NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Kepercayaan Yudha

Ruang arsip Satreskrim tidak berbau seperti rahasia.

Ia berbau kertas tua, debu halus, tinta map yang mulai pudar, dan kopi murah yang terlalu sering tumpah di meja kayu. Tapi ketika Yudha membuka pintunya dan menyerahkan kartu akses sementara kepada Raka, ruangan itu terasa lebih berat daripada ruang interogasi.

"Mulai hari ini, kau boleh masuk ke sini," kata Yudha.

Dimas yang berdiri di belakang bersiul pelan. "Wah. Anak baru naik kelas. Aku dulu butuh tiga tahun sebelum boleh menyentuh lemari kasus lama. Itu pun masih dimarahi karena salah taruh map."

Yudha menoleh.

Dimas langsung batuk. "Maksud saya, selamat, Raka. Jangan salah taruh map."

Raka menerima kartu itu. Permukaannya dingin di telapak tangan.

"Terima kasih, Komandan."

"Jangan terlalu cepat berterima kasih. Setiap file yang kau akses tercatat. Setiap fotokopi tercatat. Setiap permintaan data tercatat. Aku memberimu kepercayaan, bukan izin bermain-main."

"Siap."

Yudha menatapnya beberapa detik lebih lama dari perlu. "Kau sudah membuktikan dirimu. Tapi di tempat seperti ini, bukti kemampuan hanya membuka pintu. Cara kau berjalan setelah pintu terbuka yang menentukan apakah aku menyesal atau tidak."

Raka mengangguk.

Ia mengerti.

Kepercayaan bukan hadiah.

Kepercayaan adalah borgol yang dipasang dengan sopan.

Raka masuk ke ruang arsip bersama Andi. Rak besi berdiri berderet sampai ke dinding belakang. Label kuning menempel di ujung rak: pembunuhan, orang hilang, penipuan besar, kekerasan rumah tangga, kasus anak, dan map abu-abu bertanda tidak terpecahkan.

Map abu-abu itu menarik matanya seperti magnet.

"Cold case," kata Andi. "Sebagian karena bukti kurang. Sebagian karena saksi hilang. Sebagian karena, jujur saja, dulu orang yang menangani tidak cukup peduli."

Raka membuka satu map.

Mayat lelaki tanpa identitas ditemukan di sungai lima tahun lalu. Tulang rusuk patah. Tidak ada CCTV. Tidak ada keluarga yang mencari.

Ia membuka map lain.

Anak perempuan hilang di pasar malam. Saksi terakhir hanya ingat balon merah.

Map berikutnya: kebakaran rumah kontrakan yang menewaskan satu keluarga kecil. Ditutup sebagai korsleting, tetapi catatan petugas pemadam menyebut bau bensin tipis di lantai dapur.

Mata Dosa tidak bekerja pada foto lama seperti pada manusia hidup atau lokasi asli. Tapi ada sesSatu di dalam dada Raka yang bergerak setiap kali ia melihat kata tidak terpecahkan.

Setiap map adalah suara yang tidak pernah selesai berteriak.

"Kalau aku bisa datang ke lokasi lama..." gumam Raka.

Andi meliriknya. "Beberapa lokasi sudah berubah jadi ruko. Ada yang jadi parkiran. Ada yang hilang karena proyek jalan. Tapi data koordinat masih ada. Kalau kau mau memetakan prioritas, aku bisa bantu."

"Aku mau. Tapi tidak sekarang."

"Bagus. Karena sekarang kau punya makan siang dengan Komandan."

Raka menoleh. "Makan siang?"

Andi mengangkat bahu. "Kalau Komandan mengajak makan siang berdua, biasanya ada dua kemungkinan. Kau akan diberi tugas penting, atau dimarahi dengan nasi. Kadang dua-duanya."

Warung makan di seberang Polres kecil dan penuh anggota berseragam. Yudha memilih meja pojok. Ia memesan nasi pecel, es teh tawar, lalu diam sampai pelayan pergi.

Raka menunggu.

Yudha akhirnya berkata, "Aku dua puluh lima tahun di kepolisian."

Kalimat itu tidak terdengar seperti awal cerita heroik. Lebih seperti seseorang membuka laci yang lama dikunci.

"Waktu masih muda, aku punya partner. Namanya Arman. Orangnya berisik, ceroboh, tapi matanya tajam. Kami mengejar pelaku penculikan anak di gudang kosong. Aku mengikuti prosedur. Ia mengikuti insting. Kami berdebat tiga menit di luar pintu. Tiga menit itu cukup untuk pelaku menembak lebih dulu."

Raka menahan napas.

Yudha menatap gelasnya. "Arman mati di depan mataku. Aku selamat karena dia mendorongku jatuh. Sejak itu aku benci orang yang mengandalkan insting tanpa bukti. Tapi aku juga tahu, kadang bukti datang terlambat karena orang seperti aku terlalu takut melanggar kebiasaan."

