NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Jejak di Bukit Timur

Fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing ketika suara gesekan kapak membangunkan Lian Yue.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia membuka mata perlahan.

Melalui celah jendela bambu, langit masih diselimuti warna kebiruan. Embun menggantung di ujung dedaunan, sementara udara pagi terasa begitu dingin hingga membuat ujung jarinya sedikit kaku.

Di dunia asalnya, ia terbiasa bangun sebelum matahari terbit. Semakin pagi seseorang keluar mencari persediaan, semakin besar peluang untuk kembali hidup-hidup.

Kebiasaan itu rupanya masih melekat.

Lian Yue segera merapikan tempat tidurnya, lalu keluar dari kamar.

Di halaman, Han Zheng sedang mengasah kapak di atas batu. Di sampingnya telah tersedia keranjang bambu, gulungan tali, sebuah busur tua, dan tiga anak panah yang bulunya sudah mulai kusam.

Pria itu tampak terkejut melihat Lian Yue bangun sepagi itu. "Kau tidak tidur lagi?"

Lian Yue menggeleng. "Aku sudah terbiasa bangun pagi."

Han Zheng tersenyum tipis. "Ibu biasanya baru bangun saat langit mulai terang."

"Ayah juga masih beristirahat."

Lian Yue memperhatikan perlengkapan berburu yang dibawa Han Zheng. Busurnya sudah tua, talinya bahkan sudah mulai berbulu. Kapaknya pun telah beberapa kali ditambal. Semua peralatan itu menunjukkan satu hal. Keluarga Han benar-benar tidak memiliki uang untuk membeli yang baru.

"Kau akan ke gunung sekarang?"

Han Zheng mengangguk. "Kalau berangkat lebih pagi, kemungkinan bertemu hewan buruan lebih besar."

Lian Yue terdiam sejenak, ucapan burung pipit semalam kembali terngiang di kepalanya.

Di bukit sebelah timur... Ada mata air. Dan banyak kelinci datang mencari makan sebelum matahari meninggi.

Ia tentu tidak bisa mengatakan bahwa seekor burung memberitahunya. Siapa pun pasti akan menganggapnya gila.

Setelah berpikir beberapa saat, ia berkata pelan, "Bagaimana kalau... hari ini mencoba ke bukit sebelah timur?"

Han Zheng menghentikan gerakannya. "Bukit timur?"

"Ya."

Pria itu menggeleng perlahan. "Di sana sudah lama tidak ada orang berburu."

"Kenapa?"

"Jalannya tertutup longsor. Lagipula... rumput di sana terlalu lebat. Kalau ada hewan pun, sulit ditemukan."

Lian Yue berpura-pura berpikir. "Kemarin saat perjalanan ke sini... aku melihat banyak jejak kecil di dekat arah bukit itu."

"Itu terlihat seperti jejak kelinci." Tentu saja ia berbohong.

Namun ia tidak punya pilihan. Han Zheng tampak ragu, ia bukan tipe orang yang mudah percaya begitu saja.

Tetapi setelah memikirkan keadaan keluarga mereka, ia akhirnya mengangguk. "Tidak ada salahnya mencoba."

"Kalau memang tidak ada hasil, aku tetap bisa mencari kayu."

Lian Yue tersenyum kecil "Itu sudah cukup."

.

.

Setelah Han Zheng berangkat, Lian Yue membantu Nyonya Han menimba air dari sumur.

Ember kayu itu terasa berat. Namun tubuh pemilik asli rupanya telah terbiasa bekerja sehingga ia tidak terlalu kesulitan.

Nyonya Han diam-diam memperhatikan menantunya. "Kau... benar-benar tidak keberatan melakukan pekerjaan kasar?"

Lian Yue menuangkan air ke tempayan. "Dalam sebuah rumah, semua orang harus bekerja." Jawaban sederhana itu membuat Nyonya Han terdiam.

Ia sempat takut gadis yang dibeli keluarganya akan memandang rendah mereka. Nyatanya, sejak datang, Lian Yue justru selalu mencari pekerjaan.

Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah bermalas-malasan.

Selesai menimba air, Lian Yue mengambil sapu lidi. Halaman rumah sebenarnya sudah cukup bersih. Namun ia tetap menyapu daun-daun kering hingga terkumpul menjadi satu. Baginya, lingkungan yang rapi membuat pekerjaan berikutnya lebih mudah.

Saat sedang menyapu, terdengar suara kecil dari atas pagar.

["Manusia rajin."] Seekor burung pipit lain mendarat sambil membawa sebutir biji di paruhnya.

