Setelah kehancuran dunia, munculah Cubex, pintu dimensi antar planet berikut kemunculan Artefak User yang dapat membuat manusia berubah menjadi Mutan berevolusi. Semua datang bukanlah sebuah kebetulan atau bencana alam semata namun ada rahasia dibalik semuanya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Old Fenrir
Setelah berpamitan, kelompok Guild Raga kembali melanjutkan perburuan mereka. Pesawat pengangkut kecil itu pun terbang ke arah timur, membawa bangkai Fenrir Muda yang baru saja mereka beli.
Stride-X memimpin di depan.
Gerakannya sangat ringan. Setiap kali melompat, tubuhnya melesat tinggi dan jauh, seolah gravitasi hanya berlaku setengah padanya. Rado juga mampu bergerak cepat, meski lompatannya tidak setinggi Stride-X. Yang paling aneh adalah Tremors. Ia tidak berlari, tidak pula melompat. Tanah di bawah kakinya seperti bergerak sendiri, mendorong tubuhnya melaju mulus seperti eskalator tak kasatmata. Ketiganya bergerak cepat, rapi, dan tanpa tenaga terbuang.
“Bagaimana hasil deteksimu?” tanya Stride-X sambil terus melaju.
Tremors menyesuaikan kecepatan, lalu menjawab, “Roji memiliki artefak sihir air. Fira pengguna sihir api. Grizzly memakai artefak kuku beruang. Joke menggunakan Magic Card. Godhammer tak perlu kujelaskan lagi, kau sudah tahu.”
Ia mengucapkannya dengan datar, seperti sedang membaca laporan.
Kemampuan Tremors memang bukan sekadar sihir tempur. Dengan sentuhan singkat, ia bisa mengenali jenis artefak, tingkat kekuatan, bahkan potensi lawan. Jadi saat tadi berjabat tangan, itu bukan keramahan—melainkan pemeriksaan.
“Mereka semua memakai Common Artefak, kecuali Roji dan Joke. Keduanya masih bertipe Low Artefak. Selain itu, Roji dan Joke juga belum mencapai Bintang Satu. Tiga sisanya sudah Bintang Satu, tapi belum di puncak.”
Rado mendengus.
“Mereka masih lemah. Seharusnya kita tak perlu repot membeli bangkai dari mereka.” Suaranya berat, penuh penyesalan. “Cukup gertak sedikit, selesai.”
Yang ia maksud jelas: tiga orang Bintang Satu dari kelompok Ketua saja sudah tak terlalu mengancam, apalagi dua User Pra-Bintang seperti Roji dan Joe. Dalam perhitungannya, ia sendiri sudah cukup untuk menghajar mereka semua.
Sementara itu, cukup jauh di belakang, kelompok Joe juga kembali melanjutkan langkah.
Roji menoleh ke arah tempat Guild Raga tadi menghilang, lalu berkata dengan nada kagum, “Mereka benar-benar profesional.”
“Kau tak akan bisa masuk ke guild seperti itu,” kata Arman tanpa basa-basi. Ia sudah kembali ke wujud manusianya. “Guild Raga paling rendah menerima User Bintang Satu, dan artefaknya minimal Common. User dengan Low Artefak tidak akan dilirik.”
Perkataan itu memang kasar, tetapi benar.
Tingkatan artefak bukan sekadar soal harga. Itu juga menentukan batas evolusi. Semakin rendah kelas artefaknya, semakin rendah pula potensi pertumbuhan User yang memakainya. Evolusi tertinggi hanya mungkin dicapai oleh artefak level tinggi. Sementara Low Artefak hampir selalu membuat pemiliknya cepat mentok.
“Wanita dari Guild Raga tadi juga membawa alat pendeteksi darah panas,” kata Jasmin, tak bisa menyembunyikan nada iri dalam suaranya. “Dengan alat itu mereka cukup melihat layar untuk melacak binatang berdarah panas.”
“Mengapa kau tidak mendaftar di sana?” tanya Arman. “Bukankah kau sudah cukup memenuhi standar mereka?”
“Dia sudah dua kali mencoba,” jawab Ketua lebih dulu. “Dua-duanya ditolak.”
Jasmin mendecakkan lidah. “Sebelum diterima, ada tes kelayakan. Menurut mereka, damage sihirku masih di bawah standar.”
