NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Tamu dari Purnama

Beberapa hari kemudian, Renata memasuki lantai keamanan siber Purnama International di SCBD tanpa membawa nama Halim.

Kartu tamunya hanya tertulis Renata dan jabatan konsultan independen. NDA sudah ditandatangani kedua pihak. Ponsel disegel di loker, seluruh rekaman ruangan dimatikan, dan pembayaran tahap awal telah masuk ke rekening konsultasinya.

Tania menunggu dari lokasi lain sebagai jalur cadangan.

Dua staf keamanan menyambut Renata di ruang rapat. Mereka tampak ragu ketika melihat konsultan yang datang sendirian.

“Kami mengira tim JK akan mengirim beberapa orang,” kata salah satunya.

“Untuk melihat masalahnya, satu orang cukup.”

Pintu terbuka sebelum staf itu sempat menjawab.

Seorang lelaki tinggi masuk dengan langkah sedikit tidak rata. Jasnya tidak dikancingkan, dasinya longgar, dan caranya mengamati ruangan mengingatkan Renata kepada orang yang terbiasa mencari jalur keluar sebelum duduk.

“Saya Xavier,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Yang membayar tagihan mahal itu.”

“Renata. Yang memastikan tagihannya pantas dibayar.”

Xavier tertawa pendek. Kedua stafnya saling pandang.

“Bagus. Saya nggak suka orang yang takut kepada klien.”

Pertemuan langsung dimulai. Layar menampilkan serangkaian kebocoran data dari aset Purnama di luar negeri. Tim internal menyimpulkan serangan datang dari jaringan eksternal yang berubah-ubah.

Renata berdiri di depan papan tulis.

“Itu cuma pintu masuk.”

Ia menggambar alur akses, memisahkan waktu login, hak pengguna, dan perpindahan berkas. Dalam beberapa menit, tiga kejadian yang tampak terpisah membentuk satu pola.

“Penyerang luar menerima jadwal dari seseorang di dalam. Lihat jeda ini. Mereka selalu masuk sebelas menit setelah sistem cadangan beralih. Informasi perpindahan itu nggak tersedia di jaringan publik.”

Salah satu staf menggeleng. “Hak aksesnya terlalu terbatas.”

“Justru itu. Kalian mencari pegawai yang membuka data. Cari orang yang menentukan kapan data dipindahkan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Xavier mengambil spidol dan menandai dua jabatan di bagan organisasi. “Dua orang ini tahu jadwal.”

“Dan salah satunya mengubah perangkat autentikasi tiga hari sebelum kebocoran pertama,” kata Renata.

Mata Xavier menyipit dengan minat. Bukan pada wajahnya, melainkan pada jalur serangan di papan.

“Berapa lama sampai Anda bisa membuktikannya?”

“Tiga minggu untuk bukti yang bisa dipakai perusahaan. Lebih cepat kalau tim Anda berhenti menyentuh log asli.”

Kedua staf keamanan tampak tersinggung.

Renata membuka salinan log yang sudah disiapkan dan menunjukkan satu nomor perangkat. “Pagi ini seseorang dari tim Anda mencoba menghapus sesi uji.”

Staf yang duduk paling dekat layar berubah pucat. “Itu bukan saya.”

“Saya nggak bilang Anda.”

Ia menggeser tampilan ke samping. Nomor yang sama muncul pada permintaan akses ruang server dua minggu sebelumnya.

“Perangkat ini memakai identitas sementara milik vendor, tapi terhubung dari jaringan lantai direksi. Jangan menangkap siapa pun dulu. Kalau pelaku tahu kita sudah melihatnya, dia akan memutus jalur ke pihak luar.”

Xavier bersandar ke meja. “Jadi kita biarkan dia bekerja?”

“Kita beri ruang yang terlihat asli, tapi isinya salinan. Setiap dokumen diberi penanda berbeda. Saat satu bocor, kita tahu siapa yang membukanya.”

“Umpan.”

“Bukti.” Renata mengoreksi. “Umpan tanpa rantai penyimpanan yang benar cuma menjadi gosip kantor.”

Kedua staf itu kini tidak lagi meragukan kenapa hanya satu orang yang datang.

Xavier malah tersenyum. “Saya suka jawaban jujur.”

Renata menyerahkan daftar syarat: salinan forensik terpisah, akses berbatas waktu, larangan perubahan sistem tanpa persetujuannya, serta biaya tambahan untuk perjalanan luar negeri.

“Caj konsultasi ini masuk rekening Anda sendiri?” tanya Xavier sambil membaca.

“Ya.”

“Bukan perusahaan suami Anda?”

Renata mengangkat pandangan.

Xavier mengangkat satu tangan. “Nama Anda ada di semua berita. Saya perlu memastikan konflik kepentingan.”

“Nathan Halim tidak memiliki akses pada pekerjaan saya, bayaran saya, atau metode saya. Jika Purnama menginginkan konsultannya sebagai perpanjangan Prima, kita bisa berhenti sekarang.”

“Sebaliknya.” Xavier menandatangani halaman terakhir. “Saya ingin orang yang nggak bisa dibeli Prima.”

Setelah pertemuan selesai, Xavier mengajak Renata makan siang di restoran gedung.

“Bukan kencan,” katanya santai. “Saya cuma ingin tahu bagaimana Anda menemukan dua jabatan itu.”

“Kalau ingin tahu metode, waktunya masuk tagihan.”

“Makan siangnya saya bayar.”

“Tetap lebih murah daripada tarif saya.”

Xavier kembali tertawa. Renata menolak dengan sopan dan mengingatkan bahwa diskusi berikutnya hanya dilakukan dalam sesi resmi.

Di lorong menuju lift, langkah Xavier sempat berubah. Tangannya menekan sisi perut sepersekian detik sebelum kembali masuk ke saku. Renata melihat, tetapi tidak bertanya.

“Ada satu lokasi yang mungkin perlu Anda datangi,” katanya. “Aset sensitif di Maladewa. Sistem di sana terhubung dengan mitra keamanan pemerintah.”

“Saya perlu ruang lingkup dan izin tertulis.”

“Akan saya siapkan.”

“Saya belum menyetujui perjalanan.”

“Saya tahu.” Xavier menyerahkan kartu nama. “Tapi kalau jadi ke Maladewa, saya yang antar. Tim saya nggak akan bisa menjelaskan medan sebaik saya.”

Pintu lift terbuka. Renata menerima kartu tersebut, lalu masuk.

Sebelum pintu tertutup, ia melihat Xavier berbicara kepada dua stafnya.

“Perempuan ini beda,” katanya. “Jaga batas aksesnya. Jangan ada yang mencoba melihat data pribadinya.”

Untuk pertama kalinya setelah lama, seorang lelaki melihat kemampuan Renata lebih dulu daripada status pernikahannya.

Di tempat lain, pesawat Angkasa yang diterbangkan Nathan baru mendarat. Begitu ponselnya aktif, pesan Bik Inah muncul.

Nyonya belum pulang. Katanya bertemu klien penting.

Nathan membaca dua kata terakhir lebih lama daripada seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!