Menapaki Jalan Takdir Surgawi, adalah suatu proses dari perjalanan yang panjang, sulit, menantang, di mana sepanjang jalan hanya ada kesunyian yang menanti.
Lalu, lahirlah seorang anak yang bernama Asta Ken, satu dari jutaan orang yang terlahir dengan bakat bawaan. Namun semua itu baru terkuak, setelah dia kehilangan kedua orang tuanya dan dendam di hatinya menggelegak.
Dengan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi, Asta Ken menantang langit dan bumi. Dengan pedang dan kepalan tangan, Asta Ken memburu kejahatan dan menegakkan keadilan.
Tentu tak semudah itu jalan yang akan dilaluinya, karena menyaksikan kematian kekasihnya adalah salah satunya. Di luar dari itu, sahabat yang paling dia percaya justru mengkhianatinya tanpa ragu. Namun apa pun nasib yang menimpanya, Asta Ken harus memendam keluhannya karena ada banyak musuh yang ingin membunuhnya.
"Dewa! Aku menantang kalian untuk turun dari singgasana! Dimanapun kalian berada, aku akan datang membawa pesan kematian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon San_art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch1 Bocah Kecil (Re-Write)
“Maafkan aku yang sempat tak berdaya. Seharusnya, aku sudah selesai mengisahkanmu sejak empat tahun yang lalu."
\===
Aku melihat, seorang bocah laki-laki berambut putih, kulitnya bersih, tapi bola matanya berkebalikkan warnanya justru hitam. Umurnya mungkin kisaran 7 tahun, dia kecil, dan ceria. Anak itu adalah kamu, Asta Ken.
Sebenarnya aku ingin tertawa melihat apa yang sedang kamu alami saat ini, tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku harus mengisahkan perjalananmu segera, sebelum semuanya terlambat.
Kamu sedang berlari dengan napas tergesa-gesa setengah mati, bersama anak serigala kecil di pelukanmu yang terlihat tak peduli pada apa yang kamu alami. Sementara itu, warga desa justru hanya tertawa, seolah tak peduli sebesar apa serigala yang memburumu.
Di persimpangan, kamu berkelok menuju ke arah rumahmu. Rumah sederhana dengan pohon persik di halamannya. Kamu melompati pagarnya yang hanya setinggi lututmu, sambil berteriak memanggil ayahmu.
“AYAH…! KAU ADA DIMANA..?!!”
\===
Beberapa saat yang lalu, seorang pria tinggi besar dan maskulin itu sedang memberi makan marmot-marmot peliharaannya di halaman belakang. Sampai sebuah teriakan mengejutkannya, bukan hanya ia, begitu pun dengan marmotnya. Mereka berlarian masuk ke dahan roboh dan rerumputan. Pria itu lalu berdiri dari jongkok, menoleh sambil sedikit mengeluh napas. Yang mana teriakan itu berasal darimu. Meskipun dia berambut hitam, tapi dari wajahnya yang persis dialah ayahmu.
Dari balik tembok rumah kamu muncul dengan senyum merekah. Namun tak menghilangkan seluruh ekspresi takut di wajahmu.
“Bolehkah aku memelihara anak anjing ini?” katamu, seketika dahi pria itu pun mengernyit bingung dengan apa yang kamu katakan.
“Apa katamu, anjing?” ujarnya kaget, jelas sekali seekor anak serigala yang ada di tangannya itu.
Kamu tak peduli dan langsung berlari ke belakangnya untuk bersembunyi. Serigala yang mengejarmu pun berhenti tepat di hadapannya. Dari balik kakinya, kamu mengintip lalu menjulurkan lidah ke arahnya. Karena dengan begitu, serigala tak lagi mengejarmu.
“Tunggu, Haru, kau menakuti Zena dan lainnya.” Begitulah ayahmu menamai serigala dan marmotnya.
Arai Ken mengelus lembut kepala serigala biru itu, yang tingginya saat berjongkok setinggi dirinya saat berdiri. Dia menoleh ke arahmu, curiga, kau pasti menyembunyikan sesuatu.