Joe tertawa kecil. “Kalau sihirmu yang seperti itu saja masih dianggap kurang, apalagi kami, ya, Roji? Kita bahkan terlalu jauh di bawah standar.”
“Nah, itu dia.” Roji ikut tertawa. “Kita ini cuma User reguler. Masuk Cubex cuma buat cari modal, lalu habis lagi di meja judi.”
Kali ini semuanya ikut tertawa, meski alasan masing-masing berbeda.
Mereka semua tahu posisi Joe. Healer. Low Artefak. User lepas. Dalam pandangan kebanyakan orang, masa depan seperti itu nyaris tak ada.
“Tapi Fenrir Tua tak bisa dilacak dengan alat pencari panas,” kata Ketua, mencoba membangkitkan semangat timnya. “Bulu Fenrir Tua diselimuti sihir suhu dingin. Meski dia bukan makhluk elemen es, tubuhnya tetap menyamarkan panas.”
Ia menatap ke depan, ke arah belantara yang membentang di bawah langit merah.
“Jadi jangan takut kalah tangkap dari Guild Raga. Kita masih punya peluang menemukan Fenrir Tua.”
Menjelang malam, mereka mendirikan tenda untuk beristirahat.
Penjagaan dibagi bergiliran, tetapi yang paling sering ditugaskan berjaga tetap dua orang yang dianggap paling lemah: Roji dan Joe.
Tak ada yang protes. Atau lebih tepatnya, tak ada yang merasa pendapat mereka akan mengubah keputusan.
Keesokan paginya, setelah sarapan seadanya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Matahari asing di langit merah sudah cukup tinggi ketika Joe mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Ia menggosok kedua tangannya, lalu berkata, “Aku merasakan hawa dingin. Apa cuma aku, atau tempat ini memang mulai berubah lebih dingin?”
Tak lama kemudian, Roji menunjuk ke arah pepohonan.
“Itu... apa yang dimaksud Fenrir Tua?”
Di antara bayang-bayang pepohonan, tampak sepasang mata besar bercahaya. Mata itu diam saja, menatap dari kegelapan tanpa berkedip. Seketika seluruh kelompok menghentikan langkah.
“Sial,” geram Arman. Tubuhnya mulai bergetar, bersiap memasuki mode tempur. “Aku sama sekali tidak mencium keberadaannya.”
Fenrir itu memang cerdik. Ia menyembunyikan hawa membunuhnya, bergerak dari arah berlawanan dengan angin, dan menekan seluruh jejak keberadaannya.
“Ambil formasi!” perintah Ketua sambil menarik palu panjangnya. “Ini Fenrir yang jauh lebih kuat.”
Namun mata bercahaya itu tetap diam.
Tak menyerang. Tak bergerak.
Seolah-olah makhluk itu sedang menilai mereka.
“Sejak kapan dia ada di sana?” gumam Jasmin. Ada keraguan untuk pertama kalinya di wajahnya. “Mengapa kita bisa menemukannya secepat ini? Biasanya kita butuh waktu sebulan penuh hanya untuk melacak Fenrir Tua. Kadang malah nihil.” Ia menelan ludah. “Ini baru dua hari, kita sudah menemukan dua Fenrir. Bukankah itu terlalu aneh?”
Tak seorang pun menjawab.
Tak ada yang benar-benar mengerti apakah ini keberuntungan besar atau justru pertanda buruk.
“Bagaimana sekarang?” tanya Arman, yang tubuhnya kini mulai berubah. Bulu abu-abu tumbuh di sekujur tubuh, bahunya membesar, dan jari-jarinya memanjang menjadi cakar.
Ketua tidak ragu.
“Tujuan kita memang berburu Fenrir.” Suaranya mantap, tetapi matanya dipenuhi ambisi. “Tak ada salahnya menguji kekuatannya. Serang!”
Ia berlari lebih dulu ke arah sepasang mata itu. Yang lain mengikuti dari belakang.
Makhluk itu akhirnya bergerak.
Perlahan, tubuhnya keluar dari kegelapan pepohonan. Mula-mula kepalanya yang besar, lalu tubuhnya, lalu ekornya yang panjang dan berat. Seluruh sosoknya akhirnya tampak utuh di bawah cahaya merah langit.
