang sampah organik Anda?"

Aruna membuka jendela dengan kasar. Rambutnya seperti singa, matanya masih lengket. "Mas Gavin, ini jam enam pagi, dan itu bukan sampah, itu daun mangga yang jatuh secara alami mengikuti hukum gravitasi Newton."

Gavin menunjuk ke lantai carportnya yang mengkilap dengan ujung payung yang ia pegang. Di sana tergeletak selembar -hanya selembar- daun kering yang malang.

"Satu daun adalah awal dari kumuh, Mbak. Hukum Newton tidak berlaku di area parkir saya. Saya minta pohon Anda di pangkas sepuluh sentimeter ke arah kiri agar tidak melewati garis batas imajiner teritorial saya."

Aruna melongo, "garis imajiner, Mas? Anda ini tetangga saya atau penjaga perbatasan Korea Utara?"

Gavin tidak tersenyum. Ia justru mengeluarkan sebuah pengukur laser dari saku celananya. Titik merah laser itu menempel tepat di batang pohon mangga Aruna.

"Sepuluh sentimeter, Mbak. Atau saya yang akan memangkasnya dengan surat peringatan dari Pak RT?"

Grup WhatsApp "Warga Perumahan Harmoni" (Tanpa Admin Galak).

Aruna: Ada yang punya rekomendasi dukun santet yang spesialis bikin orang pindah rumah dalam 1×24 jam?

Pak RT: Waduh, Mbak Aruna. Pagi-pagi sudah cari dukun. Ada masalah sama Mas Gavin lagi?

Bu Tejo (Blok C) : Sabar Mbak Runa, Mas Gavin itu sebenarnya baik, cuma ... ya. Agak "garis keras" soal kebersihan. Kemarin kucing saya dipakaikan hand sanitizer gara-gara masuk ke teras dia.

Aruna melemparkan ponselnya ke kasur. Ia harus melakukan sesuatu. Jika Gavin menginginkan perang wilayah, maka Aruna akan memberinya festival.

Satu jam kemudian Aruna keluar rumah dengan pakaian olah raga paling cerah yang ia punya. Ia menyalakan speaker Bluetooth dengan volume yang cukup untuk membuat burung-burung di pohon mangganya kaget, lalu mulai menyiram tanaman sambil bernyanyi sumbang.

Tepat saat itu, pintu rumah sebelah terbuka. Gavin keluar dengan kemeja kerja yang sangat licin, siap berangkat. Ia berhenti mematung, menatap Aruna yang sedang asyik menyiram - dan "tidak sengaja" mengarahkan air ke arah pembatas hingga menciprat ke sepatu pantofel Gavin yang kinclong.

Gavin menatap sepatunya yang basah, lalu menatap Aruna. Rahangnya mengeras.

"Mbak Aruna," desisnya. "Anda baru saja mendeklarasikan perang terbuka."

Aruna tersenyum manis, sangat manis sampai giginya terlihat semua. "Oh, maaf Mas. Airnya juga mengikuti hukum gravitasi. Mau saya lap pakai daun mangga?"

Gavin tidak bergeming sedikitpun saat air dari selang Aruna membasahi sepatu kulitnya yang seharga tiga kali cicilan motor itu. Ia hanya menarik napas panjang, mengeluarkan saputangan dari saku - yang tentu saja dilipat simetris- dan melap cipratan itu dengan gerakan sangat tenang . Ketenangan yang justru membuat Aruna merinding.

"Mbak Aruna," Gavin bicara tanpa menoleh, matanya fokus pada ujung sepatunya. "Anda tahu apa perbedaan orang dewasa dan anak kecil?"

Aruna mematikan keran air lalu berkacak pinggang. "Apa? Orang dewasa nggak ribet soalnya daun mangga?"

" Bukan," Gavin menoleh. Menatap Aruna dengan tatapan auditor yang sedang menemukan selisih satu rupiah. "Orang dewasa tahu konsekuensi. Dan konsekuensi dari mengganggu jadwal saya pagi ini adalah.... Laporan Gangguan Ketertiban Lingkungan."

Aruna tertawa remeh. "Laporin aja! Paling Pak RT cuma ketawa."

Gavin hanya mengangkat bahu. Lalu masuk ke mobilnya dengan gerakan efisien. Saat mobilnya keluar perlahan dari carport, ia menurunkan kaca jendela dan berkata, "Oh satu lagi, Speaker Bluetooth Anda? Frekuensi Bass-nya meresonansi kaca jendela saya. tolong turunkan dua desibel, atau saya akan memasang peredam suara di sepanjang pagar kita? Tagihannya aka saya kirim ke email Anda."

Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Aruna yang sedang mengacungkan jempol terbalik ke arah knalpot.

"Dasar Kulkas dua pintu." Teriak Aruna.

Sore harinya, Aruna baru saja ingin memulai sketsa pesanan klien, ketika pintunya diketuk dengan irama yang sangat spesifik. Tok. Tok Tok. Tok. Sangat metodis.

