NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Adit mengucek kedua matanya dengan cepat.

​Layar kebiruan yang bercahaya samar itu masih melayang tepat di depan wajahnya.

​"Ini bukan mimpi kan?" gumam Adit pelan.

​Dia mencoba menyentuh layar bercahaya itu dengan ujung jarinya.

​[Konfirmasi diterima. Mengaktifkan Sistem Perkebunan dan Peternakan.]

​[Proses sinkronisasi dengan tuan Aditya Pratama... 10%... 50%... 100%.]

​[Sinkronisasi selesai.]

​Suara mekanis tanpa emosi itu terdengar langsung di dalam kepala Adit.

​Adit terbelalak sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.

​"Beneran sistem? Kayak di komik-komik yang sering dibaca orang?" batin Adit ragu.

​[Selamat kepada Tuan. Anda mendapatkan Paket Pemula.]

​[Apakah Anda ingin membuka Paket Pemula sekarang?]

​Adit menelan ludahnya yang terasa kering.

​"Buka sekarang!" ucap Adit setengah berbisik.

​Ting!

​[Anda mendapatkan: 1 Botol Air Pemulihan Vitalitas Ternak.]

​[Anda mendapatkan: 1 Kantong Pupuk Nutrisi Organik Tingkat Tinggi.]

​[Anda mendapatkan: 100 Poin Pengalaman.]

​Sebuah botol kaca berisi cairan bening dan sebuah kantong kain kecil tiba-tiba jatuh ke pangkuannya.

​Buk!

​Adit kaget sampai hampir melompat dari tempat duduknya.

​"Astaga! Muncul dari mana barang-barang ini?" bisik Adit panik.

​Dia memandangi botol kaca di tangan kirinya dengan seksama.

​Cairan di dalam botol itu tampak berkilau meskipun dalam kegelapan malam.

​[Air Pemulihan Vitalitas Ternak: Mampu menyembuhkan segala penyakit ternak dan meningkatkan mutu fisik ternak secara drastis dalam waktu singkat.]

​Adit lalu melihat ke arah kandang kambingnya.

​Dua ekor kambing etawa muda itu masih terbaring lemas dengan napas yang terengah-engah.

​"Mungkin aku harus coba kasih minum air ini," gumam Adit.

​Adit mendekati kandang kayu yang sudah lapuk itu.

​Klek!

​Dia membuka selot pintu kandang perlahan agar tidak mengejutkan hewan di dalamnya.

​Adit membuka tutup botol kaca tersebut.

​Aroma harum yang sangat segar langsung menyeruak keluar dari dalam botol.

​"Wangi banget, beda sama air biasa," batin Adit.

​Adit menuangkan separuh cairan itu ke dalam wadah minum kayu milik kambing.

​Guk... guk...

​Suara anjing tetangga terdengar di kejauhan, namun Adit tidak mempedulikannya.

​Salah satu kambing muda itu mengendus-endus wadah air dengan pelan.

​Glek... glek... glek...

​Kambing itu mendadak minum dengan sangat lahap sampai air di wadah itu habis tak bersisa.

​Hanya dalam hitungan detik, keajaiban terjadi di depan mata Adit.

​Kambing yang tadinya terbaring lemah itu tiba-tiba berdiri tegak di atas keempat kakinya.

​Bulu kambing yang tadinya kusam dan kotor berubah menjadi putih bersih dan mengkilap.

​Mbekkk!

​Suara nyaring kambing itu memecah keheningan malam Desa Sukamaju.

​"Bohong... ini beneran langsung sehat?" Adit melotot tak percaya.

​Dia melihat kambing kedua yang masih lemas di sudut kandang.

​Adit langsung menuangkan sisa air dari botol kaca ke wadah minum kambing kedua.

​Glek... glek...

​Kambing kedua pun langsung meminumnya hingga bersih.

​Sama seperti sebelumnya, tubuh kambing kedua mendadak segar bugar dan berenergi.

​Mbekkk!

​Kedua kambing itu kini bergerak aktif dan menatap Adit dengan mata yang jernih.

​Adit tersenyum lebar hingga matanya berkaca-kaca.

​"Sistem ini beneran nyata! Aku tidak gila!" seru Adit gembira.

​Adit kemudian beralih menatap kantong kain berisi pupuk organik di tanah.

​Dia mengambil kantong itu dan berjalan menuju kebun cabai yang gersang.

​Batang-batang pohon cabai di sana tampak melengkung dan daunnya sudah berwarna kuning kecokelatan.

​[Pupuk Nutrisi Organik Tingkat Tinggi: Mampu menyuburkan tanah gersang dan mempercepat pertumbuhan tanaman hingga sepuluh kali lipat.]

​"Kalau air tadi bisa bikin kambing sehat, pupuk ini pasti bisa bikin cabai hidup lagi," batin Adit yakin.

​Adit membuka kantong kain itu.

​Di dalamnya terdapat serbuk halus berwarna cokelat keemasan yang memancarkan aroma tanah segar.

​Adit menaburkan serbuk pupuk itu di sekeliling akar tanaman cabai satu per satu.