Fenrir Tua.
Ukurannya sebesar truk angkut. Bulu-bulunya jauh lebih tebal daripada Fenrir Muda, dan dari seluruh tubuhnya keluar uap tipis seperti embun dingin yang terus-menerus mengepul.
“Sial...” napas Ketua memburu. “Pantas saja dia tidak agresif.”
Matanya melebar.
“Dia akan berevolusi.”
Ketua langsung mempercepat langkahnya.
“Cepat bunuh sebelum dia berubah jadi Wild Fenrir! Kalau sampai berevolusi, kita bukan lawannya!”
Dalam kepalanya, ketakutan dan keserakahan bertabrakan. Fenrir yang berada di ambang evolusi sangat berbahaya—tetapi juga memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk menjatuhkan artefak berharga.
Fenrir Tua membuka mulutnya.
“Awas serangan!” teriak Ketua sambil mengubah arah larinya.
Zuuutt!
Semburan cahaya melesat dari mulut monster itu.
Cepat. Terlalu cepat.
Arahnya lurus ke Roji. Dan tepat di belakang Roji berdiri Joe.
Sekali serangan, dua orang bisa sekaligus tumbang.
“Roji, awas!” teriak Joe.
Roji menggulingkan tubuhnya ke samping. Joe pun melakukan hal yang sama. Semburan itu melintas hanya sekejap dari posisi mereka tadi.
Namun Joe tidak berhenti di situ.
Tangannya bergerak cepat. Tiga kartu remi muncul di sela jemarinya—semuanya angka empat, masing-masing berlambang diamond, club, dan spade. Joe sengaja langsung memulai dari angka empat. Lawan kali ini terlalu berbahaya untuk ditangani dengan peningkatan kecil.
[4♦ Protect — Defense +40% dibagi ke party]
[Cooldown: 12 jam]
[4♣ Attack — Attack +40% dibagi ke party]
[Cooldown: 12 jam]
[4♠ Agility — Agility +40% dibagi ke party]
[Cooldown: 12 jam]
Ketiga kartu itu terbakar menjadi cahaya, lalu pecah menjadi benang-benang energi yang melesat ke seluruh anggota tim.
Karena dibagi ke lima orang, masing-masing memperoleh peningkatan sebesar delapan persen pada Defense, Attack, dan Agility.
Ketua langsung merasakan perbedaannya.
Tubuhnya terasa lebih ringan. Langkahnya lebih cepat.
Tanpa menunggu sedetik pun, ia melompat tinggi, palunya terangkat di atas kepala. Di bawahnya, Arman—dalam wujud Grizzly—menerjang dengan kecepatan yang juga meningkat, berniat mencabik kaki Fenrir.
Namun kekuatan mereka masih belum cukup untuk mengimbangi lawan.
Sebelum Ketua sempat menurunkan palunya, Fenrir Tua sudah lebih dulu melompat.
Terlalu cepat.
Tubuh raksasa itu melesat ke udara dan langsung menghantam Ketua sebelum senjatanya sempat diayunkan. Palu itu masih berada di punggung. Ketua bahkan tak punya waktu untuk membentuk posisi serang.
Satu benturan keras terdengar.
Ketua terlempar ke belakang.
“Honey!” teriak Jasmin, suaranya pecah oleh cemas.
Dari kedua tangannya, api kuning langsung menari keluar, meliuk seperti ular-ular hidup yang siap menerkam.
Namun Fenrir Tua sama sekali tidak berhenti.
Begitu selesai menghantam Ketua, ia membuka mulut lagi dan menembakkan cahaya lain ke arah Grizzly yang sedang menyerang dari bawah.
Arman sempat menghindar.
Semburan cahaya itu meleset dan menghantam tanah kosong.
Tetapi yang terjadi sesudahnya membuat semua orang menegang.
Tanah yang terkena cahaya langsung membeku, lalu meledak menjadi bongkahan-bongkahan es tajam yang menyebar ke segala arah.
Sebagian bongkahan itu menancap ke tubuh Grizzly.
Untungnya, kulit beast miliknya cukup tebal untuk menahan sebagian besar daya tembusnya.
Namun satu hal kini menjadi jelas bagi semua orang—
Fenrir Tua ini jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan