Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009 - Pengkhianatan di Lantai 21
Pagi datang tanpa matahari.
Langit Semarang masih kelabu merah, seperti bara yang ditutup abu. Dari jendela lantai 21, Kiara melihat beberapa titik hitam jatuh dari retakan langit yang belum sepenuhnya menghilang.
Zombie.
Masih turun.
Di belakangnya, Arga memasukkan Pedang Hi-Tech ke sisi pinggang. Combat Suit sudah menempel di tubuhnya, gelap, rapat, tanpa suara ketika ia bergerak.
"Aku keluar," katanya.
Kiara langsung menoleh. "Sekarang?"
"Ada Airdrop Box yang harus kuambil sebelum orang lain atau Zombie mendekat."
Kiara menggenggam gagang pisau dapur di meja. Luka di lengannya masih perih. Tidur semalam tidak membuat mimpi tentang Ratna hilang. Sekarang Arga justru akan meninggalkannya di kamar ini.
Sendirian.
Arga meletakkan dua pisau dapur tambahan dan satu belati kecil di atas meja makan. Di sebelahnya ada satu botol air otomatis milik Kiara, satu kotak makanan otomatis, dan satu Kristal yang semalam ia berikan.
"Dengar baik-baik."
Kiara mengangguk, tenggorokannya kering.
"Siapa pun yang mengetuk, jangan buka."
"Kalau mereka bilang butuh bantuan?"
"Jangan buka."
"Kalau mereka bilang kamu yang suruh?"
Mata Arga dingin. "Apalagi itu."
Kiara menelan ludah.
Arga menunjuk pintu utama. "Dorong sofa ke belakang pintu setelah aku keluar. Pakai meja kecil sebagai ganjalan. Kalau pintu terbuka, mundur ke kamar tidur. Kunci dari dalam. Pertahankan kamar itu, bukan seluruh suite."
"Tapi makanan di luar..."
"Biarkan."
Kiara terdiam.
Arga menatapnya. "Barang yang benar-benar penting tidak ada di ruang tamu."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Kiara juga tidak bertanya. Setelah melihat makanan dan air muncul dari tangan Arga berkali-kali, ia tahu ada rahasia yang tidak boleh disentuh.
"Aku cuma perlu bertahan?" bisiknya.
"Bertahan sampai aku kembali."
Kalimat itu pendek.
Tapi bagi Kiara, kalimat itu seperti tali yang dilemparkan ke tengah banjir.
Arga berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
"Kiara."
"Ya?"
"Kalau mereka masuk, jangan berteriak terlalu lama."
Tubuh Kiara membeku.
"Tusuk tangan pertama yang mencoba menyentuhmu."
Lalu Arga membuka pintu dan menghilang ke koridor.
Klik.
Pintu tertutup.
Sunyi jatuh.
Kiara berdiri beberapa detik, lalu segera menyeret sofa. Kakinya gemetar. Sofa besar itu berat, tapi rasa takut membuat tubuhnya bergerak. Ia mendorong, menarik, menabrakkan kaki sofa ke karpet, lalu menambah meja kecil dan dua kursi di belakangnya.
Setelah itu ia masuk ke kamar tidur, memeriksa kunci, memeriksa balkon, memeriksa kamar mandi.
Semua aman.
Setidaknya untuk saat ini.
Satu jam pertama berlalu dengan napas tertahan.
Di luar, kadang terdengar suara benda jatuh dari lantai bawah. Kadang ada jeritan pendek, lalu suara geraman Zombie menelan jeritan itu.
Kiara duduk di belakang pintu kamar tidur dengan dua pisau di pangkuan.
Ia mencoba makan.
Tidak bisa.
Perutnya lapar, tapi tenggorokannya seperti tertutup batu.
Pukul menjelang siang, suara langkah mulai terdengar dari koridor.
Bukan satu orang.
Banyak.
Kiara berdiri.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pertama halus.
"Mbak Kiara?" suara Kepala Security terdengar dari luar. Masih memakai nada sopan yang dibuat-buat. "Kami cuma mau bicara."
Kiara tidak menjawab.
"Pak Arga keluar, kan? Tenang saja. Kami bukan mau macam-macam. Kami cuma mau minta sedikit makanan."
Jantung Kiara berdetak semakin cepat.
Sedikit?
Di balik pintu itu, ia mendengar bisikan kasar, napas lapar, dan gesekan sandal basah di karpet koridor.
Bukan sedikit orang.