​Syuuu...

​Angin malam berembus pelan menyapu permukaan tanah ladang.

​Tepat setelah pupuk itu menyentuh tanah, keajaiban kedua kembali terjadi.

​Tanah yang tadinya kering dan retak-retak perlahan berubah warna menjadi hitam pekat dan subur.

​Batang cabai yang layu mulai menegak kembali secara perlahan.

​Daun-daun kuning yang hampir gugur berubah menjadi hijau segar yang sangat pekat.

​Bahkan bunga-bunga putih kecil mulai bermunculan di setiap tangkai pohon cabai.

​"Luar biasa... cepat sekali tumbuhnya!" Adit terpana melihat pemandangan di depannya.

​Dalam waktu kurang dari satu jam, lahan cabai yang tadinya seperti kuburan tanaman berubah menjadi ladang yang sangat subur.

​Ting!

​[Tugas Pertama Selesai: Menyelamatkan Tanaman dan Ternak Pertama.]

​[Hadiah: 200 Poin Pengalaman & Pembukaan Fitur Toko Sistem.]

​Adit menepuk dadanya yang berdebar kencang.

​Rasa putus asa yang menyiksanya sejak kemarin sore mendadak sirna tanpa bekas.

​"Dengan sistem ini, aku pasti bisa sukses di desa," ucap Adit dengan mata berbinar penuh keyakinan.

​Dia memutuskan untuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.

​Malam itu, Adit tidur dengan sangat nyenyak untuk pertama kalinya sejak di-PHK dari kantornya.

​Kukuruyuk!

​Suara ayam jantan membangunkan Adit dari tidur nyenyaknya.

​Matahari pagi menyinari kamar tua melalui celah-celah dinding kayu.

​Adit segera melompat dari tempat tidur dan berlari ke halaman belakang.

​Di sana, Bang Jarwo dan Bang Sopo sudah berdiri mematung di pinggir ladang.

​Kedua orang tua itu menatap kebun cabai dan kandang kambing dengan mulut terbuka lebar.

​"Astagfirullahaladzim... Jarwo, coba pukul pipiku," bisik Bang Sopo dengan wajah pucat.

​Plak!

​Bang Jarwo menampar pipi Bang Sopo cukup keras.

​"Aduh! Kok beneran dipukul sih!" keluh Bang Sopo sambil memegangi pipinya.

​"Ya kamu yang suruh pukul tadi, Po!" sahut Bang Jarwo tak kalah kaget.

​"Tapi ini... ini beneran ladang cabai yang kemarin mau mati itu?" Bang Sopo menunjuk ke arah kebun.

​Pohon-pohon cabai di sana kini tumbuh lebat dengan buah-buah cabai hijau besar yang menggelantung rapat.

​Di kandang, dua ekor kambing etawa tampak sangat gemuk dan sehat sambil mengunyah rumput dengan gembira.

​Adit berjalan mendekati mereka berdua sambil pura-pura mengusap matanya.

​"Selamat pagi, Bang Jarwo, Bang Sopo," sapa Adit ramah.

​Bang Jarwo langsung menarik lengan baju Adit dengan kencang.

​"Dit! Kamu pakai sihir apa semalaman?" tanya Bang Jarwo dengan mata melotot.

​"Sihir apa, Bang? Saya tidak pakai sihir," jawab Adit sambil tertawa kecil.

​"Lalu ini kenapa cabai sama kambingmu bisa berubah total begini cuma dalam semalam?" sahut Bang Sopo kebingungan.

​Adit sudah menyiapkan alasan di dalam kepalanya sejak semalam.

​"Oh, itu, Bang. Dulu sebelum almarhum Bapak meninggal, Bapak pernah kasih resep ramuan pupuk khusus sama jamu ternak rahasia."

​"Resep rahasia dari almarhum?" Bang Jarwo mengernyitkan dahinya.

​"Iya, Bang. Semalam saya baru ingat resepnya dan langsung coba buat dari bahan-bahan sisa di dapur."

​"Ternyata khasiatnya ampuh sekali ya," tambah Adit memasang wajah polos.

​Bang Sopo mengelus janggutnya yang tipis sambil mengangguk-angguk.

​"Pantas saja! Bapakmu dulu memang terkenal pinter kalau urusan tanah dan hewan!"

​"Iya, aku ingat dulu hasil panen bapakmu selalu yang paling bagus se-desa," timpal Bang Jarwo percaya begitu saja.

​Adit bernapas lega dalam hati karena kedua pamannya tidak curiga lebih jauh.

​"Berarti hari ini kita bisa panen cabainya, Dit?" tanya Bang Sopo antusias.

​"Sepertinya begitu, Bang. Nanti siang kita petik sama-sama," jawab Adit.

​"Bagus! Aku bakal siapkan keranjang-keranjang di gudang!" seru Bang Jarwo gembira.

​Kedua orang tua itu langsung bergegas menuju gudang samping rumah dengan semangat membara.

​Adit menatap punggung kedua pamannya sambil tersenyum tipis.

​Langkah pertamanya di desa kini telah resmi dimulai.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!