Arabela, terpaksa harus berlapang hati menerima kenyataan pahit. Perempuan cantik itu harus rela meninggalkan sang kekasih demi menuruti perintah keluarga untuk menikah dengan kakak ipar nya sendiri.
Adila, kakak kandung Arabela meninggal karena melahirkan seorang putri, hingga keluarga memutuskan untuk menikahkan arabela dengan Vano Herlambang,
bagaimana kisah Arabela dengan Vano? apakah mereka menemukan kebahagiaan atau sebaliknya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retmiduski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. awal mula
" sayanggggggggggggg" senyum ku merekah mendengar suara tersebut memanggil ku dengan sebutan sayang
" Andra " tentu aku menyambut pelukan hangat dari nya
" Kamu dari mana aja sih, lama banget tau " ujar ku mengeluh kepada pria sederhana yang ada di depan ku ini
" Maaf sayang, tadi ada pelanggan yang buru buru jadi aku harus memperbaiki motor nya yang bocor terlebih dahulu" Kekasih ku Andra , laki laki yang sederhana namun mampu membuat hati ku bergetar. Andra Memiliki sebuah bengkel motor warisan dari almarhum ayah nya . Memang dia tidak sekaya raya suami mbak Adila mas Vano yang di puji puji oleh papa mama tapi tanggung jawab dan kasih sayang nya tulus kepada ku
Oh ya aku Arabela, gadis dua puluh empat tahun yang baru saja menyelesaikan gelar sarjana di salah satu perguruan tinggi no satu di negeri ini. Aku masih menikmati indahnya jadi pengangguran bukan nya tidak ada pekerja an yang menerima ku, mas Vano sudah menawarkan untuk bekerja di perusahaan nya namun aku menolak karena enggan satu kantor dengan suami Kaka ku sendiri mbak Adila.
" Hmmm sayang aku yakin suatu saat kamu pasti akan menjadi pengusaha bengkel tersukses di kota ini bahkan di negeri ini " ujar ku berdoa tulus untuk nya
" Semuanya itu akan terjadi bila kamu selalu ada di sisi ku Ara " ujar nya dengan senyum dan menampakkan lesung pipi diwajahnya ah Andra kau bertambah tampan saja
" Hahah kamu ini, ada dan tidak ada aku di sisi kamu, kamu harus tetap menjadi orang sukses di kemudian hari " entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibir tanpa aku sengaja
" CK kamu ngomong apa sih sayang, aku ngak mau kita jauh , aku mau kita selalu bersama" aku tahu Andra begitu mencintai ku , begitu pun dengan aku. Meskipun papa mama tidak setuju seratus persen dengan Andra tapi aku yakin lambat laun hati papa mama akan luluh dengan ketulusan nya.
Grrrrr grrrrrr getaran ponsel di dalam tas membuat aku sedikit terkejut
" Papa " aku mengernyit kening , tumben sekali papa menghubungi ku apa mbak Kinan akan melahirkan?
" Halo pap"
"[Kamu dimana Ra? Bisa pulang sekarang, papa mama mau pergi keluar kasihan mbak mu sendiri di rumah dalam keadaan hamil besar ] ujar papa di seberang sana
" Oke siap pa, aku pulang " aku memutuskan sambungan telefon seluler
" Harus pulang sekarang?" Ujar Andra menyelipkan anak rambut di belakang telinga ku
" Iya , papa mama mau pergi, kasihan mbak Dila di rumah sendiri " papa mama tidak akan tenang bila mbak Dila tidak ada yang menemani nya walaupun di rumah sudah ada bik siti asisten rumah tangga
" Ayok aku antar pulang" Andra yang pengertian dan peduli aku semakin jatuh hati kepadanya
"Oke " aku menyambut uluran tangan nya menuju parkir tanaman kota ini.
Dengan memakai helem berwana pink aku menaiki motor metik kesayangan Andra. Motor berwarna hitam dan sedikit motif pink warna kesukaan ku.
