Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012: Bank yang Menolak
"Alex, Ibu cuma mau memastikan satu hal. Kalau tidak bisa, kita pulang."
Herlina mengatakan itu di depan pintu Bank Cakra Sentosa cabang pusat, tetapi tangannya menggenggam amplop tua terlalu kuat. Ujung amplop sudah lembek karena sering dibuka, ditutup, lalu disembunyikan lagi.
Alexander tidak bertanya di trotoar.
"Kita masuk dulu, Bu."
Nomor antrean mereka dipanggil dua belas menit kemudian. Petugas bank perempuan di meja layanan tersenyum standar, senyum yang sudah terlatih untuk menolak orang tanpa terlihat kasar.
"Ada yang bisa dibantu, Ibu?"
Herlina mengeluarkan kartu identitas, fotokopi akta kematian, buku nikah lama, dan selembar slip berwarna pudar.
"Saya ingin menanyakan rekening almarhum suami saya. Herman Wijaya."
Jari petugas berhenti di atas keyboard.
Berhenti terlalu lama.
Alexander melihatnya.
"Ada kendala?" tanyanya.
"Sebentar, Pak." Petugas mengetik lagi. "Ibu pernah mengurus rekening ini sebelumnya?"
Herlina menggeleng. "Tidak. Dulu saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya juga... tidak yakin rekening itu masih ada."
"Dari mana Ibu mendapatkan slip ini?"
"Dari amplop peninggalan suami saya."
Petugas membaca nomor referensi di slip. Wajahnya tetap sopan, tetapi matanya tidak lagi ringan. Ia berdiri. "Saya perlu konsultasi ke supervisor."
Ia membawa slip itu pergi.
Herlina langsung menoleh ke Alexander. "Alex, kalau sulit, jangan dipaksa."
"Bu, petugas bank tidak pergi ke supervisor hanya karena rekening kosong."
Wajah Herlina memucat sedikit.
"Ibu tahu sesuatu?"
Ia menunduk. "Ayahmu pernah bilang ada uang yang tidak boleh disentuh sampai waktunya tepat. Ibu pikir itu cuma sisa honor. Setelah beliau meninggal, terlalu banyak orang datang. Ada yang menawarkan bantuan, ada yang menyuruh Ibu tanda tangan. Ibu takut salah."
"Kenapa baru sekarang?"
Herlina menggenggam amplop itu lebih kuat. "Karena tadi malam Ibu lihat Yanti hampir menandatangani surat MakanYuk. Ibu sadar, dulu Ibu juga mungkin hampir melakukan hal yang sama."
Kalimat itu menusuk tanpa suara.
Petugas kembali bersama pria berbatik gelap. Di kartu namanya tertulis Manajer Layanan, tanpa perlu disebutkan lebih jauh.
"Ibu Herlina Halim?" kata pria itu.
"Iya."
"Berdasarkan data awal, benar ada fasilitas perbankan atas nama Herman Wijaya. Namun akses tidak bisa kami berikan hanya dengan dokumen yang Ibu bawa."
Alexander mengambil posisi bicara. "Dokumen apa yang kurang?"
"Surat keterangan ahli waris yang lengkap, penetapan pengadilan bila ada keberatan ahli waris, pembaruan data kematian, dan verifikasi catatan khusus."
"Catatan khusus apa?"
Manajer itu menutup map tipis di tangannya. "Mohon maaf, Pak. Itu tidak bisa kami sampaikan sebelum status ahli waris dan kuasa hukum diverifikasi."
"Saya anak kandung Herman Wijaya."
"Kami tidak meragukan pernyataan Bapak. Tetapi bank bekerja berdasarkan dokumen."
Alexander menatap map di tangan manajer. "Kalau hanya rekening biasa, prosedurnya jelas. Mengapa ada catatan khusus?"
"Karena fasilitas ini lebih luas dari rekening tabungan."
Herlina menarik napas.
Alexander menangkap satu kata yang sengaja ditahan. "Fasilitas?"
Manajer tersenyum tipis. "Saya belum bisa menjelaskan."
"Kotak deposit?"
Petugas perempuan di sebelahnya menegang sepersekian detik.
Cukup.
Alexander tidak menekan terlalu jauh. Orang yang tahu kapan berhenti bisa mendapatkan lebih banyak dari ekspresi daripada dari bantahan.
"Baik," katanya. "Tolong berikan daftar persyaratan tertulis."
"Tentu."
Manajer memberi satu lembar formulir. Alexander membaca cepat. Tidak ada angka. Tidak ada nama pihak ketiga. Hanya prosedur.
