Kiara di titipkan pada keluarga Hasirama oleh ayahnya yang menghilang secara tiba-tiba.
di sana, di keluarga kaya yang hidup di rumah layaknya istana, dia bertemu dengan empat pangeran pewaris Tahta.
Ferdian Wiranegara
Ryan Adhitama
Nicolas Byrne Rider
Kean Windasta
Empat pria yang memiliki karakter bertolak belakang satu sama lain. Apa yang akan terjadi di istana itu selanjutnya?
disclaimer : Karakter terinspirasi dari ©Masashi Kishimoto. Cover milik Google. Namun kisah ini adalah karya Orisinil Author tanpa plagiat atau mencomot dari kisah manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vita Anne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. A Letter
21 Mei 2019
Hujan turun sangat deras. Di sana, di sudut jalan yang menyisakan garis antara tebing tinggi. Dua orang pria bersimbah darah tak sadarkan diri di dalam sebuah mobil yang rusak berat.
Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan menuju kota Cianjur.
Mobil yang ringsak itu telah hancur dengan dua orang pria kritis di dalamnya.
Derasnya hujan menyapu darah yang mengalir dari sela-sela pintu mobil yang hancur.
...°°°...
'Kecelakaan hebat terjadi pada dua orang menantu dari Pemilik Senha. Hasirama Senju. Mengakibatkan Korban tewas di tempat. Investigasi atas penyebab kecelakaan sedang berlangsung...'
'Klik!'
Dirga Adian menekan tombol power pada remot TV yang ada di tangannya.
Di depan~nya duduk Pak Hasirama yang sedang berpikir dengan serius. Pria tua itu duduk di kursi kerjanya yang besar di kantor pusat. Dia adalah pendiri perusahaan Senha. Perusahaan besar yang bisnisnya tersebar di berbagai lini perekonomian di Indonesia. Bisnisnya meliputi Manufaktur, properti, Hospitality dan juga industri Food And Beverage
"Maaf pak!" Ucap Dirga dengan tegas.
Hasirama Senju mengangkat wajahnya.
"Sudah seminggu lebih sejak kejadian itu. Tapi beritanya masih terus tersebar di beberapa stasiun TV. Apa kita perlu mengirim beberapa permintaan lagi pada mereka untuk berhenti membahas kecelakaan itu?" Sambung Dirga lagi.
"Tragedi tidak akan bisa di tutupi. Saya tidak punya kuasa untuk menghentikan semua begitu saja! Meski kita bungkam Media. Tapi, orang bisa dapat Berita dari mana saja, Dir. Berita terlanjur tersebar luas. Semua ingin tahu apa yang terjadi. Begitu juga saya. Saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Menantu-menantu saya yang malang." Sahut pria tua itu sembari memejamkan matanya dan dia menghembus nafas berat.
Dirga tidak bisa menjawab perkataan bosnya. Dia tahu, bukan ranahnya untuk ikut terlibat dalam urusan perasaan pria tua itu.
"Saya akan melanjutkan pekerjaan saya, Pak!"Dirga menunduk pelan, lalu beranjak pergi dari hadapan pak Hasirama.
Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari bibirnya. Dirga Adian, Pria paruh baya yang sudah mengabdikan hampir separuh hidupnya di sini. Di sisi keluarga besar Hasirama.
Pria tua itu tidak menjawab lagi ketika Dirga beranjak pergi. Dia kembali menghembus nafas panjang dan merebahkan kepalanya yang sudah beruban ke sandaran kursi besar di belakangnya.
Apa yang sudah terjadi belakangan ini mengganggu pikirannya. Kecelakaan yang terjadi tiba-tiba merengut kedua orang menantu kesayangannya. Meski dia tetap bersyukur anak-anaknya tidak ikut dalam perjalan bisnis itu.
Pak Hasirama menghembus nafas kasar. Di masa Tuanya, dia bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang.
...°°°...
Seorang anak perempuan yang membawa beberapa buku di pelukannya berlari dengan lincah menuju sang Ayah. Senyum merekahnya bahkan telah terukir dari kejauhan.
Matanya yang cerah bersinar terang di bawah teriknya mentari. Rambut nya yang hitam menguar dengan indah ketika ketukan langkah kakinya membawa udara melewati helai-helainya yang beterbangan.
Gadis itu melambaikan tangan antusias. Melihat sang ayah sedang menunggu di luar gerbang kampus. Di sebelah mobil hitamnya yang terparkir di sisi jalan.