“Haru tak akan mengejarmu tanpa alasan. Selain itu, apa kau tak bisa membedakan serigala dan anjing?” Arai Ken sedikit memiringkan kepalanya, tangannya meraih salah satu kaki serigala mungil di pelukanmu sambil memberimu kode untuk melihatnya dengan tatapan tajam.
Kamu menggeleng pelan. “Aku pikir karena dia kecil makanya kusebut anjing.”
Arai Ken menepuk dahinya pelan. “Jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi?” pintanya.
“Dari mana aku harus menceritakannya?” tanyamu, justru membuatnya menghela napas lelah.
“Tentu saja dari awal setelah kau pergi meninggalkan rumah.”
\===
Setelah sarapan dan mandi pagi, kamu langsung pergi tanpa pamit pada ayah-ibumu untuk ke hutan bersama dengan beberapa bocah lainnya. Ketika salah dua temanmu memutuskan untuk berkelahi dengan alasan saling menguji hasil latihan, kamu pun pergi tak ingin terlibat perkelahian.
Mereka menanyaimu mau ke mana, namun dengan singkat kau jawab, “mencari Haru,” katamu awalnya kepada mereka.
Namun, Haru sudah tak terlihat sejak tiga bulan yang lalu. Entah apa yang terjadi padanya, kamu pun bertanya-tanya. Karena biasanya serigala itu sering datang menemui orang tuamu, sampai seperti peliharaan bagi mereka. Dan sayangnya hari ini pun kamu tak berhasil menemuinya, sebaliknya kamu menemukan hewan kecil berbulu putih yang tampak menggemaskan. Tanpa pikir panjang kamu pun membawanya.
Saat balik badan kamu pun terkejut bukan kepalang. Haru berdiri di belakangmu dengan sorot matanya yang tajam. Ketika dia mulai menggeram, kau pun sadar nyawamu terancam. Kamu pun mati-matian menghindari terkamannya hingga lari menuju ke desa.
\===
Arai Ken tertawa sampai menggelitik mendengar keseluruhan ceritanya darimu, apalagi setelah kau bilang bahkan warga pun seakan tak peduli dengan nyawamu.
“Tapi, Asta, serigala kecil ini memang menggemaskan, tapi bukan berarti kau bisa merebutnya begitu saja dari induknya. Apalagi ini Haru, kita sudah lama mengenalnya, kan?” Serigala biru itu menganggukkan kepalanya.
Kamu tersenyum canggung. Siapa yang mengira ternyata hewan itu bukanlah anjing. Arai Ken menepuk dahinya pelan. Terdengar lolongan serigala dari kejauhan. Haru balas melolong, seekor serigala putih sebesar dirinya pun tiba. Eni.
“Tidak! Mulai sekarang Ace akan bersamaku!” katamu, sambil menyembunyikan serigala kecil itu di pelukanmu.
“Ace..?” Arai Ken tak percaya kau bahkan sudah memberinya nama. “Tunggu, Asta, kita harus membicarakannya lebih dulu dengan mereka, kan?” katanya menengahi semuanya.
Haru mengangguk, begitu juga dengan Eni yang ingin membicarakannya sambil duduk.
“Bisa kalian percayakan dia pada anakku? Aku berjanji, aku sendiri yang akan mengawasinya.” Arai Ken mencoba berdiskusi dengan dua serigala besar ini.
Kedua serigala besar itu saling memperhatikan satu sama lain. Mereka saling bertatapan dengan si kecil, diakhiri dengan anggukan yakin.
Arai Ken menghembuskan napas lega. Beruntung semuanya selesai di muka. “Asta, kau tahu harus apa, kan?” ujarnya, kau pun mengerti maksud dari ucapannya.
Kamu hanya mengangguk lalu melepas si kecil itu dari pelukanmu, beralih memeluk kedua serigala besar itu. “Terimakasih, Haru, Eni! Tolong percayakan Ace padaku!” katamu, sambil mengelus lembut keduanya.
Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, mereka pergi begitu saja untuk kembali ke hutan. Dari sampingmu, terdengar suara decit pintu dibuka. Kamu menoleh, terlihat seorang perempuan dewasa mengenakan celemek yang cantiknya tiada tara, rambut dan kulitnya yang putih memesona, rupanya yang menyejukkan mata, berdiri dengan sebuah sendok sup di tangannya, memperhatikan kalian berdua dengan raut wajah penasaran.