"Mbak," kata Kepala Security lagi, kali ini lebih keras, "di luar banyak warga kelaparan. Anak-anak juga ada. Tidak baik kalau satu kamar menyimpan makanan sebanyak itu."
Suara perempuan menyahut, "Iya, Mbak! Kami sudah tiga hari tidak makan nasi!"
"Air kami habis!"
"Dia laki-laki kuat, bisa cari lagi!"
Kiara menggigit bibir.
Ia ingin mengatakan bahwa Arga mendapatkan semua itu sebelum bencana. Ia ingin mengatakan bahwa mereka tidak pernah membantu. Ia ingin mengatakan bahwa ketika orang-orang di koridor memukul pintu malam itu, Arga sudah memberi peringatan.
Tapi Arga berkata jangan buka.
Jangan jawab terlalu banyak.
Kepala Security mengetuk lebih keras.
"Mbak Kiara, buka pintunya. Kalau Anda tidak buka, orang-orang bisa salah paham."
Kiara akhirnya menjawab, suaranya bergetar tapi jelas.
"Arga bilang tidak boleh buka."
Koridor mendadak hening.
Lalu terdengar tawa rendah.
Bang Jago.
"Dengar? Anak itu sudah punya perempuan penjaga pintu."
Beberapa orang tertawa, tapi tawa itu kering, penuh lapar.
Kepala Security menghela napas palsu. "Mbak, jangan takut. Kami ini warga hotel. Kita semua sama-sama korban. Kalau Pak Arga menimbun makanan sementara orang lain mati kelaparan, itu bukan hak. Itu dosa sosial."
"Pergi," kata Kiara.
Kata itu keluar lebih pelan daripada yang ia inginkan.
Bang Jago tertawa lagi.
"Galak juga."
Kepala Security tidak lagi mengetuk. Suaranya berubah menjadi lebih dingin.
"Buka."
"Tidak."
"Saya bilang buka."
"Tidak."
Keheningan turun satu detik.
Lalu Kepala Security berkata kepada orang-orang di belakangnya, "Kalian dengar sendiri. Mereka tidak mau berbagi. Di saat kita semua hampir mati, satu orang mengunci makanan dan air untuk dirinya sendiri. Kalau kita paksa pintu ini terbuka, itu bukan mencuri. Itu menyelamatkan nyawa."
Kerumunan mulai ribut.
"Benar!"
"Buka saja!"
"Kami cuma ambil bagian kami!"
"Dia punya satu kamar penuh!"
Kiara mundur satu langkah.
Di luar, Bang Jago berkata, "Waktunya kerja, Bro."
Suara logam kecil menyentuh lubang kunci.
Klik.
Klik klik.
Kiara menatap gagang pintu.
Ada orang sedang membongkar kunci.
Ia langsung mendorong sofa lebih kuat dengan bahunya. Nafasnya terengah. Tangan kirinya menggenggam pisau sampai buku jarinya memutih.
"Jangan!" teriaknya. "Aku punya pisau!"
Dari luar terdengar suara laki-laki berat. "Punya pisau ya punya. Gue dulu pemilik toko kunci, Dek. Pintu begini cuma mainan."
Bang Jago menepuk sesuatu. "Cepat."
Orang gendut itu terkekeh. "Sebentar lagi."
Klik.
Kiara merasa darahnya turun ke kaki.
Ia ingin Arga ada di sini.
Tapi koridor hanya berisi musuh.
Klik.
Gagang pintu bergerak.
Sofa menahan daun pintu yang terdorong sedikit. Celah sempit terbuka. Suara orang-orang langsung meledak.
"Dorong!"
"Bareng-bareng!"
"Ayo!"
BOOM.
Pintu menghantam sofa.
Kiara menahan dari sisi dalam. Bahunya terasa mau patah. Sofa bergeser beberapa senti. Meja kecil di belakangnya berderit, salah satu kaki kursi patah.
"Jangan masuk!" teriak Kiara.
BOOM.
Benturan kedua lebih kuat.
Sofa bergeser lagi.
Melalui celah pintu, tangan seseorang menyelinap masuk dan mencoba menarik meja.
Kiara tidak berpikir.
Ia mengangkat pisau dan menusuk.
"Aaaa!"
Darah menyembur ke karpet.
Tangan itu ditarik keluar.
Koridor langsung kacau.
"Perempuan gila!"
"Dia nusuk!"
Bang Jago membentak, "Mundur kalau takut! Makanan ada di depan mata!"