"Papa!" Pekik gadis itu. Dia berlari cepat menghampiri sang ayah.
"Hei, Jangan lari dong, nanti jatuh!"Sahut sang Ayah khawatir. Anak gadis kesayangannya ini memang sedikit unik.
Ayah dan anak perempuan itu saling memberi sapa dengan melakukan High Five dengan kepalan tangan.
"Lama nunggu ya?" Tanya Kiara dengan matanya yang berbinar.
Kiara Larasari Adian. Dia adalah gadis yang selalu ceria. Wajahnya selalu merekah bahagia bagai bunga.
Tidak ada yang bisa membuatnya menyerah. Meski beberapa hal dalam hidupnya kadang memaksa dia untuk tetap tabah.
"Papa udah sepuluh menit nunggu kamu! Jadwal Papa jadi berantakan nih karena kamu!" Gerutu Dirga seraya melihat jam di tangan kirinya.
Kiara menggandeng lengan sang Ayah.
"Maaf ya!"Sahutnya tidak enak hati. Lalu kemudian dia merubah raut wajahnya agak kesal."... Aku biasa nunggu Papa yang terlambat tiga puluh menit. Ini baru sepuluh menit, seharusnya gak masalah kan?"Ucap gadis itu seraya memajukan bibirnya.
"Iya deh! iya, maafin Papa, Oke!" Sahut Dirga yang akhirnya mengalah.
"Aku lapar! Bisa gak kita makan sekarang?"Tanya Kiara sembari mengusap perutnya yang keroncongan.
"bisa dong! Kamu mau makan apa sebagai ganti karena Papa sering buat anak perempuan nya yang paling cantik ini nunggu? Papa akan beliin semuanya buat kamu." Sahut Dirga lagi.
"Papa traktir ya?"
"Pasti dong! Emang siapa lagi yang akan ngasih kamu makan kalo bukan Papa mu ini." Sahut pria itu sarkas.
"Tentu hanya papa ku yang hebat ini, lah!" Sahut Kiara bergelayut manja pada lengan sang Ayah."Tapi kalo Mamah, dia biasa suapin aku juga dulu!" sambung gadis lagi itu dengan manja.
"kamu mau Papa menyuapi kamu juga, gitu? Nambahin daftar kerjaan Papa dong kalo gitu? Aduh, padahal Papa dah sibuk banget!" gerutu sang Ayah lagi.
"Bukannya Itu juga tugas seorang 'Papa kan'!? Ngasih makan anaknya Pa!" sindir Kiara.
"Kamu pintar ngomong kayak Mama mu!" sahut sang ayah mencubit hidung putrinya.
"Aku anak Papa yang terlahir dari Mama, pantas aku terlihat seperti Mama kan?" Sahut gadis itu lagi."Ahh... Untuk nyekar ke makam Mama___"
Kiara terus bicara dengan sang Ayah. Sosok Ibu memang sudah meninggalkannya sejak gadis itu duduk di bangku sekolah dasar. Hingga dia menjadi sangat dekat dengan sang Ayah.
Bagi Kiara, kehadiran Dirga sudah cukup menjadi pelengkap hidupnya yang sederhana. Dan dia, tidak memerlukan apapun lagi untuk membuat semuanya terasa lebih indah.
...°°°...
9 Juni 2022
Tiga tahun berlalu tanpa ada titik terang Atas tragedi kecelakaan malam itu. Malam di mana hujan merengut nyawa kedua menantu kesayangan~nya.
Hashirama Senju termenung di atas meja kerja~nya sebelum dia mulai membuka suaranya untuk bicara.
"saya hanya percaya padamu, Dir! Saya berharap kebenaran akan segera terungkap. Selama tiga tahun lebih kasus ini bergulir tidak ada titik terang. Saya tahu apa yang terjadi tiga tahun lalu bukan kecelakaan biasa. Ada orang-orang yang merencanakan hal buruk pada keluarga saya. Sekarang, saya harap kamu bisa lakukan tugas mu dengan baik. Dan jangan kecewakan saya."
Ucap pria tua itu pada Dirga yang tidak bisa berkata-kata. Pria itu jelas tidak bisa menolak permintaan bosnya. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Putrinya, adalah hal terberat yang menjadi pertimbangannya jika dia harus berkerja di tempat yang jauh. Dia berada di posisi yang sulit.
