Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
.
Malam makin larut dan udara terasa makin dingin. Akhirnya Rania memutuskan untuk menyewa sebuah kamar hotel kecil di pusat kota. Bukan hotel mewah, hanya tempat sederhana sekadar untuk beristirahat dan melarikan diri dari kenyataan untuk sementara waktu. Beruntunglah meskipun menjadi istri seorang Arga Pratama, Rania tetap bekerja sehingga memiliki tabungan sendiri.
Begitu masuk ke dalam kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia merasa sangat lelah, namun bukan lelah secara fisik, melainkan hatinya yang terasa begitu remuk dan letih menanggung segala luka.
Tak lama kemudian, ponsel di saku tasnya kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, melainkan pesan masuk. Dengan tangan yang gemetar, Rania membukanya satu per satu.
"Aku mencarimu ke mana-mana. Di mana kamu sekarang?"
Pesan berikutnya menyusul.
"Angkat teleponku, Rania. Aku ingin bicara denganmu."
Rania menghela nafas panjang kemudian mematikan ponsel. Memangnya apalagi yang perlu mereka bicarakan? Semua sudah selesai. Wanita itu memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan mata. Dirinya harus mau istirahatkan tubuh dan pikirannya agar siap untuk menghadapi hari esok.
*
*
*
Pagi itu, Arga pergi ke perusahaan dengan lingkaran hitam yang terlihat jelas di matanya. Sejak Rania pergi pergi semalam, dan setelah pertengkaran dengan ibunya, ia terus berusaha menghubungi wanita yang Dia sadar statusnya telah berubah menjadi mantan istri. Puluhan kali menelepon, mengirim pesan, namun tak satu pun yang mendapat jawaban.
Kini di ruang kerjanya, Arga duduk dengan wajah yang terlihat pucat dan lelah, matanya terus menatap layar ponsel yang sejak semalam selalu mengeluarkan kalimat yang sama….
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Arga memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak semalam terasa semakin sulit ia tahan. Ia sadar telah menyakiti Rania. Namun, ia benar-benar merasa tidak punya jalan lain. Bayangan ibunya yang menangis sambil menggenggam pisau itu kembali terlintas jelas di kepalanya. Ia tidak ingin kehilangan ibunya, tapi di sisi lain, ia juga tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Rania. Sayangnya, kenyataan sering kali tidak memberikan pilihan yang adil. Lebih dari semua itu, ia tidak ingin membuat Rania semakin terluka oleh hinaan demi hinaan yang selalu terlontar dari mulut tajam ibunya.
Tok… tok… tok…!
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk," ucap Arga dengan suara yang terdengar serak.
Pintu terbuka perlahan, lalu Haviz, asisten pribadinya melangkah masuk dengan sikap hormat.
"Pak Arga, rapat dengan klien dari Surabaya akan dimulai tiga puluh menit lagi."
"Aku tahu," jawab Arga singkat.
"Apakah perlu saya jadwalkan ulang? Kondisi Bapak kelihatannya kurang baik," tanya asisten itu dengan nada ragu.
Arga hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit. Kurang baik? Kalau saja orang itu tahu bahwa sepanjang malam ia bahkan tidak bisa tidur sedikit pun. "Tidak perlu. Lanjutkan saja sesuai jadwal."
Setelah Haviz keluar, Arga kembali menatap layar ponselnya. Di latar belakang tampak foto dirinya bersama Rania, diambil saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Dalam foto itu, Rania tersenyum begitu cerah, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Melihatnya saja sudah membuat hati Arga terasa diremas kuat. Ia sadar, senyum seindah itu mungkin tidak akan pernah bisa ia lihat lagi.
*
Di sisi lain kota, Rania terbangun perlahan. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, akibat terlalu banyak menangis semalam. Selama beberapa detik ia hanya terbaring diam sambil menatap langit-langit kamar hotel, berusaha mengingat di mana ia berada. Namun begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, semua kejadian buruk itu kembali terlintas di benaknya… Percakapan di rumah mertuanya, ancaman bunuh diri, keputusan Arga, hingga hinaan yang harus ia terima.
Air mata kembali menggenang di sudut matanya, namun kali ini ia berusaha menahannya. Ia sudah menangis terlalu banyak, dan rasanya tidak ada gunanya lagi. Perlahan Rania bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah mendekati jendela. Ia membuka tirai lebar-lebar, memandang keramaian kota yang mulai sibuk beraktivitas. Kendaraan yang berlalu-lalang, suara yang saling bersahutan... semua berjalan seperti biasa, seolah dunia tidak peduli bahwa hidup seseorang baru saja hancur semalam.
Merasa dirinya kurang enak badan, Rania membuka ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada rekannya untuk hari ini izin tidak masuk kerja. Setelah itu mematikan kembali. Beruntunglah dia memiliki teman yang baik, yang mau menggantikan tugasnya untuk sementara.
*
Siang hari di perusahaan milik keluarga Pratama, Arga duduk di tengah ruang rapat. Beberapa orang klien sedang menjelaskan rincian rencana kerja sama, namun tidak satu pun kata yang benar-benar masuk ke dalam otaknya. Pikirannya terus melayang, hanya berputar pada satu nama: Rania. Apakah ia sudah makan? Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia masih menangis? Atau mungkin... apakah ia sudah membencinya sekarang?
Tanpa sadar, pikirannya melayang kembali ke masa lalu, saat semuanya masih terasa indah dan sederhana.
Tiga tahun yang lalu, hari pertama setelah pernikahan mereka. Saat itu ia baru saja membawa Rania masuk ke rumah keluarga Pratama, wajahnya terlihat gugup namun juga bersinar penuh kebahagiaan. Arga masih ingat bagaimana istrinya bangun lebih pagi dari semua orang, bersikeras ingin menyiapkan sarapan sendiri meski sudah ada pelayan yang siap membantu. Ketika Arga turun ke ruang makan, ia melihat Rania berdiri di sana dengan celemek biru muda, wajahnya belepotan tepung.
Melihat pemandangan itu, Arga tidak bisa menahan tawa. "Kamu lagi masak atau perang, sih?"
Rania langsung mendengus cemberut. “Jangan mengejekku, Mas."
"Habisnya wajahmu jadi kayak badut gini?" sambil tertawa, Arga mengusap lembut tepung yang menempel di pipi istrinya. Saat itu wajah Rania langsung memerah malu.
Mereka pernah hidup sebahagia itu. Sederhana, hangat, tanpa tekanan, tanpa pertanyaan, tanpa kata "mandul". Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Enam bulan setelah pernikahan, pertanyaan itu mulai muncul. Awalnya terdengar ringan, bahkan terkesan hanya bercanda.
"Kapan kalian akan memberikan Ibu cucu?"
Saat itu mereka hanya tertawa saja, menganggapnya hal yang wajar. Rania pun menjawab dengan malu-malu, "Doakan saja ya, Bu."
Namun bulan demi bulan berlalu, belum ada kabar baik yang ditunggu. Pertanyaan yang sama mulai muncul lebih sering, semakin sering, dan lama-kelamaan terasa semakin tajam.
"Sudah periksa ke dokter belum?"
"Jangan terlalu sibuk bekerja saja, nanti malah mengganggu kesuburan."
"Kalian tidak sengaja menunda punya anak, kan?"
Awalnya Rania masih bisa tersenyum, masih sabar, masih berusaha berpikir positif. Namun seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu mulai terasa seperti beban berat yang terus menekan hatinya.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