Fitri terpaksa bersedia ikut tuan Tama sebagai jaminan hutang kedua orang tuanya yang tak mampu mwmbayar 100 juta. Dia rela meski bandit tua itu membawanya ke kota asalkan kedua orang tuanya terbebas dari jeratan hutang, dan bahkan pak Hasan di berikan uang lebih dari nominal hutang yang di pinjam, jika mereka bersedia menyerahkan Fitri kepada sang tuan tanah, si bandit tua yang beristri tiga. apakah Fitri di bawa ke kota untuk di jadikan istri yang ke 4 atau justru ada motif lain yang di inginkan oleh tuan Tama? yuk kepoin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arish_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuntutan Hutang
Bagaimana, Pak Hasan?" Suara berat pria berbadan besar yang mengenakan pakaian serba hitam itu bergema, menyeruak rasa genting dan ancaman yang tak terbendung. "Dapatkah Anda melunasi hutang sekarang, atau pergilah dari rumah ini sekarang juga!" Wajahnya, yang keras dan tanpa ampun, menambah berat suasana.
"Pak, mohon, beri kami waktu seminggu lagi," pinta Pak Hasan, suaranya bergetar antara harap dan putus asa. Tubuh paruh baya itu berlutut, tangan terkulai di sisi tubuh pria berwajah sangar, mencari secercah belas kasihan. Hutang seratus juta kepada tuan tanah Wira Tama telah menjadi belenggu yang mencekik mereka.
Tak hanya Pak Hasan, sang istri pun ikut berlutut di sampingnya, keduanya menyatu dalam doa dan harapan untuk sedikit waktu lagi yang mungkin bisa mengubah nasib mereka. Sekejap, rumah yang selama ini menjadi saksi bisu kehidupan mereka terasa begitu asing dan menakutkan, seolah siap menelan mereka hidup-hidup jika tak segera terlepas dari jeratan hutang yang mengikat.
"Tidak ada waktu lagi buat anda. Sekarang tinggalkan rumah ini!" Ungkapan belas kasih yang di inginkan pak Hasan dan istri tak mendapatkan gubris dari pria sangar itu, justru kakinya yang besar menendang tubuh pak Hasan yang ringkih, hingga membuat pak Hasan terjerengkang ke belakang.
"Tidak, pak! Kumohon berikan kami waktu seminggu lagi, kami masih belum memiliki uang itu, jika kami harus meninggalkan rumah ini, lalu kami harus kemana?" Tangis bu wati pecah, dia menangis tersedu-sedu di antara gemuruh suara pria sangar yang menggema.
"Itu bukan urusan kami. Kalian mau tinggal di hutan, ataupun tinggal di kolong jembatan, apa pedulinya bagi kami. Hutang tetaplah hutang. Dan satu hal lagi, karena kalian sudah berbulan bulan nunggak, maka hutang yang awalnya 100 juta kini menjadi 125 juta. Dan hari ini kalian sudah jatuh tempo. Tak ada penawaran lagi, maka ambil barang barang kalian dan segera tinggalkan rumah ini. Rumah dan seluruh pekarangan ini sekarang adalah milik juragan tanah, Tuan Wira Tama." Satu teman dari pria sangar itu ikut berucap, menegaskan keputusan yang sudah tak bisa di ganggu gugat.
Dua pria sangar itu membuka kacamata hitam nya, kemudian menatap tajam ke arah rumah sederhana milik pak Hasan, beserta seluruh halaman yang cukup luas itu.
"Tidak, kumohon tuan. Kumohon jangan usir kami dari rumah kami. Ini satu satunya harta kami. Jangan ambil rumah ini." Bu Wati menangis, dia memohon dengan berlutut di kaki salah satu pria sangar itu. Berharap mendapatkan iba, agar ia dan keluarganya tak lagi di usir dari rumah mereka.
Sementara keributan dan kegaduhan yang ditimbulkan di depan rumah pak Hasan, justru menimbulkan para tetangga berkumpul dan ikut menyaksikan tragedi itu. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak, hanya menjadi penonton saja tanpa memberikan pembelaan terhadap pak Hasan dan keluarganya.
"Hu... Hu... Hu..."
Bu Wati menangis, jeritan tangisnya membuat para tetangga menjadi iba.
Salah satu tetangga dekat datang dan menghampiri bermaksud mencarikan solusi agar pak Hasan dan keluarganya tak di usir dari rumah nya. "Maaf, pak. Apa tidak ada solusi lain selain meninggalkan rumah mereka. Kasihani mereka, pak. Itu adalah tempat tinggal mereka. Kalau mereka di usir mereka akan tinggal dimana?" Kata pak Umar, tetangga terdekat dari pak Hasan.
"Solusi, kamu bilang. Maka solusinya adalah kau bayarkan hutang mereka sebesar 125 juta, atau kau berikan tumpangan bagi pak Hasan agar tinggal di rumahmu." Kata pria sangar itu sembari menatap tajam, menyolot ke arah pak Umar.
Pak Umar jadi salah tingkah, dia jadi plonga plongo sendiri, karena solusi yang di tawarkan justru malah membuatnya terjepit. "Maafkan saya, kang Hasan, saya tidak bisa memberikan tumpangan, karena rumah saya kecil. Jadi tentu tidak akan bisa menampung semua keluarga kamu, kang." Akhirnya pak Umar mundur dan tak lagi ikut ikutan permasalahan hutang yang mencekik itu.
Semua tetangga hanya diam, tak ada lagi yang berani ikut campur.
Di tengah hiruk-pikuk desas-desus yang bergema di penjuru halaman rumah pak Hasan, tiba-tiba sebuah mobil Alphard hitam meluncur masuk dengan elegannya. Kerumunan tetangga yang sebelumnya berbisik-bisik segera terdiam, matanya terpaku pada sosok yang bakal turun dari kendaraan mewah tersebut. Kemudian, dengan langkah yang penuh kepastian, sang sopir melangkah keluar dan membuka pintu mobil dengan penuh hormat. Dari dalam mobil itu, muncullah seorang pria berpostur gagah, memakai jas putih serba lengkap dengan topi putih yang menambah kesan mewah. Tongkat elegan tergenggam erat di tangannya, penopang tubuhnya yang telah menua namun masih memancarkan aura kekuatan dan kewibawaan. Dialah Wira Tama, sang tuan tanah yang namanya telah melegenda, walaupun usianya telah mencapai 60 tahun, ketegapannya masih seperti pahlawan dari zaman keemasan.
"Tuan Tama, tolong! Kasihanilah kami," desah Pak Hasan, suaranya penuh harap sambil berlutut di hadapan sang tuan tanah. "Ini satu-satunya tempat yang kami miliki. Beri kami waktu seminggu lagi untuk mengumpulkan uang. Kumohon, tuan." Namun, raut wajah Tuan Tama dingin, tidak menunjukkan sedikit pun belas kasih. Dengan isyarat tangan yang tegas, dia memerintahkan dua pria yang tampak garang untuk segera mengusir mereka.
"Jangan, oh tuhan, jangan permainkan nasib kami seperti ini!" Pak Hasan berteriak, tapi sia-sia. Serangan datang tanpa ampun.
"Kalian monster-monster keji!" jerit Bu Wati dengan lantang, tangannya mencoba melindungi beberapa barang berharga milik mereka sementara airmatanya membasahi pipi. "Kalian menginjak-injak kami yang lemah hanya untuk kekayaan semu kalian! Para iblis berwujud manusia!" Suara histeris Bu Wati memecah kesunyian, sebuah teriakan rawan yang menggema melalui kesepian dan keputusasaan yang sekarang menaungi keluarga kecil itu, sebuah tragedi yang dipentaskan oleh para penindas tanpa rasa empati.
Dua pria anak buah juragan Tama telah mengobrak abrik isi rumah pak Hasan. Barang barang milik pak Hasan dan bu Wati di lempar ke luar. Pak Hasan dan bu Wati tak bisa berbuat apa apa, mereka kini hanya bisa pasrah dengan keadaan. Tak ada satupun dari para tetangga yang berani mencegah aksi anak buah tuan tanah Wira Tama.
"Berhenti! Siapa kalian berani memporak porandakan rumah ku!" Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis berhijab. Tangannya gemetar, melepaskan sepeda motor bututnya. Gadis itu berlari dan memeluk sang ibu yang meringkuk di tanah sembari memeluk beberapa barang barangnya yang terlempar.
"Hey Gadis kecil! Jangan halangi kami. Ini adalah tugas kami." Kata pria sangar itu.
"Sekali lagi kalian buat keributan, aku akan lapor polisi!" Teriak gadis berhijab itu.
"Bagaimana ini, tuan?" Tanya pria sangar itu pada tuan Tama.
"Lanjutkan! Ini sudah kesepakatan. Tidak ada yang bisa menghalangi pekerjaanku, kecuali mereka membayar seluruh hutangnya." Kata tuan Tama.
Gadis berhijab itu mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh tuan Tama. Ia pun menatap sang ibu dan bertanya. "Hutang? Hutang untuk apa, bu?" Tanya gadis itu.