" Sampai " Andra menghentikan motor nya di depan rumah dengan senyuman
" Om Tante" sapa Andra kepada mama papa yang berdiri di dekat pintu masuk . Seperti biasa Mama papa hanya mengangguk dan sedikit senyum.
" Oke aku pulang dulu ya" Andra pamit karena Andrs sedikit sadar atas sedikit penolakan yang di berikan oleh mama papa
" Makasih sayang, hati hati di jalan "aku melambaikan tangan ketika motor Andra mulai pergi meninggalkan pagar rumah
" Ngak panas Ra, naik motor Mulu" ujar mama di saat aku sampai di dalam rumah
" Ngak dong ma, orang adem pun karena cinta nya Andra hehehe" ujar ku bercanda, menanggapi celotehan mama. Bukan kali ini saja tapi setiap kali papa mama berucap sedikit sinis, aku selalu menanggapinya dengan santai
" Ara Ara , kamu belum tau aja rasanya berumah tangga jika kekurangan materi nak " ujar mama menggeleng kan kepala sedang kan papa membelai kepala ku seperti anak kecil saja bukan?
" Tenang saja ma, Andra akan menjadi pengusaha sukses kok " jawab aku meyakini mama dengan memeluk papa yang ikut geleng geleng kepala
" Ya sudah sukses dulu baru boleh nikahi kamu, mama papa membesarkan kamu dan mbak Dila penuh perjuangan supaya kalian tidak kekurangan apa pun, mama papa ngak mau suami kamu kelak membawa kamu ikut menderita" ocehan mama untuk keseribu kali nya mungkin hehehe
" CK CK Arabela tidak akan kekurangan materi ma, semua akan tercukupi oleh mas Vano" Mbak Dila yang datang dari dalam kamar nya
" Kenapa harus Vano yang akan mencukupi kebutuhan nya Arabela, itu tidak bagus " jawab papa tidak terima , aneh kenapa mbak Adila tiba tiba berucap seperti itu
" Iya betul yang di ucapkan oleh Dila pah, jika Ara mau menerima tawaran Vano untuk bekerja di salah satu cabang perusahaan nya. Nah masalah nya anak bontot mu ini ngeyel dan keras kepala " ucap mama menengahi, apa betul itu yang di maksud mbak Dila. Ah sudah lah masa bodo tapi memang mbak aku yang satu ini sangat lah beruntung memiliki suami dan keluarga mertua yang sangat baik dan tentunya kata Raya heheheh
" Ya sudah berhubung pembicaraan kita ini tidak akan ada pangkal ujungnya, ayok mah kita berangkat sekarang" ujar papa kepada mama
" Tenang saja pa, akan ada ujungnya kok hehehe pokoknya Ara akan bahagia pah , bersama dengan keponakan nya ini" tunjuk mbak Dila ke perut nya
" Hahahah amin " ujar mama papa serentak, tapi tunggu kenapa aku yang harus bahagia bersama bayi di dalam perut mbak Dila , bukankah seharusnya mbak Dila yang berbahagia bersama anak anak nya kelak ?
Setelah mobil papa mama keluar pagar , mbak Dila mengekori ku hingga ke kamar
" Kamu sangat mencintai Andra?" Tanya mbak Dila seperti mengintrogasi aku
"Sangat dong mbak" jawab ku jujur
" Hmmm cinta itu boleh, tapi di dalam rumah tangga yang di butuhkan tidak hanya cinta cinta cinta , tapi juga butuh materi yang cukup, saling menghargai, pengertian, saling percaya dan komunikasi yang intens " ujar mbak Dila duduk di atas ranjang ku
" Andra memang belum kaya mba tapi selain harta dia sudah memiliki semua yang mbak bilang barusan" bela ku terhadap Andra
" Hmmm mbak percaya itu Ra, nanti mbak titip anak mbak ya Ra" ujar mbak Dila mengelus perut buncitnya
" Mbak mau pergi liburan satu bulan full dengan mas Vano , tidak masalah aku akan menjaga anak mbak dengan baik " ujar ku tersenyum.