Perempuan yang memiliki rupa cantik itu adalah ibumu, Aina Misaki, hanya setahun lebih muda dari ayahmu.
“Apa barusan itu, Eni?” ujarnya bertanya padamu.
Tapi sebelum kamu menjawab pertanyaannya, Arai Ken lebih dulu mengatakannya. “Ya, tadi memang Eni dan Haru. Mereka kemari karena Asta membawa lari anaknya kesini.” Jarinya menunjuk dirimu.
Kamu menoleh ke arahnya dengan wajah kaku. “Ehh..?! Ayah-” Tapi kamu tak sempat menyangkalnya, tatapan ibumu lebih tajam dari pisau saat ia mendelik.
“Asta, kapan ibu mengajarimu menjadi arogan seperti itu?” katanya sambil berkacak pinggang.
Kamu tertawa canggung lalu meminta maaf atas perbuatanmu yang sebenarnya karena ketidaktahuanmu. Aina Misaki tak memperpanjang masalah, sambil menghela napas lelah ia menyuruh kalian berdua untuk masuk ke rumah. Katanya, makan siang sudah disiapkan di meja.
Siang itu hari cukup terang. Setelah makan siang, kamu pergi keluar bersama Ace untuk bermain di belakang. Ace tak henti-hentinya menakuti Zena, sang marmot. Ia terus mengejarnya kesana-kemari. Sementara itu Aina Misaki dan Arai Ken sedang duduk berdua di bawah pohon persik di halaman depan. Membicarakan sesuatu seperti perjalanan.
Saat mengejar Ace yang lari ke halaman depan, kamu menyaksikan Aina Misaki berurai air matanya. Kamu berkelok ke arahnya, meninggalkan Ace yang kembali ke halaman belakang mengejar Zena dan kawan-kawan.
Dengan wajah penasaran kamu mendekat. “Ibu, kenapa?” katamu, mengejutkannya yang tak sadar dengan kedatanganmu.
“Memangnya ada apa dengan ibu?” katanya sambil mengusap air mata di pipinya. “Tidak apa-apa. Ibu hanya sedih saja harus meninggalkanmu sendirian di rumah,” katanya lagi, sambil mengelus rambutmu.
“Kenapa harus sedih? Apakah ibu meremehkanku?” katamu, sambil berkacak pinggang.
Mereka berdua tertawa. Aina Misaki jadi sedikit terhibur melihat tingkah lakumu. “Bukan begitu, hanya saja ibu jadi tidak bisa memelukmu selama beberapa hari.”
“Kalau begitu, peluk saja aku sekarang sepuas ibu, agar ibu tak mengeluh lagi seperti itu.”
Aina Misaki tertawa geli, lalu memelukmu dengan erat. Sementara itu, Arai Ken hanya menghela napas gusar lalu pergi menangkap Ace, yang mulai berlebihan hingga menakuti Zena.
\===
Kini sudah empat hari berlalu, sejak kau bertemu dengan Ace, juga merupakan hari keberangkatan kedua orang tuamu ke kota. Meski kadang Ace masih ingin bertingkah semaunya, tapi sekarang ia mulai mengerti beberapa perintah kata.
Dari apa yang kamu tahu, pekerjaan Arai Ken adalah pengawal bayaran yang sering pergi ke kota untuk menawarkan jasanya kepada para pedagang. Sementara ibumu, hanyalah seorang ibu rumah tangga sejauh yang kamu tahu. Sampai ia sendiri yang mengatakannya sambil menunjukkan kemampuan berpedangnya secara langsung di depanmu.
“Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, temuilah Paman Helio di rumahnya. Jangan sungkan. Ayah sudah berbicara sebelumnya.”
“Ingat, kau tidak boleh begadang, harus berolahraga, serta makan dengan cukup. Kau sudah jauh tertinggal dengan teman-temanmu, jadi kau harus mengejarnya segera.”
Kamu dapat menerima pesan dari ayahmu, tapi sulit dengan pesan dari ibumu. “Ayolah, Ibu, kita hanya akan berpisah selama beberapa minggu, bukan tahun. Hasilnya tidak akan secepat itu meskipun melakukannya setiap hari sampai ibu pulang,” ujarmu mengeluh dengan permintaannya.