Aruna membuka pintu dan menemukan sebuah amplop coklat besar di atas keset. Tidak ada orang di sana. Saat ia membukanya, isinya bukan surat dari Pak RT, melainkan sebuah Denah lampiran teknis.

Di dalamnya Gavin telah mencetak foto satelit rumah mereka dari Google Maps. Gavin memberi garis merah tebal pada pohon mangga Aruna, lengkap dengan perhitungan sudut kemiringan dahan dan tabel estimasi jumlah daun yang jatuh perhari berdasarkan kecepatan angin rata-rata di daerah mereka

Di bagian bawah ada catatan tulisan tangan yang sangat rapi - hampir mirip tulisan mesin ketik.

Data tidak berbohong Mbak Aruna. Efisiensi sapu saya berkurang 15% sejak dahan Anda melewati koordinat 106.8⁰ BT. Selesaikan secara kekeluargaan (potong pohonnya) atau secara administratif -GA (Tetangga Anda yang sah secara hukum).

Aruna meremas kertas itu dengan gemas. "Oke, Mas kaku. Kamu mau main data? aku bakal kasih kamu drama."

Malam itu, Aruna sengaja tidak memotong pohon mangganya. Sebaiknya ia malah menggantungkan belasan lonceng angin yang sangat berisik di dahan yang menjorok ke rumah Gavin. Setiap kali angin bertiup, rumah Gavin akan terdengar seperti kuil di pegunungan yang sedang mengadakan festival besar.

Aruna tidur dengan senyum kemenangan. Namun, ia lupa satu hal, Gavin adalah pria yang tidak pernah datang ke medan perang tanpa rencana cadangan.

Pukul dua dini hari, Aruna terbangun bukan karena bunyi lonceng anginnya, melainkan karena keheningan yang janggal. Biasanya angin malam akan membuat lonceng-lonceng di pohon mangganya berdenting riuh, sebuah simfoni kemenangan yang ia tujukan khusus untuk telinga sensitif Gavin.

Namun, malam ini sunyi senyap. Karena penasaran, Aruna mengintip dari balik jendela lantai dua. Di bawah temaram lampu jalan, ia melihat sebuah bayangan tinggi berdiri di dekat pagar pembatas. Itu Gavin.

Pria itu mengenakan piyama satin berwarna biru gelap - yang bahkan dalam kegelapan pun terlihat sangat rapi- dan sebuah tangga lipat aluminium . Dengan gerakan yang sangat efisien dan nyaris tanpa suara, Gavin sedang melakukan sesuatu pada lonceng-lonceng angin Aruna.

"Hei! Sedang apa kamu?" tanya Aruna sambil membuka jendela kamarnya lebar-lebar.

Gavin mendongak. Lampu senter kecil yang ia gigit di mulutnya menyoroti langsung ke wajah Aruna, membuat gadis itu silau. Gavin melepas senter itu, mematikannya, lalu menjawab dengan nada sedatar operator bank.

"Saya sedang melakukan audit kebisingan, Mbak Aruna. Lonceng-lonceng ini menghasilkan frekuensi yang nggak sinkron. Sangat mengganggu pola tidur REM (Rapid Eye Movement) saya.

Aruna segera berlari turun, membuka pintu depan, dan menghampiri pagar dengan emosi yang meledak-ledak. "Itu properti pribadi! Kamu nggak berhak menyentuhnya!"

Gavin turun dari tangga dengan gerakan tenang. "Saya tidak merusakkan, saya hanya menyisipkan potongan busa kecil di dalam setiap lonceng agar suaranya teredam, namun estetikanya terjaga. Anda dapat visualnya, saya dapat ketenangannya. win-win solusinya."

"Gavin! Kamu benar-benar... ugh!" Aruna menghentakkan kakinya ke tanah. "Kamu itu manusia apa robot sih? Apa nggak ada sedikitpun spontanitas di hidup kamu?"

Gavin melipat tangannya dengan sekali sentakan klik yang mantap. Ia menatap Aruna lurus-lurus. Jarak mereka hanya terhalang pagar setinggi dada. Untuk pertama kalinya, Aruna menyadari bahwa dalam jarak sedekat ini, wangi sabun Gavin sangat maskulin dan menenangkan, berbeda dengan sifatnya yang menyebalkan.

"Spontanitas adalah bentuk lain dari kurangnya persiapan, Mbak Aruna," ujar Gavin pelan. "Dan saran saya, besok-besok kalo mau pasang jebakan, pastikan Anda tidak pakai piyama bergambar wortel yang sudah bolong di bagian bahu itu. Sangat tidak intimidatif."

Gavin berbalik, menenteng tangganya, dan masuk ke rumahnya tanpa berbalik lagi.

Aruna mematung. Ia menunduk dan baru menyadari kalo dia memang memakai daster tipis gambar wortel kesayangannya yang memang sudah robek kecil di jahitan bahu.

Wajah Aruna memanas. Merah padam. "GAVIN! LIHAT SAJA BESOK! AKU AKAN BELI DRUM SATU SET!"

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!