Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Ditolak
Arya menjawab pada dering ketiga.
Empat puluh menit kemudian, mereka duduk berhadapan di ruang belakang sebuah kedai kopi yang hampir kosong. Lampu kota menyala di balik kaca. Awan menggantung rendah di atas Bandung, membawa bau hujan sebelum setetes pun jatuh.
Keisha tidak menyentuh minumannya.
"Saya ingin mengubah kesepakatan," katanya.
Arya menyandarkan punggung. "Kemarin Anda kabur karena kata lamaran."
"Hari ini saya datang untuk membicarakan pernikahan."
Untuk pertama kalinya, wajah Arya kehilangan ketenangan selama satu detik. "Jelaskan."
Keisha mengeluarkan salinan pengakuan utang, pesan Herman, dan foto lembar penghentian pembayaran layanan tambahan. Ia menceritakan Anindita yang tidak sadar selama empat tahun, perusahaan yang perlahan diambil alih, invoice tanpa bukti barang, serta Pak Sugiarto yang datang membawa lamaran sebagai alat penagihan.
Ia tidak menyembunyikan bagian paling memalukan.
"Pak Herman memberi saya dua pilihan. Menikah dengan Sugiarto atau melihat layanan Mama dipotong satu per satu. Sebagai suami sah Mama, dia memegang hak wali untuk keputusan besar."
Tatapan Arya turun pada dokumen. "Anda sudah bicara dengan pengacara?"
"Bu Sukma sedang mencari bantuan. Tapi layanan tambahan berhenti dua hari lagi. Proses hukum tidak selesai dalam dua hari."
"Lalu Anda ingin saya melakukan apa?"
Keisha menekan telapak tangan ke lutut agar tidak terlihat bergetar. "Kita buat hubungan itu nyata di depan hukum. Bukan sungguhan sebagai suami istri, hanya resmi di atas kertas."
Mata Arya mengeras.
"Akad nikah resmi," lanjut Keisha sebelum keberaniannya habis. "Dengan perjanjian pranikah. Kita tetap punya kamar dan kehidupan terpisah. Saya membantu menghentikan Bunda Anda memaksa Anda kembali pada Vanya. Anda membantu saya keluar dari lamaran Sugiarto dan membayar perawatan Mama sesuai kesepakatan. Setelah jangka waktu selesai, kita berpisah lewat prosedur yang benar."
"Berapa lama?" tanya Arya.
"Satu tahun. Bisa lebih cepat kalau kedua masalah selesai dan pengadilan menyetujui."
"Anda sudah memikirkan perceraian sebelum menikah."
"Karena ini transaksi. Saya tidak akan berpura-pura menganggapnya kisah cinta."
Keisha membuka catatan di ponsel. Ia telah menulisnya di perjalanan, setiap baris terasa seperti pisau yang dipilih sendiri.
"Harta tetap terpisah. Utang Herman bukan utang Anda. Saya tidak meminta saham, warisan, atau akses ke rekening pribadi. Tidak ada hubungan fisik tanpa persetujuan. Tidak ada tuntutan punya anak. Kita setia selama pernikahan supaya tidak mempermalukan siapa pun. Semua bantuan untuk Mama dicatat sebagai kewajiban kontrak, bukan pemberian yang bisa dipakai menekan saya."
Arya menatap layar itu, lalu wajahnya. "Anda menulis semua ini di samping ranjang ibu Anda?"
"Sebagian di mobil."
"Dalam keadaan baru saja diancam."
"Ancaman tidak membuat saya kehilangan kemampuan berpikir."
"Ancaman membuat orang memilih hal yang tidak akan dipilihnya dalam keadaan aman."
"Saya tidak punya keadaan aman, Pak Arya." Untuk pertama kalinya namanya terdengar seperti teguran dari bibir Keisha. "Saya punya dua hari sebelum layanan Mama dipotong dan seorang wali yang sedang menyiapkan pemindahan. Jangan menilai keputusan saya dengan kemewahan waktu yang tidak saya miliki."
Arya diam cukup lama hingga suara mesin kopi dari depan terdengar sangat keras.
"Tidak," katanya.
Satu kata itu menghantam lebih tajam daripada yang Keisha siapkan.
"Anda belum mendengar semua syarat."
"Saya sudah mendengar bagian utamanya. Anda ingin menikah karena terdesak."
"Anda sendiri mencari perempuan palsu karena terdesak."