Aina Misaki menggoyangkan jarinya, ia tak menerima penolakan. Kalau kau sudah mendengar, maka pesannya harus dijalankan. Itulah permintaannya.
Walaupun harus dengan berat hati, mereka memang harus pergi. Sebelum mereka pergi, kamu lebih dulu berlari dengan Ace menuju hutan untuk berburu. “Ayah! Ibu! Hati-hati dalam perjalanan! Tidak usah terlalu mengkhawatirkanku! Aku punya Ace disini!” katamu, lalu menghilang masuk ke dalam hutan.
“Aina…” panggil Arai Ken, menyadarkannya dari lamunan.
“Iya, iya, aku mengerti,” katanya sambil cemberut.
Arai Ken tersenyum sambil memandangi langit. “Percayalah. Karena dia adalah anak kita,” katanya lalu menoleh ke samping dilihatnya Aina Misaki mengerutkan dahinya.
“Kau bilang apa? Tentu saja aku percaya padanya. Dia anakku. Aku yang melahirkannya.”
Setelah itu, tanpa sepatah kata apa pun lagi, mereka pergi meninggalkan rumah. Meninggalkanmu sendirian tanpa tahu tentang apa-apa.
\===
Kamu menyusuri hutan dengan perlahan, sambil sesekali menghentikan Ace yang selalu mencakar dedaunan di sepanjang hutan.
“Ace, bisa kau diam sebentar?” katamu, sambil memasang anak panah dengan hati-hati. Matamu melihat seekor rusa tengah merumput seratus meter di depanmu.
Ace diam ikut menyaksikan. Saat panah dilepaskan, napasmu seakan tertahan. Pada saat yang mendebarkan itu, Ace justru usil mencakar daun yang menghalangi pandangannya.
Kamu berdecak yakin rusa itu akan menyadarinya. Benar saja, sesaat sebelum anak panah itu menyentuhnya ia bergerak dengan cepat. Sehingga hanya menggores salah satu kakinya.
Jelas kau tak ingin membiarkannya pergi setelah susah payah mencari. “Ace..! Kejar dia..! Jangan biarkan ia lolos..!”
Ace langsung menembus dedaunan dengan beringas untuk mengejarnya. Sementara kamu menyusul setelah menyematkan busur di bahu.
Aksi kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Dari pagi sampai siang, dari sepi sampai ramai binatang. Kamu tak berpikir sama sekali untuk menyerah ataupun membiarkannya pergi. Lalu akhirnya, usahamu pun terbayar tuntas setelah rusa itu mulai lemas.
“Ah, sialan, kau membuatku kelelahan,” katamu kesal, sambil menepuk lembut kepala rusa tersebut.
Namun kamu melupakan hal penting lainnya selama pengejaran itu terjadi. Kamu pun bertanya-tanya sendiri dimanakah dirimu saat ini. Di sisi lain Ace terlelap menikmati lelahnya. Sambil menghela napas berat, kamu mengikat keempat kaki rusa tersebut. Kamu yakin saat ini sedang tersesat.
Setelah mengatur napas sebentar, kamu tak ingin hanya menunggu Ace bangun dan bersabar. Sembari membiarkannya beristirahat, kamu ingin melihat-lihat lokasi setempat. Barangkali ada petunjuk atau jalan setapak yang mengarah ke desa.
Kamu memang menjumpai jalan setapak yang mulai tertutup rumput dan dedaunan. Tapi jalan itu hanya mengarah ke satu arah, sebuah Kuil Tua yang sudah lama ditinggalkan. Struktur bangunannya hanya dari formasi batuan yang ditumpuk dan saling mengunci. Saking terlantarnya, rumput dan lumut tumbuh subur di luarnya. Meskipun ragu, kamu masuk ke dalamnya mencoba berani.
Keadaan di dalam lebih baik daripada di luar. Tak ada lumut dan tak ada rumput, seolah memang hanya tumbuh di luar.