Lalu matanya berhenti pada satu baris kecil di bawah kolom referensi internal, sebagian tertutup stempel fotokopi.
Catatan: Rujukan khusus IRN-27/YP.
IRN.
YP.
Huruf-huruf itu tidak berarti apa-apa bagi Herlina. Tetapi bagi Alexander, sesuatu bergerak di belakang ingatan. Ayahnya pernah bekerja di lingkar riset. Foto lama di rumah menunjukkan jas laboratorium. Lencana yang ia bawa adalah peninggalan, tetapi hidup Herman Wijaya jelas tidak sesederhana satu profesi.
Ting! Logika Hukum mendeteksi anomali prosedural.
Catatan Sistem: rekening wafat biasa tidak lazim memakai rujukan internal berkode lembaga dan inisial pihak ketiga. Kumpulkan dokumen ahli waris; jangan menarik kesimpulan tanpa bukti.
Alexander melipat formulir itu.
"Pak," katanya kepada manajer, "apakah nilai fasilitas ini di bawah batas laporan khusus?"
Manajer tidak menjawab langsung. "Bank tidak bisa membahas nominal."
"Apakah ada pemblokiran dari otoritas?"
"Tidak dalam data layanan yang dapat saya sampaikan."
"Apakah ada pihak selain ahli waris yang pernah mencoba mengaksesnya?"
Untuk pertama kali, senyum manajer benar-benar hilang.
"Pak Alexander, semua riwayat akses termasuk informasi rahasia bank."
"Saya tidak meminta isi. Saya bertanya apakah ada riwayat."
"Jawabannya tetap sama."
Alexander mengangguk. "Berarti ada sesuatu yang perlu diminta lewat jalur hukum."
Herlina mencengkeram lengan Alexander. "Alex."
Ia menurunkan suara. "Saya tidak akan memaksa hari ini, Bu."
Manajer tampak lega terlalu cepat.
Alexander berdiri dan memasukkan semua dokumen ke map. "Kami akan melengkapi surat keterangan ahli waris dan kuasa. Setelah itu, kami kembali dengan permintaan tertulis."
"Silakan, Pak. Bank akan melayani sesuai prosedur."
"Bagus. Prosedur juga yang akan menjaga bank dari keputusan sepihak."
Mereka keluar dari ruang layanan tanpa mendapatkan rekening itu.
Di luar, Herlina berhenti di bawah pohon kecil dekat parkiran. Mobil-mobil nasabah berkilap lewat di depan mereka.
"Dulu, setelah ayahmu meninggal, ada orang datang ke rumah," katanya tiba-tiba.
Alexander diam.
"Ia bukan keluarga. Bukan polisi. Ia bilang kalau Ibu ingin hidup tenang, Ibu harus melupakan semua urusan penelitian ayahmu. Ia juga menyebut bank. Ibu pikir dia cuma menakut-nakuti."
"Namanya?"
Herlina menggeleng. "Ibu tidak tahu. Tapi dia memakai cincin batu hitam. Besar. Di jari telunjuk."
Alexander mencatatnya di ponsel.
Cincin batu hitam.
IRN-27/YP.
Fasilitas itu menyimpan sesuatu di luar rekening.
Ia ingin mengejar saat itu juga. Ingin memaksa bank membuka catatan, mencari nama YP, menghubungkan IRN dengan hidup ayahnya.
Namun ponselnya bergetar.
Pesan dari Gunawan:
MakanYuk belum menjawab. Mulai kumpulkan pengemudi lain. Jangan sendirian.
Alexander menatap layar lama.
Di satu sisi, masa lalu ayahnya baru saja membuka celah.
Di sisi lain, Anwar masih bernapas dengan bantuan obat nyeri di rumah sakit, dan para pengemudi MakanYuk masih bekerja di jalan tanpa perlindungan yang jelas.
Ia memasukkan ponsel ke saku.
"Bu, soal Ayah tidak selesai hari ini. Tapi saya janji, kita akan kembali."
Herlina menatapnya dengan mata basah. "Jangan sampai karena masa lalu ayahmu, kamu lupa orang yang masih hidup."
Alexander mengangguk.
"Tidak akan."
Ia menoleh ke jalan raya. Motor-motor pengantar makanan melintas di antara mobil kantor dan angkot tua.
Misteri ayahnya baru saja mengetuk pintu.
Tapi perang yang harus ia menangkan hari ini masih memakai jaket MakanYuk di tengah panas Kota Cahaya.