"Saya menawarkan akting satu bulan. Bukan ikatan hukum, agama, keluarga, dan perceraian setelahnya."
Keisha menahan panas di wajahnya. "Lamaran adalah ide keluarga Anda. Saya hanya menawarkan solusi yang lebih stabil."
"Bagi siapa?"
"Bagi kita berdua."
"Bagi Anda." Arya mendorong dokumen kembali. "Anda sedang tenggelam dan mencoba menjadikan orang pertama yang berdiri di tepi sebagai pelampung."
"Orang pertama itu yang menawarkan uang sambil meminta saya jadi pacarnya."
"Pacar bohongan. Batasnya sederhana. Pernikahan tidak sederhana."
"Saya tahu."
"Tidak." Suaranya tetap rendah, justru semakin dingin. "Kalau tahu, Anda tidak akan mengusulkannya dua puluh empat jam setelah kabur dari kata lamaran."
Keisha berdiri. Kursinya bergeser keras.
"Baik. Lupakan saya pernah meminta."
"Duduk. Kita bisa membahas bantuan hukum dan biaya tanpa menikah."
"Saya tidak butuh belas kasihan."
"Ini bukan belas kasihan."
"Lalu apa? Anda boleh memakai keadaan saya untuk transaksi selama idenya datang dari Anda, tapi ketika saya mengajukan syarat yang bisa menyelamatkan Mama, saya disebut perempuan panik yang mencari pelampung?"
Arya mengatupkan rahang. "Saya tidak bilang Anda lemah."
"Tidak perlu. Cara Anda menatap saya sudah cukup."
Keisha memasukkan dokumen ke tas. Pengait tali kartu identitasnya tersangkut pada ujung meja, tetapi ia terlalu marah untuk menyadarinya. Klip plastik terlepas dan kartu itu jatuh diam-diam di bawah kursi.
"Uang muka akan saya kembalikan setelah pembayaran rumah sakit aman," katanya. "Cari perempuan lain untuk menipu keluarga Anda."
"Keisha."
"Jangan khawatir. Saya tidak akan melaporkan tawaran gila Anda. Kita impas."
Ia berjalan keluar sebelum Arya sempat menahan.
Udara malam menyambut dengan angin basah. Keisha memesan kendaraan, tetapi aplikasi menunjukkan waktu tunggu dua belas menit. Ia memilih berjalan ke jalan besar daripada kembali ke dalam.
Di ruang belakang, Arya menatap kursi kosong.
Ia seharusnya lega. Pernikahan kontrak adalah masalah yang jauh lebih besar daripada Vanya dan tekanan Ratna. Menolak adalah keputusan rasional.
Ponselnya berbunyi.
Pesan suara dari Ratna masuk ke grup keluarga. Arya menekan putar.
"Besok Vanya datang makan siang. Kalau Keisha dan keluarganya belum siap bicara lamaran, Bunda perlu memastikan kamu tidak sedang mempermainkan kami. Bunda sudah terlalu malu menjawab keluarga besar."
Pesan berikutnya berisi foto Vanya sedang memegang kotak kue, tersenyum seolah sudah mendapat izin masuk ke rumah.
Arya mematikan layar.
Di bawah meja, pantulan biru menarik matanya. Ia membungkuk dan mengambil kartu identitas Keisha.
Foto kecil perempuan itu menampilkan wajah serius yang tidak cocok dengan kebiasaannya memerah dan membantah. Kartu yang sama memulai semua ini. Kartu yang membuatnya tahu Keisha tidak mengarang pekerjaan, perjuangan, atau namanya.
Ia teringat dokumen stop pembayaran. Ancaman wali. Cara jemari Keisha menekan lutut agar tidak bergetar saat mengusulkan pernikahan yang jelas ia takuti.
Dia tidak meminta untuk diselamatkan, pikir Arya.
Dia menawarkan pertukaran.
Di luar kaca, titik hujan pertama jatuh. Keisha sudah hampir mencapai ujung blok, berjalan cepat tanpa payung dan tanpa menoleh lagi.
Jarak di antara mereka bertambah setiap langkah. Untuk pertama kalinya malam itu, keputusan paling rasional terasa seperti kesalahan yang akan terlambat diperbaiki.
Arya meraih jaket dan kartu identitas itu, lalu bangkit.
Pintu kedai terbuka keras. Angin membawa hujan masuk ke lantai.
"Dokter Keisha! Tunggu!"