Tak lama kemudian datang dua ekor lagi. ["Yang ini berbeda."]

["Biasanya manusia hanya mengusir kami."]

["Dia malah membersihkan halaman."]

Lian Yue pura-pura tidak mendengar. Ia terus menyapu seperti biasa. Melihat tidak ada tanggapan, para burung mulai berani mendekat.

["Kalau halaman bersih, ular lebih mudah terlihat."]

["Benar."]

["Kemarin ada ular lewat dekat kandang ayam."]

Lian Yue menghentikan sapunya. Ular?

Ia menoleh ke arah tumpukan kayu bakar di sudut halaman. Tempat seperti itu memang sering menjadi persembunyian reptil. Tanpa banyak bicara, ia mengambil tongkat panjang lalu memeriksa sela-sela kayu.

Benar saja.

Seekor ular kecil melingkar di balik batang kayu yang lembap. Lian Yue tidak panik. Di dunia asalnya, ia pernah menangkap ular demi bertahan hidup.

Dengan hati-hati ia menjepit kepala ular menggunakan ranting bercabang, lalu memasukkannya ke dalam keranjang bambu. Nyonya Han yang baru keluar rumah langsung terkejut.

"Lian Yue!" teriaknya seraya berlari, "Itu ular! Jangan dekat-dekat!" Seraya memegang lengan Lian Yue agar menjauh dari sana.

Lian Yue tersenyum tenang. "Sudah tidak apa-apa."

"Aku akan melepasnya jauh dari rumah."

Nyonya Han memandang menantunya dengan wajah tak percaya. Bahkan Han Zheng pun biasanya meminta bantuan tetangga jika menemukan ular.

Sedangkan gadis muda itu justru mengatasinya sendirian. Sementara itu, tiga burung pipit di atas pagar saling berbisik.

["Dia hebat."]

["Tidak heran bisa mendengar bahasa kita."]

["Mungkin dia memang manusia pilihan."]

Lian Yue segera pergi membawa keranjang itu agar tidak perlu mendengar pujian yang membuatnya canggung.

.

.

Menjelang tengah hari, suara langkah kaki terdengar dari luar pagar. Han Zheng kembali. Keranjang bambunya tampak lebih berat daripada saat berangkat.

Begitu masuk halaman, Nyonya Han langsung menghampiri. "Bagaimana?"

Han Zheng meletakkan keranjang di tanah. Di dalamnya terdapat empat ekor kelinci liar. Selain itu masih ada beberapa ikat kayu bakar dan sekeranjang jamur hutan.

Nyonya Han sampai menutup mulutnya. "Empat..."

"Empat ekor?"

Han Zheng sendiri masih terlihat tidak percaya. "Di bukit timur... Ada padang rumput kecil di dekat mata air. Hampir belasan kelinci sedang mencari makan. Aku hanya berhasil menangkap empat."

Lian Yue menundukkan kepala, menyembunyikan senyumnya. Perkataan burung pipit ternyata benar. Han Zheng memandang istrinya cukup lama.

"Apa benar kau melihat jejak kelinci kemarin?"

Lian Yue menjawab setenang mungkin. "Mungkin hanya kebetulan."

Han Zheng tertawa pelan. "Kalau begitu...semoga keberuntunganmu terus ada."

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meja makan keluarga Han memiliki lauk daging. Meski hanya seekor kelinci yang dimasak, aroma kuah hangat memenuhi seluruh rumah.

Nyonya Han berkali-kali menyeka sudut matanya. "Sudah lama...rumah ini tidak dipenuhi bau masakan seperti ini."

Tuan Han yang biasanya pendiam pun tersenyum puas. Sementara Han Zheng diam-diam melirik Lian Yue.

Sejak gadis itu datang, keberuntungan kecil seolah mulai menghampiri keluarga mereka. Mungkin memang hanya kebetulan. Namun entah mengapa, ia berharap kebetulan seperti ini akan terus berlanjut.

Di luar rumah, beberapa burung pipit bertengger di atas pohon sambil berkicau riang.

["Manusia itu berhasil."]

["Besok kita cari kabar lagi."]

["Kalau keluarga ini tidak kelaparan, mereka pasti tidak akan mengusir kita."]

Lian Yue yang sedang menuangkan sup hampir tersenyum.

Ternyata... Bukan hanya manusia yang berharap keluarga Han hidup lebih baik. Burung-burung kecil itu pun diam-diam menginginkan hal yang sama.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Lian Yue merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.

Harapan.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!