"Maafkan ibu, Fit. Ibu dan bapak terlibat hutang 100 juta kepada juragan Tama. Dan kami tak bisa membayarnya." Kata bu Wati dengan terisak.
"Hutang? Hutang untuk apa, bu?" Tanya gadis yang bernama Fitri itu.
"Abangmu, Ilham. Dia terlibat hutang dengan rentenir. Jadi terpaksa kami pinjam sama tuan Tama untuk menutupi hutang abang mu, kalau tidak, abangmu akan di penjara." Kata bu Wati menceritakan bagaimana hutang itu berawal.
"Tidak, saya tidak Terima ini semua. Jika hutang itu untuk bang ilham, maka kalian harus memintanya kepada bang ilham. Jangan meminta kepada bapak dan ibu saya." Gadis berhijab itu bersuara dengan lantang. Tangannya menuding tepat ke wajah tuan Tama.
"Jaga bicaramu gadis kecil. Bersikaplah yang sopan kepada bos kami." Pria sangar itu tak Terima dengan sikap Fitri yang menurutnya tidak menghargai tuan Tama.
"Cih...! Kalian mau tuan kalian di hargai dan di hormati? Menjijikkan. Perilaku kalian saja tidak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa kalian menginginkan saya menghormati bos kalian yang sifatnya seperti iblish. Pergi dari sini...! Pergiii....!!" Fitri berteriak histeris mengusir tuan Tama dan anak buahnya.
"Nak, jangan seperti ini. Kita bukan lawan mereka. Biarkan saja, nak." Pak Hasan melarang Fitri ketika melawan tuan Tama.
"Tidak, pak, kita memang miskin. Tapi kita tidak lemah." Tolak Fitri dengan tegas.
Tuan Tama tersenyum sinis sambil mengamati keberanian yang tak terduga dari gadis kecil itu. "Hasan, aku tak pernah menduga kau memiliki anak seberani ini," ucap Tuan Tama, matanya tertancap dalam pada sosok Fitri, penuh ketertarikan yang mengganggu. Senyum licik yang terlukis di wajahnya memancarkan kegembiraan yang kelam terhadap gadis kecil itu.
Hasan, yang merasakan tatapan mengancam tersebut, segera melindungi Fitri dengan menariknya ke belakang tubuhnya, seraya berusaha memutus kontak visual antara tuan tanah dan anaknya. "Tidak, tuan," suara Hasan tegas, bersiap untuk melindungi anaknya dari bahaya yang tak terucapkan. "Kami akan pergi dari sini jika perlu, tapi tolong jangan pernah sentuh atau ganggu anak saya," katanya, menantang, siap berjuang demi keselamatan Fitri. Dalam hati Hasan, kecemasan bercampur amarah mendidih, mengetahui bahwa tuan tanah ini, yang kini dikenal mencari pengganti istri yang baru saja meninggal, mungkin melihat Fitri sebagai target. Sebuah ketakutan yang tidak akan dia izinkan menjadi kenyataan.
"Aku punya penawaran yang baik untukmu. Aku akan membebaskan semua hutang hutangmu dan aku akan memberikan uang 100 juta lagi, jika kau bersedia memberikan anak gadismu padaku." Tuan tanah yang terkenal kejam ini menatap tak berkedip pada sosok Fitri yang masih berdiri di belakang Hasan.
"Tidak, itu tidak akan terjadi. Lebih baik kami pergi dari rumah ini jika itu keinginan tuan." Hasan menolak tegas atas negoisasi yang di tawarkan sang tuan tanah. Hasan lebih memilih keselamatan putrinya di banding memilih bertahan di rumahnya. Harta bisa di cari, tapi tidak dengan mengorbankan kebahagiaan dan masa depan anaknya dengan memberikan Fitri kepada sang tuan tanah yang kejam itu.
"Owh... Baiklah! Aku hargai keputusanmu. Aku tidak akan memaksa. Silakan tinggalkan rumah ini sekarang!" Kata tuan Tama dengan tegas. Suaranya yang besar membuat semua orang yang ikut menyaksikan menjadi saksi bagaimana tuan tanah itu mengusir Hasan dan keluarganya.
"Ayoo, buk, Fitri. Kita segera tinggalkan rumah ini. Mungkin ini memang sudah takdir kita. Ikhlaskan!" Kata pak Hasan, sembari menarik Fitri untuk terus meninggalkan tempat itu. Hasan tak ingin tatapan tuan Tama semakin dalam saat menatap sang putri.
"Pergilah!" Usir tuan Tama.
Namun, di saat Hasan menarik tangan Fitri, langkahnya terhenti di saat langkah Fitri yang tak mengikuti langkahnya. "Ayoo, nak. Kita segera pergi dari sini. Tempat kita bukan di sini lagi." Kata Hasan.