Hashirama menyadari apa yang ada di pikiran Dirga. Pria itu tidak bisa menjawab perintahnya. Dirga hanya terdiam seraya termenung sesaat di hadapan Bosnya.
Hashirama sangat tahu pria ini bukan orang yang akan lari dari tugas atau tanggung jawab. Dan dia tahu bagaimana hidup pria itu bersama putrinya.
"Saya akan jaga putri mu. Saya akan bawa dia ke rumah keluarga Hashirama. Lagi pula, Saya sudah merencanakan untuk menjodohkan putrimu dengan salah satu cucu keluarga Hashirama. Tentunya, Jika kamu mengizinkan, Dir! Bagaimana?" ucap pak Hashirama sembari membaca beberapa Map di depannya.
Dirga mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut penuh tanya.
Apa yang dia dengar barusan salah bukan?
"Pak?! Anda pasti salah bicara kan?" Ada tanda tanya di wajah pria itu mendengar ucapan pak Hashirama tadi.
Pria tua itu juga belum kehilangan kewarasannya kan?
Hashirama terkekeh melihat tanda tanya di wajah Dirga.
"Kenapa? Putrimu tumbuh dengan baik. Saya juga ikuti perkembangannya sejak lama. Dan saya udah mengenalnya dengan baik sejak terakhir kita bertemu dulu. Saya sudah merencanakan semuanya sejak lama, kok!"Hashirama menangkap wajah keberatan dari Dirga ketika pria itu tidak menjawab sepatah katapun atas permintaannya."... Saya tahu! Pasti gak mudah untuknya bisa di terima di rumah saya, Tapi jangan khawatir. Selama saya masih hidup, Saya akan melindungi putri mu di sana, bagaimana?"
Jelas pria tua itu panjang lebar. Namun wajah Dirga berkata lain. Dia tidak terlihat senang atau menunjukan expresi lain kecuali hanya kekhawatiran yang tergambar di wajahnya.
"Tapi, Pak! Cucu-cucu anda..." Dirga menghentikan kata-katanya. Dia menimbang kata yang Pantas untuk menggambarkan cucu-cucu pak Hashirama. Ada nada keberatan di balik suara pria itu yang kini bicara terbata.
Di banding dia harus bersyukur dengan rencana bosnya. Dia lebih memilih untuk mengkhawatirkan nasib putrinya nanti. Dia tahu persis bagaimana perangai keempat cucu keluarga Hashirama ini. Dia tidak ingin putrinya menderita di sana.
"Jangan khawatir! saya akan menjamin keselamatan putri mu! Apa kamu mau pria tua ini yang melakukan tugas mu untuk pergi sejauh itu? Apa kamu tega?"
Meski ada keraguan yang besar di kepalanya. Dirga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya akan mencoba untuk percaya apa yang bosnya katakan.
...°°°...
Kiara menangis seorang diri seraya terus meruntuki nasibnya. Meski banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.
Setelah membaca surat panjang dari sang ayah. Pria itu pergi begitu saja tanpa kata-kata perpisahan atau penjelasan tentang apa yang terjadi.
Dia hanya meninggalkan sebuah surat di sana. Di atas meja belajar Kiara.
Sayang,
maafin Papa karena gak bisa bicara sama kamu secara langsung.
Karena kalo Papa lakuin itu. Kamu pasti akan berlari ngejar Papa dan ikut kemana pun Papa pergi.
Papa mau kamu tetap di Jakarta dan hidup dengan baik. Maafin Papa gak bisa ngasih tahu kamu kemana Papa pergi. Lagi-lagi karena Papa tahu. Kamu gak akan tinggal diam. kamu bakal terus cari Papa mu ini dan melupakan hidupmu sendiri.
Jangan khawatir sama Papa ya! Papa akan segera kembali setelah semuanya selesai. Papa akan telepon kamu nanti setelah kamu tenang. Karena Papa tahu mungkin kamu akan marah-marah dan maksa ikut sama Papa yang lagi kerja.
Besok, Sekretaris Pak Hashirama akan jemput kamu. Kamu akan tinggal di rumahnya selama Papa pergi. Dia akan jagain kamu dengan baik. Jangan khawatirin Papa. Papa akan cepet kembali.
~Papa Dirga~
Kiara mengusuk kertas itu dalam genggamannya.
Gimana bisa? Gimana bisa Papa pergi gitu aja? Apa yang sebenarnya terjadi?
Tobe Continued