Kepala Security menambah minyak ke api. "Lihat? Mereka bukan cuma menimbun makanan, mereka menyerang orang lapar! Dorong! Kalau hari ini kita mundur, besok anak-anak kita mati!"
Kata anak-anak membuat beberapa orang yang ragu kembali maju.
BOOM.
BOOM.
Sofa akhirnya terseret ke samping.
Pintu terbuka lebar.
Belasan orang tumpah masuk ke ruang tamu.
Kiara mundur cepat, hampir tersandung karpet. Ia melihat wajah-wajah yang kemarin mungkin masih terlihat seperti tamu hotel biasa. Sekarang mata mereka merah, bibir pecah, tangan mereka mencengkeram tas, baskom, sarung bantal, apa pun yang bisa dipakai membawa barang.
"Indomie!"
"Aqua!"
"Lilin ambil!"
"Tabung gas! Hati-hati!"
Ruang tamu pecah menjadi pasar liar.
Dus makanan dirobek. Botol air diambil berkrat-krat. Biskuit diinjak. Kaleng makanan berguling di lantai. Seseorang memasukkan sambal botol ke dalam sarung bantal seperti sedang menjarah toko.
Kiara mundur sampai pintu kamar tidur.
"Berhenti!" suaranya serak. "Itu bukan milik kalian!"
Seorang perempuan tua menatapnya sambil memeluk dua dus mi instan. "Kalau bukan milik kami, lalu kami harus mati?"
"Arga akan kembali."
Kalimat itu membuat beberapa orang berhenti.
Nama Arga masih punya tekanan.
Mereka ingat lelaki yang berdiri di pintu dengan mata dingin. Mereka ingat lantai bawah yang penuh Zombie mati. Mereka ingat Kepala Security sendiri tidak berani masuk ketika Arga ada.
Tapi Bang Jago melangkah maju.
Tubuhnya besar, bahunya lebar, wajahnya penuh bekas luka lama. Di belakangnya ada tiga laki-laki lain. Salah satunya orang gendut pembongkar kunci, sedang membalut tangan yang terluka dengan kain.
"Balik ya balik," kata Bang Jago. "Kalau dia balik, kita bicara ramai-ramai."
Kiara mengangkat dua pisau.
Tangannya gemetar.
Pisau itu tidak.
Bang Jago melihat gerakan itu dan menyeringai.
"Kamu pikir bisa lawan kami berempat?"
"Aku cuma perlu menusuk satu dulu."
Suara Kiara masih bergetar.
Tapi matanya tidak turun.
Salah satu anak buah Bang Jago mendecakkan lidah. "Bang, cewek ini lumayan. Sayang kalau cuma ditinggal."
Kiara merasakan dingin merayap di punggung.
Ia mundur setengah langkah ke dalam kamar tidur, tapi tidak menutup pintu. Dua pisau tetap terangkat. Posisi pintu sempit. Kalau mereka masuk satu per satu, ia masih punya kesempatan menusuk wajah atau leher.
Arga pernah berkata: jangan pukul dada, jangan tebas lengan. Mata, tenggorokan, paha bagian dalam.
Tempat yang membuat orang berhenti bergerak.
Kiara mengingat itu sambil menggigit bibir sampai berdarah.
Bang Jago mengangkat tangan, menahan anak buahnya.
"Jangan bodoh. Perempuan yang sudah terpojok biasanya nekat."
Ia menatap Kiara dari kepala sampai kaki, membuat kulit Kiara terasa kotor.
"Tidak buru-buru."
Kiara tidak menjawab.
Bang Jago tertawa pelan. "Kita ambil makanan dulu. Biar dia di kamar. Dua hari tanpa makan, tiga hari tanpa air, nanti juga dia buka pintu sendiri."
Orang gendut itu mendesis kesal. "Tangan gue berdarah, Bang."
"Makanya nanti kamu dapat bagian lebih."
Kepala Security berdiri di dekat sofa yang terguling. Ia tidak ikut mengangkut barang. Ia hanya mengatur.
"Ambil yang bisa dibawa. Jangan ribut terlalu keras. Zombie di bawah bisa naik."
Kiara menatapnya dengan mata merah. "Kamu yang mulai semua ini."
Kepala Security menoleh. Ekspresinya masih berusaha terlihat benar.
"Saya menjaga orang banyak."
"Kamu mencuri."
Wajah Kepala Security mengeras.
"Dalam keadaan seperti ini, kata mencuri sudah tidak berlaku, Mbak."