Kuil itu lebih besar dari apa yang terlihat, kamu mulai ragu untuk terus masuk dan melihat. Namun dari tempatmu berdiri saat ini, kamu melihat ada sesuatu yang menarikmu untuk mendekat. Kamu terpana melihat aula kuil tersebut yang luar biasa besarnya. Sebuah mimbar berdiri menjadi pusat di tengah aula.
“Kitab?” gumammu penasaran, melihat sebuah buku berbahan kulit tergeletak di atasnya.
Kamu berjalan menuju ke tengah sambil memperhatikan interior di dalam kuil. Tak habis-habis kamu terpana dengan struktur bangunannya.
Kamu berdiri di depan mimbar itu. “Kitab Dewa Api Kegelapan?” katamu, mengeja tulisan yang ada di sampul kitab tersebut.
Penasaran kamu pun mengambilnya. Seketika sampul kulit kitab itu berubah menjadi hitam di tanganmu. Kamu mengernyitkan dahi bingung, tapi tak menghilangkan rasa penasaran akan isi di dalamnya.
Saat dibuka, kegelapan terpancar dari dalamnya, menyelimuti seluruh aula dengan cepat tak terkira. Kamu terkejut bukan buatan, kamu hendak berlari sambil membawa kitab tersebut namun terlambat, saat kegelapan merambat ke lantai badanmu seakan terjatuh dari ketinggian.
“ACEEE..!!” teriakmu sebelum tak sadarkan diri.
\===
Saat membuka mata, kamu sudah berada di tempat yang berbeda. Kitab itu juga hilang. Yang kamu lihat hanya langit dengan lautan awan. Kamu duduk di tegah lautan taman bunga yang berbagai jenisnya. Tapi kamu masih bingung.
Di belakangmu, seorang pria berpakaian jubah putih besar berdiri memandangimu dengan kerutan di dahinya, dengan salah satu tangannya membawa teko penyiram bunga. Tidak hanya jubahnya yang putih, mata dan rambutnya juga putih, begitu juga dengan kulitnya. Pria itu tampan dan rupawan, tapi seluruhnya transparan.
“Bocah, bagaimana caramu kesini?” tanya sosok itu mengejutkanmu.
Saat kamu menyaksikan tubuhnya melayang, kamu benar-benar terkejut bukan kepalang. “HANTUU..!!” ujarmu menjerit, lalu buru-buru bangkit.
Pria tembus pandang itu tampak jengkel mendengarnya. “Apa kau bilang?!” katanya, sembari meraih bahumu. Ia tak berniat membiarkanmu pergi setelah mengatakan hal itu.
Rasa takutmu bukan buatan. Pria itu terus bertanya bagaimana caramu datang. Namun kamu tak kunjung menjawabnya, sehingga ia makin jengkel jadinya.
“Jangan makan aku! Aku benar-benar tak tahu bagaimana aku bisa disini! Aku bersumpah, dagingku tak enak sama sekali!”
“Daging?” pria itu heran dengan apa yang baru saja kamu katakan. Namun sesaat kemudian ia tersenyum merencanakan sesuatu.
“Aku memang sudah lama tak makan daging.” Pria itu tersenyum. “Bagaimana jika, kali ini aku buat rendang?” lanjutnya pura-pura berpikir.
Sedetik kemudian ia memandangimu sambil menjilat bibirnya. Kamu menelan ludahmu sendiri. Napasmu mulai melambat. Selang kemudian kamu berlari menjauh darinya.
“Jangan kabur!”
Kamu tak menghiraukannya. Namun tiba-tiba saja tubuhmu terangkat ke udara dengan posisi terbalik. Tanpa kamu sadari pria itu berhasil menangkap kakimu lalu mengangkatmu ke udara. Sementara tangan yang lainnya masih memegangi teko penyiram bunga.
Saking takutnya kamu sampai menangis memohon untuk dibiarkan pergi. Tapi pria itu tak peduli. Ia menjatuhkan teko di tangannya. Saat kepalan tangannya hampir mengenai perutmu, kamu sudah pingsan tak sadarkan diri. Pria itu tergelak tawanya sendiri setelah berhasil mengerjaimu sampai tak sadarkan diri.
“Aku penasaran sudah berapa abad semuanya berlalu.” Pria itu mengambil kalung cincin di saku jubahnya, lalu mengaitkannya ke lehermu saat itu.
