Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Ditunggu
Ophelia merasakan detak jantungnya berpacu liar saat bibir Bleiz menuruni lehernya dengan cara menjilatnya dan menggigitnya.
Sentuhan pria itu bagaikan api di atas kulitnya, membuat bulu kuduknya merinding dan tubuhnya berdesir.
Ophelia mencengkeram bahu Bleiz, jari-jarinya menekan kain kemeja putih yang masih melekat di tubuh pria itu.
"Bleiz ...," suaranya tertelan oleh desahan yang lolos dari bibirnya.
Bleiz menggeram pelan. "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu ini," bisiknya di antara kecupan-kecupan panas di kulit leher Ophelia.
Ophelia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan erangan yang ingin dia keluarkan dengan suara keras dan tanpa malu-malu. “Kau sangat menginginkanku?”
Bleiz mendongak, menatap Ophelia dengan mata abu-abunya yang kini berkilauan karena gairah yang meninggi. "Setiap pagi kau bangun, aku menahan diri untuk tidak membalikkan tubuhmu dan memelukmu.”
Ophelia tersenyum.
"Aku memberikannya sekarang," kata Ophelia, berbisik lirih. "Dengan senang hati."
Bleiz tersenyum tipis. Senyum yang membuat wajah dinginnya terlihat lebih muda dan lebih hangat.
Kemudian dia menunduk lagi, bibirnya menempel di bibir Ophelia dalam ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.
Tangan Bleiz bergerak ke belakang punggung Ophelia, jari-jarinya menemukan kait lingerie tipis berwarna merah itu.
Dengan gerakan cepat namun tenang, dia membuka pengaitnya. Kain merah itu melorot perlahan, membuat kulit Ophelia terbuka dan merinding karena udara dingin.
"Kau begitu cantik," gumam Bleiz, matanya menyusuri setiap inci tubuh istrinya. "Aku ingin mengingat setiap bagian darimu."
Ophelia merasakan wajahnya memerah karena malu. Ini adalah pertama kalinya Bleiz melihatnya benar-benar polos tanpa menyembunyikan apa pun lagi.
Ophelia hampir ingin menutup tubuhnya, tapi tatapan Bleiz yang penuh rasa kagum dan hasrat, membuatnya tetap diam.
"Kita ke kamar utama," bisik Bleiz, dan sebelum Ophelia bisa menjawab, Bleiz sudah mengangkatnya dengan mudah. Ophelia memeluk lehernya, kepalanya bersandar di bahu Bleiz yang bidang.
“Tidak ada pelayan di lorong?” tanya Ophelia berbisik.
“Tak ada,” jawab Bleiz dengan santai dan berjalan tenang menuju kamar utama.
*
*
Di kamar utama yang ranjangnya lebih besar, Bleiz membaringkannya dengan lembut. Cahaya lampu dari balkon yang masuk melalui jendela besar, menyinari tubuh Ophelia dengan cahaya keperakan yang magis.
Bleiz melepas kemejanya dengan cepat, memperlihatkan dada bidang dan perut berotot yang selama ini tersembunyi di balik setelan rapinga. Ophelia menatapnya dengan mata terbelalak, dia belum pernah melihat Bleiz se-terbuka ini.
"Kau menatapku seperti aku makhluk aneh," canda Bleiz, meraih tangannya dan menempelkannya di dadanya. "Rasakan. Aku juga manusia biasa, Baby. Aku juga berdetak."
Di bawah telapak tangannya, Ophelia bisa merasakan detak jantung Bleiz yang berpacu cepat. Pria yang selalu tenang dan terkendali itu, ternyata juga gugup.
"Kau gugup?" tanya Ophelia, sedikit terkejut.
Bleiz tertawa pelan. "Kau pikir aku kebal?" Dia menunduk, mencium ujung jari Ophelia satu per satu. "Aku takut melukaimu. Takut ..."
Ophelia menarik wajah Bleiz mendekat, membungkam kata-katanya dengan ciuman. "Berhenti berpikir," bisiknya di antara ciuman. "Aku tidak takut padamu.”
Dari sanalah semuanya terjadi. Dua tubuh saling menjalin dalam irama gairah yang perlahan dan hati-hati, lalu semakin cepat dan intens seiring waktu.
Bleiz begitu lembut, tapi menekan begitu dalam. Tapi ketika Ophelia mencengkeram punggungnya dan mendesahkan namanya, semua kendali itu pecah juga.
Gairah yang terpendam selama berminggu-minggu meledak dalam gelombang yang membawa mereka berdua ke puncak kenikmatan yang sama.
*
*
Setelah semuanya usai, Ophelia terbaring di pelukan Bleiz, di pangkal lengan Bleiz yang kokoh.
"Aku tidak pernah tahu bahwa ini begitu ..." Ophelia memulai, tapi suaranya menghilang.
"Aku tahu," jawab Bleiz, jarinya menyisir rambut Ophelia dengan lembut. "Ini pertama kalinya untukmu. Aku harap, aku cukup memuaskanmu.”
Ophelia mendongak lalu tertawa kecil sembari menciumi dagu Bleiz.
Bleiz tersenyum, matanya kini begitu lembut ketika memandang Ophelia. "Aku akan selalu mengingatnya." Dia mengecup kembali kening Ophelia. "Selalu. Seumur hidupku.”