"Berlaku," kata Kiara. "Arga akan membuatmu ingat."
Untuk sesaat, Kepala Security tampak goyah.
Lalu Bang Jago tertawa keras.
"Arga, Arga, Arga. Kamu pikir dia dewa? Dia cuma satu orang."
Kerumunan kembali bergerak.
Setengah jam berikutnya seperti mimpi buruk yang dipaksa berjalan pelan.
Kiara berdiri di ambang pintu kamar tidur, dua pisau di tangan, sementara ruang tamu dihancurkan di depan matanya. Setiap kali seseorang mencoba mendekat ke kamar, ia mengangkat pisau lebih tinggi. Darah dari bibirnya menetes ke dagu. Lututnya gemetar, tapi kakinya tidak mundur lagi.
Mereka mengambil air.
Mereka mengambil mi.
Mereka mengambil makanan kaleng, lilin, baterai, korek, biskuit, bahkan kantong sampah.
Satu orang mencoba membuka lemari dekat kamar tidur. Kiara langsung maju satu langkah dan mengayunkan pisau.
Pria itu melompat mundur.
"Anjing, hampir kena!"
Bang Jago menatap Kiara lebih lama.
Kali ini senyumnya hilang sedikit.
"Biarkan lemari itu. Kita sudah cukup."
Tidak cukup.
Bagi orang lapar, cukup tidak pernah ada.
Tapi mereka mulai takut dengan suara dari bawah. Beberapa Zombie mungkin tertarik oleh keributan. Dari tangga darurat terdengar geraman samar.
Kepala Security akhirnya memberi isyarat.
"Keluar. Bawa barang ke kamar masing-masing. Jangan ada yang jatuh."
Mereka pergi satu per satu.
Ruang tamu yang semalam membuat Kiara merasa aman kini hancur seperti gudang habis dijarah. Dus kosong robek di lantai. Air tumpah. Kursi patah. Sofa miring. Bekas darah orang gendut itu menghitam di dekat pintu.
Bang Jago menjadi orang terakhir yang keluar.
Ia berhenti di depan pintu suite dan menoleh ke Kiara.
"Jangan kunci terlalu rapat, Dek. Nanti kalau kamu lapar, ketuk kamar abang."
Kiara mengangkat pisau.
"Keluar."
Bang Jago tertawa, lalu menutup pintu dari luar.
Klik.
Sunyi.
Kiara masih berdiri.
Satu detik.
Dua detik.
Sepuluh detik.
Baru setelah suara langkah mereka menjauh, tubuhnya jatuh ke lantai.
Pisau masih berada di tangannya.
Ia merangkak mundur ke kamar tidur, menendang pintu hingga tertutup, lalu mengunci. Setelah itu ia menyeret koper kosong dan meja rias kecil untuk mengganjal pintu dari dalam.
Baru di sudut kamar, ia pecah.
Tidak ada teriakan.
Hanya napas patah dan air mata yang keluar tanpa suara.
Ia memeluk kedua lutut. Dua pisau diletakkan di samping paha, ujungnya mengarah ke pintu.
Di luar, dari salah satu kamar tetangga, terdengar tawa Bang Jago.
Lalu suara mi instan diremukkan.
Seseorang membuka botol air.
Gluk. Gluk. Gluk.
Suara itu lebih menyakitkan daripada tamparan.
Kiara menutup telinga, tapi tetap mendengarnya.
"Arga..." bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia menggigit bibir yang sudah luka, memaksa dirinya tidak pingsan.
"Cepat kembali..."
Di bawah hotel, di antara mobil-mobil yang hangus dan genangan air kotor, Arga berhenti melangkah.
Di punggungnya, tas kecil berisi hasil Airdrop kedua masih basah oleh hujan merah yang tersisa.
Telepati menyapu naik ke lantai 21.
Puluhan pikiran masuk seperti pisau kotor.
Makanan itu manis sekali.
Perempuan itu hampir menangis.
Besok kita ambil kamarnya juga.
Kalau Arga marah, ramai-ramai saja.
Tangan orang gendut itu masih berdarah. Bau darah itu bahkan terbaca jelas dari pikiran paniknya.
Lalu Arga mendengar satu suara yang paling kecil.
Arga... cepat kembali...
Langkah Arga berhenti total.
Udara di sekelilingnya turun beberapa derajat.
Ia mengangkat kepala ke arah lantai 21.
Matanya perlahan berubah merah.
"Aku sudah kembali," katanya pelan.