\===
Kamu tersadar dengan jantung yang berdegup-degup. Ace menatapmu heran. Sementara rusa itu tampak memberontak ingin melepaskan diri dari ikatan.
“Ehh?! Apa mungkin akulah yang tertidur kelelahan?!” katamu bingung sambil menggaruk rambutmu yang tak gatal.
“Syukurlah jika itu hanya mimpi.” Tubuhmu baik-baik saja, tidak ada hal aneh yang kau rasakan. Kamu pun mengajak Ace pulang karena hari terlihat sudah petang.
Sudah tiga hari sejak orang tuamu pergi. Selama itu kamu hanya menghabiskan waktu di rumah bersama Ace. Memasak daging rusa hasil tangkapanmu sendiri. Sampai kemudian datanglah seorang pria dewasa seusia Arai Ken ke rumahmu, Helio Utake. Sama sepertinya ia juga memiliki rambut dan mata hitam.
Wajahnya masam, ia tampak ragu untuk mengatakan apa yang harus ia sampaikan.
“Ada apa?” tanyamu mulai tak nyaman dengan raut wajahnya yang menyimpan kesedihan.
Helio Utake berjongkok agar sejajar denganmu. “Asta…” Ia menatapmu dalam. “Kedua orang tuamu…” Lagi-lagi ia menghentikan ucapannya, membuatmu semakin tak sabar mendengarnya. “Mereka gugur dalam pengawalan.”
Waktu itu dunia seakan berhenti bagimu. Berita itu bukan kabar yang ingin kamu dengarkan. Tapi melihat siapa yang menyampaikannya, air matamu perlahan berlinang jatuh tak tertahan. Sedetik kemudian, kamu jatuh terduduk menjerit frustrasi sejadi-jadinya.
Menyaksikannya, Helio Utake pun tak tega membiarkannya. Namun ia tak memiliki sesuatu yang dapat dikatakan, selain dengan memeluknya seerat mungkin berharap itu meringankan beban di hatinya.
Beberapa orang berdatangan, namun dengan tanda kecil Helio Utake meminta membiarkannya berdua denganmu. Ace datang setelah mendengar jeritannya, lalu diam di sampingnya.
“Mengapa… Mengapa semua ini terjadi padaku..?!” katamu sesenggukan tak terima dengan takdir tersebut.
Helio Utake memelukmu lebih erat. “Itulah risiko dari pekerjaan orang tuamu, Asta. Kau harus tabah. Kau harus kuat.”
Kata-katanya tak langsung menenangkan dirimu, tapi kamu langsung sadar jika apa yang dikatakannya memang benar. Bahkan ayahmu pun pernah mengatakannya dulu padamu, agar kamu senantiasa kuat mendengar kabar apa pun suatu hari mengenai ayahmu. Tapi tetap saja kamu tak dapat merelakannya semudah itu.
“Paman, apa kau tahu siapa yang menyerang rombongan orang tuaku?”
Helio Utake menggeleng pelan. Ia tidak tahu apa-apa mengenai itu. “Pembawa pesan pun tak mengatakannya, namun yang pasti kelompok penjahat yang melakukannya. Bahkan jasad para pengawal pun tak ditemukan di tempat. Namun, pengawal pesan menemukan ini di lokasi penyerbuan,” katanya sambil mengeluarkan cincin yang diikat pada gulungan kertas kecil.
Batinmu terguncang. Cincin itu adalah milik ayahmu. Kamu mengambilnya lalu menangis sejadinya.
“Paman, apakah masih belum terlambat bagiku untuk belajar bela diri? Aku ingin kuat! Tolong ajari aku cara berkultivasi!” katamu memohon bantuannya.
“Tentu!” jawabnya singkat setuju.
“Untuk sekarang, baiknya, tenangkan pikiranmu lebih dulu. Setelah itu kita akan mulai berlatih.” Helio Utake mengelus lembut rambutmu.
Kamu memeluk Ace yang ada di sampingmu dengan erat. Sekarang dan seterusnya hanya ialah yang akan menemanimu di rumah.
.
next
next
oke next 😅
k8muhf