Suara warung tetap ramai di sekitar mereka. Sendok beradu piring. Motor lewat. Orang tertawa.

Di meja itu, semuanya terasa jauh.

"Aku merekrutmu bukan karena channel YouTube-mu," lanjut Yudha. "Aku merekrutmu karena di kasus Dewi, kau membuktikan sesSatu yang jarang kulihat. Kau peduli pada kebenaran bahkan saat kebenaran itu membuatmu terlihat gila."

Raka menunduk.

Nama Dewi selalu membuat sesSatu di dadanya mengeras.

"Tapi aku juga tahu kau menyembunyikan sesSatu," kata Yudha.

Tidak keras.

Justru karena tidak keras, kalimat itu lebih berbahaya.

"Cara kau menemukan bukti. Cara kau membaca orang. Cara kau membuat Bardi bicara. Itu bukan skill biasa, Raka. Aku sudah terlalu lama menjadi polisi untuk percaya semuanya hanya keberuntungan."

Raka memegang gelas es tehnya. Embun membasahi jari.

Ia ingin bicara.

Untuk pertama kali, ia benar-benar ingin memberitahu seseorang selain Kribo. Tentang Buku Penghakiman. Tentang panel merah. Tentang ruang gelap tempat orang-orang berdosa dijatuhi vonis oleh sesSatu yang bukan manusia.

Tapi kalimat itu tidak keluar.

Ada terlalu banyak yang belum ia mengerti.

Ada terlalu banyak risiko.

Yudha menghela napas pendek. "Aku tidak akan bertanya sekarang. Aku juga tidak akan memaksamu memilih hari ini. Tapi sSatu hari, Raka, kau harus memilih: percaya padaku, atau jalan sendiri."

Raka menatapnya.

"Aku akan memberitahu Komandan," katanya pelan. "SSatu hari."

Yudha mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia duga. "Pastikan hari itu datang sebelum rahasiamu memilih waktunya sendiri."

Sore harinya, di ruang briefing, Yudha mengumumkan keputusan formal.

"Untuk kasus-kasus khusus dengan pola tidak biasa, Raka Laksana akan bertindak sebagai lead investigator di bawah supervisiku. Dimas tetap pendamping lapangan. Andi tetap dukungan data. Semua keputusan operasional tetap melalui jalur komando. Jelas?"

Beberapa anggota saling pandang.

Dimas yang dulu paling mungkin protes justru mengangkat tangan santai. "Jelas, Komandan. Kalau anak ini mulai sok pintar, saya yang menendang kursinya. Kalau dia benar, saya ikut."

Raka menoleh.

Dimas menyeringai. "Apa? Jangan menatap seperti anak kos dapat rice cooker baru. Kau memang bagus. Menyebalkan, tapi bagus."

Andi menyerahkan kartu akses digital baru. "Database kepolisian nasional. Aksesmu terbatas tapi cukup luas untuk orang yang bukan anggota organik. Jangan coba-coba mencari mantan pacar orang. Semua log terlihat."

Kribo, yang hadir lewat panggilan terenkripsi di laptop Andi, langsung bersuara, "Bang Andi, fitnah itu terlalu spesifik."

"Karena aku tahu tipe orang seperti kamu."

"Aku tersanjung diklasifikasi sebagai tipe."

Raka mengambil kartu itu. Kartu kecil. Plastik biasa. Tapi di dalamnya ada pintu ke ratusan ribu laporan, nama, nomor plat, pola lama, kesalahan lama, dan mungkin jawaban untuk suara-suara yang belum selesai.

Malamnya, Buku Penghakiman terbuka di meja kos.

Kribo sedang makan mi instan sambil memandangi kartu akses baru seolah itu benda suci.

"Bro, kau sadar hari ini kita secara resmi naik dari tim ilegal penuh semangat menjadi tim semi-legal penuh risiko?"

"Kau tetap tidak boleh menyentuh database tanpa izin."

"Aku tidak menyentuh. Aku mengagumi dari jarak aman. Seperti melihat mobil sport orang kaya."

Panel hitam muncul di halaman buku.

【Status afiliasi diperbarui.】

【Raka Laksana: Lead Investigator, Satreskrim Polres Distrik Surya.】

【Akses investigasi meningkat.】

【Bonus kepercayaan: +200 Poin Penghakiman.】

【Saldo saat ini: 5.700 Poin Penghakiman.】

Kribo menunjuk panel dengan sumpit. "Bahkan sistem menghargai jabatan. Kapitalisme spiritual."

Raka tidak tertawa.

Ia masih mendengar suara Yudha.

Percaya padaku, atau jalan sendiri.

Di atas meja, kartu akses digital memantulkan cahaya lampu kos.

Raka menyentuhnya dengan ujung jari.

Pintu baru sudah terbuka.

Masalahnya, setiap pintu dalam hidupnya selalu membawa lorong yang lebih gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!