Sudah satu bulan mbak Dila berada di rumah kelahiran nya ini. Sedangkan mas Vano masih di kota jakarta, tuntunan pekerjaan tidak bisa membuat nya stay di sini dari awal tapi kata mbak Dila, mas Vano besok pagi sudah on the way ke sini, kota Bandung.
Mbak Dila Memilih melahirkan di sini , karena enggan berjauhan dengan mama papa , mas Vano pun setuju karena yang aku tahu mas Vano begitu mencintai mbak ku yang cantik ini
****
"Aaaaaaaaaaaaa sakit " pekikan dari kamar mbak Dila membuat aku terperanjat kaget, dengan mata yang belum sempurna melek aku berlari menuruni anak tangga dengan cepat
" Cepat hubungi mas mu Ra, mbak kamu mau melahirkan" teriak mama setelah melihat aku menuruni tangga
" Baik mah " dengan cepat kilat aku berlari kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, sungguh aku lupa jika di rumah ini juga memiliki telepon. Aku panik dan aku gugup Mendengar teriakan kesakitan mbak Dila , kenapa malah perut ku yang ikut mules
" Ara, papa mama dan mbak mu duluan ke rumah sakit nanti kamu nyusul bersama mas mu ya, " teriak papa dari bawah
" Iya pah" jawab ku dengan cepat mengotak Atik ponsel di tangan
Yess tersambung " halo mas Vano, itu mbak...."
[ Iya Ra, mas lagi di jalan sebentar lagi sampai rumah . Tapi jangan bilang sama mbak mu ya, karena mas mau kasih kejutan ke mbak Dila, mas sengaja berangkat shubuh biar pagi sampai rumah ] ujar mas Vano tidak membiarkan aku berbicara
" Oke mas , tapi mbak Dila mau melahirkan mas, sekarang udah berangkat duluan ke rumah sakit , mas sebaik nya putar ke rumah sakit saja " cittttttttttttt ucapan ku berhenti di saat mendengar decitan rem mobil di depan rumah
Mas Vano iya itu mobil mas Vano , aku melihat dari jendela kamar .
" Mas Vano" dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari atas hingga ke teras rumah
" Kenapa mas malah bengong begitu, cepat ke rumah sakit " teriak ku kembali setelah melihat kebingungan mas Vano di dalam mobil
" Mas ngak tahu apa yang akan mas lakukan Ra, bunga iya bunga " dengan cepat ia menoleh ke Bangku belakang mengambil buket bunga mawar putih yang segar
" CK kenapa malah sibuk dengan bunga sih mas, ayok cepat ke rumah sakit " ujar ku duduk di samping mas Vano
" Oke baik , tapi tunggu" mas Vano melirik ke arah ku dari bawah hingga atas
" Apa kamu ke rumah sakit hanya memakai piyama tidur begini?" Ujar nya menunjuk ke arah ku
" Ya tuhan , aku lupa mas tunggu lima menit " dengan secepat kilat aku mengganti baju apa ada nya dan tidak lupa menguncir rambut yang sedikit ikal di bawah nya
" Sudah siap?" Ujar mas Vano memajukan mobil ke rumah sakit tempat mbak Dila melahirkan
" Mas yakin anak mas cantik seperti mbak mu, ahhh tapi kalau mirip mas yang ganteng ini juga tidak masalah " racau mas Vano di dalam mobil
" Hanya mbak Dila yang menyebutkan jikalau mas ganteng hahaha " di dalam ketegangan ini tetap harus ada tawa bukan?