"Tidak, pak. Aku akan mengikuti apa kemauan tuan tanah itu." Sahut Fitri dengan tegas.
Hasan menoleh, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya. Di tatap nya mata sang putri, berusaha memahami apa yang baru saja ia katakan. "Bapak tidak salah dengar, kan? Kau tidak tau siapa tuan Tama. Dia pria tua yang arogan. Apa yang bisa kamu lakukan dengan menyerahkan diri kepadanya? Kamu akan di jadikan pengantinnya. Itu tidak benar, nak. Jangan kau korbankan masa depan kamu hanya karena hutang bapak." Tolak Hasan, serta menasehati sang putri, bahwa keputusan ini tidak akan menyelesaikan masalah.
"Gadis yang pintar. Kau seharusnya menunjukkan baktimu pada kedua orang tuamu. Buktikan kalau kau adalah anak sholihah." Senyum licik terukir di bibir coklat tuan Tama, dengan kumis tipisnya yang ia usap dengan perlahan.
"Nduk, bapakmu benar. Ayoo kita sebaiknya pergi dari sini." Bu Wati ikut menimpali.
"Tidak, pak. Ini adalah rumah peninggalan keluarga kita. Aku tidak akan membiarkan rumah ini menjadi milik orang lain. Bapak tenang saja. Aku akan baik baik saja." Fitri masih bersikeras.
Fitri dengan berani mendekat ke arah tuan Tama, dia berdiri tegap menatap tuan tanah itu dengan tatapan penuh kebencian. Dengan tangkas ia pun berkata. "Apa yang akan tuan lakukan jika saya menyerahkan diri saya kepada Anda, tuan? Apakah tuan akan menepati janji sesuai yang tuan katakan barusan?" Tanya Fitri, tak sedikitpun gadis itu merasa ketakutan di saat ia menatap sorot mata tuan Tama yang memerah dan menakutkan.
Senyum tipis terlukis dengan licik di wajah tuan tanah. Tatapan matanya seperti elang yang menelisik tubuh Fitri, membakar setiap inci dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Jadilah tawananku. Aku akan lunasi seluruh hutang orang tuamu, dan kuberikan orang tuamu 100 juta tunai jika ikut bersamaku," ucap Tuan Tama dengan nada yang menjanjikan namun penuh pengendalian.
Di sekitar, atmosfer tiba-tiba menjadi tegang, semua mata tertuju, melebar serasa tidak percaya mendengar angka seratus juta rupiah, angka yang mustahil terkumpul meski bertahun-tahun bekerja keras. Bisikan dan cibiran serempak menguar di antara kerumunan—sebagian terpikat pada tawaran gemerlap itu, sementara sebagian lagi tahu ada sesuatu yang lebih mengerikan di balik bujukan licik Tuan Tama.
Fitri menelan ludah, hatinya berkecamuk. "Baiklah, tuan. Saya bersedia," ujarnya dengan nada tegas yang dipaksakan, menutupi kegetiran di balik setiap kata yang diucapkan. Ia seperti memasang topeng keberanian, namun di dalam hatinya terkoyak oleh pilihan pahit ini. Demi kelangsungan hidup kedua orang tuanya, Fitri merasa harus rela menjadi korban dari kejahatan tersembunyi yang membayangi penawaran Tuan Tama itu. Dalam benaknya bergema, "Apakah nyawa dan kebahagiaan harus ditebus dengan harga yang menjerumuskan?"
"Bagus! Anak yang berbakti! Jika kamu patuh kepadaku, Kupastikan hidupmu akan bergelimang harta." Kata tuan Tama dengan sombongnya.
"Tidak, nak. Jangan lakukan ini. Ibu tidak setuju. Kau masih muda. Dia itu sudah tua bangka. Apa kau akan rela menikah dengan pria kejam seperti itu?" Bu Wati ikut menolak, pikir bu wati Fitri akan di bawa oleh tuan tanah itu untuk di nikahinya, mengingat di rumah besarnya, sang tuan tanah sudah ada tiga istri.
"Tidak apa, bu. Jangan khawatir. Semua akan baik baik saja. Ibu dan bapak jangan cemaskan aku." Kata Fitri berusaha tegar, meski kegetiran menyelimuti hatinya, namun ia harus terlihat kuat, agar kedua orang tuanya tidak cemas memikirkan dirinya.
"Kalian semua yang menjadi saksinya. Mulai saat ini putri bapak Hasan akan menjadi tawanan ku, jadi terserah aku mau apakan gadis ini." Kata tuan Tama dengan angkuhnya.