" CK seperti kamu menganggap tampan pacar kamu Andra yang punya bengkel itu bukan?" Mas Vano memang mengetahui tentang Andra, sama seperti mbak Dila , mas Vano pun juga tidak menentang hubungan kami hanya saja suami mbak ku itu wanti wanti untuk jangan terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan untuk masa depan kelak
" Andra memang tampan dan jauh lebih tampan dari mas Vano " mendengar ucapan ku mas Vano tertawa dengan ngakak
" Tapi aku jauh lebih kaya dari dia " mas Vano yang selalu ingin menang, dia memang seperti itu, mbak Dila saja bingung kenapa suami nya ini tingkat percaya dirinya sangat tinggi . Meskipun benar dia tampan dan kaya raya
Tidak membutuhkan waktu lama mobil memasuki parkiran rumah sakit tempat mbak Kinan melahirkan
" Sampai" dengan cepat aku turun dari mobil tidak sabar rasanya ingin melihat keponakan ku yang cantik
Namun langkah ku berhenti saat tidak ada langkah kaki yang mengekori dari belakang dengan spontan aku menengok kebelakang
" Mas Vano " pekik ku melihat mas Vano malah mondar mandir tidak jelas dengan buket bunga mawar putih yang di tangan
" Jangan terlalu gugup mas, ngak malu apa sama keponakan ku yang akan lahir?" Aku dan mas Vano memang selalu suka becanda dari mbak Dila menjalin hubungan dari masa kuliah. Mas Vano yang tampan dan kaya raya, pengusaha terkenal dan sukses di negri ini menyukai dan mencintai mbak Adila. Hmmm tidak bisa di pungkiri kecantikan mbak ku itu , kelembutan nya dalam berbicara serta keanggunan nya membuat pria yang sedang gugup ini sangat mencintai nya.
" Mas deg deg kan Ra, bagaimana ini " ujarnya dengan wajah serius
" Berdoa saja yang baik baik " jawab ku menenangkan .
[ Ara, mbak mu sedang di ruangan operasi " pesan dari mama sedikit membuat ku takut
" Vano , Ara " suara Mama yang bergetar di kursi tunggu ruangan operasi. Kenapa operasi kenapa tidak normal bukan kah mbak Dila tadi sudah kontraksi? Apa yang terjadi , aku berdoa dan berharap mbak Dila baik baik saja
" Ma pah bagaimana dila" tanya mas Vano tegang
" Dila harus di operasi karena tensi nya yang terlalu tinggi " door dari kapan Kakak ku Tersebut Memiliki riwayat tensi tinggi. Tidak kenapa perasaan takut menghantui ku tuhan , sungguh aku belum siap kehilangan nya . Dan mengapa aku merasa rapuh mendengar kan apa yang di ucapkan papa
" Apa? Tensi tinggi tapi Dila tidak pernah memiliki riwayat tensi tinggi pah " ucap Vano rapuh mendudukkan bokong nya dengan lesu di atas kursi. Aku tahu saat ini mas Vano memiliki ketakutan yang besar seperti apa yang aku rasakan sekarang.
" Semua akan baik baik saja, berdoa saja " ucap ku menenangkan semua nya
" Iya Ara benar " semua orang yang di sana mengangguk setuju bertepatan dengan di buka nya pintu operasi
" Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Pertanyaan pertama yang muncul dari bibir mas Vano . Dokter perempuan tersebut terdiam dan menghela nafas panjang
" Setelah tadi mengalami tensi tinggi dan kejang namun di saat berjalan nya operasi pasien mengalami pendarahan hebat " bruakkk mas Vano yang hampir jatuh di topang papa sedang kan mama pertahan nya roboh dan terduduk di kursi
" Operasi nya berjalan lancar, ibuk Dila melahirkan seorang bayi mungil yang cantik namun keadaan buk Dila untuk sekarang ini sangat lemah . Meskipun sudah di lakukan transfusi darah tetap saja tidak ......'"
" Istri saya akan baik baik saja " ucap mas Vano dengan suara yang bergetar
" Itulah yang kita harapkan bersama " ujar dokter tersebut mengangguk
" Bisakah kami menemui mbak Dila?" Tanya ku kepada dokter, aku berharap dengan ada nya kami di samping nya mbak Dila kembali kuat dan kondisi nya membaik
" Belum , sekarang pasien masih di ruangan isolasi untuk dilakukan observasi dan...."
" Dokter pasien semakin lemah.." panggilan suster yang di dalam menghentikan dokter perempuan ini berbicara
Dengan cepat pintu tersebut kembali menutup
" Ya Allah aku belum siap untuk kehilangan mbak Ara, tolong selamatkan dia "